
Kediaman pribadi milik kakeknya Caroline, sengaja telah di penuhi dengan technologi mesin yang canggih, dia memfasilitasi segala kebutuhan Luxi tanpa kurang sedikit pun, termasuk fasilitas untuk Lucas mengembangkan bakatnya yang tertunda.
Kakeknya membawa Caroline, Lucas dan Luxi berkeliling.
"Cucu kakek yang baik, semua kebutuhan Luxi dan Lucas ... semua sudah tersedia di sini," ujar Kakek Alterio menjelaskan.
Melihat semua peralatan canggih yang ada di dalam ruangan khusus itu, membuat Caroline terdiam.
Sebenarnya dia merasa sedikit keberatan dengan pengaturan kakeknya. Ke dua putranya masih begitu kecil, tanggung jawab yang akan mereka pikul nantinya, dapat membahayakan nyawa ke dua putranya. Caroline merasa khawatir dengan keselamatan mereka berdua.
Caroline yang sudah merasakan sakitnya berpisah dengan putranya sendiri, dia tidak ingin mengulangi lagi hal yang sama untuk ke dua kalinya.
Lucas dan Luxi memandang wajah ibunya dengan tatapan sedih. Mereka berdua sudah bisa menebak apa yang saat ini tengah di pikirkan oleh ibunya. Luxi bisa merasakan perasaan ibunya seperti apa.
Luxi menggenggam tangan ibunya.
"Momi, kita memiliki tanggung jawab masing-masing semenjak kita di lahirkan. Kita harus menghadapi apapun itu ... menghindar tidak akan menjamin seseorang selamat," tutur Luxi berusaha menghibur ibunya.
Caroline terdiam menatap sendu wajah anaknya. Caroline menurunkan tubuhnya bertumpu pada sebelah lututnya, mensejajarkan dengan tinggi Luxi.
"Sayang ...." Caroline merasa sakit dengan perkataan dewasa anaknya.
"Momi, Luxi dan Lucas pasti akan tumbuh dengan baik. Kami berdua akan menjaga keselamatan kami, dan akan menjaga momi," ujar Luxi meyakinkan ibunya.
"Benar, Momi. Lagipula ada momi dan kakek yang selalu menjaga kami," sambung Lucas menambahkan.
Caroline langsung memeluk erat tubuh ke dua anaknya. "Momi bersyukur memiliki kalian berdua," ujar Caroline seraya meneteskan air matanya.
"Kami lebih bersyukur memiliki ibu seperti momi," tutur Luxi.
"Benar. Momi kami yang paling hebat dan paling baik di dunia," tambah Lucas menimpali.
Kakek Alterio yang melihat pemandangan mengharukan tersebut, dia menarik dan menghembuskan napas berat. Dia berjalan menghampiri ke tiga orang itu.
"Sudah ... sudah. Lebih baik kita makan malam bersama," tuturnya mencoba memecah kesedihan yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Ah ... benar. Bagaimana jika malam ini momi yang memasak?" tanya Caroline menatap Luxi, Lucas, juga menatap ke arah kakeknya meminta ijin.
"Tentu saja. Ayo rayakan kebersamaan kita malam ini.
__ADS_1
Kakek Alterio langsung mengajak Caroline, Luxi dan Lucas meninggalkan tempat tersebut. Mereka segera menuju ruangan makan.
***
Malam itu Andrew sengaja datang ke Clan. Sudah lama dia tidak menghadari rapat tertutup, yang di hadiri oleh para anggota khususnya.
Andrew duduk di kursi kebesarannya. Tepat di sampingnya duduk, ada Roland, Alex, Leo dan juga Roki. Para anggota lainnya duduk dengan wajah serius mereka.
"Kenapa informasi itu bisa bocor?" tanya Andrew dengan ekspresi datar, seolah-olah dia tidak terganggu sama sekali, dengan masalah Clan yang menimpanya saat ini.
Semua orang terdiam, mereka tak berani melontarkan sepatah katapun, hanya ekspresi takut dan bingung mereka yang tergambar jelas.
"Kenapa tidak ada yang berbicara? Apakah ucapanku sudah menjadi angin lalu?" ujarnya kembali bertanya dengan ekspresi yang masih tenang.
Sikap tenang itulah yang membuat seluruh anggotanya ketakutan. Mereka tidak bisa menebak pemikiran seorang Andrew dengan wajah santai seperti ini.
Mereka semua menunduk bingung. Melihat sikap bawahannya yang seperti itu, Andrew menarik napas berat begitu panjang, dia memijat dahinya merasa jengkel.
Dor! Dor! Dor!
Roland langsung menembak beberapa orang, tepat di kepala mereka. Hembusan napas Andrew saja, Roland sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
Semua orang dengan sigap langsung berlutut di hadapan Andrew. "Tentu saja pantas mati!" tegas Andrew dengan santai. Dia bangkit dari tempat duduknya seraya merapihkan pakaian.
"Alex, kamu bereskan kekacauan ini!" ujarnya memberi perintah.
"Baik."
Alex berdiri dengan pistol di sebelah tangannya, menatap tajam satu persatu anggota mereka, yang di kira sudah berkhianat dan membocorkan beberapa informasi penting.
Leo dengan senyuman tipisnya menepuk bahu Alex dengan lembut.
"Kak, bersenang-senanglah! Jangan terlalu keras pada mereka." Leo berbisik seraya menyeringai tipis. Dia berjalan santai, mengikuti langkah kaki Andrew pergi.
"Wajah ramahmu itu ... lebih menakutkan bagi mereka." Alex sedikit mencibir Leo, yang selalu memasang wajah layaknya malaikat, tetapi berhati dan bersikap lebih dari iblis.
Sesaat Leo menghentikan langkah kakinya, dia kembali berbalik ke arah Alex. "Kakak, kau sungguh menyakiti perasaanku." Seperti semula ... Leo kembali memasang wajah ramah dan lembut, layaknya seseorang yang suci tanpa dosa.
"Cih ... pergi sana!" decik Alex tidak tahan dengan ekspresi palsu itu.
__ADS_1
Andrew melirik tipis kepada Leo. "Berhenti membuat ulah!" tegas Andrew dengan wajah dinginnya.
"Bos, kamu sungguh pilih kasih." Leo menggerutu kecil di belakang Andrew.
Roki dan Roland hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, mereka berdua dengan patuh dan tenang mengikuti langkah kaki Andrew dari belakang. Mereka berdua sudah terbiasa dengan sikap Leo yang seperti bocah.
Di sebuah ruangan pribadi milik Andrew yang berada di dalam clan. Andrew menyesap sebatang rokok di tangannya.
Dia berpikir cukup keras. Bagaimana bisa cabang clan miliknya yang sangat rahasia, yang berada dalam kegelapan dunia bawah, bisa di ketahui oleh orang luar dengan mudah.
Andrew menatap tajam ke arah Roland, Roki, dan Leo bergantian. 'Siapa orangnya?' batin Andrew bertanya-tanya.
"Bos ... haruskah kita menyelidiki kembali tempat itu?" tanya Roland sedikit ragu.
Andrew terdiam sesaat, dia harus mencerna matang-matang, menyatukan setiap kejadian yang ada.
"Menurut kalian bagaimana?" ujarnya bertanya, menatap ke tiga anak buahnya yang telah menemani dirinya dalam waktu yang lama
Roki menarik napas berat. "Setidaknya kita harus kembali memastikan ... mungkin saja ada petunjuk yang tersisa," ujarnya memberi saran.
"Bukankah saat kita ber'empat tiba ... tempat itu sudah hancur lebur, bahkan kebakaran menyapu bersih gedung. Kita tidak bisa bergerak karena para polisi dan pemadam kebakaran, tiba secepat itu," tutur Roland merasa sedikit prustasi.
"Yang membuat aneh, kenapa mereka tiba begitu cepat. Apakah ini hanya kebetulan? Konyol ... di dunia ini ada kebetulan yang sangat tepat," ujar Leo mengeluh.
Andrew terdiam mendengar penuturan ke tiganya. 'Benar ... tidak ada kebetulan yang terperinci'
"Apa Alex belum selesai?" tanya Andrew yang tidak suka menunggu.
"Sebentar lagi dia pasti akan tiba," ujar Roki menjawab, yang sudah tahu seperti apa cara kerja Alex.
Tok! tok! tok!
Baru saja di bahas, seseorang datang mengetuk pintu.
"Dasar penjahat yang panjang umur," cibir Leo yang sudah bisa menebak ... jika itu adalah Alex.
Andrew hanya menggelengkan kepalanya. Leo dan Alex memang sudah biasa saling mencibir satu sama lain.
"Ah ... haruskah kau menyambutku dengan tampang malaikat seperti itu?" ujarnya seraya menatap wajah Leo tidak senang.
__ADS_1
"Alex, aku ini memang tidak suka kerusuhan. Karena itu bos memintamu menyingkirkan mereka."