Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 27: Alasan konyol Andrew


__ADS_3

"Caroline, ada apa denganmu.?"


"Apa kau ingin menyakiti dirimu sendiri.?"


"Apa sebegitunya kau tidak suka kalau aku adalah ayahnya.?"


Ujar andrew setengah berteriak, ketika ia melihat tubuh wanita itu ambruk seketika dilantai, dengan cepat, sontak ia segera menarik tubuh wanita itu dari lantai dengan panik dan terlihat sangat hawatir, segera didudukkannya wanita itu dikursi yang tepat berada disampingnya saat itu.


Sahabatnya seketika tekejut dengan apa yang ia lihat, paktanya, andrew tidak pernah terlihat sangat peduli dan begitu hawatir kepada wanita lain, ia bahkan sangat dingin dan sangat acuh, bahkan jika ada wanita yang mati dihadapannya.


Bahkan terhadap wanita yang telah ia kenal sejak kecil sekalipun, ia tidak pernah menujukan ekspresi hawatirnya seperti itu, namun apa yang terjadi sekarang, pria gila yang ia kenal dengan sangat baik itu, seketika menghampiri wanita itu dengan ekspresinya yang terlihat sangat panik.


Ia sontak menatap tajam seraya mengerutkan dahinya kepada Roland dan Liam, namun mereka hanya menggerakan kedua bahunya tanpa ingin berkomentar, pertanda mereka tidak mengerti dengan sikap bos mereka yang sekarang, dan tidak ada hak untuk ikut campur.


Tubuh wanita terasa sangat lemas dan lunglai, wajahnya memucat pasi seperti ia telah kehilangan banyak darah, seluruh tubuhnya bergetar hebat, tepat seperti dugaannya, kalau pria itu adalah ayahnya lukas, dan dia adalah pria yang telah merenggut kesuciannya secara paksa waktu itu.


Namun bukan hal itu yang sangat ia takutkan, tetapi ia menyadari seperti apa identitas besar dari pria tersebut, bukan hal yang sulit baginya, ketika ia berniat untuk merebut anaknya darinya.


Ia terdiam tak berdaya, mengigit bibirnya sendiri seraya menundukan wajahnya kelantai.


"Momi, kamu tidak apa-apa.?"


Ujar Lukas bertanya seraya mendekat menghampiri tempat duduk ibunya.


Sontak matanya seketika menatap wajah dari anaknya, ia tersenyum tipis diujung bibirnya tanpa menjawab pertanyaan anaknya. Ia seketika memeluk erat tubuh kecil itu dengan erat, seraya mengelus lembut kepalanya, air matanya seketika menetes membasahi baju anaknya. Lukas hanya terdiam dan membalas pelukan erat dari ibunya.


"*Apakah Momi sedang ketakutan? aku baru pertama melihatnya sangat tertekan seperti ini*..."


Ujar Lukas dalam hatinya.


Seketika tempat itu mendadak hening, suasananya terasa sangat begitu mencekam, semua orang yang melihatnya hanya bisa terdiam tanpa bicara sepatah katapun.


Dokter yang sekaligus sahabatnya Andrew, ia menatap tajam kepada Andrew seraya mengerutkan dahinya dan menghela napas panjang.


"*Apa yang telah kau perbuat kepada wanita ini*.?"


Ucapnya dalam hati bertanya lewat ekspresi matanya kepada Andrew.


"*Apalagi yang aku perbuat, bukankah sudah sangat jelas, bahwa aku telah melewati malam bersamanya, makanya aku bisa ada anak*."


Ujarnya yang juga menjawab dalam hati, mengerti dengan ekspresi tatapan mata sahabatnya.


"*Apa kau yang memaksanya*.?"


Ia kembali bertanya dalam hatinya, dengan tatapan penuh rasa penasaran terhadap sahabatnya, namun Andrew tidak menjawabnya, ia memalingkan wajahnya kearah lain dengan ekspresi dinginnya


Seketika sahabatnya mendekat kearahnya dan menepuk pelan pundaknya seraya berbisik.


"Selesaikan masalahmu sendiri dengan benar, jangan sampai kau menyesalinya dikemudian hari.!"


Tegasnya mengingatkan sahabatnya, sedetik kemudian ia kembali ketempatnya semula berdiri.

__ADS_1


Andrew menghela napas dalam, ia menyadari rasa ketakutan dari wanita itu, ia duduk tepat disampingnya wanita itu seraya berucap lirih.


"Caroline, aku tidak akan merebutnya darimu, kau tidak perlu takut, aku adalah ayahnya, dan kamu adalah ibunya."


Ucapnya dengan suara lembut dengan ekspresi penuh rasa bersalah, dan penyesalannya yang terlihat dari raut wajahnya yang muram.


Mendengar perkataan lelaki itu, Caroline seketika melepaskan pelukan eratnya dari sang anak, ia mendongak kaget dan tidak percaya dengan apa yang telah lelaki itu ucapkan.


Ia menatapnya tajam penuh pertanyaan dan rasa kecurigaan dari ekspresinya.


"Apa kamu serius.? "


Seketika ia bertanya untuk memastikan kembali, bahwa ia tidak salah mendengar.


"Ya tentu saja."



"Apa kau berani berjanji.?"


Tegas Caroline menatapnya tajam.


"Ya, tapi---"


Ucapan Andrew tertahan diujung lidahnya, ia menatap tajam wanita itu dengan dalam, sementara Caroline balik menatapnya seraya mengerutkan dahinya.


"*Aku tahu pria ini tidak mungkin sebaik itu*." Ucap Caroline dalam hatinya penuh rasa curiga, dan kekecewaan yang kembali menyeruak.



Sambungnya melanjutkan perkataannya, yang sebelumnya telah terhenti.


"Bukanlah hal yang baik untuk pertumbuhan anak kita, jika kedua orang tuanya terpisah.!" Ujarnya berkata dengan penuh arti yang tersirat didalaminya.



"Apa.?"


Ujarnya bertanya dengan nada suaranya yang setengah meninggi dengan ekspresi kaget, menyadari apa maksud dari perkataan lelaki itu, matanya seketika terbelalak, seperti hampir loncat dari tempatnya.


"*Cih, dasar bajingan licik, bilang saja langsung, kalau kau ingin bersamanya, tidak perlu beralasan yang bertele-tele seperti itu*...."


Ujar dokter itu dalam hatinya seraya menghela napas pelan dan memicingkan ujung bibirnya.


"Kenapa kau berteriak? mengagetkan saja...."


Ujarnya berkata dengan nada dan ekspresi santainya, sama sekali tidak terlihat ekspresi kaget seperti yang ia katakan.


"Maksudnya? aku dan kamu harus----?"


Ia bertanya seraya menatap tajam wajah lelaki yang ada disampingnya tersebut dengan ragu.

__ADS_1


"Ya, bukankah itu satu-satunya cara, agar aku bisa terus bersama anakku sendiri, dan kau juga bisa terus bersamanya...."


Dalihnya beralasan dengan santai tanpa ragu, dan tanpa rasa bersalah.


"(.....)" Caroline terdiam dengan ekspresi anehnya menatapnya wajah lelaki itu.


"*Alasan macam apa yang kau buat*.?"


Ujarnya berkata dalam hati dengan sedikit bingung.


"(....)"


"Apa ayahku ini adalah seorang presdir yang otaknya dangkal.?"


Lukas dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang ia dengar, seraya menatap wajah Andrew tajam dan menghela napas pelan.


Menyadari anaknya tengah menatap dirinya dengan ekspresi aneh yang ia tunjukan, Andrew mengedipkan sebelah matanya pelan, seraya menyeringai tipis kepadanya.


Lukas hanya terdiam seraya mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"*Bisakah kau mencari alasan yang lebih masuk akal, orang bodoh juga akan tahu kalau itu hanyalah bualanmu semata*...."


Ucapnya dalam hati dan sontak mengalihkan pandangan matanya kearah lain, tepat saat itu, tatapan matanya bertemu dengan dokter yang masih berdiri ditempatnya.


"Kemarilah.!"


Ucapnya dokter itu pelan memanggil kepada lukas, hanya dengan gerakan bibir dan tangannya yang sedikit melambai kepadanya.


Lukas segera menghampirinya dengan langkah kaki pelannya, dan seketika berdiri disampingnya.


"Apa ayahmu bodoh.?"


Ujarnya bertanya kepada anak kecil itu dengan seringai tipisnya yang meledek sahabatnya.


"Om dokter, bukankah orang bodoh itu adalah sahabatmu sendiri.?"


Sahutnya menjawab dengan santai, dengan suaranya yang pelan setengah berbisik, seraya menatap kearah kedua orang tuanya.


"Hei bisakah mulutmu jangan terlalu pedas seperti ayahmu, dan berhentilah memanggilku om, ok.!"



"Em...."


Sahut Lukas dengan enggan menanggapi dokter yang ada disampingnya.


"Kita bisa menjaganya secara bergantian.!" Ujar Caroline menjawab dengan tegas.



"Seminggu bersamamu, dan seminggu lagi bersamaku, sepertinya itu lebih baik...."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2