
Malam itu, kakeknya tengah sibuk menata beberapa pengaturan dalam kediaman besar itu, yang akan menjadi kediaman utama bagi Caroline, Lucas dan Luxi.
Kakek Alterio harus secepatnya membereskan tentang pengaturan kediaman ini, dia harus pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan pekerjaan dan urusannya sendiri, di mana selama ini dia sibuk menjaga Luxi dan menggemblengnya dengan sangat ketat.
Kakek Alterio menatap Caroline yang tengah asik membacakan sebuah cerita kepada Lucas dan Luxi. Kakek Alterio menghela napas kasar.
'Aku harus segera menyelesaikan masalah yang sudah terkubur lama itu, jika tidak. Mereka yang akan menjadi korban' Kakek Alterio mengepalkan tangannya dengan ekspresi campur aduk.
"Tuan?"
Salah satu bawahan Kakek Alterio menghampiri. Dia berbisik di ujung telinganya. Kakek Alterio mengernyit, kemudian menghela napas.
"Lakukan secepatnya. Double keamanan di sini, dan harus yang tercanggih. Jangan biarkan satu ekor nyamuk pun dapat menerobos!" perintahnya.
"Baik." Bawahan itu mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
Caroline menoleh ke arah kakeknya. Dia mengerutkan dahi ketika melihat ekspresi khawatir sang kakek.
"Kalian lanjutkan baca, ya! Momi akan bicara sebentar dengan kakek kalian," tuturnya mengelus lembut ujung kepala ke dua anaknya. Lucas dan Luxi mengangguk. Caroline bangkit menghampiri kakeknya.
"Kakek, ada apa?" tanya Caroline seraya menggenggam erat pria paruh baya yang masih memiliki tubuh gagah.
Caroline merasa bahagia dengan perubahan kakeknya. Waktu pertama kali bertemu, dia begitu terlihat lemah dengan tongkat yang menjadi penumpu berat tubuhnya.
"Ayo kita bicara di tempat lain," ajaknya dengan ekspresi wajah lembut.
Caroline mengangguk mengikuti langkah kaki kakeknya menuju.
Sebuah ruangan pribadi milik kakek Alterio, di mana tidak ada yang bisa mendengar sedikit pun suara dari luar. Dia duduk di kursi menyandarkan tubuhnya.
"Cucu kakek yang baik, ada beberapa hal di luar sana yang harus kakek selesaikan. Setelah selesai memasang keamanan double tingkat tinggi ini, kakek akan langsung pergi."
Wajah Kakek Alterio sedikit sendu. Caroline tahu hal itu pasti menyangkut tentang hilangnya sang nenek, dan soal racun yang kala itu berhasil memasuki tubuh Luxi.
Caroline sejenak terdiam, "Tapi, Kek." Caroline merasa enggan untuk melepaskan kakeknya, dia sungguh khawatir akan keselamatannya.
__ADS_1
"Kakek akan kembali secepatnya. Tidak perlu khawatir!" ujarnya meyakinkan Caroline.
***
"Hei ... ada apa dengan, Kakek dan Momi?" tanya Lucas penuh rasa penasaran.
"Anak kecil tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa!" jawab Luxi sedikit mencibir Lucas, yang lahir lebih lambat dari pada dirinya.
"Huh ... hanya berbeda beberapa menit saja," sanggah Lucas merasa tidak senang.
"Beberapa menit juga adalah sebuah waktu. Apa menurut kamu sebuah perbedaan akan berjalan tanpa adanya selisih dari kata detik dan menit?" tuturnya masih tenang seraya membolak-balikan buku cerita.
Lucas terdiam menatap Luxi dengan dahi yang berkerut, dia menarik dan menghembuskan napas sedikit kasar.
"Ck ... bisakah kamu bicara yang rasional!" deciknya merasa bosan dengan jawaban yang selalu membuatnya sakit kepala.
"Itu karena kau bodoh. Jika pintar tentu saja kau sudah berhasil menyatukan, Momi dan Daddy!" peliknya sedikit mencibir.
"Hei ... itu karena Momi terlanjur kecewa dengan Daddy bodoh itu. Dia tidak bisa di harapkan." Lucas merasa sedikit kesal. Ke dua orang tuanya sulit sekali untuk di satukan.
"Aku hanya bisa berlatih ketika Momi tengah bekerja, selebihnya aku harus berpura-pura bodoh dan menyedihkan," tuturnya menjelaskan seraya menahan dagu dengan tangan kecilnya.
***
Andrew kembali kediaman pribadi milik keluarganya, yang berletak berhadapan dengan kediaman pribadi miliknya. Dia harus memastikan tentang keadaan ke dua orang tuanya.
Tepat di ruang tamu, ayahnya duduk di kursi menyandarkan tubuhnya. Terlihat dari ekspresinya, seperti dia sudah bisa menebak jika anaknya akan datang, dan dia jelas tengah menunggu Andrew.
"Ayah, kenapa kamu belum tidur? Di mana, Ibu?" tanya Andrew seraya menghampiri.
Ayahnya bangkit dari duduknya, "Ibumu sudah tidur. Kita bicara di tempat lain!" ajaknya seraya berjalan meninggalkan ruang tamu dan menuju ruang kerja pribadinya.
Andrew menghela napas, dia menyapu wajahnya sedikit kasar. Andrew mengikuti ayahnya dari belakang.
Tepat saat mereka berdua tiba di ruangan kerja ayahnya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Duduklah!" seru ayahnya meminta Andrew duduk di samping dirinya.
Andrew terdiam, dia tidak mungkin mengatakan hal yang tengah terjadi dan mengadu. Jelas saat ini dia bukan lagi anak kecil yang harus di lindungi oleh ayahnya.
"Apa orang-orang itu sudah mencium kelemahan kamu?" ujarnya bertanya membuyarkan lamunan Andrew.
"Seharusnya aku lebih berhati-hati," jawabnya sedikit menyesal.
Ayahnya melihat sedikit kekhawatiran anaknya, "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Andrew menghela napas berat dan menyandarkan tubuhnya, "Aku akan melindungi istri dan anakku." Andrew tidak ingin kehilangan mereka lagi.
Ayahnya mengerutkan dahi dan mengangkat ujung bibirnya meremehkan.
"Istri? Ck ... ck. Mana ada istri yang menghindari suaminya," cibirnya merendahkan kemampuan Andrew yang lambat.
"Ayolah ... bukankah kita harus membahas hal yang lebih penting?!" desah Andrew tidak ingin di remehkan oleh ayahnya.
"Kalau kau lambat seperti itu, kapan aku leluasa dengan cucuku yang tampan itu," ujarnya melanjutkan keluhnya.
"Ekhem ... sepertinya ayah tahu apa yang tengah aku hadapi kali ini," tuturnya mengalihkan topik pembicaraan.
"Apakah masuk akal jika aku tidak tahu?" ujarnya menatap tajam wajah Andrew.
Andrew terdiam dan menghela napas berat. Benar juga, dahulu ayahnya adalah seorang mafia kelas kakap. Namun karena sebuah Komplik yang di tabur oleh orang itu, dia harus berselisih paham dan di adu domba dengan sahabatnya sendiri.
Jika ayahnya dan sahabatnya tetap bersama, akan sulit bagi orang-orang itu berdiri di posisinya saat ini. Mereka tidak akan berhasil mengambil alih tempat tertinggi saat ini.
"Kau harus lebih berhati-hati terhadap orang-orang yang ada di samping kamu. Jika tidak. Hal yang terjadi kepadaku dahulu, bisa terulang kembali kepadamu!" ujarnya memperingati.
Pikirannya berlarian ke segala arah. Dia mengingat kejadian kelam yang telah menimpa dirinya dahulu. Andrew menatap pilu ayahnya.
Hal itu pula yang membuatnya harus terseret dengan seorang wanita gila yang hampir membuatnya terbunuh.
"Tidak perlu khawatir! Aku akan menyelesaikan semua secepatnya." Andrew berusaha meyakinkan.
__ADS_1