Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 08: Pertemuan kedua


__ADS_3

Pandangan mata semua orang tertuju kepada laki-laki tersebut, sontak semua orang membungkuk hormat seraya menyapanya dengan sopan.


"Tuan...." Semua orang menyapanya dan terlihat sangat menghormati dirinya.


Namun seperti biasa yang pria itu lakukan, dia hanya mengangguk kecil tanpa memperdulikannya.


Baginya, semua orang hanyalah semut dimatanya, dan orang-orang yang berniat menjiilatnya, sama sekali tidak berguna dihadapannya, apapun yang dilakukannya harus berdasarkan keuntungan yang akan ia dapatkan dikemudian hari.


Sontak Caroline menatap tajam pria tersebut, sebuah tekanan yang sangat besar dari dalam dirinya, mampu menyesakan pernapasan dan sekujur tubuhnya, ia mengerutkan sedikit dahinya, menatap sosok megah tersebut.


Dia merasa sangat tidak asing terhadapnya, tapi ia segera menepis fikirannya tersebut, tentu saja pernah melihatnya, bukankah dia tidak sengaja bertemu dengannya saat dibandara, ya, mungkin hanya seperti itu, karna walau ia berusaha mencoba mengingat lebih jauh lagi, ia tetap tidak mengingat dimana dengan jelas, kecuali saat itu dibandara.


"Nona Renata, bolehkah saya bersulang untuk keberhasilan anda...?" Ujar pria tersebut seraya menyodorkan anggur dalam gelasnya.


Merasa tertekan dengan kehadiran pria agung yang megah tersebut, semua orang seketika undur diri dari tempat tersebut, meninggalkan Caroline dan pria yang bersetatus sangat agung itu.


"Nona Renata, kami akan berbincang dengan yang lain terlebih dahulu, Tuan, kami permisi...." Ucap para pria-pria yang saat itu tengah berbincang dengan Caroline, untuk memberikan ruang kepada sosok agung yang menghampiri Caroline Renata.


Caroline menyadari bahwa status pria ini sangat tinggi dan mulia, sehingga semua orang begitu ketakutan ketika melihatnya, dan semua orang yang hadir sangat menghargainya.


"Baik, terimakasih tuan semua, Silahkan nikmati acarnya sampai selesai...." Ucap Caroline kepada orang-orang yang berusaha meninggalkannya dengan sosok pria agung tersebut.


Caroline mengambil satu gelas anggur dimejanya, dan langsung bersulang dengan pria agung yang menghampirinya.


"Terimakasih Tuan...." Seraya Caroline meneguk anggur yang berada ditangannya.


Namun pria dihadapannya tak bergeming sama sekali, ia fokus menatap dirinya dengan sangat dalam, sehingga membuat Caroline merasa aneh dan canggung, mungkinkah ada sesuatu diwajahnya yang salah.


"Tuan... apakah ada yang salah dengan wajah saya.?" Ucap Caroline bertanya, menyadari pria tersebut menatapnya seperti seorang srigala buas.


"Tidak...." Sahut pria itu singkat, dengan ekspresinya yang tak berubah, dan dengan suara yang berat sangat gagah.

__ADS_1


"Ada apa dengan pria ini, kenapa menatapku seperti ini...?"


Ucap Caroline dalam hatinya, seraya balik menatap wajah pria tersebut dengan bingung.


Namun pria dihadapannya sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun, sehingga ia tidak bisa menebak apa yang sedang difikirkan oleh pria yang dingin dihadapannya.


Kedua mata orang yang sedang berhadapan itu bertemu pandang saling menatap satu sama lain.


"Tunggu...! sebenarnya dimana aku pernah melihatnya selain dibandara, kenapa wajah pria ini begitu sangat tidak asing dalam ingatanku...?"


Ucapnya dalam hati seraya mengingat-ngingat siapa sosok pria yang ada dihadapannya.


Setelah agak lama, sontak Caroline terbatuk kaget, karna ia telah menyadari satu hal.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


"Pria Ini, pria ini, kenapa sangat terlihat mirip sekali dengan Lukas...?" Ucapnya dalam hati seketika kaget, dan seketika tubuhnya sedikit bergetar.


"Nona Renata, apakah kamu baik-baik saja...?" Tanya pria itu dengan santai.


"Kalau kamu tidak terbiasa minum, jangan memaksakan diri Nona Renata...!"


"Bagaimana kalau anda mabuk, dan itu bisa merugikan dirimu sendiri dan membahayakan keselamatan dirimu...." Sebuah ucapan sarkasme keluar dari mulut pria tersebut, dengan diiringi seringai tipis yang terkihat licik dibibirnya.


DEG... DEG....


Sontak Caroline sedikit tidak bisa menyembunyikan kehawatiran dalam dirinya, ia menyadari dan mengingat jelas mimpi yang selalu menghantuinya beberapa tahun terakhir kebelakang.


Sebuah bisikan yang mengatakan agar tidak mudah untuk mempercayai orang lain, meski itu adalah sahabat, keluarga termasuk ayah sendiri, ketika seorang pria asing berbisik ditelinganya saat tragedi dahulu terjadi kepadanya, semula ia mengira bahwa semua itu adalah mimpinya semata, namun saat itu, ketika ia terbangun, sekujur tubuhnya telah menyisakan banyak tanda merah dalam tubuhnya, dan seorang pria asing yang tengah tertidur lelap disampingnga tanpa sehelai kain pakaian.


Perkataan pria tersebut selalu muncul dalam mimpinya, begitu juga sebuah perlakuan ganas dari sorang pria yang menggerogoti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Semua kenangan pahit itu selalu menghantui mimpinya dalam beberapa tahun kebelakang, mimpi tersebut mulai lenyap ketika seorang anak laki-laki mulai tumbuh dengan sehat dan tampan, yang selalu menemani hari-hari dirinya.


Namun, ucapan itu kembali terdengar ditelinganya, keluar dari mulut seorang pria yang tengah berada dihadapannya. Sebuah luka lama yang tidak ingin diingatnya, namun semua diingatkan kembali, oleh sosok pria yang tak dikenalnya.


Disisi lain Joel dan Lukas yang tengah menonton acara diaula tersebut dari cctv, disebuah ruangan khusus yang telah disediakan oleh ibunya yaitu Caroline, Joel sontak tertegun, ketika melihat seorang pria yang sangat agung menghampiri sahabatnya.


Dan seketika Joel melirik kearah Lukas yang tengah duduk berada tepat disampingnya, ia kemudian menyadari pria tersebut sangatlah mirip sekali dengan anak angkatnya yaitu Lukas.


"Pria itu, bukankah sangat jelas mirip sekali dengan Lukas, dia adalah versi besarnya, dan Lukas adalah versi kecilnya...."


Ucap joel seraya menatap layar cctv bergantian dengan menatap Lukas yang tanpa menunjukan ekspresi.


"Apa jangan-jangan dia adalah---" Ucapan dalam hati Joel seketika terhenti, ia menatap dengan tajam kearah lukas.


"Orang itu, apakah dia benar-benar adalah ayahku...?" Ucap Lukas dalam hatinya yang tanpa menunjukan perubahan dari ekspresinya.


"Momi bahkan terlihat sangat kaget dengan pria itu, status seperti itu, bukanlah orang dari kalangan yang sederhana, mungkinkah itu adalah arti dari sikap Momi selama ini...?"


Ujar lukas dalam hatinya penuh tanya.


Didasar hatinya yang paling dalam, Lukas sangat ingin sekali mengetahui siapa ayah kandungnya sendiri, tapi ia tidak bisa bertanya kepada Mominya, ia takut akan membuat Mominya terluka dan sedih.


Pasalnya, ia tahu dengan sangat jelas, kalau Mominya telah mendapatkan sebuah perlakuan tidak baik, bahkan sangat buruk, dalam kehidupannya ketika ia remaja dulu, walaupun Lukas tidak tahu dengan jelas, hal besar seperti apa yang telah terjadi dalam kisah hidup Mominya, sehingga sampai sekarang, bekas luka itu sangat sulit hilang dari ingatan Mominya.


Dan kembalinya Mominya ke negara ini, adalah suatu rencana besar yang telah disusunnya, ia membawa sebuah misi dan dendam yang sangat dalam, terutama mengenai kematian Ibunya, yaitu neneknya Lukas.


******


"Tuan, masih banyak tamu yang harus saya sapa, Silahkan nikmati acaranya, saya permisi terlebih dahulu...."


Ucap Caroline dengan sopan, mencoba untuk segera meninggalkan pria tersebut, ia tidak ingin berada dalam suasana yang menegangkan seperti ini, terutama, ia tidak ingin mengingat kenangan pahit yang begitu menusuk-nusuk jantungnya dan seluruh tubuhnya, seolah-olah mengingatkan sebuah luka lama, yang hampir membawanya kepada sebuah kematian.

__ADS_1


"Nona Renata, apakah kamu tengah mencoba menghindari saya dan berusaha melarikan diri lagi...?"


Bersambung.....


__ADS_2