Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 29: Pergi ke kediaman keluarga Alexander.


__ADS_3

Setelah mengucapkan kata-kata anehnya tersebut, Caroline segera melangkah pegi meninggalkan rumah sakit tersebut, dan segera memanggil taxi untuk kembali kerumahnya.


Andrew hanya terdiam tak bergeming ditempatnya berada, aura suram terlihat jelas dari tubuhnya, seolah-olah ia benar kalah dalam sebuah peperangan besar.


"Buaha... ha... ha...."


Sontak Andi tertawa terbahak-bahak, melihat keadaan andrew yang dibuat mati kutu oleh wanita itu, ia tidak bisa menahan tawanya sendiri, untuk pertama kalinya ia melihat sahabatnya ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita, yang tidak lain adalah ibu dari anaknya sendiri.


Andrew sontak menatap Andi dengan tatapan membunuhnya. "Apakah kau ingin mati.?" Ucap andrew berkata kepadanya, dengan nada yang semakin dibuat jengkel oleh sahabatnya sendiri.


"Ah Andrew, aku baru pertama kali melihat sosok kamu yang saat ini, benar-benar pemandangan yang luar biasa. Ha... ha... ha...."


Sahut Andi menjawab dengan santai, diiringi tawanya kembali yang sangat puas.


"Berhenti tertawa, atau akan aku kuliti kau hidup-hidup.!"


Tegasnya dengan aura yang semakin terlihat kesal diwajahnya.


"Baiklah, baiklah, aku masih ingin hidup lebih lama, tidak menggoda kamu lagi."


Ujarnya menjawab dengan helaan napas dalam, dan masih terlihat senyum tipis diujung bibirnya.


"Hei, kau akan tetap berada dirumah sakit, atau akan membawaku pulang kerumahmu, Momiku sudah pergi jauh, benar-benar tidak bisa diharapkan."


Celetuk Lukas kepada Andrew dengan nada dinginnya yang angkuh dan sombong, benar-benar sangat mewarisi karakter dirinya yang arogan itu. Sontak Andrew mengerutkan dahinya jengah.


"Apa, tidak bisa diharapkan? hei, aku ini ayahmu, panggil aku dengan sebutan papi.!"


Tegas Andrew yang saat itu tengah kesal dan jengkel, dan sekarang malah dibuat semakin jengkel oleh anaknya sendiri.


"Tidak mau, papi apanya, kau benar-benar sangat tidak berguna, menaklukan wanitamu saja kau tidak bisa."


Ucap Lukas dengan sangat lantang, tanpa ekspresi penyesalannya sama sekali.


"Kamu, bocah nakal, ibumu itu terlihat seperti rubah betina saat ini."



"Ya, makanya aku bilang kau tidak berguna." Ujar lukas dengan tegas, tanpa menujukan ekspresi apapun diwajahnya.



"Buahaa... ha... ha... Andrew aku turut berduka untukmu, ha... ha... ha...."


Sahut Andi yang kembali tertawa terbahak-bahak, setelah ditolak mentah-mentah oleh wanita itu, sekarang ia dibully oleh anaknya sendiri, benar-benar kehidupan yang sangat miris.


Bugh....

__ADS_1


Sontak Andrew menendang kaki Andi dengan keras, dan membuat sahabatnya itu seketika meringis kesakitan.


"\*\*\*\*... apa kau sudah gila, kenapa menendangku dasar brengsek.?"


Ujar Andi seraya mengelus kakinya yang telah ditendang oleh Andrew, ia sangat merasakan tulang betisnya ngilu dan terasa seperti hampir patah.


"Itu karna kau pantas mendapatkannya." Sahut Andrew menjawab dengan tegas.



"Cih, daripada kau meluapkan kekesalanmu terhadaku, lebih baik kau secepatnya mencari cara, agar wanita itu bersedia bersama denganmu.!"


Ujar andi dengan tegas seraya mendengus dan berdecik kesal kepada sahabatnya.


"Berhenti omong kosong, atau akan kulemparkan kau menjadi makanan buaya peliharaanku.!"


Tegas Andrew yang semakin dibuat kesal.


"Berhentilah bersikap seperti bocah, aku lelah dan ingin segera beristirahat.!"


Sahut lukas seraya menghela napas panjang, dan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan ayahnya sendiri.


Sebuah drama yang telah ia saksikan, benar-benar membuatnya tidak menyangka, bahwa kedua orang itu adalah ayah dan ibunya sendiri, mereka terlihat seperti anak kecil yang saling bermusuhan, dan juga saling bertahan dengan pemikirannya masing-masing.


"Baiklah, ayo pulang kerumahku, akan aku perkenalkan dengan kakek dan nenekmu." Tegas Andrew seraya mencoba untuk menggendong putranya.



Tegasnya berkata, seraya ia segera menghindar dari ayahnya.


"*Ya tuhan, apakah dia benar-benar mewarisi sikap dan sifatku*.?"


Ujar Andrew dalam hatinya, seraya mengerutkan dahinya dan menatap dalam anak laki-lakinya, ia hanya bisa memijat dahinya tidak percaya, bahwa anaknya benar-benar sangat mirip sekali, hal apapun itu dengan karakter dirinya sendiri.


"*Drama* *hari* *ini*, *benar-benar* *sangat* *menyenangkan*, *kapan* *lagi* *aku* *bisa* *melihat* *bos* *besar* *seperti* *tuan*, *kewalahan* *setengah* *mati*, *oleh* *wanita* *dan* *anaknya* *sendiri*."


Ucap Roland dalam hatinya, seraya menyeringai tipis diujung bibirnya.


"*Apakah* *dia* *masih* *sosok* *bosku* *yang* *selama* *ini* *tidak* *bisa* *ditindas* *oleh* *orang* *lain*.?"


Liam dalam hatinya, seraya menatap kearah bosnya tanpa menunjukan ekspresinya.


"Haih... baiklah, ayo jalan.!"


Ujar andrew menghela napas dalam, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, dan ia hanya bisa pasrah dengan sikap anaknya tersebut.


"*Benar-benar sebuah ikatan darah yang sangat kuat, aku masih sangat ingin sekali tertawa, tapi aku masih sayang nyawaku sendiri*."

__ADS_1


Ujar Andi dalam hatinya, seraya ia berusaha mengendalikan ekspresinya, dan sebisa mungkin menahan tawanya sendiri.


"Kalau begitu aku tidak mengantarmu, masih banyak pekerjaan yang harus aku tangani."


Ujar Andi berkata kepada Andrew yang mulai melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Hem...."


Sahut Andrew dengan enggan, seraya berlalu pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.


\*\*\*\*\*\*\*\*


Beberapa waktu kemudian, mereka telah sampai dikediaman besar milik keluarga Alexander.


Sontak mata lukas terbelalak seketika, melihat betapa megah dan luasnya kediaman tersebut, ia memperhatikan semua bagian kediaman tersebut, yang terlihat bak seperti istana dalam sebuah dunia fiksi.


"*Wow keren... pria ini, dia benar-benar sangat kaya, rumahnya bahkan bisa mencapai 3x lipat, luasnya rumah Momi*."


Ucap lukas dalam hatinya, seraya menatap kagum dengan apa yang tengah ia lihat.


"*Pantas saja Momi sangat tidak ingin berurusan dengannya, statusnya sama sekali bukan hal yang biasa, dan pastinya bukan sembarangan orang yang bisa mendekati pria ini*."


Ucapnya dalam hati seraya melirik kecil wajah Andrew, yang saat itu berjalan disampingnya, seraya memegang erat tangannya.


"Kenapa? apa kau juga merasa takut dengan statusku yang sangat kaya, apa kau juga akan melarikan diri seperti ibumu.?"


Ujar andrew bertanya dengan santai dan rasa percaya dirinya, seraya ia melirik wajah anaknya yang saat itu berjalan sejajar dengannya.


"Untuk apa aku melarikan diri, bukanya kau akan bekerja keras untuk mencoba menarik perhatian dari ibuku.?"


Sahut Lukas menjawab dengan nada tidak kalah santai dari dirinnya, sehingga membuat Andrew seketika tersentak kaget dengan apa yang ia dengar.


Anaknya seperti sangat tahu dengan jelas, dengan apa yang tengah ia fikirkan, ia bisa melihat dengan tepat, fikirannya saat itu tanpa celah.


"Kau ini masih kecil, jangan terlalu menujukan bahwa kau pintar, itu bisa membahayakan dirimu sendiri, terlebih bahwa kau adalah anakku, ingat itu, kau harus pintar menjaga keselamatanmu sendiri.!"


Tegas andrew yang mulai merasa hawatir dengan kepintaran anaknya, yang sangat selalu akurat dalam hal menebak segala sesuatu.


"Aku tidak pintar, aku hanya bisa menebak raut wajahmu yang sangat tertarik kepada Momiku saja."


Sahut Lukas menjawab dengan tegas, ia juga menyadari sangat jelas, kalau kepintarannya mungkin akan membawanya dalam masalah dikemudian hari, bagaimanapun dia hanyalah seorang anak kecil, dan belum saatnya untuk orang lain mengetahui dirinya yang sesungguhnya.


"Andrew, kamu sudah pulang.?"


Sambut seorang wanita membukakan pintunya, dan seketika wanita itu terdiam kaget dengan apa yang sedang ia lihat dihadapannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2