
Caroline dan Andrew yang saat itu tengah berada di kantornya masing-masing, mendapatkan laporan tentang berita yang sangat menggemparkan jagat industri hiburan.
Seorang presdir yang selalu dingin, tertutup dan tegas. Dia di kabarkan tengah menjalani sebuah hubungan panas, dengan sosok wanita cantik, pemilik perusahaan agen dunia hiburan yang tengah naik daun.
Kabarnya wanita itu mendekati Andrew, untuk memperkuat jaringannya dalam dunia bisnis, dengan dukungan pria agung bernama Andrew Alexander. Siapa lagi jika bukan wanita bernama Renata, yang tidak lain adalah Caroline.
"Cih ... apakah aku terlihat seperti wanita penjilat." Ujar Caroline sedikit kesal.
"Nona, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya sekretarisnya meminta arahan.
Caroline terdiam menatap berita yang tengah heboh tentang dirinya dan Andrew.
Beberapa potongan video, tentang suasana menegangkan di dalam ruangan perjamuan keluarga Nan, juga tersebar luas. Bahkan tidak sedikit, ada juga yang mengkritik dirinya yang pembuat onar.
"Sepertinya, aku memang harus segera mempercepat rencanaku." Gumam Caroline berpikir sedikit keras.
Caroline mengambil ponsel miliknya, dan melakukan panggilan telepon.
"Joel, apa kamu sudah menemukan fakta, tentang kejadian itu?" tanya Caroline di ujung sambungan telepon.
"Aku sedikit kesulitan, bagaimanapun itu cerita yang sudah lama," ujar Joel menjawab sedikit frustrasi.
"Apa saja yang telah kamu temukan?" tanya Caroline.
"Akan aku kirimkan segera kepadamu," tutur Joel, yang hanya mendapatkan sedikit bukti.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu."
Caroline menutup panggilan telepon miliknya, dia memijat dahinya bingung. Sudah berapa lama dia berusaha menyelidiki semua itu, tapi tetap saja menemukan jalan buntu.
**
Di luar Negeri, yang tepatnya di sebuah negara X, seorang kakek tua, kini tengah termenung di kursi duduk. Lelaki itu tengah mengamati berita dalam Negeri yang menghebohkan jagat raya.
"Aku harus menjemputnya." Ujarnya bergumam.
Lelaki tua itu adalah kakek Caroline, dia bernama Saveri Abel Alterio. Kakek tua itu sudah menghilang cukup lama, keberadaannya banyak di cari-cari di kalangan dunia mafia.
Dia menyembunyikan jati dirinya, membawa semua anak buahnya dalam pengasingan yang tidak dapat di deteksi oleh dunia luar.
Negara X, adalah sebuah negara, di mana aturan ketat yang berkuasa, tidak ada yang bisa menyentuh negara tersebut, jika tidak memiliki akses masuk, dan bukan dari anggota besar dari pemimpin di sana.
Kakek Saveri melambaikan tangannya, memanggil bawahannya yang selalu berada di sampingnya.
"Panggil Luxi kemari!" ujar kakek Saveri.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Bawahannya membungkuk hormat, seraya meninggalkan ruangan pribadi atasannya.
"Tuan muda, tuan besar memanggil anda," ujarnya kepada Luxi.
"Baik, terimakasih paman," ujarnya dengan senyuman yang sangat ramah.
"Mari paman." sambung Luxi seraya berjalan dari ruangan pribadinya.
Monitor-monitor besar terpampang di ruangan itu, alat-alat canggih kelas dunia terdapat di sana. Setiap hari, Luxi hanya menghabiskan waktunya memantau apa yang terjadi di dunia luar.
Pengobatan yang telah menyita waktunya, membuat dia harus terpisah jauh, dari ibunya dan juga saudara kembarnya.
Sebuah racun berbahaya telah memasuki tubuhnya ketika dia masih dalam kandungan Caroline, kadar racun yang melumpuhkan saraf dan anggota tubuh, telah dia dapatkan semenjak bayi.
Racun yang akan membunuh satu nyawa secara perlahan, tidak sengaja memasuki tubuh kecilnya. Saat itu, racun tersebut di tujukan kepada Caroline, namun karena dalam pertumbuhan racun, dia mengandung seorang bayi kembar, racun itu perlahan berpindah kepada janin, dan secara tidak sengaja terpindah kepada Luxi.
Bertahun-tahun, kakek Saveri harus mencari penawar racun untuk Luxi, namun hal di luar nalar terjadi dalam pengobatan tersebut.
Luxi kini telah sembuh total. Di dalam waktu bersamaan, mendapatkan sebuah berkah di balik sebuah kecelakaan. Cara kerja saraf dan otaknya, melebihi batas normal.
"Kakek?"
Luxi membungkuk hormat kepada kakek Saveri, dia telah di gembleng dengan sangat keras, hingga semua aturan yang ada di Negara x, dapat dia lakukan sesuai aturan.
"Baik, Tuan."
Semua bawahan yang berada dalam kegelapan di ruangan tersebut, membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan.
"Cucuku, apa kamu merindukan Ibumu?" tanya kakek Saveri kepada Luxi, seraya melambaikan tangannya, agar Luxi mendekat kepadanya.
"Kakek, saya tergantung kepada ijin dari anda," ujar Luxi menjawab layaknya bangsawan muda.
"Kita akan mengunjungi ibumu. Nak, bersiap-siaplah, besok kita akan berangkat."
Kakek Saveri menyadari satu hal, dendam besar dalam diri Caroline tidak akan mudah di hancurkan begitu saja. Penderitaan yang dia alami, harus membuatnya kehilangan ibu yang sangat dia cintai. Bahkan harus menyeret nyawa kecil anaknya.
Bertahun-tahun, Luxi harus berjuang melawan racun ganas yang menggerogoti tubuhnya. Caroline harus menerima kerasnya dunia yang dijalaninya, terpisah dari anaknya, selangkah demi selangkah membuat namanya dalam dunia bisnis, demi menutupi identitas asli keluarganya. Dan hanya dengan dia terjun ke dalam dunia bisnis, dia baru bisa menjalankan misi balas dendamnya.
"Baik, Kakek." Sahut Luxi tersenyum ramah.
"Kalau begitu, persiapkan segala hal yang belum kamu selesaikan!" ujar kakek Saveri.
"Saya mengerti," sahut Luxi.
__ADS_1
"Nak, tanggung jawab besar ada di pundakmu, rahasia besar harus kita sendiri yang menyelesaikannya," tutur kakek Saveri.
"Baik, saya mengerti, Kakek."
Luxi membungkuk hormat, dia meninggalkan ruangan tersebut, kembali ke ruangan pribadinya.
"Tuan, apakah anda yakin?" tanya bawahan rahasia yang selalu berada di samping kakek Saveri, dan selalu menjaga tuannya, walau harus mengorbankan diri dan nyawanya sendiri.
"Walaupun kekuatan keluarga Alexander berpengaruh, ada hal yang tidak bisa ia sentuh, kita harus sedikit membuka jalan untuknya. Rahasia dan cerita ini, kamu tahu jelas seperti apa, lagipula sepertinya bocah itu lumayan." Tutur kakek Saveri menjelaskan.
"Saya mengerti, Tuan."
Pengawal itu segera menghilang secepat kilat, dia akan melakukan pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Jika kakek tua itu, masih berpura-pura bodoh, aku akan menebas kepalanya." Gumam kakek Saveri sedikit geram.
Diruangan pribadi milik Luxi, dia melakukan hal yang harus dia selesaikan, dalam satu malam sia harus berhasil, jika tidak, dia tidak akan bisa bertemu ibunya dan adiknya.
"Aku tidak akan membiarkan Momi tersiksa dan terluka lagi."
Luxi segera memasuki jaringan rahasianya, sebuah peretasan tingkat tinggi, yang harus dia selidiki satu persatu, hanya tinggal selangkah lagi, dia bisa mendapatkan hasil dari apa yang dia cari selama ini.
Luxi melirik ponsel di sampingnya, panggilan yang tidak berhenti, terus saja berdering, membuatnya sedikit kesal dan jengkel.
"Ada apa?" ujar Luxi bertanya.
"Hei ... dari apa yang aku cerna, kamu akan datang membantu aku bukan?" gerutu Lucas di ujung telepon.
"Dasar bodoh, panggil aku kakak!" jawab Luxi yamg masih sibuk dengan jarinya.
"Hanya karena kau lahir satu menit lebih dulu, bukan berarti kau lebih tua."
Luxi dan Lucas memang selalu memperebutkan posisi seorang kakak, keduanya sering berdebat kecil karena hal tersebut, namun tidak berarti mereka memiliki hubungan yang buruk.
"Panggil kakak, aku akan membantumu." Ujar Luxi santai.
"Cih ... baiklah. Kau memang rajanya, Kakak."
Luxi segera mematikan panggilan telepon miliknya, dan di ujung sana, Lucas semakin kesal di buatnya.
**
🍀🍀
Ceritanya, mulai menuju komplik utama.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya, ya. Terimakasih yang masih setia, walau cerita saya banyak kekurangannya. Dan juga, maaf apabila updatenya agak lama, dan sedikit tidak teratur, soalnya saya juga tengah menabung Bab 70k
🥰🥰🥰🥰🤗🤗🤗 terimakasih buat kalian semua, salam hangat dari othor remahan. 😁😁🙈🙈