
Semua orang yang berada di dalam perjamuan tersebut, mulai berbisik tak menenentu. Benar yang di katakan Nona ini, kala itu, bukankah kematian istri tuan Waldo terlalu di tutupi dengan sangat rapat. Lalu ... berita beberapa minggu yang lalu, bukankah Sherry hanyalah seorang anak tiri, yang semula mendapatkan pertolongan tuan Waldo.
Ibarat di pukul mundur, wajah Sherry dan tuan Waldo, kini memerah menahan amarah dalam diri mereka, tidak terkecuali sang istri yang tidak lain adalah ibu tiri Caroline.
Sebenarnya apa maksud wanita ini berbicara seperti itu, terlebih lagi di depan halayak ramai.
Wajah polos Caroline, kini memancarkan penuh rasa bersalah, "Maafkan saya, saya tidak bermaksud seperti ini," ujar Caroline membuat drama semakin mewah.
Liam dan Andrew dengan penuh rasa semangat, berdiri berdampingan, menikmati anggur yang ada di tangannya. Mereka berdua terlihat asik melihat pertunjukan yang begitu luar biasa ini.
"Wah, wah, wah ... apa kau melihatnya, Liam. Istriku benar-benar menakjubkan, dia telah berubah menjadi seorang rubah betina," liriknya kepada asistennya, rasa kagum dari Andrew terpancar jelas dari raut wajahnya.
Liam hanya memasang wajah datar, "Istri? anda bahkan belum mendapatkan pengakuan itu, Tuanku." ujarnya dalam hati.
Mengetahui tidak ada tanggapan apa-apa dari asistennya, Andrew mengerutkan dahinya sedikit kesal, dia bisa menebak ke mana jalan pikiran Liam saat ini.
"Apa kau tidak percaya dia akan menjadi Nyonya muda kediaman Alexander?"
Nada yang sedikit meninggi dari Andrew, membuat Liam hanya bisa menghela napas pendek.
"Saya percaya, Tuan." Sahut Liam mengalah.
Pria di sebelahnya ini, adalah atasannya. Tentu saja dia selalu benar, dan dirinya selalu salah. Seperti itulah keyakinan Liam, menghibur dirinya sendiri.
"Nona, apa anda tidak tahu, hal memalukan apa yang telah anak itu perbuat," cetus seorang wanita paruh baya tersebut menimpali, di tengah kegaduhan yang sedang terjadi saat ini.
Wanita yang memiliki nama panjang Sarah wendita ini, yang sering di panggil tante weni, tidak lain tidak bukan adalah ibu tirinya Caroline, yang membuat semua prahara keluarganya muncul, dan dalang di balik semua masalah yang terjadi antara ibunya dan ayah Caroline.
Seketika raut wajah Caroline masam sedikit emosi. "Hal memalukan?" ujar dalam hati Caroline.
Sedetik kemudian, Caroline tersenyum licik dengan aura menakutkan di wajahnya.
"Ternyata ada cerita seperti itu. Benar juga yang di katakan Nyonya, ada rumor mengatakan dia menjual tubuhnya terhadap seorang pria yang berkuasa," liriknya kepada Andrew.
Seketika Andrew terdiam dan memasang wajah kecut. Apa lagi yang wanita ini rencanakan, dalam benak Andrew bertanya.
Caroline tersenyum tipis di ujung bibirnya. Ketika ia melihat perubahan dari raut wajah Andrew saat ini.
__ADS_1
"Rumor itu juga mengatakan, dia jadi bahan pertukaran ayahnya, naas sekali ... setelah itu dia bahkan langsung dikabarkan meninggal," tuturnya menghela napas berat, dan sedikit menundukan kepalanya. Seolah-olah dia tengah bersimpati dengan apa yang terjadi, dalam cerita masa lalu yang kelam itu.
"Merelakan tubuhnya, demi keuntungan keluarga, tapi dia tidak menikmati apa yang dia perjuangkan. Wanita malang." Sambung Caroline melanjutkan perkataannya, seraya mengangkat kepala
Semua orang hanya bisa terdiam mematung, mereka menerka-nerka. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu.
Liam yang mulai menegang, dia melirik wajah atasannya. Cerita selanjutnya, bila berjalan sesuai skenario Caroline, dia akan sedikit melibatkan Andrew di dalamnya.
"Menggunakan kekuatan seseorang untuk memukul telak di akhir cerita." Gumam Andrew tersenyum tipis. Dia sudah bisa menebak apa yang akan selanjutnya terjadi.
Memang tidak salah, dirinya sendiri yang meminta Caroline saat itu, untuk berjalan di depan dengan leluasa, mengingatkan dirinya, kekuatan terbesar berada di pihaknya.
"Tuan, ini?" ujar Liam sedikit ragu.
"Tidak apa-apa. Aku akan menebus semua kesalahanku, dan mengganti waktu yang telah hilang terhadapnya." Sahut Andrew dengan santai menjawab asistennya.
Liam seketika terdiam, dia jelas tahu betapa banyak hal yang telah Tuannya lewati, demi mencari tahu, dan menemukan kembali sosok Caroline kecil.
Ibu tiri Caroline semakin geram di buatnya, ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Caroline.
"Nona wajahmu begitu mirip dengan Caroline kecil kami. Saat ini mungkin anda adalah pemilik baru perusahaan suami saya, tapi itu tidak pantas untuk mengungkit luka lama kami, Nona," ujarnya sedikit hilang kesabaran.
Deg!
Betapa terkejutnya wanita paruh baya tersebut, jantungnya seperti hampir loncat keluar dari tempatnya.
Tante Wen, panggilan itu. Dahulu sewaktu kecil, Caroline memanggilnya dengan sebutan tersebut. Seketika pikirannya kacau, bayangan kisah masa lalu yang telah ia perbuat, dan ia rencanakan dengan matang, kini menyeruak memenuhi seluruh isi kepalanya.
Matanya seketika membulat, begitu terkejutnya dia saat ini. "Kamu?" ujarnya bertanya dengan ragu. Nada suaranya bergetar parau.
"Apa yang salah dengan anda, Nyonya?" tanya Caroline, memasang ekspresi wajah polos.
"Kamu ... kamu adalah dia," ujarnya tanpa sadar, seraya dia menunjuk lurus wajah Caroline dengan telunjuknya.
"Dia siapa, maksud anda?" jawab Caroline bingung, tidak mengerti dengan apa yang di katakan wanita paruh baya tersebut.
"Apakah wanita tua ini sudah gila, apa dia tidak sadar posisi dirinya saat ini." Bisik semua orang yang ada di belakang.
__ADS_1
Mereka tidak habis pikir dengan keberanian, Nyonya Wen ini. Apakah dia tengah kerasukan siluman.
Pak Waldo seketika bergegas menarik lengan istrinya, keadaan saat ini tidak cocok untuk mempertanyakan hal apapun, yang berkaitan dengan kisah masa lalu itu.
"Suamiku. Dia ... dia---"
Ucapan wanita itu bergetar hebat, menahan rasa kesal yang hampir membludak, ia semakin merasa tertekan, setiap kata yang akan di lontarkannya, kini terasa seperti terkunci.
"Diamlah! apa kau bodoh." tegas pak Waldo dengan mata melotot kepada istrinya, dia hampir saja menamparnya di depan halayak ramai.
Sherry seketika terdiam, dia bingung mau mengatakan apa, dia melirik pilu dengan ujung matanya kepada Rey, memasang wajah sedih dan begitu terpukul.
Pria itu tidak tega melihat ekspresi Sherry saat ini, atau semua rencana dirinya akan gagal.
"Nona ... mohon berpikir kembali dengan setiap ucapan anda," ujar Rey maju selangkah, berusaha membela tunangannya.
"Apakah anda bersedia untuk meminta maaf kepada tunangan saya, anda membuat Sherry tertekan, Nona." Ujarnya halus, namun begitu tegas.
Rey memperingatkan Caroline agar tidak membuat kekacauan lagi, terutama malam ini adalah perjamuan pribadi miliknya.
"Meminta maaf ... sejak kapan wanitaku harus menundukan kepala kepada orang lain?"
Suara pria yang begitu gagah dari arah belakang, membuat semua orang berbalik mencari keberadaan asal suara tersebut.
Mendengar suara itu, pengurus keluarga Nan sebelumnya, yang tidak lain adalah kakek Rey. Dia bergidik, merinding, dan mematung tanpa bisa berkata apa-apa.
Mengetahui sosok pria tersebut, nyali semua orang yang ada di sana, seketika menciut. Hening, semua orang tak berani membuka mulut mereka sedikitpun.
Andrew Alexander, siapa yang berani menantang keputusan pria ini. Andrew berjalan ke depan, berdiri tepat di samping Caroline.
Mata pak Waldo seketika membulat, kenapa dirinya harus kembali berurusan dengan pria kejam ini.
Sebenarnya apa yang telah terjadi. Pak Waldo penuh tanya dalam hatinya, dahulu Caroline kecil, sekarang wanita ini, semua berada dalam lingkungan dan kehidupan sosok Andrew.
"Apakah ada yang menindasmu? bolehkah aku menghancurkan seluruh keluarga mereka?" tanya Andrew lembut kepada Caroline.
Perkataan Andrew tersebut, seketika membuat bulu kuduk mereka semua merinding, hancur sudah. Apalagi jika sosok pria ini marah.
__ADS_1
"Belum saatnya kau tampil, kau menghancurkan rencanaku." ujarnya berbicara dalam hati, seraya Caroline menatap tajam wajah Andrew dengan kesal.