
"Momi.?"
Lukas menatap dalam wajah ibunya dengan ekspresi memelas, agar sang ayah diijinkannya untuk masuk kedalam rumah mereka.
"Baiklah, masuklah.!"
Setelah ia mengelus lembut kepada putranya, dengan sedikit senyuman dibibirnya, ia segera berbalik meninggalkan tempatnya.
Melihat ekspresi canggung ayahnya, lukas hanya tersenyum tipis mengedipkan sebelah matanya.
"Ayah, ayo masuk.!" Ucapnya.
Karna ucapan anaknya tadi, ia hanya bisa mengikuti akting sang anak, ia segera berlalu pergi menuju toilet dilantai tersebut.
Caroline segera merapihkan laptopnya, untuk menunda pekerjaannya sementara.
"Apa Lukas sudah makan malam.?"
Ujarnya bertanya.
"Belum Momi, Lukas ingin masakan Momi." Sahutnya menjawab dengan ekspresi manja.
"Baiklah, Lukas ganti baju terlebih dahulu, Momi akan menyiapkan untuk makan malam." Ujarnya dengan nada lembut.
"Baik Momi."
Ia segera berlari kecil menuju lantai atas kamarnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya.?" Ujar pembantunya bertanya, seraya menghampiri dirinya.
"Tidak perlu Bi, biar saya sendiri saja, bibi istirahatlah.!"
Jawabnya, seraya ia mulai sibuk dengan bahan makanan yang ada dihadapannya.
"Baik Nyonya."
Dia segera pergi meninggalkan Caroline sendiri dengan sopan, meninggalkan tempat masak tersebut.
Andrew yang baru keluar dari toilet, ia segera menuju ruangan dapur, karna melihat Caroline dan lukas tidak ada diruangan tamu, dan saat itu ia mendengar suara seseorang yang seperti tengah memasak.
__ADS_1
Ia berdiri dipinta masuk dapur seraya menyenderkan badannya, menatap sosok wanita yang tengah sibuk, ia menatap bagian belakang wanita itu dengan lembut.
Merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya, Caroline langsung berbalik kearah belakangnya, ia melihat ekspresi Andrew yang masih terlihat gundah, matanya menatap dalam dirinya, tapi entah berada dimana fikiran pria tersebut, seperti cangkang tanpa nyawa.
"Apa kau tidak merasa pegal, terus berdiri seperti itu.?"
Ucapnya seraya kembali berfokus pada masakan yang tengah ia buat.
Tanpa menjawab, Andrew langsung melangkahkan kakinya, dan segera duduk dikursi yang ada diruangan tersebut.
"Caroline bolehkan aku bertanya.?"
Ucapnya dengan ekspresi ragu, dan wajahnya yang terlihat lesu.
"Silahkan.!"
Jawabnya dengan singkat, namun ia sedikit merasa aneh dengan sikap pria tersebut saat ini, seperti ia tengah memikirkan sesuatu.
"Bagaimana kehidupanmu selama diluar negri.?"
Ujarnya bertanya, seraya menatap arah belakang wanita yang tengah sibuk sendiri itu.
"Aku baik-baik saja, tentu saja aku hidup dengan sangat bahagia."
Sahutnya menjawab, ia tidak berniat untuk membahas deritanya saat itu kepada Andrew, lagipula untuk apa, mungkin orang lain hanya sebatas ingin mengetahui perjalanan hidupnya semata, bukan berarti mereka peduli, dan bukan berarti mereka bisa merasakan kesusahannya saat itu.
Sekuat tenaga ia harus menjalani hari-harinya dengan perjuangan, mencari uang untuk biaya hidupnya, agar nanti saat ia melahirkan, tidak terlalu bergantung pada Joel.
"Maapkan aku, bisa dibilang itu adalah kesalahanku, sehingga menempatkanmu dalam kesusahan."
Ujar Andrew dengan rasa bersalah dan penyesalannya.
"Tidak apa-apa, itu hal yang sudah lalu, tidak perlu membahasnya lagi! kau tidak perlu merasa bersalah."
Ujarnya menjawab dengan santai.
Bersalah? tentu saja kau bersalah, kalau bukan karna kelakuan gila kamu, aku tidak akan memutuskan untuk mengakhiri hidupku, statusmu yang sangat tinggi, memberikan celah kepada situa bangka itu, untuk menukar kesucianku dengan pasilitas yang keluarga itu dapatkan.
Cih, sangat menyebalkan, dijual ayah sendiri, ditiduri pria kejam yang tidak aku kenal, bahkan sampai berakhir dengan melahirkan anak sendirian, tanpa status pernikahan, semua orang akan mencemoohku kalau saja tahu, mereka akan berkata semua ini adalah aib dari kelakuan buruk yang aku perbuat.
Ia tetap berfokus pada masakannya, tidak berniat untuk berbalik dan tidak berniat untuk melihat wajah pria itu. Berkata itu adalah masalalu, bukan berarti ia bisa menerima kenyataan buruknya yang terjadi saat itu.
"Tapi Caroline, aku tidak menyesal karna aku melakukannya denganmu, aku hanya menyesal, dulu aku tidak mencarimu dengan sangat gigih, aku benar-benar mengira kau telah tiada, setelah 3 tahun selalu berusaha mencari keberadaanmu tanpa membuahkan hasil."
Ujarnya menjelaskan apa yang selama ini mengganggu fikirannya sendiri.
__ADS_1
"*Me**ncariku? 3 t**ahun*.?"
Tidak mungkin? untuk apa pria itu mencarinya, agar dirinya selalu jadi bahan perjanjiannya dengan ayahnya sendiri? dan ia bisa melakukan hal apa saja terhadap dirinya.
Caroline sesaat menghentikan aktivitas memasaknya, ia menghela napas berat yang panjang. Ia terdiam tanpa menjawab, sedetik kemudian ia kembali sibuk dengan masakannya.
"Caroline, apa kau begitu membenciku.?"
Ujar Andrew kembali bertanya, dengan suaranya yang berat dan terdengar lesu.
Ia sendiri ragu dengan rasa bencinya terhadap pria tersebut, apakah itu rasa benci? dendam? atau kekecewaannya semata terhadap sikap ayahnya dimasalalu.
"Lupakan! tidak perlu membahasnya, itu bukan hal yang penting."
Sahutnya menjawab, setelah ia terdiam beberapa saat.
"Aku rasa kau sangat membenciku, aku pantas mendapatkan hal itu, tapi Caroline, bisakah kau sedikit membuka diri untuku.?"
"Membuka diri? tentu saja aku sudah membuka diri, karna bagaimanapun kau adalah ayah dari anakku."
Sahutnya menjawab seraya ia langsung berbalik menatap tajam kearah pria tersebut.
"Bukan itu maksud----"
"Tolong panggilkan Lukas untuk turun! makan malamnya sudah siap, dia mungkin masih dilantai atas."
Caroline segera memotong pembicaraan Andrew, ia tidak ingin mendengar hal yang lebih jauh lagi, seharusnya ia bisa bersyukur, karna ia telah mengijinkannya untuk bertemu dengan anaknya, bahkan beberapa kali membawanya ke panthos keluarga besarnya, dan ia tidak melarang hal itu. Terlebih lagi, sepertinya lukas menyukai sosok ayahnya yang hebat tersebut, walau ia selalu bersikap cuek dan dingin.
Caroline langsung menyajikan masakannya keatas meja makan, tanpa memperdulikan Andrew yang menatapnya pasrah. Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya, seraya menghela napas berat, kemudian ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut untuk memanggil anaknya.
"*Aku tahu, tapi aku tidak bisa, aku tidak akan menjadi wanita bodoh untuk yang kesekian kalinya, aku baru memulai peperanganku dengan orang tua itu, identitasmu, bukanlah hal yang bisa aku sentuh*."
Ucapnya dalam hati, seraya ia menatap jauh Andrew, yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Bersambung.....
πNOTE : π
Maap ya semua, kalo masih banyak tulisan typonya, dan kalau tidak sesuai dengan selera baca kalian, aku selalu siap mendengarkan saran, masukan, dan kritikan kalian, dan selalu siap untuk merevisi, kalau lagi tidak sibuk dalam dunia nyata. πππ π
Terimakasih yang sudah memberi dukungan, dan telah bersedia mampir dalam tulisanku yang masih kaya remahan rengginang ini. πππ entah itu dengan memasukannya ke favorit, vote, rate, like, atau komennya. Othor sangat mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Harap maklum, masih perlu banyak belajar lagi Authornya. pay pay π₯°π₯°