
"Apakah kau berjanji? semua orang berkata, sebaik apa ibu tiri, mereka tidak akan mennyayanginya seperti dia menyayangi anaknya sendiri...."
Ujarnya bertanya dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat sedih.
"Aku berjanji, tidak ada wanita lain yang akan menjadi ibumu, selain Momi kamu yang sangat tegar, kuat, mandiri, tentunya dia juga sangat cantik...."
Sahutnya menjawab seraya ia menyeka air mata lukas, yang hampir jatuh dipelupuk matanya.
"Apa ayah tahu, kenapa Momi bisa sampai berakhir tragis denganmu? itu semua akibat ulah ibu tirinya, dia meracuni otak kakek dengan berpura-pura baik dihadapannya layaknya seorang wanita berhati malaikat, tapi sebenarnya ia selalu menyiksa Momi dan nenek layaknya seorang iblis." Tegasnya.
Sebenarnya lukas tidak tahu dengan jelas, cerita kisah hidup ibunya seperti apa, ia hanya menerka-nerka dan menebak saja, melihat dari ekspresi ibunya saat itu, ketika Caroline memperhatikan dengan sangat geram, dan begitu terlihat dendam yang membara, ketika sosok wanita muda ada dalam acara televisi yang ia lihat.
Ia bisa menyimpulkan bahwa wanita itu, kemungkinan saudari tiri ibunya, ketika ia juga melihat pemakaman neneknya saat itu, yang seketika membuat Caroline memasang ekspresi sedih, kesal, penyesalan, dendam, menjadi satu dalam raut wajahnya.
Ia bisa menebak dengan jelas, bahwa kematian sang nenek, tidak sesederhana kelihatannya, dan saat ia sedikit mengetahui, bahwa kedatangan ibunya ke Korea, bertujuan akan menuntut sebuah balas, kepada keluarganya dahulu.
Jadi ia menggunakan cerita tersebut, untuk menjauhkan sang ayah, dari rubah betina yang saat ini tepat berada dihadapannya, tanpa harus turun tangan langsung, ia mampu dalam sekejap mata mengendalikan ayahnya.
Papih, maapkan aku, itu karna kamu menelpon disaat yang tepat, aku tidak bermaksud menjadikan kamu sebuah tameng dan alasan.
Ucapnya dalam hati tanpa merubah ekspresi wajahnya, sehingga aktingnya benar-benar sangat natural dan rapih, tanpa menyisakan kecurigaan bagi orang dewasa.
Namun disisi lain, terlihat wajah Elliana yang sangat geram dan kesal, ketika ia mendengar ucapan Andrew berjanji tanpa ragu, bahkan ia memuji sosok wanita itu dengan rasa bangga.
Ia mengepalkan tangannya kasar, seraya menggigit bibirnya dengan wajah muramnya, seraya menatap tajam wajah anak laki-laki tersebut.
Melihat ekspresi kesal dari wanita itu, dalam hatinya lukas sangat tertawa dengan bangga, ia berhasil membuat wanita itu geram, hanya butuh sedikit bumbu penyedap lagi, agar sifat aslinya keluar.
__ADS_1
Mata Andrew terbelalak seperti tertusuk-tusuk, ketika ia mendengar ucapan anaknya, bahwa ibunya berakhir tragis dengannya, apa dia tidak sadar dengan ucapannya sendiri? kata berakhir tragis, bukankah itu menunjukan betapa pembawa sialnya dirinya terhadap kehidupan ibunya.
Nak, kau sebenarnya membantu ayah, agar ada alasan bahwa aku tidak akan bersama wanita lain, tapi disatu sisi, kau juga menjatuhkan mental, dan menghina ayahmu sendiri.
Tapi tetap saja, ia tidak bisa berbuat apa-apa, disatu sisi bocah ini adalah anaknya sendiri, dan disatu sisi juga, ia merasa sangat kesal, kalau Caroline begitu didukung agar bersama dengan pria lain, yang tidak lain oleh anak kandungnya sendiri.
Cemburu? mungkin dia tengah merasakan hal itu saat ini, namun egonya menutupi akal sehatnya, mungkin itu semua hanyalah rasa kesalnya semata, karna ia telah melahirkan anaknya, dan akan dengan mudah begitu saja menjalin kisah dengan orang lain, sementara ia selama bertahun-tahun mencari keberadaan sosok wanita tersebut, bukankah dia sangat tidak menganggap dan menghormati dirinya.
"Nak, ayah tahu ayah telah bersalah kepada kalian, mulai saat ini, ayah akan berusaha menebus waktu ayah yang telah hilang...." Ucapnya seraya mengelus ujung kepala anaknya.
Namun dari perkataan ayahnya, lukas bisa mencerna dengan baik, bahwa dia masih ragu dengan dirinya sendiri terhadap ibunya.
Tidak tersirat sebuah makna yang dalam, bahwa ia akan kembali bersama dengan ibunya, dan juga tidak terdapat makna, bahwa mereka akan hidup bersatu dalam ikatan nama keluarga.
Lukas sedikit mengangkat ujung alisnya, sepertinya ayahnya yang bodoh ini, belum menyadari dirinya sendiri, haruskah ia menambahkan minyak tanah kedalam api yang tengah berkobar? agar ayah bodohnya bisa melihat dengan jelas, tentang dirinya sendiri.
Ia hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanya, dan berfikir dengan dalam, akhirnya ia hanya memutuskan untuk menjawab, dengan sedikit kata-kata sindiran kembali.
"Aku sudah terbiasa tanpa kehadiran ayah, jadi ayah tidak perlu menebus kesalahan ayah, kita masih bisa bertemu saat aku libur sekolah, atau ayah bisa menjemput aku sesekali untuk sekedar bermalam denganmu."
"Jangan pisahkan aku dengan Momiku ayah.!"
Ujarnya berkata dengan wajah memelas, layaknya seorang anak kecil, yang tengah merengek ingin bertemu ibunya, dan sedetik kemudian, ia menangis tersedu-sedu.
"Lukas aku tidak akan memisahkan kamu dengan ibumu, aku tidak akan melakukan hal keji untuk kedua kalinya seperti itu."
"Aku hanya akan menjadikanmu sebag---"
__ADS_1
Ucapannya terhenti seketika diujung lidahnya, hampir saja ia berkata, ingin menggunakan anaknya sendiri, agar wanita itu datang memohon kepadanya, karna tidak ingin terpisah dari anaknya, dan ia akan menyetujui ajakannya untuk bersama dengannya.
"Menjadikan aku sebagai apa.?"
Ujar lukas bertanya dengan ekspresi pura-pura bingungnya, dan menatapnya dengan rasa penasaran.
"Sebagai, sebagai---" Akhirnya ia hanya bisa menggaruk kepalanya bingung, tanpa bisa melanjutkan ucapannya sendiri.
"Sudahlah, lupakan hal itu! anggap ayah tidak mengatakan apapun." Ujarnya seraya menghela napas berat.
Sebagai alat untuk bernegosiasi dengan ibuku, bukan? tentu saja aku tahu.
Lukas akhirnya hanya menghela napas berat, dia kira kedua orang tuanya akan memperebutkan hak asuh dirinya, ternyata semua itu salah, ibunya memang sangat takut kehilangan dirinya, tapi rasa trauma yang dalam baginya, tidak mungkin semudah itu, akan menerima tawaran Andrew begitu saja.
Sedangkan Andrew, yang egonya sangat tinggi, rasa gengsi yang sangat berlebihan, ia hanya bisa menggunakan cara licik, untuk menjadikan anaknya sendiri, hanya sebagai alat untuk mendapatkan Caroline, ia tidak memiliki keberanian untuk berkata yang sejujurnya.
Lukas seketika melangkahkan kakinya menjauh dari Andrew, ia mendekat kearah nenek dan kakeknya berada.
"Aku tidak ingin ikut pulang kerumah ayah, lebih baik aku disini saja dengan kakek dan nenek."
Ucapnya dengan wajah dan ekspresi ragu, dan terlihat ada sebuah ketakutan darinya.
Sontak neneknya memeluk tubuh cucunya erat, ia mengelus ujung kepalanya dan punggungnya, seraya menatap tajam kearah anaknya tersebut, dengan ekspresi kesalnya.
"Lukas, apa yang kamu katakan nak, bukankah kau setuju untuk pulang kerumah ayah.?" Ujarnya berkata seraya mencoba mendekat kearah anaknya.
"Tidak mau, ayah bilang hanya akan menggunakan aku sebagai, sebagai apa? kau tidak benar-benar menginginkan aku."
__ADS_1
Tegasnya menolak, seraya ia meringkuk dipelukan neneknya.
Bersambung....