
Andrew menatap tajam wajah kepala sekolah. Maksud pertanyaan dia sudah jelas. Bagaimana mungkin Lucas anaknya bisa berada dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda, dengan orang yang berbeda. Alasannya hanya ada satu. Jika kecurigaan Andrew benar. Caroline sengaja menutupi dari dirinya.
"Tuan, saya ... saya." Kepala sekolah benar-benar merasa bingung. Lelaki tua yang pertama datang tidak mungkin bisa dia singgung begitu saja. Tapi siapa juga yang tidak mengenal seorang Andrew Alexander, orang terkaya di negeri ini.
"Lihatlah dengan jelas! Wajah ke dua bocah lelaki itu dan wajahku!" tegasnya.
Kepala sekolah menatap wajah pria tinggi di hadapannya. Benar ... sungguh mirip sekali.
"Apakah kau? Kau berniat menjauhkan seorang anak dengan keluarganya?!" pekik Andrew. Suaranya hampir memenuhi ruangan tersebut. Kepala sekolah diam tertunduk.
Dahi Andrew mengerut, ke dua alisnya hampir bertemu satu sama lain, dia masih melihat keraguan dari kepala sekolah. Andrew sedikit menyeringai.
"Roki!" panggil Andrew seperti dia meminta sesuatu.
Roki mengangguk, dia membuka sebuah kertas putih dari tas tuannya. Andrew memberikan kertas itu kepada sekolah.
Kepala sekolah menatap bingung. "Buka dan lihatlah! Atau ... apakah aku terlihat seperti penjahat?" cibirnya dengan wajah geram.
"T-tidak seperti itu, Tuan." Kepala sekolah bergegas meraih dan membuka kertas, dengan canggung dan suara yang gagap.
"Buka dan baca! Atau aku akan segera meratakan bangunan ini dengan tanah!" pekiknya.
Kepala sekolah mengangguk, dia membaca dengan seksama. Pandangan matanya menatap Andrew seraya dahinya berkerut.
'Mereka anak dan ayah?' Kepala sekolah sedikit tidak percaya. Bukankah pria terkaya di negeri ini belum menikah. Dari mana datangnya anak dan ayah. 'Ah ... dunia orang kaya benar-benar' Kepala sekolah menarik dan menghembuskan napas berat. Dia kembali memberikan kertas itu kepada Roki.
Kepala sekolah menghela napas berat. 'Tidak ada alasan untuk memisahkankan seorang anak dan ayahnya' ujarnya dalam hati.
"Tuan, silahkan duduk! Saya akan menjelaskan detailnya." Kepala sekolah menyerah. Dia juga seorang ayah yang pernah kehilangan putranya.
Lagipula, sekolah ini adalah hasil kerja kerasnya, sangat rugi jika harus rata dengan tanah begitu saja. Terlebih Andrew adalah ayah kandung ke dua anak itu. Tidak mungkin begitu tega menyakiti darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
"Tuan muda Lucas dan tuan muda Luxi, mereka akan bersekolah di sini mulai minggu depan. Sebelum itu ... kami di minta untuk meningkatkan sistem ke amanan. Pria itu akan memfasilitasi semuanya, dana, peralatan, dan para pekerjanya. Langsung dari dia." Kepala sekolah menjelaskan detail keseluruhan cerita.
Andrew terdiam mengatupkan bibir dan menggertakan gigi. Tangannya mengepal bulat, dadanya terasa sakit. Rasa bersalah dan menyesal terlihat dari wajah garang itu.
Kepala sekolah merasa bersimpati. Ekspresi itu baru pertama kali ia lihat.
Roki melirik tuannya dengan rasa kasihan. Segila-gilanya seorang Andrew, dia tetap memiliki hati. Namun ada rasa kekhawatiran dari dalam diri Roki. Masalah clan belum selesai. Jika hal ini tercium oleh orang-orang itu. Kelemahan Andrew semakin jelas terlihat.
'Luxi ... aku belum bertemu dengannya, dia anakku? itu artinya dia kembaran Lucas?' hatinya bagai tersayat. Luka pisiknya yang selama ini dia alami. Tidak sebanding dengan sakit yang menyesakkan dadanya kali ini.
Kenapa mereka bertiga harus terpisah? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Untuk pertama kalinya Andrew merasa tidak berguna.
"Tuan?" kepala sekolah menatap ragu.
"Lanjutkan," ujarnya. Ekspresi mata sendu membuat kepala sekolah merasa bersalah. Tadi dia berpikir dan beranggapan jelek. Mungkin yang di maksud pria tua itu bukanlah Andrew, melainkan orang lain.
"Pak tua, dan Nona Caroline berkata; hanya ada Lucas di sekolah ini, tidak ada Luxi. Kami menyetujui permintaan yang di ajukan mereka berdua." Lanjut kepala sekolah menjelaskan.
"Mata saya setidaknya tidak pernah salah dalam melihat seorang anak. Mereka berdua bukan anak biasa. Kekhawatiran pak tua dan Nona Caroline terlihat jelas ketika membahas tuan muda Luxi."
Andrew terdiam. Dia merasa dadanya semakin sakit. Darahnya terasa bergejolak di sekujur tubuh. Pasti ada sesuatu yang besar yang telah terjadi.
"Luxi dia ...?" tanya Andrew ragu. Atas dasar apa dia memiliki hak untuk bertanya. Bibirnya bergetar.
Kepala sekolah menarik dan menghembuskan napas berat. "Tuan, mungkin lebih baik anda bertemu dengan tuan kecil langsung."
***
Andrew yang tengah berada di kediaman, dia mondar mandir dengan gelisah, jika dia menerobos paksa keamanan kediaman itu, apa yang akan dia katakan kepada bocah lelaki yang tidak mengetahui keberadaan ayahnya itu.
Liam dan Roki saling melemparkan tatapan satu sama lain. Mereka berdua menarik dan menghembuskan napas berat.
__ADS_1
"Tuan, jika anda benar-benar ingin melihatnya, tidak perduli apa yang akan terjadi nanti ... dia pasti sangat bahagia memiliki seorang ayah yang hebat seperti, Anda." Roki menghampiri dan berusaha menyakinkan.
Andrew menatap Roki dan Liam ragu, "Apakah seperti itu?" ujarnya bertanya.
Liam menghela napas. "Jika anda ingin bersama dengan Nona Caroline, bukankah pendekatan yang paling ampuh di mulai dari ke dua putra kalian?" ujar Liam menambahkan.
Andrew tertunduk lesu. Dia benar-benar telah membuat kesalahan besar, membiarkan wanita yang dia cintai ... dan ke dua anaknya telah menderita dengan keras. 'Aku akan menebus semuanya' batinnya yakin.
"Rangga!" panggil Andrew kepada seseorang.
"Ya, Tuan." Pria dengan tubuh tinggi berkacamata itu menghampiri. Roki mengerutkan dahi. 'Siapa pria ini?' pikirnya penuh tanya.
Tubuh kekar yang tersembunyi di balik jaket longgarnya, penampilan yang seolah-olah culun dan cupu. Pria ini tidak sederhana. Roki seperti melihat Leo di balik wajah malaikat yang tidak bisa apa-apa itu.
Roki melemparkan tatapan penuh tanya kepada tuannya. Andrew tahu maksud dari tatapan Roki. Andrew menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Sepertinya kau akan cukup tertekan, Roki." Andrew sedikit mencibir.
Roki yang selalu di buat jengkel dan sakit kepala oleh tingkah laku Leo, kini bertambah satu orang lagi. Roki menghela napas sedikit kasar. Dia memalingkan wajah ke arah lain berpangku ke dua tangan di depan dada.
"Selama dia tidak berkhianat! Aku tidak akan pernah keberatan. Tapi jika hal itu terjadi ...."
"Aku sendiri yang akan memecahkan kepalanya!" potong Liam dengan tegas menatap Roki.
Rangga tersenyum seraya membenarkan kaca mata. "Ahh ... sepertinya kali ini masalah clan cukup serius. Mohon bimbingannya." Rangga dengan santai menjawab dengan senyuman yang ramah. Namun hal tersebut membuat Roki bergidik.
Roki menatap Liam mengerutkan dahi, dan menggelengkan kepala. "Dia adalah saudara kau yang telah lama menghilang. Sejak awal ... kabar kematiannya membuatku ragu." Roki mendecik.
Kecurigaannya benar adanya, bagaimana bisa Liam yang hanya hidup berdua dengan saudaranya. Dia tidak berniat mencari tahu kebenaran tentang kematian saudara yang dia jaga saat itu.
Roki bertemu Liam saat mereka masih remaja. Orang lain mungkin tidak bisa menebak karena dua saudara itu baru di selamatkan. Namun bagaimana bisa dalam sekejap Rangga mati begitu saja ketika berada dalam pengawasan Andrew.
__ADS_1
"Apa yang harus saya lakukan sekarang, Tuan?" tanya Rangga dengan hormat.