Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 30: Bertemu kakek & Nenek


__ADS_3

Andrew sontak mengerutkan dahinya, ia yang tengah dalam keadaan jengkek, dan sepertinya akan semakin dibuat lebih jengkel lagi hari ini.


"Apa yang kau lakukan disini.?"


Ucap Andrew seraya menatap tajam sosok wanita yang saat itu menyambutnya, dengan senyuman ramah diwajahnya.


"Aku kesini untuk menjenguk ibumu, aku dengar tante sedikit tidak enak badan, aku menghawatirkannya."


Ujarnya menjawab, seraya ia menghampiri andrew yang masih tak bergerak dari tempatnya terakhir berjalan, matanya sontak tertuju kepada seorang anak laki-laki yang tengah berada disamping Andrew, ia menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan bingung.


Lukas hanya menatap balik wanita itu dengan ekspresi dinginnya dan aura sombongnya, untuk sementara, ia hanya bisa memperhatikan terlebih dahulu dengan seksama, siapa wanita ini, dan ada hubungan apa dengan ayahnya.


Wanita itu mulai sedikit menunjukan ekspresi tidak senangnya, ketika menyadari satu hal, jelas sekali mereka yang tengah berdiri bersebelahan itu sangat terlihat mirip, dan ekspresi mereka juga sangat sama persis.


"Ibuku sudah sehat, kau tidak perlu mencemaskannya, kau bisa kembali.!" Ujar Andrew tegas, dengan ekspresi dinginnya, dan wajahnya yang terlihat semakin suram, dan semakin lebih jengkel melebihi ketika terakhir kali.


Menyadari apa yang sedang terjadi saat ini, terutama dari raut wajah wanita itu, yang seketika terlihat kaget dengan apa yang ia dengar, Lukas menatapnya dingin dan sedikit menyeringai kecil dari ujung bibirnya, ia sedikit bisa menebak siapa wanita tersebut, dan ada hubungan apa dengan ayahnya.


"Andrew, bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan tante, aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri...." Ujar wanita itu dengan rasa canggungnya yang tergambar jelas dari wajahnya.


"Kalau begitu, aku seharusnya menganggapmu sebagai adiku sendiri bukan.?"


Ucap Andrew dengan santainya, dan masih dengan ekspresi dinginnya, namun dari perkataannya tersebut, bisa diartikan kalau ia sedang menyindir wanita yang ada dihadapannya secara tidak langsung.


"Hah...?"


Sahut wanita itu bingung dan apa yang ia dengar, seraya ia langsung mengerutkan dahinya.


"Maksudku, sebagai adiku, bukankah kau harus menemani ibumu sendiri, setidaknya kau bisa meringankan beban kakakmu ini bukan.?"


Ucap Andrew langsung memukul telak wajah wanita tersebut, dengan seringai diujung bibirnya, ia menunjukan ekspresi meremehkan wanita tersebut, dan secara tidak langsung ia menegaskan, kalau diantara mereka berdua tidak akan terjadi hal apapun, melebihi sebuah hubungan antara kakak dan adik.

__ADS_1


Perkataan Andrew kepadanya, sontak membuat ia terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa menahan emosinya sendiri, seraya menggertakan giginya dengan jengkel.


"Lukas, ayo masuk dan temui nenekmu.!" Ucap Andrew seraya melirik kearah anaknya tersebut, dan melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Huh... apa kau sedang menjadikan aku sebagai alasan, agar kau bisa melarikan diri.?" Ujar Lukas bertanya dengan santai dan setengah berbisik, seraya ia berjalan dengan langkah kecilnya, mengikuti sang ayah untuk masuk kedalam rumahnya.


"Tidak bisakah kau membantuku, kau cukup bisa diajak kerjasama oleh ibumu, kenapa denganku tidak." Sahut Andrew dengan suaranya yang juga sedikit berbisik.


"Hei, dia adalah momiku, dia mengurusku dari aku bayi hingga saat ini, lalu kau, datang tiba-tiba tanpa permisi, setelah itu ingin aku bekerja sama, mimpi saja...."


Sahut Lukas menjawab dengan tegas, bahkan tanpa ada rasa penyesalan diwajahnya, dengan perkataan yang telah ia lontarkan kepadanya.


Sontak Andrew menghentikan langkah kakinya, menatap tajam raut wajah anaknya.


Seketika ia langsung pucat pasi, benar saja, memang tidak salah dengan apa yang telah dikatakan anaknya tersebut, selama bertahun-tahun itu, ia bahkan seperti menelantarkan anaknya sendiri, sekarang ia datang mengusik kehidupan mereka berdua, keberanian macam apa yang ia punya, sehingga meminta anaknya untuk bekerjasama dengannya, dan berharap mendapatkan perlakuan yang sama seperti kepada ibunya.


Ia hanya terdiam dan menghela napas berat, raut wajahnya seketika diselimuti rasa bersalah yang sangat besar. "Maafkan aku, semua itu karna kesalahanku...." Ucap Andrew dengan nada suaranya yang sangat lirih.


Sontak lukas seketika tediam, seraya ia mengerutkan dahinya tidak percaya, sosok pria yang ia tahu akhir-akhir ini, adalah sosok seorang presdir yang sangat sombong, dingin, bahkan sikapnya arogan sekali, sekarang ia berinisiatif mengucapkan kata maaf dengan penuh rasa penyesalan,


"Apa hubungannya dengan sun go kong? dia itu mencari kitab suci kebarat bukan ketimun...." Sahut Andrew yang tidak mengerti dengan apa yang diucapan anaknya.


Lukas. "(....)"


"Dasar idiot." Ucapnya dalam hati seraya menghela napas panjang.


"Sudahlah, bukankah kamu akan membawaku untuk bertemu dengan ibu dan ayahmu.?" Ujar Lukas mengalihkan pembicaraannya.


"Baiklah ayo.!"


Ujar Andrew seraya melanjutkan langkah kakinya, dan segera menghampiri ruangan keluarga dimana kedua orang tuanya berada.

__ADS_1


********


"Andrew, siapa anak laki-laki yang ada disampingmu.?"


Seketika kedua orang tuannya bangkit dari tempat duduknya dengan sangat terkejut, mereka menatap tajam arah keduanya, betapa mirip sekali anak laki-laki itu dengan anak mereka semasa kecil, kedua orang tua Andrew hanya bisa saling menatap satu sama lain, dengan mulut keduanya yang terperangah.


"Ayah, ibu, dia adalah Lukas, dia adal---" Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, kedua orang tuanya langsung menghampiri anak laki-laki yang dibawanya.


"Apakah dia anakmu.?" Ujar kedua orang tuanya bertanya secara serentak bersamaan.


"Ya, dia adalah anakku." Sahut Andrew dengan nada santainya, dan raut wajahnya yang terlihat serius, bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda.


"Apa kau sudah gila, bagaimana bisa kau sudah memiliki anak sebesar ini, dimana kau menyembunyikannya selama ini? dasar bocah busuk sialan." Tegas ayahnya bertanya dengan raut wajahnya yang sangat terheran-heran, dan sedikit terdapat cacian kepadanya.


"Aku tidak menyembunyikan dia, hanya saja--"


"Hanya apa, cepat jelaskan dengan benar, apa kau telah memaksa seorang gadis hingga hamil dan melahirkan anak.?" Tegas ibunya kembali bertanya, sehingga ucapan Andrew seketika terhenti diujung lidahnya.


"Duduklah, aku akan menjelaskannya nanti kepada kalian berdua, intinya dia adalah anakku, bukankah kalian akan senang karna telah memiliki cucu.?"


Ujar Andrew berkata dengan santai, seraya ia duduk dikursi, dan menghela napas berat.


"Tentu saja kami senang, ternyata bagian inti kamu masih berfungsi dengan benar." Ucap ayahnya seraya langsung duduk disamping Lukas, tanpa memikirkan perasaan anaknya sendiri dengan apa yang telah ia ucapkan.


"Tentu saja berfungsi, kalau tidak, mana mungkin aku bisa memiliki anak sebesar ini."


"Cucuku apakah kamu lapar.?" Tanya kedua orang tuanya bersamaan kepada Lukas.


"Saya Lukas, panggil saja dengan nama saya.!" Ujarnya berkata dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan anak mereka sewaktu kecil.


Sontak mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain, dan tertawa bersamaan.

__ADS_1


"Ha... ha... ha... benar-benar mewarisi sifatmu Andrew."


Bersambung....


__ADS_2