
Pagi hari.
Sebuah kabar berita menyeruak kepermukaan hanya dalam waktu satu malam, bahwasanya sebuah perusahaan milik waldo telah berganti kepemilikan, dia melepaskan dan merelakan kepemilikan akan saham dirinya, agar ia bisa mempertahankan perusahaan dengan sisa saham 5% tersebut.
Rapat segera dilaksanakan di perusahaan tersebut pada hari itu, bertujuan untuk memperkenalkan presdir baru mereka.
"Orang seperti apa yang begitu bodoh, dia bahkan rela membeli perusahaan yang diambang kehancuran ini?" salah seorang pemegang saham (1) berbisik kepada rekannya.
"Entahlah, tapi dengan hal ini, setidaknya mungkin bisa menyelamatkan kita dari kerugian," sahut rekannya acuh, (2) diiringi helaan napas sedikit lega.
"Betul juga, tapi kenapa dia belum menunjukkan batang hidungnya, apakah pak tua itu memberikan kabar palsu?" cibirnya dengan nada geram, (1) karena telah menunggu lama.
"Tidak mungkin, jelas pengalihan itu asli, apa kamu tidak melihat berita itu bertebaran dimana-mana?" sahutnya (2).
"Orang tua bodoh itu, saya rasa dia jatuh dalam perangkap seseorang karena tingkat kesombongannya," cibir dengan raut puas (1).
Bisik para pemegang saham diruangan rapat tersebut membuat pak Waldo semakin geram, ia semula bencana untuk menutupi hal tersebut, namun siapa sangka, semua hal itu terkuak kepermukaan hanya dalam waktu singkat, hancur, hancur sudah semua jerih payah yang telah ia susun dengan matang selama ini, ia harus menerima kenyataan pahit, bahwa namanya telah hancur, dan tidak memiliki kekuatan lagi didalam dunia bisnis.
"Maap, saya terlambat dihari yang begitu penting ini."
Suara seorang perempuan berkata, seketika langsung membuyarkan suasana di ruang rapat tersebut, semua tercengang heran melihat sosok tegas yang alagan, wanita tersebut berjalan dengan santai dan langsung menduduki kursi tertinggi.
"Dia seorang wanita?"
Mata pak Waldo seketika tertuju kepada sosok wanita tersebut, ia mengira bahwa itu adalah seorang pria gagah dan agung, kenapa jadi seorang wanita muda, apakah informasi yang ia dapat salah?
"Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, saat ini, saya adalah pemegang saham utama di perusahaan ini," ujar Caroline tanpa ekspresi.
"Saya mengadakan rapat dadakan kali ini, tidak lain untuk membahas masa depan perusahaan, cara penyelesaian masalah, dan juga pergantian posisi tertentu sebagian orang," sambungnya menjelaskan dengan tenang.
__ADS_1
"Sebagai seorang presdir baru, saya perlu mendengarkan pendapat anda semua, untuk semua masalah yang ada saat ini," tegasnya dengan nada dingin.
******
******
Beberapa jam berlalu, setelah rapat tertutup selesai, suasana tegang yang mengisi ruangan tersebut akhirnya usai, semua orang berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Pak Waldo masih terdiam ditempat duduknya, ia begitu merasa begitu familiar dengan wajah wanita yang kini tengah berada dihadapannya.
"Dimna aku pernah melihat wanita ini, rasanya sungguh tidak asing," ujarnya dalam hati, membuat ia terdiam, seraya mencoba mengingat untuk waktu yang cukup lama.
"Apa ada hal yang ingin anda tanyakan?" Caroline memotong lamunan pak Waldo, dengan senyuman tipis diujung bibirnya.
"Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanpa sadar ia bertanya.
"Bukankah panggilan anda itu tidak cocok dengan jabatan saya sekarang!" tegas Caroline menjawab, menyiratkan sebuah peringatan didalam ucapannya.
"Apakah saya terlihat seperti seseorang?" sahut Caroline tersenyum mengejek.
"Tidak, tidak, bukan itu maksud saya, mungkinkah sebelumnya saya pernah bertemu dengan anda, presdir, disuatu tempat?"
"Anda bercanda, saya baru kali ini datang ke Negara yang sangat berkesan ini," sahutnya seraya menatap wajah pak Waldo dengan ekspresi tenang yang dingin.
"Presdir? aku harus memanggil gadis muda angkuh ini dengan panggilan agung, yang benar saja, aku akan merebut kembali posisi itu darimu, lihat saja!" ujarnya dalam hati.
"Begitu ya, sepertinya saya salah mengenali orang, maafkan saya, mungkin karena saya sudah berumur." Sambungnya menjawab, sedikit menjelaskan.
"Ah ... baiklah, apa ada hal lain lagi?" tanya Caroline menatap tajam.
__ADS_1
"Tidak ada Presdir, kalau begitu saya permisi." Seraya membungkuk hormat dengan terpaksa, ia segera meninggalkan ruangan rapat tersebut dengan ekspresi suram.
"Tentu saja kau tidak salah, kita memang sangat akrab ayahku tersayang, saking akrabnya, hingga mati dan jadi hantu, aku tidak akan pernah melupakan semua perlakuan istimewa itu." Ujar Caroline dalam hatinya, menatap arah belakang ayahnya penuh dendam.
"Nona, selanjutnya?" tanya Vernita.
"Lakukan sesuai rencana!" sahut Caroline tersenyum tipis.
"Baik."
"Baiklah, ayo temani aku untuk berkeliling!" Caroline bangkit dari tempat duduknya dengan wajah sedikit sayu.
"Baik nona."
Vernita yang menyadari perubahan ekspresi Caroline, ia menyadari kesedihan dibalik wajahnya, ia sedikit merasakan, dendam, luka, kesedihan, dibalik semua ketegaran itu, walau atasannya tidak pernah mengatakan masalah utamanya, namun ia tahu, betapa berat kehidupan yang telah Caroline jalani dahulu.
Sebuah luka mendalam dari keluarga, telah mengubah seorang wanita muda yang dahulunya lembut, hingga menjadi kejam seperti saat ini, walau terhadap ayahnya sendiri, ia harus menghilangkan nurani hatinya untuk menuntut sebuah pembalasan.
*******
*******
Saat Caroline tengah menyusuri seisi kantor dengan wajah dinginnya, tiba-tiba ia dikagetkan oleh panggilan telepon miliknya.
"Kakek, jarang sekali kamu menghubungi aku di jam seguni?" sahut Caroline menjawab teleponnya.
"Nak, kamu seharusnya tidak lupa, lusa adalah hari yang telah ditunggu-tunggu, apa kamu akan datang?" ujar kakeknya mengingatkan.
"Bagaimana mungkin aku bisa lupa kakek, aku akan datang, besok malam aku akan tiba disana."
__ADS_1
Bersambung....