
"Siapa nama kamu...?"
Ujar andrew bertanya kepada anak laki-laki itu dengan nada sopan, seraya menatapnya lembut.
"Kamu yang siapa, kenapa berada dirumah kami...?" Sahut lukas dengan nada tegas dan tidak senangnya, seraya menatap tajam kepada andrew, dengan ekspresi dingin dan sombong yang terlihat jelas diwajahnya.
"Apa dia mau membawaku pergi dan akan memaksa untuk meninggalkan Momi...?"
Ucap Lukas dalam hatinya, ia memperhatikan dengan seksama wajah pria yang ada dihadapannya. Ia sudah bisa menebak, bahwa pria tersebut adalah ayah kandungnya, yang selama ini sangat ingin ia ketahui keberadaannya, dan seperti apa sosok ayahnya.
"Aishh... sepertinya dia benar-benar telah mewarisi gen dariku, apa aku selama ini, kalau berbicara dan berekspresi selalu menyebalkan seperti itu...?"
Ujar andrew berbicara dalam hatinya seraya menunjukan ekspresi tertekannya, sifat anak laki-laki yang berada dihadapannya sekarang, sangat mirip sekali dengan gayanya, dan membuatnya sedikit mengerutkan dahinya tidak menyangka dengan apa yang ia lihat, pria itu akhirnya hanya bisa menghela napas panjang seraya memijiat pelipisnya sendiri, dan melirik kepada Caroline.
"Astaga, bukankah sikap mereka terlalu sama persis, apakah sikap dan sifat putraku itu mewarisi segala hal dari pria busuk ini...?"
Ujar Caroline dalam hatinya, seraya tersenyum tipis dibibirnya.
"Bos, kamu benar-benar telah mendapatkan sebuah karma yang setimpal, ha... ha... ha...." Ujar Roland dalam hatinya seraya menatap kepada bosnya, dan kepada anak laki-laki itu.
"Benar-benar ikatan darah yang kuat...." Ujar Liam dalam hatinya, seraya menyeringai dengan ujung bibirnya.
Uhuk... Uhuk....
"Namaku Andrew, aku disini, untuk mencari wanitaku yang dulu telah melarikan diri dariku...!" Tegasnya seraya tersenyum tipis.
Sontak lukas mengerutkan dahinya menatap tajam sosok pria yang ada dihadapannya, menurutnya dia sangat tidak tahu malu, bagaimana mungkin, dia dengan santainya mengatakan hal seperti itu dihadapan semua orang, terutama dihadapan seorang anak kecil seperti dirinya.
Lukas melirik kepada Mominya, menatap wajah Mominya dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar.
"Apa yang kau katakan, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu dihadapan anak kecil...." Ujar Caroline berucap, dengan nada suaranya yang sedikit meninggi.
"Caroline, itu adalah kenyataannya, bukankah memang benar, aku disini mencari seorang wanita yang sangat berani melarikan diri dariku selama kurang lebih dari 6 tahun...!" Tegasnya berbicara dengan lantang, tanpa rasa ragu dan rasa bersalah.
__ADS_1
"Aih... aku tidak tertarik dengan cerita kalian berdua dimasa lalu, selesaikan masalah kalian, aku ingin tidur siang...."
Seraya Lukas menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Apakah kedua orang ini adalah orang tuaku, kenapa bertingkah seperti anak kecil...?" Ucapnya dalam hati seraya mencoba bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Masalah diantara mereka berdua saja belum selesai, bagaimana bisa mereka memanggil seorang anak kecil, untuk menyaksikan perdebatan kecil diantara orang dewasa itu, ia merasa, tidak seharusnya dia berada ditengah-tengah kekacauan tersebut.
"Tunggu! aku ingin membawa kalian berdua kesuatu tempat...." Ujar andrew, seraya mencoba menahan lengan kecil milik anak laki-laki itu, yang terlihat ingin meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu mau membawa kami kemana, kamu tidak akan menculik kami berdua bukan...?" Tegasnya bertanya seraya menatap tajam pria yang tengah menahan lengan miliknya.
"Apakah aku terlihat seperti seorang penjahat...?" Ujar Andrew seraya mengerutkan dahinya.
"Ya, kau memang terlihat seperti seorang penjahat, dan sangat jelas terlihat seperti pria mesum...."
Sahutnya menjawab dengan santai, dengan ekspresinya yang datar, dingin, dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Andrew hanya bisa menatapnya tajam seraya mengerutkan dahinya, ia tidak pernah mengira, akan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti itu, bahkan perkataan seperti itu, ia dengar dari anaknya sendiri.
"Kalau kau bukan anakku sendiri, sudah aku panggang kau hidup-hidup, dasar bocah kurang ajar...!"
Ucapnya dalam hati, dengan ekspresi yang mulai menghitam dari raut wajahnya, yang sangat paling menyebalkan adalah, dia tidak bisa melakukan apapun terhadap anak laki-laki itu, terutama dihadapan Ibunya sendiri, bisa-bisa wanita itu, akan sangat membenci dirinya seumur hidup dia.
Seumur hidupnya, tidak pernah ada yang berani menentang, atau mengatakan hal tidak sopan seperti itu kepadanya, semua orang menghormatinya sangat agung, seperti ia adalah pemilik dari seluruh dunia ini.
Tapi apa sekarang, ia mendengar perkataan seorang bocah kecil yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri, dengan sangat menusuk hatinya, karna ia adalah darah dagingnya sendiri, seorang anak laki-laki, yang telah lahir dari rahim seorang wanita yang telah ia cari selama bertahun-tahun lamanya, bagaimana mungkin ia sangat tega untuk menyakiti buah hasil kerja kerasnya selama semalam penuh.
Bwahaha... haha....
Sontak Roland dan Liam tertawa terbahak-bahak tidak bisa menahan lagi tawa mereka sendiri.
Seorang Andrew alexander, yang selama ini mereka lihat, adalah seorang bos yang dingin, sombong, arogan, seorang ketua mafia no 1, yang tidak pernah merasakan tertekan selama hidupnya, tapi sekarang, ia harus mendapatkan perlakuan seperti itu, bukankah itu hal yang sangat langka, dan sangat lucu, terutama itu dari anaknya sendiri.
Mendengar tawa kedua bawahannya yang sangat terlihat bahagia, serta tertawa terpingkal-pingkal, sontak Andrew menatap tajam kearah mereka berdua dengan tatapan tidak senang, dan dengan aura penindasan yang sangat kuat.
__ADS_1
Seketika Liam dan Roland terdiam mematung tak bergeming.
"Sial, sepertinya kami berdua akan dalam masalah besar...."
Ujar Liam dan Roland dalam hatinya, seraya menundukkan kepala mereka berdua.
"Apakah kalian berdua ingin dikirim kekutub utara? untuk mengurus beruang disana...?" Tegas andrew berkata kepada liam dan Roland, dengan tatapan tajamnya dan penuh ancaman.
"Tidak Bos, kami tidak berani...."
Sahut Liam dan Roland serentak menjawab bersamaan.
Sedangkan Caroline, saat itu ia tersenyum tipis diujung bibirnya,dengan ekspresi sangat puas, yang sangat tergambar jelas diwajahnya.
"Kau pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, kau memang penjahat, dan kau juga memang pria mesum...."
Sontak Andrew seketika menatap wajah Caroline tajam, ia menyadari ekspresi puas dari wanita yang saat itu berada dihadapannya.
"Apakah kau juga berfikir aku adalah pria mesum, Caroline...?" Ujarnya bertanya seraya menatapnya dalam dengan seringai dibibirnya.
"Aku tidak mengatakan apapun...."
Sahutnya menjawab, dan seketika mengembalikan ekspresi dirinya seperti semula, yang tadi pasti terlihat sangat jelas sekali, bahwa ia sangat puas dengan apa yang telah dikatakan oleh putranya kepada laki-laki itu.
"Benarkah...?"
Ujar andrew kembali bertanya dan masih tetap menatapnya tajam.
"Tentu saja...." Sahutnya menjawab dengan tegas.
"Kau memang penjahat, kau juga memang pria mesum, kalau tidak, bagaimana mungkin bocah kecil dihadapanmu itu, bisa terlahir begitu saja dari rahimku, kalau bukan karna kelakuan mesum seorang pria berengsek yang tidak tahu malu...."
Bersambung......
__ADS_1