Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 26: Hasil tes DNA


__ADS_3

"Sudahlah, kalian berdua ikut keruanganku sekarang...!"


Ujar dokter tersebut kepada Andrew dan lukas, seraya ia menghela napas panjang dan segera memasuki ruangan pribadinya.


"Dokter, bagaimana dengan saya...?"


Tanya Caroline kepadanya, sebelum dokter itu berhasil melangkah pergi.


"Nona, anda sebaiknya menunggu diluar...!"


Jawabnya tegas seraya menoleh kearah Caroline, dengan senyuman ramah dibibirnya, namun dengan raut wajahnya yang kaku, seperti ia memaksakan senyumnya sendiri, dan ia segera kembali melanjutkan langkahnya.


"Tunggu disini! aku tidak akan mencelakai anakmu...."


Tegas Andrew kepada Caroline yang saat itu wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Roland, Liam, jaga Nona Caroline dengan baik...!"


Ujarnya memerintahkan kedua bawahannya, agar Caroline tidak membuat masalah, dan tidak mencoba untuk kembali melarikan diri lagi seperti dahulu.


"Kami mengerti bos...."


Sahut Liam dan Roland menjawab secara bersamaan, mengerti apa dari maksud ucapan bosnya.


"Sayang...?"


Ujar Caroline memanggil anaknya, menatap tajam kearahnya, seraya ia sontak langsung menggengam erat sebelah lengan milik anaknya.


"Ya Momi, kenapa...?"


Sahut anak itu dengan ekspresi polosnya yang penuh tanya, seraya menatap dalam wajah ibunya.


"Momi---"


Ucapannya tertahan diujung lidahnya, ketika menyadari bahwa Andrew tengah menatapnya tajam, menyadari ekspresi dari pria itu mulai berubah menjadi dingin dalam seketika, dan kedua alisnya mengerut, ia hanya bisa menghela napas panjang, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perkataan yang ingin dia ucapkan.


"Momi hanya menghawatirkan Lukas saja...." Ujar ibunya berdalih, menlanjutkan perkataannya yang sempat terhenti, seraya ia melepaskan genggaman tangannya, dan membelai lembut pipi anaknya.


__ADS_1


"Tidak apa-apa Momi, tidak perlu khawatir...." Ujar lukas menjawab dengan senyuman polos diwajahnya.



"*Aku tahu, kalau Momi tidak ingin aku masuk kedalam, tapi setidaknya, aku harus tahu siapa ayah kandungku yang sebenarnya, melihat sikap aneh pria ini, dia sedikitnya terlihat menaruh hati kepada Momi, benar atau tidaknya, nanti juga aku akan tahu sendiri*...."


Ujar lukas dalam hatinya, sementara Caroline hanya bisa terdiam mengigit ujung bibinya sendiri, saat ia mendengar ucapan dari anaknya tadi.


"*Nak, Momi hanya sedikit takut dengan apa yang akan terjadi nanti, Momi takut kalau suatu hari harus kehilangan kamu*...."


Ucapnya dalam hati dengan perasaannya yang berkecamuk tak menentu, ia terdiam tak bergeming memandangi sosok kedua orang yang perlahan menuju ruangan dokter tersebut.


Matanya mulai memerah berkaca-kaca seperti ingin menitikan air matanya, napasnya sangat terasa berat sekali, ada sebuah perasaan sakit yang tidak bisa ia jelaskan, ekspresi raut wajahnya mulai suram seperti langit yang mendung yang akan turun hujan.


Rasa takut akan kehilangan putra tercinta yang menjadi tumpuan dan penyemangat hidupnya, kini tengah menghantui seluruh isi fikirannya sendiri, ia merasa menyesal telah menyetujui permintaan laki-laki tersebut, sosok pria dalam ingatannya, semuanya adalah pria brengsek, pria yang tak memiliki belas kasihan, dan semuanya sangat kejam, bahkan sosok ayah yang seharusnya melindungi istri dan anaknya sendiri, sudah tidak bisa lagi ia percaya dalam kehidupan ini.


Seandainya ia lebih berusaha dengan sangat keras, untuk mempertahankan hak dirinya terhadap putranya, mungkin ia tidak akan memiliki rasa khawatir yang sangat besar, dan rasa sakit yang sangat menusuk seluruh tubuhnya seperti saat ini.


Kalau harus kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya, ia benar-benar tidak akan sanggup untuk bertahan lagi, ia tidak akan pernah bisa untuk menyembuhkan lukanya sendiri.


Semua orang yang ia sayangi dan sangat berharga dalam hidupnya, satu persatu mulai menjauh, dan menghilang dari kehidupannya.


Ia mengepalkan tangannya dengan erat, seraya menggertakan giginya sangat kesakitan dan penuh emosional yang bergejolak, ia mencoba untuk menahan tangisanya sendiri, namun butiran-butiran air mata itu telah jatuh menetes membasahi pipinya tanpa ia rasa.


Tubuhnya terasa seperti tengah disayat-sayat sebuah pisau karat, lalu disiram air garam diatas luka yang dalam, sakit, perih, panas, semua terasa bercampur dalam hatinya saat ini, dengan tatapan kosong dimatanya, seperti nyawanya telah terpisah dengan raganya sendiri.


Andrew tiba-tiba menoleh kepadanya, ia melihat sosok wanita itu seperti tengah terguncang hebat, andrew terdiam dari langkah kakinya, ketika melihat deraian kecil air mata wanita itu berjatuhan membasahi pipinya, andrew menatapnya tajam dengan rasa tidak enak, ketika melihat wanita itu seperti berusaha menahan dan mengendalikan dirinya sendiri, mencoba agar terlihat tenang, namun wanita itu tidak menyadari bahwa air matanya tidak bisa ia tahan, dan andrew bisa melihatnya dengan sangat jelas.


Sebuah pandangan lurus kedepan, tanpa bergeming sama sekali, namun tatapannya sangat kosong, seperti ia telah kehilangan seluruh jiwanya.


"*Caroline, kalau dia benar adalah anakku, aku tidak akan merebutnya darimu, aku tidak akan memisahkan kalian berdua, apa yang kau fikirkan sekarang, kenapa kau terlihat sangat rapuh, apakah luka dimasa lalu yang kau alami itu sangat mengguncang jiwamu, sebenarnya hal apa saja yang telah terjadi kepadanya, diluar kejadian yang terkait denganku*...?"


Ucapnya dalam hati seraya terdiam memandang wajah wanita itu, dan menghela napas dalam.


"Sial, kenapa perasaanku sangat tidak enak, ketika melihatnya terluka seperti itu...."


"Sudahlah, bahas nanti saja, aku harus tahu dengan jelas, bahwa bocah itu memang benar adalah anakku...."


Tambahnya berucap dalam hati, seraya ia segera memalingkan wajahnya dari wanita tersebut, yang masih tak bergeming, ia melangkahkan kakinya untuk segera masuk keruangan dokter itu, yang sekaligus sahabatnya sendiri, kemudian ia menutup pintunya dengan rapat.

__ADS_1


"Nona, sebaiknya anda duduk terlebih dahulu seraya menunggu hasilnya keluar...!" Ujar Roland yang melihat wanita itu berdiri tanpa bergerak sama sekali, ia hanya melihat bagian tubuh belakangnya yang suram, seraya mengepalkan tangannya sendiri.


Namun Caroline tidak mendengarnya sama sekali ucapan dari Roland tersebut, ia tengah bergelut dalam fikirannya sendiri, sehingga tidak menyadari sekelilingnya saat itu.


Roland dan Liam hanya saling menatap satu sama lain, ketika menyadari wanita itu tidak menjawab ataupun bergerak dari tempatnya.


"Apa dia baik-baik saja...?"


Ujar Roland bertanya dengan berbisik kepada Liam.


"Aku rasa tidak...."


Sahut Liam menjawab dengan menghela napas dalam, seraya menatap tajam kearah wanita itu berdiri.


"Apa yang terjadi...?"


Ujar Roland kembali bertanya, ia merasa sedikit penasaran dengan apa yang telah terjadi dimasa lalu diantara kedua orang itu.


"Mungkin dia berfikir bahwa bos akan merebut paksa anaknya...."


Sahut Liam seraya duduk dikursi tunggu yang ada disampingnya, dan diikuti oleh Roland yang juga seketika duduk disamping Liam.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi dulu kepada bos dan dia, tiba-tiba muncul seorang anak yang sangat mirip dengannya, dan bos bersikeras untuk melakukan tes DNA walau wanita itu berusaha keras menolaknya...."


Ucap Roland dalam hatinya penuh tanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangannya, sontak Andrew segera menghampirinya, dengan sebuah lembaran kertas ditangan dokter, seketika Andrew merampas hasil tes tersebut, ditatapnya hasil tes DNA tersebut dengan ekspresi senangnya yang tergambar jelas dari ekspresinya.


"Caroline, ini adalah laporan dari hasil tes DNA nya...."


Seraya ia menepuk lembut lengan wanita itu, dan menyerahkan hasil laporan tes DNA nya kepada Caroline yang masih mematung ditempatnya semula berdiri.


Bruk....


Seketika ia terjatuh bersimbuh dilantai, seraya ia menatap kertas yang saat itu sudah berada ditangannya.


"Dia, dia beneran adalah anak kamu...?" Ujarnya berkata dengan suaranya yang bergetar menatap tajam lelaki itu dengan matanya yang sudah memerah.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2