
Prang....
Suara pecahan gelas yang terjatuh kelantai, seketika membuyarkan fokus semua orang, mengalihkan perhatian mereka dari lukas, dan sontak menatap kearah bunyi tersebut.
Andrew mengerutkan dahinya dan menatap tajam kearah wanita yang tengah berdiri terpaku tanpa bergeming itu, ia kaget dengan apa yang telah ia dengar, bagaimana bisa seorang anak laki-laki tiba muncul dihadapannya, dengan statusnya bahwa ia adalah anak seorang laki-laki yang selalu ia kejar dengan sekuat tenaga.
Selama ini ia tahu, kalau sosok andrew tidak pernah memiliki hubungan serius dengan wanita manapun, bagaimana bisa sekarang telah memiliki anak, itu hal yang tidak mungkin dapat dipercaya olehnya.
Bahkan ia berkali-kali mencoba untuk menggoda Andrew dengan pakaian ****, dan hal lainnya, namun ia selalu diabaikan, seolah-olah pria itu tidak memiliki rasa ketertarikan terhadap wanita, bahkan sampai dimana ia hampir tidak mengenakan sehelai pakaian pun, ia masih diabaikan begitu saja.
"Elliana... kamu kenapa.?" Tanya ibunya andrew kepada wanita tersebut, seraya berjalan dan menghampirinya.
"Tante, aku tidak apa-apa, tanganku hanya sedikit licin, jadi tidak sengaja menjatuhkannya, maafkan elliana tante."
Ujarnya menjawab dengan suaranya yang lemah lembut, dengan rasa penuh hormat dan rasa bersalah, yang terukir jelas diwajahnya terhadap ibunya andrew.
"Tidak apa-apa, itu tidak masalah, ayo ikut tante, kita akan makan malam bersama."
Ujar ibunya Andrew, mencoba untuk segera meninggalkan ruangan keluarga tersebut, ia sadar, mungkin wanita itu kaget dengan apa yang telah ia dengar, ia segera mengajaknya keruangan dapur, dengan dalih agar wanita itu dapat membantunya menyiapkan untuk makan malam.
"Lukas, kamu istirahat dulu dilantai atas sebentar ya, ayah akan berbincang sebentar dengan kakekmu." Ujar Andrew
"Baiklah...." Sahut lukas menjawab dengan ekspresi dinginnya yang seperti biasa.
"Liam, Roland, antar Lukas kekamarku, jaga dia dengan baik.!" Tegas Andrew kepada kedua anak buahnya.
"Baik bos."
Serentak Liam dan Roland menjawab bersamaan, mereka segera membungkuk hormat meninggalkan ruangan tersebut, berlalu pergi secepatnya, membawa lukas untuk beristirahat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kita pergi keruangan pribadi ayah.!" Ujar ayahnya seraya melangkah pergi, meninggalkan ruangan tersebut, menuju ruangan kerja pribadi miliknya, dan langsung diikuti oleh Andrew dari belakang.
"Siapa wanita itu.?" Tegas ayah andrew langsung bertanya pada intinya, seraya menatapnya, meminta anaknya untuk berkata jujur kepada dirinya.
"Hah... aku telah melakukan kesalahan dimasa lalu terhadapnya." Ujar Andrew seraya menghela napas berat dan tertunduk penuh rasa penyesalan, duduk dikursi hadapan ayahnya, seraya tertunduk lesu.
"Apakah wanita yang selama ini kamu cari-cari.?"
Berkata dengan santai, seraya ayahnya meneguk teh yang ada dihadapannya, namun perkataan tersebut sontak membuat Andrew terkejut, paktanya, ayahnya tidak pernah menanyakan hal apapun kepadanya, tapi dia bisa tahu apa yang tengah dilakukan anaknya dengan jelas.
"Apakah kamu memata-matai aku ayah.?" Ia bertanya seraya mengerutkan dahinya.
"Tidak, aku hanya pernah mendengar, bertahun-tahun lalu, kau mencari seorang wanita, hampir keseluruh ploksok negeri ini." Jawab ayahnya dengan santai.
"Bukankah katanya dia telah meninggal.?" Sambung ucapan ayahnya, kembali melontarkan pertanyaannya kepada Andrew.
"Beberapa tahun terakhir aku memang sudah menyerah untuk mencarinya, tapi tepat saat aku kembali dari luar negri, aku bertabrakan dengan lukas, bagaimana aku tidak menyadarinya, wajahnya terlalu mirip denganku, dan ibunya memberiku perasaan aneh, kalau aku pernah mengenalnya." Ujar andrew menjelaskan.
Pertanyaan ayahnya tentu saja Andrew sadar betul, ada makna rasa curiga dibalik ucapannya tersebut.
"Balas dendam terhadap keluarganya."
Tegas Andrew menjawab tanpa ragu, sementara ayahnya hanya terdiam menatapnya bingung tanpa berkata-kata lagi.
"Aku telah menyelidiki seluk beluk keluarganya, pada usia 12 tahun, dia mencoba melarikan diri bersama ibunya, dari rumah ayahnya, namun diperjalanan mereka mengalami sebuah kecelakaan tragis, dan menewaskan ibunya, setelah itu dia tumbuh dengan ingatannya yang hilang, dimalam setelah dia bersamaku, wanita itu tanpa ragu mencoba bunuh diri, loncat dari atas tebing kelautan lepas, namun mayatnya sama sekali tidak ditemukan, sampai pada hari dimana aku kembali bertemu dengannya, sikap, sifat, penampilannya semua berubah total, namun tetap saja tidak bisa menyembunyikan penderitaan dan rasa benci yang dia pendam."
Andrew menjelaskan panjang lebar kepada sang ayah, ia memang paling dekat dengan ayahnya, bahkan sang ayah akan selalu menghargai keputusan anaknya tersebut, apapun yang ia lakukan, selama itu tidak akan membahayakan keselamatan dirinya.
"Lalu.?"
__ADS_1
Ujar ayahnya kembali bertanya, ketika Andrew terdiam dan menghela napasnya dengan berat.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa aku selidiki, identitas ibunya, dan laki-laki tua yang selalu menjaganya dari kejauhan, dia bahkan pergi ke negara x selama beberapa bulan, lalu kembali ke london, dan setelah itu, ia berhasil mendirikan perusahaannya sendiri, menjadi sosok hebat hanya dalam 3 tahun."
"Menurut ayah, negara x tempat apa, bukan orang sembarangan yang mampu menyambangi tempat itu." Ujarnya sedikit melemparkan pertanyaan kepada ayahnya.
"Apa kau tidak tahu siapa laki-laki tua itu.?" Ucap ayahnya balik bertanya.
"Tidak, identitas orang itu terlalu misterius, dari postur tubuhnya, sangat cocok kalau laki-laki tua itu adalah kakeknya."
"Hah... baiklah apa yang kau rencanakan selanjutnya.?" Ujar ayahnya kembali bertanya.
"Bertahun-tahun, dia menderita akibat ulahku sendiri, mengandung anak di negara asing, melahirkan tanpa seorang suami, apa menurutmu aku tidak merasa bersalah? anak lelaki aku harus tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh, bagaimanapun dia adalah darah dagingku sendiri, aku ingin menebus dosaku terhadap mereka berdua."
Ujarnya berkata dengan ekspresi serius diwajahnya.
"Apakah dia bersedia.?" Ayahnya kembali melontarkan pertanyaan kepada Andrew.
"Cih, membuatku sakit kepala saja, dia melihatku seperti kotoran, bahkan menolak tawaranku secara mentah-mentah, dia dengan gampang memberikan anaknya kepadaku, agar aku tidak muncul kembali dihadapannya, sungguh konyol." Ujar Andrew dengan ekspresi kesal yang tergambar jelas diwajahnya.
Sementara ayahnya hanya mengerutkan dahinya menatap tajam perubahan sikap dan ekspresi anaknya, sedetik kemudian ia menyeringai dengan ekspresi merendahkan anak laki-lakinya.
"Apa kau yakin hanya ingin menebus kesalahanmu terhadap mereka, atau kau melakukan hal konyol untuk mengikatnya disisimu, dengan dalih keluarga yang utuh untuk anaknya, bukankah alasanmu terlalu baik...." Ujar ayahnya sedikit mencibir anaknya.
Seorang Andrew anak laki-lakinya yang berdarah dingin, tepat seperti dirinya dimasa lalu, harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, untuk mencari sosok wanita itu, dan sekarang sangat merasa terganggu, hanya karna wanita itu menolak tawarannya, bukankah orang bodoh juga akan sadar, hanya dirinya sendiri yang tidak sadar dengan perubahan sikapnya.
Andrew sesaat terdiam menatap wajah ayahnya dengan bingung, sementara ayahnya dengan santai menyalakan rokoknya dan menghembuskan asap dengan santai, membuat dahi Andrew semakin berkerut.
"Kalau kau menyukai wanita itu, kejar dia dengan benar, bukan melakukan hal bodoh, yang akan membuatnya semakin membenci dirimu, bagaimana bisa dia melepaskan anaknya yang sangat berharga baginya, sementara ia sangat menjaga dan menyembunyikan identitas anaknya dengan rapih selama ini, apalagi kalau bukan karna dia tidak ingin bersamamu, dasar bocah konyol, bersikaplah layaknya seorang pria dan seorang ayah...!"
__ADS_1
Tegas ayahnya terhadap Andrew dengan sindiran keras, dan cibiran yang sangat menusuk jantung Andrew.
Bersambung.....