Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 15 : Melihat makam sang Nenek


__ADS_3

"Cari tahu dimana dia berada.!" Andrew mengirim pesan singkat kepada Roland, dengan mengirimkan plat mobil sementara milik Caroline yang dia dapat dari Liam.


"Baik Tuan...." Balas Roland singkat.


"Aku ingat, kalau wanita itu benar adalah Caroline, dia pasti akan pergi kerumah ayahnya, situa bangka Waldo itu...."


Ucap Andrew dalam hatinya. Ia langsung kembali mengirim pesan singkatnya, dan memberikan alamat dari rumah pak Waldo kepada Roland.


Waldo adalah, nama ayah Caroline yang bejat, ia bahkan sangat kejam terhadap putri dan istrinya, seorang pria yang tidak tahu dengan jelas, seperti apa keluarga istrinya.


"Pergi kealamat tersebut! dan cari tahu dengan detail.!" Sebuah isi pesan teks Andrew kepada Roland.


"Baik Tuan...." Roland langsung segera bergegas untuk pergi menuju sebuah alamat yang telah didapatnya.


Disisi lain, Caroline menghentikan laju mobilnya, ia menarik napas panjang, ia sejenak mencoba untuk menenangkan dirinya, ia lega bahwa telah berhasil melarikan diri dari kejaran seorang pria yang telah mengikutinya.


"Momi, apa kamu baik-baik saja.?" Ujar Lukas bertanya, seraya menatap dalam wajah Mominya.


"Momi baik-baik saja sayang, hem... karna sudah terlanjur jauh dari rumah kita, bagaimana kalau Momi mengajak Lukas untuk melihat makam dari Nenek Lukas.?"


"Tentu saja Momi, Lukas sangat ingin mengetahui dimana Nenek dimakamkan.!"


"Baiklah kalau begitu, nanti dijalan, kita beli bunga terlebih dahulu ya.!" Seraya Caroline mengelus kepala putranya dengan lembut dan senyuman tipisnya, ia langsung kembali melaju cepat dengan mobilnya.


"Iya Momi..."


******


******


Beberapa waktu berlalu, Caroline telah sampai disebuah pemakaman sederhana yang sedikit terabaikan.


Ia ingat dengan sangat jelas, ditempat inilah, ibunya dimakamkan, bahkan semua itu sangat jauh dari kata layak.


Ia melihat sekeliling, memastikan apakah ada orang lain ditempat tersebut.


"Baiklah, sepertinya tidak ada siapa-siapa disini...."


"Ayo sayang, kita lihat Nenek.!" Seraya ia keluar dari dalam mobilnya.


"Baik Momi...." Sahut Lukas seraya mengikutinya keluar dari dalam mobil.


Mereka berjalan beberapa langkah kaki kedepan, ia melihat sebuah pemakaman yang benar-benar telah terbengkalai, makam tersebut terlihat tidak pernah ada yang merawat, ia sontak tidak bisa menahan kesedihannya, dan ia seketika berlinang air mata.


"Ibu, Caroline datang melihat ibu, maafkan aku, kalau selama 6 tahun ini tidak bisa datang untuk menjenguk kamu ibu...."


"Aku memiliki kesulitanku sendiri Bu, tapi sekarang, aku datang ke negara ini, untuk menuntut balas dari para pembunuh itu...." Ucapnya dalam hati, dengan tetesan-tetesan air mata yang membasahi pipinya.


Ia segera berjongkok mengelus batu nisan milik ibunya, dan segera membersihkan beberapa rumput liar disamping pemakaman tersebut.


"Bu, akan aku pastikan, mereka semua akan menyesal, bahkan tidak terkecuali situa bangka gila Waldo tersebut...."


"Dia bahkan, sepertinya tidak pernah datang untuk menjenguk Ibu kesini, dia sungguh tidak ada rasa penyesalan sama sekali...."

__ADS_1


Caroline berucap dalam hatinya, seraya mengepalkan tangannya dengan menahan emosinya yang sudah hampir meledak.


"Semenjak dia menukar kesucian aku terhadap gila asing itu, semenjak itulah, tidak ada hubungan apapun lagi diantara kami, antara aku dengan pria tua gila itu, sekarang hanyalah musuh, bukan ikatan antara anak dan ayah...."


"Dan semenjak aku kembali ke Negara ini, aku sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan aku hadapi...."


"Apapun yang terjadi, aku harus menuntut balas kepada semua orang itu...."


"Selama mereka belum mendapatkan ganjaran yang stimpal, aku tidak akan pernah mati dengan damai, dan aku bukanlah seorang anak...!"


Tegasnya dalam hati dengan sangat emosi.


Lukas sadar betul, ekspresi Mominya tengah menahan emosi yang besar, terlihat dengan sangat jelas, ada kesedihan, emosi dan dendam yang sangat dalam dari pancaran tatapan mata Mominya.


"Momi, Kehidupan, dan derita seperti apa yang telah Momi alami dahulu.?"


"Aku tahu, hidup Momi tidaklah mudah, bahkan ia dengan susah payah, melahirkan aku seorang diri, tanpa suami disisinya...."


Ucap Lukas dalam hatinya seraya menatap sedih wajah Mominya.


"Momi.?" Lukas segera berusaha menyadarkan Mominya dari renungan panjangnya yang dalam.


"Ya sayang.?" Ia seketika kaget, dan segera menatap wajah Lukas, dengan seikat bunga yang digenggam oleh Lukas.


"Kamu boleh meletakkannya diatas sayang.!"


"Ayo sapalah Nenek kamu sayang.!"


"Baik Momi...."


"Aku membawakan Nenek bunga yang indah, semoga Nenek suka...." Seraya ia meletakan bunga diatas makam milik Neneknya.


"Nenek jangan khawatir, Lukas adalah seorang pria, Lukas akan menjaga Momi dengan baik, ketika Lukas besar nanti, Lukas akan menggantikan Momi untuk bekerja dan mencari uang...."


"Apapun yang Momi minta, selama Momi bahagia, Lukas akan mengabulkannya...."


"Jadi Nenek tidak perlu khawatir disurga sana...."


"Nenek, semoga kamu beristirahat dengan tenang...."


Ujar Lukas berkata panjang lebar, didepan makam Neneknya dengan ekspresi sedihnya.


Caroline yang melihat dan mendengar ucapan Lukas, ia tersenyum lembut, dan seraya merangkul pundak dari putranya.


"Ibu, lihatlah! dia adalah cucu kamu, dia sangat tampan bukan.?"


"Dia adalah penyemangat hidup aku setelah kamu ibu...."


"Dia sangat patuh dan juga sangat pintar...."


"Sebenarnya dunia ini memang adil, kehilangan satu orang yang sangat berharga, kemudian tuhan memberikan lagi satu orang yang juga sama berharganya...."


"Walaupun, kepergian ibu adalah, hal yang tidak bisa aku terima sampai sekarang...."

__ADS_1


"Bukan aku tidak bisa menerima takdir yang digariskan, akan tetapi, caranya yang tidak bisa aku maafkan Ibu...."


"Mereka telah mencelakai kita Bu, bahkan diusia aku yang sangat masih muda, aku harus kehilangan keluargaku, ibu yang paling berharga bagiku...."


"Menyiksaku dengan kejam, bahkan telah menjual aku..."


"Sedangkan mereka, orang-orang jahat itu, dengan damainya menjalankan kehidupannya yang bahagia, diatas semua penderitaan yang aku dan ibu alami...."


"Kalau aku tidak menuntut balas atas semua yang terjadi, maka aku bukanlah manusia, dan aku bukan seorang anak yang telah kehilangan kehidupanku...."


Tegas Caroline dalam hatinya.


"Momi, jangan sedih, nanti Nenek juga ikut bersedih.!" Ucap Lukas segera sontak memeluk Mominya.


"Tidak sayang, Momi hanya mengingat kenangan indah bersama Nenek Lukas." Seraya ia juga memeluk tubuh kecil putranya.


"Aku tahu Momi akan berkata seperti itu...." Ucapnya Lukas dalam hati.


"Terimakasih sayang, putra Momi yang tampan, kamu telah datang kedunia ini, untuk menemani hari-hari Momi...." Ia semakin mengeratkan pelukannya, tanpa disadari, air matanya menetes semakin tak tertahan.


"Justru Lukas yang harus berterima kasih kepada Momi, Momi sudah melahirkan Lukas kedunia ini, adalah sebuah berkah dan keberuntungan bagi Lukas...."


"Momi dengan susah payah membesarkan Lukas sendirian, Lukas sangat menyayangi Momi...."


"Momi juga sangat menyayangi Lukas...." Ujar Caroline seraya mengelus kembut kepala belakang putranya.


"Eh, ngomong-ngomong, tadi Lukas bilang, Momi membesarkan Lukas sendiri.?" Seraya ia melepaskan pelukan dari putranya.


"Iya..m." Sahut Lukas menjawab.


"Ayo loh, Momi bilangin nanti sama Tante Joel, dia juga ikut menjaga Lukas dengan baik loh...."


"Dia sangat sayang juga kepada Lukas.!"


"Apa yang akan ibu angkat kamu katakan ya, kalau mendengar ucapan Lukas tadi, pasti sangat menyakiti hatinya...." Ujar Caroline seraya meledek putranya, dia mencoba menghilangkan kecanggungan yang ada karna sepertinya Lukas sadar dengan ekspresi wajah dirinya.


"Upsss... aku tidak bermaksud berkata seperti itu Momi.!" Ujar Lukas seraya menutup mulutnya sendiri, dengan kedua telapak tangannya.


"Benarkah.?" Sahut Caroline masih meledek putranya.


"Momi, aku ini putra kandung Momi, masa hal begitu saja, Momi sangat perhitungan." Lukas pun menyipitkan ujung bibirnya, dengan ekspresi kesal yang sangat imut.


"Baiklah, baiklah, Momi hanya bercanda."


"Ayo kita pulang, nanti keburu sore.!" Ia pun menggenggam tangan putranya seraya berjalan.


"Tunggu Momi.!"


"Ya.?"


"Nenek, kami pulang dulu, lain kali, kita akan menjenguk Nenek lagi." Lukas pun membungkuk hormat.


"Putraku ini, sungguh sangat pintar." Ucap Caroline dalam hatinya, seraya menatap wajah putranya, yang tengah berdiri disampingnga, setelah membungkuk hormat untuk berpamitan didepan makam sang nenek.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2