
Semua orang terheran-heran dengan apa yang tengah berada di hadapan mereka saat ini. 'Sejak kapan tuan Andrew yang angkuh dan tidak peduli dengan urusan orang lain, kini ia bersedia membantu seorang wanita' pikir semua orang terheran-heran.
Raut wajah pak Waldo yang semula mulai mencair, kini kembali membeku. Wajahnya menghitam muram.
"Wanita ini." Gumamnya kesal.
"Saya rasa semua ini hanyalah salah paham semata, saya akan meminta maaf atas nama keluarga Nan." Kakek paruh baya itu menunduk hormat meminta maaf, atas kelancangan cucu lelakinya.
"Kakek Nan, apa kamu mau melempar wajahku dengan kotoran?"
Andrew masih sangat kesal, sejak kapan keluarga Nan bisa bertingkah angkuh di hadapannya.
"Saya benar-benar minta maaf tuan," ulang kembali lelaki tua tersebut.
Andrew menaikkan sebelah alisnya. 'Apakah orang ini bodoh, apa belum mengerti arti maksud diri ucapanku' Andrew menatap lelaki tua dan cucunya itu dengan tajam. "Bukan kepadaku!" tegasnya menatap tajam.
Mendengar apa yang di katakan oleh Andrew. Lelaki tua itu mulai mengerti, dia menarik lengan cucu lelakinya seraya membungkuk di hadapan Caroline.
"Maafkan kami. Nyonya," ujar pak tua itu bergetar.
Dalam hati Caroline tersenyum puas.
'Ternyata pria di sampingku ini, berguna juga' pikirnya
"Ah ... itu terlalu berlebihan tuan, lagipula saya yang tidak mengerti suasana saat ini," ujar Caroline sarkas.
Lelaki tua itu semakin bergetar, dia melirik cucunya yang masih berdiri dengan tegap, seraya menatap wajah Caroline penuh emosi.
"Apa kau bodoh, segera minta maaf!" gumamnya memerintah.
Rey mengepalkan tangannya. 'Benarkah dirinya harus membungkuk, penghinaan macam apa ini' pikirnya.
"Tidak, tidak ... mohon tuan jangan memaksa cucu anda untuk meminta maaf, itu tidak pantas sama sekali." sindir Caroline penuh arti.
Meminta maaf, harusnya dengan sangat tulus bukan.
'Kenapa tidak aku pergunakan kesempatan bagus ini, supaya mereka lebih emosi lagi' Caroline benar-benar semakin membuat lelaki tua itu bergidik. 'Apa lagi yang wanita ini rencanakan' pikirnya.
Wanita yang sangat keras kepala ini, jika cucunya belum menyesali perbuatannya, mungkin dia akan memainkan perannya sebagai wanita penuh rasa bersalah. Di saat itulah nyawa mereka bisa lenyap oleh kemarahan Andrew.
Andrew menatap tajam lelaki tua itu. "Jangan menghancurkan keluarga Nan." Ujarnya tegas kepada cucunya, seraya menyeka keringat yang sudah bercucuran.
Melihat kakeknya begitu ketakutan, sepertinya pria yang berada di samping wanita itu, bukanlah orang sembarangan. Tidak memiliki pilihan lain, Rey terpaksa membungkuk.
"Maafkan saya, Nona." Dengan penuh rasa terpaksa dan diliputi rasa malu. Kepulangannya kali ini, untuk menunjukan kekuasaannya, bukan di permalukan seperti ini, oleh wanita yang tidak jelas asal usulnya.
"Saya yang harus minta maaf, saya benar-benar tidak melihat kondisi." Ujar Caroline penuh rasa penyesalan.
Andrew tersenyum di ujung bibirnya. Wanitanya kali ini, sungguh bersedia menjadikan dirinya sebagai alat balas dendam. 'Itu tidak apa-apa, setidaknya Caroline mulai membuka diri untuknya' hati Andrew merasa puas dan bangga.
"Terlahir kaya dan memiliki kedudukan yang besar, sungguh luar biasa." Hati Caroline sedikit iri. Sementara dirinya, ingin berada di posisi saat ini, harus melewati jalan berliku penuh krikil, bahkan ia hampir menukarnya dengan nyawa.
__ADS_1
"Pria ini, apakah yang dulu telah membeli malam pertama Caroline?"
Sherry terdiam menatap Andrew yang berdiri begitu gagah di samping Caroline, setelan jas warna hitam, jam tangan dengan harga yang begitu fantastis, sungguh terlihat begitu agung dan menggiurkan.
'Haruskah aku melemparkan diriku kepada pria tersebut' pikir Sherry terkagum-kagum.
Menatap wajah Sherry yang penuh harap, matanya yang berbinar-binar. Caroline menaikkan sebelah alisnya seraya mendekat kepada Andrew.
"Hei, pria berkuasa ... sepertinya akan ada wanita yang ingin kau tiduri," Gumamnya berbisik.
"Kamu akan melemparkan dirimu kepadaku?" sahut Andrew berbisik, balik menggoda Caroline.
"Dasar cabul. Bukan aku."
Wajah Caroline sedikit terlihat merona, pria ini benar-benar tidak tahu malu. Walau dahulu ia tidak terlalu mengingat sosok Andrew, tapi ia masih sadar jelas, betapa ganasnya pria tersebut ketika di atas ranjang.
"Kalau aku meminta kompensasi darimu?" bisiknya pelan.
"Cih ... kau yang menawarkan dirimu sendiri." Ujarnya memalingkan wajah.
Melihat interaksi yang terlihat intim antara Caroline dan Andrew. Sherry menggertakan giginya semakin kesal. "Wanita dengan bentuk wajah seperti itu, memang seperti ja*lang." Ujarnya tersungut-sungut penuh rasa iri.
"Putriku, apa kau menginginkan pria itu?" tanya pak Waldo licik.
"Pria yang begitu terlihat gagah, agung, dan sangat mendominasi. Siapa yang tidak menginginkannya." Jawab Sherry masih sangat kesal.
"Ayah akan memikirkan cara, agar dia tertarik kepadamu, sudah jangan kesal lagi." Bujuk pak Waldo menghibur.
'Jadi siapa sebenarnya yang putrimu itu' pikirnya dengan sedikit raut wajah sedih.
"Renata, Renata." Andrew berkali-kali memanggilnya dengan suara rendah.
"Apa?" sahut Caroline tersadar.
"Hei ... kamu tidak pantas bersedih untuk mereka!"
Andrew yang melihat perubahan raut wajah Caroline, ia bisa mengerti apa yang wanita ini rasakan saat ini. Bagaimanapun dia tetaplah ayahnya.
"Kau, jangan sembarangan menebak!" ujar Caroline kesal.
"Baguslah jika tidak. Kalau begitu ... pikirkanlah dengan cara apa berterima kasih kepadaku." Ujarnya berniat mengalihkan topik.
"Maaf, saya permisi." Ujar Caroline berusaha meninggalkan acara tersebut.
Rasanya sudah tidak mood lagi bagi dirinya, untuk melanjutkan permainan.
"Istriku, tunggu aku!"
Andrew berusaha segera menyusul Caroline. Melihat kelakuan presdirnya tersebut. Liam hanya bisa menghela napas pendek.
'Orang jatuh cinta memang suka bertingkah konyol' batin Liam seraya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Diam. Berhenti memanggilku istri!" bentak Caroline sedikit kesal.
"Hei ... beginikah caramu setelah memanfaatkan aku?"
Andrew menarik lengan Caroline seraya tersenyum jahil.
"Kau yang memanfaatkan." Ujarnya seraya mengibaskan lengan yang di genggam Andrew.
"Silahkan. Nyonya!" Liam langsung siaga dengan mobilnya seraya membukakan pintu.
"Aku bukan nyonya kamu." Sahutnya ketus.
"Maafkan saya nyonya." Liam dengan sengaja kembali mengulang ucapannya.
"Haisshh...."
Caroline hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kedua orang ini benar-benar, tuannya tidak berhenti memanggil dirinya dengan sebutan istri, sekarang asistennya memanggil nyonya dengan keras kepala.
'Sunggug membuat orang sakit kepala' batinnya.
"Aku akan mengantarmu. Masuk ke dalam mobil!"
Andrew yang sudah mengatakan bahwa Caroline adalah wanitanya di hadapan semua orang, bagaimana bisa ia membiarkan wanita ini pulang secara terpisah. Apalagi saat ini, semua orang-orang tadi tengah memperhatikan mereka.
"Tidak mau, aku bawa mobil sendiri." Ujar Caroline keras kepala.
"Menurutlah! Jika tidak ingin di gosipkan." tegas Andrew.
Caroline mengerutkan keningnya semakin kesal.
'Pulang bersama atau tidak pulang bersama, bukankah akan tetap di gosipkan' pikirnya.
Tentu saja. Andrew menjadikan malam ini sebagai cara licik, mengatakan Caroline adalah wanitanya. Tentu saja semua orang akan bergosip.
Di tambah lagi, di luar kediaman keluarga Nan, begitu banyak wartawan.
'Keduanya sama saja bunuh diri' batin Caroline.
"Haisshh...."
Caroline mengalah, ia melangkah masuk ke dalam mobil Andrew. Dengan puas dan bangga, Andrew tersenyum licik, dan mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Rencananya berhasil, Caroline akan segera di beritakan oleh para wartawan, bahwa dia adalah wanita milik presdir Andrew Alexander.
"Antarkan aku ke rumahku!" ujarnya kepada Liam sedikit kesal.
Caroline sadar, bahwa besok akan ada berita yang tidak enak tentang dirinya dan pria busuk di sampingnya tersebut.
"Aku pulang di antar teman." Caroline segera mengirim pesan kepada pengawal yang biasa menjaganya.
"Baik." Balas pria itu cepat.
__ADS_1
"Tuan besar, sepertinya Nona muda diantar presdir Andrew Alexander." Lapor pengawal itu kepada tuannya.