Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 70 - Mengikuti


__ADS_3

Pagi itu, Andrew merasa penasaran dengan Caroline. Kenapa dia dengan terburu-buru pindah ke tempat yang tidak jauh dari kediamannya. Lalu siapa orang-orang asing tersebut.


Andrew secara pribadi mengawasi kediaman itu dari sedikit kejauhan. Terlihat sebuah mobil mercy melaju kencang menyibak jalanan yang sepi.


'Caroline? Mau pergi ke mana dia dengan pengawalan yang ketat seperti itu?' batin Andrew bergejolak dengan segala pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Kaca mobil yang terbuka sedikit, memperlihatkan Caroline berada di dalamnya. Andrew menjaga jarak sedikit jauh dan mengikuti dari belakang.


Tepat di sebuah jalan yang sepi, Caroline turun berganti mobil dengan seorang anak yang menurutnya adalah Lucas.


"Apa tidak apa-apa, Momy?" tanya Luxi kepada Caroline, ketika meninggalkan Lucas di mobil bersama kakeknya.


"Tidak apa-apa. Kalian akan bersama saat tiba di sekolah." Caroline mengelus puncak kepala putranya.


Sejenak Caroline terdiam ketika dia telah memasuki mobil yang berbeda. Dia merasa sedikit khawatir jika Luxi akan berada dalam masalah lagi.


Caroline menatap sendu wajah Luxi dengan ekspresi tidak jelas tergambar dari wajah cantiknya.


'Apa yang tengah di khawatirkan oleh, Momi?' Luxi sekilas melirik wajah khawatir Ibunya.


Andrew mengerutkan dahinya. Mobil yang di tumpangi oleg Caroline seolah dengan sengaja berputar-putar. Dia tetap ingin tahu dengan jelas apa yang di rencanakan oleh Caroline kali ini.


Ponsel milik Andrew berdering, dia mengangkat seraya tetap pokus pada kemudinya.


"Ada apa?" tanya Andrew menerima panggilan telepon dari Roki.


"Putra anda sudah tiba di sekolah baru," lapornya yang sudah mendapatkan informasi, jika Lucas akan di pindahkan sekolahnya.


Andrew mengernyit, "Lucas?" tanya dia sedikit heran.


"Iya." Roki menjawab dengan santai.


Andrew semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini? Lalu siapa anak laki-laki yang tengah bersama Caroline saat ini. Jelas bahwa Andrew yakin betul itu adalah Lucas.


"Tuan?" tanya Roki memastikan. Ketika di ujung telepon sana, Andrew tidak mengatakan apa pun.


"Tunggu aku di sana! Sebentar lagi aku akan tiba!" tegasnya langsung mematikan sambungan telepon.


Roki sedikit bingung, dia menatap layar ponsel yang telah terputus dari sambungan telepon bersama Andrew.


"Apa maksud dia?" gumamnya.


Beberapa detik kemudian, mata Roki terbelalak seolah bola matanya hampir keluar.

__ADS_1


"Dia?" ujarnya menatap tajam seseorang yang keluar dari sekolahan itu. Lucas keluar dengan tangannya yang di gandeng oleh seorang pria paruh baya.


Tadi dia hanya bisa melihat punggung pria tua itu, namun kali ini dia melihat bagian depannya. Meski lelaki tua itu mengenakan masker dan topi yang menutupi wajah. Roni masih sedikit bisa mengenali pria itu.


"Aku yakin tidak mungkin salah mengenali orang." Roki mengerutkan dahi seraya menatap lurus ke arah lelaki tua itu.


"Aku harus pergi ke mana ini? Menunggu, Tuan di sini, atau mengikuti mereka?" ujarnya bimbang, "Argghhh ... sial. Aku yakin si brengsek Liam tengah ada pekerjaan penting." Roni mengepalkan tangannya merasa jengkel.


Beberapa saat berlalu, sebuah mobil tiba memasuki parkiran sekolah. Roki semakin di buat terbelalak, paktanya Caroline keluar dari mobil bersama Lucas lagi. Mereka memasuki gedung sekolah, dan di belakangnya di jaga ketat dengan beberapa pengawal.


"Apa yang sedang terjadi saat ini?" tuturnya merasa sakit kepala.


Roki yang tengah tertegun seketika tersadar ketika seseorang mengetuk kaca mobil. Dia menoleh, "Tuan?" ujarnya seraya langsung membuka kunci mobil.


"Kenapa kau bengong seperti itu?" ujar Andrew bertanya seraya menutup mobil milik Roki.


"Tuan, ini ...."


"Ada apa? Kau seperti habis melihat hantu saja." Andrew mencibirnya. Raut wajah Roki terlihat begitu tak masuk akal.


"Saya tidak tahu, apakah mata saya yang rabun, atau memang tuan muda Lucas ada dua," terangnya masih sedikit bingung dan ragu untuk menjelaskan.


Andrew mengernyit, "Menjadi dua?"


Andrew terdiam. Dia jelas sedari tadi mengikuti Caroline, wanita itu tidak keluar dari mobil sama sekali. 'Mungkinkah?'


"Ciri-ciri lelaki tua itu seperti apa?" tanya Andrew berusaha menyelidiki.


Roki menarik dan menghela napas sedikit berat, dia menyapu wajahnya kasar.


"Dia terlihat seperti ...."


Roki menatap Andrew sedikit ragu. Dia juga belum tahu pasti lelaki tua itu siapa. Takutnya dia menyimpulkan terlalu cepat.


"Katakan!" desak Andrew tidak sabar.


"S-sahabat Tuan besar Alexander." Roki menjawab terbata-bata karena tidak yakin.


Mata Andrew membulat. Bagaimana mungkin orang itu masih hidup, sementara ayahnya selalu bersembunyi, bahkan melepaskan kekuasaannya karena rasa bersalah atas kematian sahabatnya tersebut.


'Apakah benar jika dia masih hidup? Lalu apa hubungannya dengan Caroline?' Andrew terdiam dengan segala pemikiran terdalamya.


Selang beberapa waktu, Caroline dan Lucas ke luar dari gedung sekolah. Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Ponsel Andrew kembali berdering. Dia menatap layar ponsel sedikit menyeringai di ujung bibirnya.


"Kau sudah tiba?" tanya Andrew setelah dia mengankat telepon.


"Iya, saya sudah tiba," jawab seorang pria dari balik telepon.


"Bagus. Nanti malam datang ke kediaman pribadiku!" tegasnya.


"Saya mengerti, Tuan."


Andrew menutup panggilan telepon, dia menarik dan menghembuskan napas sedikit lega. Akhirnya dia berhasil keluar hidup-hidup.


"Kau ikut aku ke dalam!" ajaknya kepada Roki.


Roki mengangguk dan ke luar dari dalam mobil mengikuti langkah kaki Andrew menuju.


Tepat ketika mereka sudah tiba di dalam gedung sekolah no satu di negara ini. Dengan keamanan tingkat tinggi yang berada dalam kendali tiga keluarga besar.


Seseorang setengah berlari menghampiri, ketika dia menyadari orang yang saat ini tiba adalah Andrew Alexander.


"Tuan, apa yang membawa anda kemari?" tanya pemilik sekolah dengan rasa hormat.


'Ada apa dengan hari ini? Aku benar-benar kewalahan dengan kedatangan orang-orang yang sulit di hadapi' batinnya merasa tertekan.


Andrew menatap pemilik sekolah dengan tatapan tajam mematikan, "Apa anda tidak akan mempersilahkan saya masuk?" ujarnya menyindir.


Pemilik sekolah itu sudah bercucur keringat dingin. Apa lagi yang mereka inginkan dari dirinya. Orang yang tadi saja sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung.


"Kau baru saja menghadapi orang yang sulit kau hadapi?" cibir Andrew mencari tahu.


"T-tuan ... silahkan ikut saya ke ruangan. Mari," tuturnya tidak berdaya. Dia mempersilahkan Andrew dan Roki berjalan terlebih dahulu.


Tepat ketika mereka telah tiba di kantor pribadi sang pemilik sekolah, dia mempersilahkan Andrew dan Roki duduk.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" ujarnya bertanya membuka percakapan.


"Dua anak kecil tadi ... apakah mereka akan bersekolah di sini?" tanya Andrew dengan wajah santai.


"I-itu ... saya ...."


Pemilik sekolah merasa bingung untuk menjawab apa. Jika ia mengatakan akan mati, tapi jika pertanyaan Andrew tidak di jawab, dia juga akan mati.


"Seharusnya kau tahu siapa aku bukan?"

__ADS_1


__ADS_2