Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 53 : Pengalihan saham


__ADS_3

Pada siang hari, tuan Waldo, dan kakak tiri Caroline, yang tidak lain adalah Sherry, mereka datang ke kantor Andrew, untuk menanyakan perihal kerjasama yang telah ia tawarkan sebelumnya, dengan suasana hati Andrew yang sedang tidak baik, ia sangat kesal, ketika mendengar mereka telah lancang berani datang, tanpa persetujuannya terlebih dahulu.


"Tuan, haruskah saya mengusir mereka?" tanya Liam dengan ragu.


"Apa kau tidak tau apa yang harus kau lakukan Liam, berapa lama kau bekerja untukku?" tegasnya dengan wajah Andrew yang kesal.


"Maafkan saya tuan, saya permisi."


Liam sudah tau apa yang harus ia lakukan, ia segera bergegas meninggalkan ruangan Andrew, untuk meminta kedua orang itu agar segera meninggalkan kantornya.


"Tuan Waldo, Nona Sherry, untuk saat ini Tuan Andrew tengah sibuk, silahkan kembali."


Liam mempersilahkan mereka agar segera pergi, ia melirik pintu keluar dengan senyuman yang seolah-olah ramah, namun sangat jelas terlihat, bahwa kedatangan mereka jelas tidak diterima sama sekali.


"Baik, bisakah tolong tanyakan kepada Tuan Andrew, kapan saya bisa membuat janji temu kembali?" ujar pak Waldo yang masih berharap.


"Tuan, saya rasa anda sangat mengerti apa maksud dari ucapan saya, silahkan!" sahut Liam mulai sedikit kesal.


"Baik baik, kalau begitu kami permisi tuan, maaf telah mengganggu kesibukan anda."


Waldo sangat tau dari arah pembicaraan Liam, sebelum ia membuat masalah dengan orang yang tidak seharusnya ia singgung, lebih baik kembali untuk sementara, walau dengan tangan kosong. Mereka berdua segera meninggalkan kantor tersebut dengan hati kecewa.


"Ayah, kenapa dia tidak mau membantu kita, apa aku ini kurang cantik dan tidak menarik?" ujar Sherry mengeluh dengan wajah muram.


Sementara Pak Waldo hanya menghela napas berat tanpa menjawab, ia memutuskan untuk pokus dengan kemudinya, ia tidak tau harus berbuat apa, semua saham miliknya telah jatuh, kalau tidak ditangani secepatnya, perusahaannya akan bangkrut, dan hal itu tidak bisa ia terima.


"Ayah, kenapa ayah diam saja, apa kecantikan aku dibawah adik, jelas-jelas dahulu, ia menerima tawaran ayah dengan mudah, kenapa justru ia menolak aku ayah?" ujar Sherry kembali mengeluh semakin kesal.


"Bisakah kamu diam, ayah sedang berfikir."

__ADS_1


Mendengar omelan Sherry, kepalanya semakin panas seperti hampir pecah, bahkan sosok anak tirinya itu, benar-benar tidak bisa membantunya sama sekali, walau dengan kecantikan dan popularitas yang ia miliki sekarang, namun sosok Caroline dahulu, seorang gadis yang lugu, mampu membuat perusahaannya bertahan hingga saat ini, dan bisa mencapai kesepakatan dengan sosok luar biasa seperti Andrew.


Tanpa hitungan hari, saham perusahaanya semakin anjlok, dan hanya dengan hitungan jam saja, sudah mampu membuat ia ditekan oleh para pemegang saham lainnya.


Tepat diruangan rapat, suasana yang sangat tegang tengah terjadi, jika dalam 1 hari ia tidak bisa membereskan kekacauan ini, semua pemegang saham lainnya, akan segera menarik saham mereka, dengan kerugian yang saat ini tengah ia alami, ia hanya bisa membuat keputusan paling gila dalam hidupnya.


*********


"Nona, bagaimana selanjutnya?" tanya Vernita menunggu perintah.


"Tenanglah, karna Andrew tidak berniat menolongnya, dan perusahaan lain juga telah menolak tawaran tua bangka itu, hal terakhir yang bisa ia lakukan adalah datang kepada kita."


Caroline hanya menunggu, ia duduk di kursi kerjanya dengan sangat santai, seraya ia menikmati teh.


Dertt .... Dertt....


Sebuah panggilan masuk dari ponsel milikinya ia terima, Caroline menatap layar ponsel itu dengan senyuman tipis.


"Nona, semua yang anda minta telah selesai saya kerjakan, seperti dugaan anda, dia meminta janji temu sore ini," sahut seseorang diujung telepon tersebut.


"Baiklah," sahut Caroline sangat puas, ia segera menutup panggilan telepon tersebut.


"Verni, kosongkan jadwal pada sore hari ini," ujarnya seraya tersenyum tipis.


"Baik nona, kalau begitu saya permisi," sahutnya, seraya ia bergegas meninggalkan ruangan kerja Caroline.


"Aku akan mengambil kembali semua milik ibuku, permainan ini baru saja dimulai," gumamnya seraya menatap sebuah poto milik ibunya.


********

__ADS_1


Sore hari pada pukul 17.00, seperti perjanjian yang telah mereka sepakati, Caroline dan pak Waldo membuat janji temu, disebuah restoran mewah, dengan pelayanan khusus VIP, namun saat Pak Waldo tiba, ia sedikit mengerutkan dahinya bingung, pasalnya, ia hanya bisa berkomunikasi dengan asisten Caroline, ia tidak bisa melihat sosok wanita tersebut, bahkan suaranya tidak bisa ia dengar sedikitpun.


Sangat aneh sekali, kenapa dengan orang yang ia temui, bahkan posisi duduk mereka harus terhalang sebuah bilik yang memisahkan jarak keduanya.


"Nona, bagaimana dengan tawaran saya?" ujar Pak Waldo bertanya.


"Tuan, Nona saya akan membeli saham anda, dengan sarat harga seperti yang telah tertulis disana, jika anda setuju silahkan tanda tangan, jika tidak setuju, kami sangat minta maaf, tuan," sahut Vernita menjelaskan.


Pak Waldo terdiam sesaat, ia menatap dokumen tersebut dengan berat hati, bagaimana bisa, harga yang diberikan hanya lebih tinggi satu angka dari orang-orang sebelumnya yang telah ia temui, namun hanya dalam satu panggilan telepon yang mereka terima, secara mendadak membatalkan tawaran tersebut, dan menolak dengan tegas, bahwa mereka tidak ingin membeli sahamnya.


Sebenarnya ia sangat menyadari satu hal, bahwa ada seseorang yang telah mengendalikan situasi tersebut, tapi waktu yang sangat sedikit, membuat ia tidak ada pilihan lain lagi, selain menjual saham miliknya, setidaknya, tawaran dari Caroline lebih menguntungkan, bahwa ia akan tetap menjabat sebagai direktur di perusahaan tersebut, dengan saham miliknya yang hanya tersisa 5% ia masih bisa menjabat sebagai direktur utama, setidaknya ia masih bisa menyusun rencana kedepannya.


"Bagaimana tuan, apakah anda setuju dengan tawaran ini?" ujar Vernita kembali bertanya.


"Baiklah, saya setuju."


Tanpa basa-basi lagi, walau dengan sangat berat hati, ia terpaksa harus menandatangani pengalihan saham tersebut. Terlebih lagi, sosok seorang laki-laki yang saat ini tengah duduk dihadapannya, terlihat seperti, bukanlah orang yang mudah menunggu.


"Baiklah, silahkan tanda tangan Nona!" ujar pria yang tengah duduk dihadapan pak Waldo, ia memberikan dokumen tersebut kepada Vernita, agar Caroline yang berada dibalik bilik segera menandatangani dokumen tersebut.


Aku tersenyum tipis dengan sangat puas, setelah pengalihan saham tersebut selesai, sosok Waldo, sekarang sudah berada dalam genggaman tangan, dengan 5% saham yang tersisa, aku sangat ingin tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


"Kedepannya, kita akan banyak waktu untuk bermain-main ayahku tersayang," ujarnya dalam hati.


"Baiklah, karna semua sudah selesai, biarkan saya mengantar anda, tuan," ujar pria tersebut kepada Pak Waldo, seraya ia bangkit dari duduknya.


"Terimakasih tuan," sahut Pak Waldo dengan canggung, seraya ia sedikit mengerutkan dahi.


"Hebat, setelah semua selesai, mereka mengusirku dengan cepat, mereka bahkan tidak memberi muka walau hanya sekedar makan bersama, cih ... tunggu saja," ujar Pak Waldo dalam hati, seraya ia melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2