
Mendengar perkataan ayahnya tersebut, ia terdiam seraya dahinya berkerut, membuat perasaannya sedikit menaruh rasa ragu, ia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah yang dia lakukan selama ini, karna memang menaruh perasaan terhadap wanita itu, atau ia hanya sekedar merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan, sehingga menjadi alasan kuat, untuk wanita itu mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
Ia terdiam tanpa bergeming, raut wajahnya menampakam rasa kegelisahannya, karna ia belum yakin sepenuhnya dengan apa yang ia rasakan saat ini.
"Andrew, kalau kamu masih ragu, kenali hati dan perasaanmu seperti apa, jangan sampai keputusanmu membawa bencana dikemudian hari, hal yang paling berbahaya adalah, rasa sakit dan kekecewaan seseorang, fikirkanlah dengan baik.!" Ujar ayahnya tegas.
"Aku mengerti...." Sahutnya dengan ekspresi yang masih sedikit bingung dengan dirinya sendiri.
"Baiklah, ayo keluar, kita harus makan malam bersama, jarang sekali kau pulang kerumah orang tuamu bukan.?" Ujar ayahnya seraya bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh Andrew meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku akan memanggil Lukas terlebih dahulu." Ujarnya seraya menyusuri anak tangga, menuju kelantas atas, dimana lukas saat ini sedang ditemani oleh kedua anak buah kepercayaannya, sementara ayahnya hanya mengangguk pelan tanpa menjawab.
"Lukas, ayo turun! kita akan makan malam bersama...." Ucapnya seraya membuka pintu kamarnya.
"Ok...." Sahut Lukas singkat dengan raut wajah dinginnya.
"Bos, kalau begitu kami akan pamit terlebih dahulu...." Ujar Liam dan Roland saling melirik satu sama lain.
"Tidak perlu, ikutlah makan malam terlebih dahulu, kita akan kembali ke rumahku setelah semuanya selesai." Ucap Andrew tegas.
Roland dan Liam kembali saling melirik satu sama lain, karna awalnya, ia mengatakan akan menginap dikediaman orang tuanya.
Andrew semula memang telah menghubungi kedua orang tuanya lewat pesan, bahwa ia akan datang dan membawa hadiah kepada orang tuanya, namun, saat ia mengetahui ada seorang wanita yang membuatnya tidak nyaman, jadi ia memutuskan untuk tidak menginap, dan lebih baik membawa Lukas kerumah pribadinya saja.
Kedatangan Elliana, memang atas dasar untuk bertemu Andrew, karna mengetahui kalau ia akan datang menemui kedua orang tuanya, dan secara pribadi, ibunya Andrew memberi tahu dia, kalau anaknya akan pulang dan menyuruh Elliana untuk datang, dengan rasa senang dan tergesa-gesa wanita itu segera pergi menyambangi kediaman orang tuanya Andrew.
"Baik bos...." Sahut Roland dan Liam menjawab bersamaan.
********
__ADS_1
Diruangan makan malam, semua orang yang hadir sudah duduk dikursinya masing-masing, Elliana sengaja duduk tepat disisi kiri Andrew, sedangkan lukas duduk ditengah-tengah diantara nenek dan kakeknya, ia tepat berhadapan dengan Andrew dan Elliana.
"Nak, ayo makan yang banyak, apa kamu mau nenek menyuapimu.?" Ujar Neneknya dengan senyuman lembut diwajahnya.
"Tidak perlu, terimakasih, saya bisa sendiri, anda tidak perlu repot-repot...." Sahut Lukas dengan sopan, tapi ekspresinya sangat dingin terlihat jelas diwajahnya, dan ia seperti sedang menjaga jarak darinya.
"Ah... baiklah sayang, kalau begitu makanan apa yang kamu suka, nenek akan mengambilkannya untukmu.?" Ujarnya kembali bertanya.
"Terimakasih, saya tidak pilih-pilih makanan...." Sahutnya menjawab, tetap dengan ekspresinya yang sama, dan membuat neneknya merasa canggung, karna ia memberikan rasa asing yang sangat besar.
"Baiklah, ayo kita makan...." Ujar ayahnya Andrew mencairkan suasana, agar tidak merasa tegang dan canggung.
"Baik, selamat makan...." Ujar Lukas dengan sopan tanpa senyuman sedikitpun diwajahnya.
Ia merasa sedikit kesal dengan apa yang sedang ia lihat, dia baru saja mengetahui sosok ayahnya sendiri, dan pria itu begitu antusias terhadap ibunya, tapi sekarang, tepat disampingnya ada sosok wanita lain yang berusaha menempel padanya, seperti tengah berusaha menarik perhatian ayahnya, tentu saja membuat ia sedikit kesal dan membuat dahinya berkerut.
"An... kamu mau makan apa? biar aku ambilkan untukmu."
"Tidak perlu, aku sudah besar, bisa sendiri." Tegas Andrew seraya mengambil makanannya sendiri, dan terlihat jelas bahwa ekspresinya tidak nyaman dan merasa terganggu.
Lukas sesekali melirik kearah dua orang dihadapannya tersebut, ia sedikit menyeringai tipis, dengan ekspresi dan sikap yang ditujukan oleh Andrew terhadap wanita itu.
Ia sedikit menyadari satu hal, bahwa ayahnya tidak tertarik kepada wanita itu, dia bahkan terlihat beberapa kali menarik kursi tempat duduknya agar sedikit menjauh dari Elliana, berbeda dengan sikap dan sifatnya terhadap ibunya, pria itu berkali-kali memperlihatkan rasa pedulinya, bahkan rasa tidak sukanya dengan kehadiran sosok pria lain disekitar ibunya, terutama Hellio saat dalam acara waktu itu.
Akan tetapi, ia belum tahu dengan sangat jelas, apakah ayahnya memang peduli, menaruh perasaan terhadap ibunya, atau justru hanya sekedar berkaitan dengan masalah kemunculan dirinya semata.
Merasa canggung dan sedikit kesal, Elliana mengalihkan perhatiannya kepada Lukas, kalau dia adalah anaknya, dia harus merebut perhatian anak itu, agar Andrew meliriknya, dan mulai berfikir kalau dirinya sosok wanita penyayang, dan calon ibu tiri terbaik dimasa depan.
"Sayang, cobalah makan ini, sangat lezat, dan juga bergizi, ini akan membantu pertumbuhan anak-anak, tante sengaja membuatnya untuk menyesuaikannya dengan usiamu...." Ujar Elliana seraya menyodorkan piring berisi sayuran hijau yang sehat kepada Lukas.
__ADS_1
Lukas menatapnya tajam, seraya mengerutkan dahinya dengan ekspresi dingin.
"Tante, maaf saya tidak begitu menyukai daun bawang, itu terlihat enak, tapi biasanya Momiku menggantinya dengan taburan daun seledri." Tegasnya menjawab dengan senyum tipis yang enggan diwajahnya.
Sontak Elliana terdiam dengan canggung, dan menarik kembali piring tersebut, terlihat ekspresinya sangat kesal dan geram, ketika mendengar anak itu membahas Mominya.
"Oh begitu, baiklah, maaf tante tidak mengetahuinya, lain kali akan tante perhatikan lagi." Ujar Elliana berkata dengan rasa canggungnya.
"Tentu saja, apalagi kalau ayah menyetujuinya, nanti saya akan meminta ijin kepada Momi, kalau ada tante cantik yang sangat baik dan perhatian terhadap saya, mungkin saja dia akan menjadi ibu tiri yang baik."
Ujar Lukas langsung membuat wanita itu terdiam, sebuah kata pujian, namun mengandung sindiran yang keras bagi sosok Elliana.
"Sayang, apa yang kamu katakan, ibu tiri apanya, tante hanyalah teman ayahmu saja." Ujar Elliana mencoba mengendalikan dirinya.
"Oh, maafkan saya tante, saya kira tante ingin jadi ibu tiri saya, karna sepertinya sangat tertarik kepada ayah, walau ayah begitu mengabaikan tante, jadi berusahalah lebih keras lagi tante, saya mendukung anda." Ujarnya dengan ucapan yang sangat menusuk dada Elliana.
Sementara Andrew berfokus kepada makanannya, sesaat ia menyeringai tipis, dan terlihat senang juga bangga, dengan apa yang dilakukan anaknya tersebut.
"Uhuk... Uhuk...."
"Lanjutkan makannya, nanti masakannya akan semakin dingin." Ujar ayahnya Andrew mencoba memecah keheningan.
"Haih... kedua orang ini, benar-benar pintar dalam membuat mental orang lain jatuh."
Ujar ayahnya Andrew dalam hati, seraya menghela napas pelan dan sedikit melirik kearah Andrew, Lukas, dan juga Elliana secara bergantian, apalagi menyadari sedikit ekspresi puas dari anaknya, ia tahu kalau Andrew setuju dengan apa yang dilakukan anaknya.
"Kau ingin menjadi ibu tiriku dimasa depan, mimpi saja...."
Ucap Lukas dalam hatinya, seraya kembali berfokus kepada makanannya.
__ADS_1
Bersambung.....