Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 72 - Pertemuan pertama.


__ADS_3

Di dalam ruangan pribadinya. Luxi yang tengah tertidur di kursi, dia terbangun karena sebuah alarm di tangannya yang terus bergetar kencang. Luxi membuka mata dan mengernyit, wajahnya seketika terlihat tidak senang. Dia menyalakan kamera pengawas seluruh isi kediaman.


"Sial ... aku baru tertidur sebentar dan langsung ada masalah." Tangannya langsung bergerak mengotak-atik monitor.


Ibunya yang tengah bekerja di ruangan pribadi, dan Lucas yang berlatih di ruangan pribadinya. Tidak ada yang janggal dari kediaman ini. Apa yang terjadi.


Luxi seketika tersadar. 'Pria yang berada di gerbang sekolah?' batinnya curiga kepada pria yang menurutnya seperti ada yang janggal.


Luxi menyalakan sistem keamanan dan jebakan di sisi-sisi luar keberadaan Lucas dan Caroline.


Caroline dan Lucas menyadari hal itu, mereka menghentikan aktivitasnya ... mata mereka memperhatikan sekeliling.


"Ada yang menerobos masuk?" gumam Lucas dan Caroline di tempat yang berbeda.


"Sial ... kakek baru saja pergi, kediaman langsung di bobol seseorang?" decik Caroline mengepalkan tangannya.


Untuk berjaga-jaga, mereka berdua mengambil senjata api masing-masing.


Luxi seketika terdiam, tangannya menghentikan aktivitasnya. Dia menekan tombol di bawah meja yang tak terlihat dan hanya bisa di aktifkan oleh dirinya. Seketika monitor-monitor itu tertutup di balik dinding. Luxi menggenggam erat tangan kursi. Mungkinkah dia akan mati untuk ke dua kalinya.


Caroline dan Lucas yang tahu cara menghindari jebakan keamanan itu, mereka bergegas lari menuju ke tempat Luxi berada. "Sial." Caroline geram dan khawatir, ketika dia melihat semua penjaga sudah terkapar tak sadarkan diri.


"Kakak." Lucas bergegas ke luar dari ruangan latihan, dia mengendap-endap untuk berjaga-jaga.


Tepat di sebuah pintu masuk yang menuju ke ruangan pribadi Luxi. Caroline dan Lucas bertemu, mereka berdua saling menatap satu sama lain penuh rasa khawatir dan waspada.


'Gawat! Aku malah berpapasan dengan, Momi' Lucas menyembunyikan senjata api di balik jaketnya.


"Sssttt! Jangan bersuara! Kemari berdiri di belakang, Momi!" ujarnya menarik lengan Lucas menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


Lucas mengangguk dengan patuh. Dia mencengkram ujung baju ibunya. Terlihat seolah dia ketakutan.


"Tolong jangan kenapa-kenapa, Luxi. Tunggu Ibu." Gumam Caroline. Air matanya tanpa terasa berderai jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


Jika harus kehilangan nyawa pun. Dia tidak akan menyesal, selama anak-anaknya bisa selamat.


Lucas menggertakan giginya, dia merasa geram dan kesal. Ibunya terlihat panik dan khawatir, bagaimana jika terjadi apa-apa kepada Luxi. Apa yang akan terjadi kepada Ibunya dan dirinya.


Pintu besar penghalang ruangan itu berdengung terbuka perlahan. Mata Caroline dan Lucas membulat tak percaya. Ke dua bola mata mereka yang seperti akan lompat dari tempatnya, kini berubah sendu dan sayu.


Luxi yang berdiri tegap dengan wajah terkejut. Sementara seorang pria gagah dan penuh wibawa berpakaian hitam ... tengah bertekuk lutut di hadapan bocah kecil sedikit kurus itu.


Pria itu seperti tak berdaya. Tubuhnya lesu dan lemas, ruangan yang sudah terang itu dengan cahaya lampu. Memperjelas aura muram penuh penyesalan.


Pria itu tengah meminta pengampunan. Dia begitu terlihat penuh dengan segala penyesalan dosa dirinya.


"Maafkan aku ... aku membuat kalian menderita." Suara pria itu bergetar hebat. Ke dua orang di belakangnya hanya tertunduk tak berdaya. Bos besar mereka tengah bersimpuh memohon pengampunan.


Caroline terdiam, menatap ke depan sana. Air matanya semakin berderai tak tertahan. Liam dan Roki menoleh kecil ke arahnya. Iya, pria itu adalah Andrew, dia tengah menyesali ketidak mampuan dirinya.


Luxi terdiam tidak tahu harus berkata apa. 'Apakah dia merasa bersalah? Bagaimana bisa seorang Andrew Alexander berlutut di hadapan anak kecil sepertiku?' batin Luxi tidak percaya.


Ayahnya yang terkenal kejam tak berperasaan, kini terlihat seolah-olah tak berdaya dengan seribu penyesalan.


Lucas berjalan menghampiri. Andrew menoleh menatap Lucas dan Luxi bergantian. Lucas berdiri di samping Luxi, menggandeng tangan kecil saudara kembarnya. Tatapan matanya lurus ke depan. Tidak ada penekanan dan dendam yang terpancar. Hanya rasa kasihan yang terlihat jelas, terutama oleh Caroline.


"Dady ...." Lucas memanggilnya dengan lirih.


Lucas menoleh kepada Luxi, mengangguk kecil, sedetik kemudian melirik kepada Caroline dengan sendu.


Caroline terdiam menunduk, dia menghela napas sedikit kasar. Caroline mengangguk.


"D-daddy?" ujar Luxi. Setelah dia menoleh kepada Ibunya, dia melemparkan tatapan sendu kepada Andrew.


Andrew yang tertunduk, seketika mendongak menatap Luxi dan Lucas. Tangannya bergerak ingin meraih, namun ragu dan hanya bisa tergantung di udara.


"Maafkan aku yang berdosa, dan tidak berguna," ujarnya kembali menarik lengannya.

__ADS_1


Roki dan Liam melengos ke arah lain, mereka tidak tega melihat kejadian yang tepat di hadapan mereka.


Sebuah suara dengungan kecil terdengar, sistem keamanan telah kembali pulih. Luxi memperhatikan sekitar ruangan, dia menghela napas lega.


Caroline perlahan berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. Ada sebuah rasa sakit dan haru bergejolak dari dalam dirinya.


Andrew tetap tertunduk ke lantai bawah. Dia tidak berani menatap Caroline saat ini. Penderitaan yang mereka bertiga alami saat itu. Jika bukan berawal dari dirinya ... tentu hal itu tidak mungkin terjadi. Lantas keberanian apa yang dia miliki untuk menatap wanita yang sudah menderita karena ulahnya.


Caroline berjongkok tepat di hadapan Andrew. "Mereka berdua memang anakmu," ujarnya dengan suara paruh.


"Tidakkah kau ingin memeluk mereka?"


Andrew mendongak, tak percaya dengan apa yang telah dia dengar. Andrew menatap sendu dan ragu wajah Caroline, ke dua bibirnya bergetar hebat menahan gejolak rasa yang bercampur menjadi satu.


Andrew kembali tertunduk, "A-aku ...."


Caroline menarik dan menghembuskan napas berat, dia meraih ke dua pipi Andrew dengan ke dua tangan, menghadapkannya kepada dirinya.


"Bukankah hal ini yang selalu kamu selidiki dengan susah payah? Lantas ... apa sekarang kamu tidak memiliki keberanian untuk memeluk mereka berdua di saat bersamaan?" ujarnya meyakinkan. Jika dirinya telah mengijinkan Andrew.


Andrew tersenyum tipis di ujung bibirnya, dia memeluk erat tubuh wanita di hadapannya. "Aku hanya merasa tidak pantas, maafkan aku yang tidak berkemampuan, Caroline."


"Kau sudah berusaha keras mencari kami." Caroline sedikit menepuk-nepuk pundak Andrew dengan lembut.


Caroline melepaskan pelukan Andrew. Dia menoleh kepada Luxi dan Lucas. "Kemarilah! Bagaimana pun, dia adalah ayah kalian."


Luxi berjalan ragu ke arah Andrew, matanya berkaca-kaca. Namun kejadian telah mengajarkannya untuk tegar dan kuat. Berapa banyak dan berapa juta rasa sakit yang telah dia rasakan selama ini.


Luxi menghamburkan dirinya ke pelukan Andrew. Meski sedikit canggung, dia memeluknya dan membenamkan wajahnya di pelukan Andrew.


"A-anaku ... Luxi." Andrew mengeratkan pelukannya.


"D-daddy," balasnya.

__ADS_1


Andrew mendongak menatap Lucas. Dia mengulurkan sebelah tangannya. "Lucas anakku ... kemarilah, Nak."


Lucas tersenyum dan bergegas melemparkan dirinya ke pelukan sang ayah. Isak tangis haru di ruangan itu sedikit membuat Roki dan Liam merasa sesak. Mereka berkali-kali menyeka air mata yang jatuh.


__ADS_2