Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 38: Apa kau sudah menemukan orang itu


__ADS_3

"Baiklah, maaf merepotkan anda."


Ujarnya mengiakan ajakan dari wanita tua tersebut, ia tidak enak hati kalau harus menolaknya lagi, terutama, sepertinya wanita ini menyambutnya dengan hangat, sosok Caroline yang sudah hidup sejak lama tanpa kasih sayang seorang ibu dan juga nenek, ia merasakan sedikit kehangatan dari wanita tua tersebut.


"Bagus, ayo! biar ibu tunjukan kamar untuk kalian beristirahat." Ucapnya seraya berjalan menggengam erat tangan Caroline agar ia bisa pergi untuk beristirahat.


"Ayo sayang, katanya kamu ingin bersama dengan Momi bukan, jangan berbuat onar lagi ok.!" Seraya ia menarik lengan putranya.


Caroline jelas sadar apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya, tapi ia tidak bisa memberikan peringatan tegasnya, karna ia juga sadar, mungkin anaknya ingin merasakan berada disuatu rumah, yang dimana terdapat sosok ayah dan juga ibunya disaat yang bersamaan.


Ia hanya bisa menghela napas berat, seraya berjalan mengikuti ibunya Andrew, begitu juga Lukas, ia tidak pernah bisa untuk menolak permintaan ibunya sendiri, bagaimanapun ia tahu, betapa sulitnya masa-masa ibunya ketika harus membesarkan anak seorang diri.


Sementara Andrew ia hanya bisa terdiam, menatap dalam sosok wanita dan anaknya yang mulai menghilang dari pandangan matanya.


Pikirannya mulai membayangkan masa depannya sendiri, betapa akan sangat indah jika ia bisa hidup bersama dengan wanita yang ia sukai, dan juga seorang anak yang menjadi pengikat hubungan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan, ia sangat merasa yakin, pasti hari-harinya tidak akan kesepian lagi seperti kehidupannya selama ini.


Kehidupan ia yang keras dan juga begitu suram, dalam cerita hidupnya, ia hanya bergelut dengan kesibukan pekerjaan kantornya, dan juga sebuah tangan miliknya yang selama ini selalu berlumuran darah.


Hidup yang ia jalani, memang tidak ada sebuah warna dalam hari-harinya, ia adalah sosok pewaris tunggal keluarganya, yang harus bertanggung jawab dengan nama baik keluarganya, dan juga harus melindungi dan menjaga seluruh anggota anak buahnya, yang telah bersumpah setia kepadanya.


Saat sebuah tahta jatuh kedalam pundaknya, diusianya yang terbilang masih muda, ayahnya harus terpaksa menyerahkan tanggung jawabnya kepada dirinya, sebagai penerus selanjutnya dari keluarga mafia no 1.


Kalau saat itu ia tidak menerima keputusan ayahnya, maka sebuah bencana akan terjadi, demi menyelamatkan keluarganya terutama ayahnya dan juga anak buah seluruh anggota mafia, mau tidak mau ia harus memikul beban berat tersebut.


Hingga sampai saat ini, untuk pertama kalinya ia merasakan rasa hangat dan nyaman kepada seorang wanita, yang tidak lain adalah Caroline yang semula terjadi karna kecerobohannya sendiri.


Ketika ia terhanyut dalam lamunan kisah masalalunya, ia tersadar ketika ayahnya berbicara kepada seseorang.


"Elliana, istirahatlah, ini sudah malam.!"


Ujar tuan alexander kepada wanita yang sedari tadi hanya terdiam tanpa berbicara, dengan raut wajahnya yang terlihat muram seperti ia menyimpan rasa kekesalannya yang dalam.


"Iya paman." Sahutnya seraya bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Liam, tolong antarkan nona Elliana kekamar yang seperti biasa.!" Tukas tuan alexander sedikit menghela napas berat.


"Baik Tuan." Jawab Liam dengan sopan.


"Silahkan nona Elliana.!"


Liam pun mempersilahkan Elliana agar ia berjalan didepannya, dan agar wanita itu secepatnya pergi dari ruangan tersebut, Liam jelas tahu apa maksud dari tuan alexander, ia akan ada hal yang dibicarakan kepada anaknya.


********


"Duduklah Andrew.!"


Ujarnya seraya melirik kursi yang berada disampingnya.


"Apa ada yang ingin kamu katakan ayah.?" Tukas Andrew bertanya setelah ia duduk disamping ayahnya.


"Apa sampai sekarang kau belum mengerti dari perubahan ekspresi seorang wanita.?" Tegas ayahnya bertanya, seraya ia menatap tajam wajah anaknya.


Andrew sesaat bingung dengan pertanyaan ayahnya tersebut, ia hanya menatapnya balik seraya mengerutkan dahinya.


"Apa yang kamu bicarakan.?" Tegas andrew bertanya dan dahinya semakin berkerut, ketika mendengar ocehan ayahnya, yang terdengar seperti merendahkan dirinya.


"Elliana, perasaan seperti apa yang kau punya terhadapnya.?"


"Apa yang sedang kau bicarakan? perasaan apa yang aku punya untuknya, dasar konyol." Sahut Andrew menjawab dengan sangat malas.


"Kalau begitu, beri dia sebuah penegasan! agar suatu saat tidak menimbulkan masalah baru untukmu, dasar bocah bodoh."


"Hei... yang menjodoh-jodohkan aku dengannya, adalah istrimu sendiri, lebih baik kau kendalikan istrimu, dan jangan ikut campur terlalu dalam soal kehidupanku.!" Tegas Andrew menjawab dengan ekspresi kesalnya. dan dengan sindiran telak kepada ayahnya.


"Aku tahu, tapi awalnya, kau juga merespon wanita itu dengan baik, apa kau lupa kalian hampir melakukan hal bodoh, dan dengan tanpa rasa bersalah kau meninggalkannya begitu saja ditengah jalan, disaat kau hampir meniduri wanita itu."


"Kau tidak bisa menyalahkan istriku sepenuhnya.!" Tegas ayahnya mengingatkan cerita masalalunya.

__ADS_1


"Cih, aku meninggalkannya karna aku tidak tertarik kepada barang bekas.!" Tegasnya dengan nada cibirannya.


"Barang bekas.?"


"Sudahlah, tidak perlu dibahas, lagipula saat itu aku berada dalam efek lain, masih untung aku bisa selamat."


"Apa kau lupa apa yang terjadi saat itu.?" Pekiknya dengan wajah yang mulai suram, dan ekspresinya terlihat menahan kemarahan.


"Hah... aku tahu, baiklah, selesaikan saja masalahmu sendiri, kalau kau ingin benar-benar mengejar ibu dari anakmu itu." Ujarnya sambil menghela napas berat, dan ia bangkit dari tempat duduknya seraya ia menepuk pundak Andrew dengan pelan.


"Aku mengerti, tidak perlu kau ingatkan juga.!" Sahut Andrew dengan wajah santainya, sementara ayahnya hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sesaat kemudian terdengar langkah kaki menghampiri Andrew yang tengah menyandarkan tubuhnya diatas kursi.


"Tuan, apa kamu harus kembali.?" Ujar Roland dan Liam bertanya dengan sopan.


"Tidak perlu, kalian menginap saja disini! Roland mulai saat ini, aku tugaskan kamu untuk mengawal, mengawasi, menjaga anakku dengan baik, sedangkan kau Liam, suruh Roki besok pagi datang kemari, aku punya tugas untuknya.!" Perintah Andrew dengan tegas.


"Baik bos."


"Kalian istirahat dikamar tamu, aku masih menenangkan diri disini." Tegas Andrew.


"Kami permisi bos." Ujar Roland dan Liam seraya membungkuk hormat, dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Andrew saat itu merasa pikirannya terbagi kemana-mana, ia berkali-kali menghela napas berat, seraya menatap langit-langit dengan kosong, bayangan-bayangan cerita masalalu dirinya seketika bertebaran terbayang diujung matanya, ada perasaan gelisah dan rasa hawatir yang kini ia rasakan dalam dirinya.


Menyadari kegelisahannya yang tak kunjung reda, ia memutuskan untuk naik kelantai atas, melihat apakah lukas dan Caroline sudah tidur.


Tepat diujung tangga, ia sontak menghentikan langkah kakinya, ketika melihat Caroline berada diluar kamarnya, dan terdengar tengah berbincang lewat ponselnya.


"Bagaimana? apa kau sudah menemukan orang itu.?" Ujar Caroline bertanya diujung teleponnya.


"Bagus, secepatnya atur jadwal pertemuanku dengannya, dan jangan sampai meninggalkan jejak.!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2