
Andrew yang sudah memiliki akses masuk ke 'Blood Casino' bergegas pergi menuju tempat itu. Rasa khawatir yang memenuhi pikirannya, membuat dia melaju kencang mengendarai mobil sport miliknya.
"Daddy pergi," ujar Lucas yang menoleh ke arah Luxi.
Layar besar yang memperlihatkan Andrew meninggalkan kediaman, membuat Luxi menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.
"Tentu saja dia pergi menyusul, Momi." Luxi dengan santai menjawab.
Setidaknya Lucas dan Luxi bisa tenang, dan tidak terlalu khawatir akan keselamatan momi mereka. Andrew tidak akan membiarkan hal buruk menimpa wanitanya.
Sementara Caroline yang sudah berada di dalam, dia menghampiri Joel yang tengah menikmati sebuah anggur di tangannya.
"Kamu santai sekali, ya?" ujar Caroline.
Joel menoleh dengan wajah santainya. "Tentu saja, aku tahu kamu akan sampai dengan cepat," jawabnya.
"Di mana orangnya?" ujar Caroline bertanya, seraya mengambil posisi duduk dengan menyilangkan sebelah kakinya. Hingga belahan dress panjang itu memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Arah pandang mata Joel tertuju kepada seorang pria di depan sana, yang tengah asik menikmati permainan judi.
Caroline mengikuti ke mana arah tatapan Joel, dia sedikit mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis.
"Kau yakin akan bergerak sekarang?" tanya Joel merasa sedikit khawatir.
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah melepaskan mereka!" tegasnya dengan penuh rasa dendam.
"Baiklah. Bermain yang cantik! jadilah aktris wanita yang hebat!" tegasnya sedikit mengingatkan.
Joel tahu, pria itu bukan orang yang mudah di tangani. Meski begitu, keputusan Caroline menunggu hingga detik ini adalah hal yang luar biasa. Caroline mengangguk kecil.
"Sudah kalian siapkan semuanya?" ujarnya bertanya kepada dua orang pria yang berdiri tegap di belakang.
"Sesuai permintaan anda."
Caroline melambaikan tangannya setengah, meminta mereka untuk menjauh darinya.
Joel mengangguk. Caroline bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan anggun menuju meja judi.
Para mata pria di sana, seketika tertuju ke arahnya. Sosok anggun itu berhasil mencuri perhatian dalam seketika.
Mata elang pria itu, yang kini menjadi target, menatapnya tajam penuh gairah.
Belahan dada dan kaki lenjang Caroline berhasil membangkitkan sikap lelakinya.
"Bolehkah saya bergabung?" ujar Caroline tersenyum ramah dan anggun.
"Nona cantik, apa kamu tahu ini tempat apa?" ujar pria tersebut angkat bicara.
__ADS_1
"Kata salah satu teman, setiap orang bebas datang kesini untuk bertaruh. Saya ingin menghilangkan penat dan mencari peruntungan," ujar Caroline menjawab.
Pria itu sejenak terdiam menatap lekat. Namun beberapa detik kemudian, dia mengangguk kecil dan tersenyum tipis di ujung bibirnya.
"Nona cantik pernah datang kesini sebelumnya?" ujarnya kembali bertanya.
Caroline tersenyum anggun seraya menatapnya. "Ini kali ke dua saya datang. Saya berharap para pria gagah di sini memberi sedikit kemenangan kepada saya," jawabnya.
"Nona, dunia ini keras. Tidak ada makan yang gratis," ujarnya dengan maksud tertentu.
Caroline sejenak menatapnya lekat, dengan ekspresi sedikit bingung.
"Tentu saja harus membayarnya," ujarnya.
Pria itu tersenyum puas. "Tentu. Kalau begitu duduklah!" tuturnya.
Mereka mulai bermain poker, dengan taruhan masing-masing chip di atas meja.
Permainan mulai berjalan sengit. Tanpa mereka duga, wanita yang di anggap jala-ng berhasil menggasak chip milik mereka.
Akan tetapi, beberapa waktu berselang, Caroline kehabisan chip dan berhasil kalah oleh seorang pria lain di sebelahnya. Tidak terkecuali pria yang menjadi target utama.
Brak!
Meja di gebrak cukup keras, hingga beberapa pengawal 'Blood Casino' menatap tajam.
"Ini pasti ada kecurangan. Pria ini pasti bermain trik!" pekiknya menunjuk pria di hadapannya.
"Tuan, dari awal anda menang berturut-turut. Apakah saya ada menuduh anda curang?" jawab pria yang di tuduh.
"Ini pasti akal bulus kau saja!" ujarnya kembali menujuk pria itu.
"Ada apa ini?" tanya seseorang menghampiri. Dia adalah Joel, yang saat ini berpura-pura menjadi penanggung jawab di 'Blood Casino'
"Jangan ikut campur!" tegasnya seraya menodongkan pistol ke arah Joel.
Caroline bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah pria yang tengah emosi.
"Tuan, anda tenang sedikit. Lihatlah sekeliling, pria-pria itu menatap anda sangat tajam." Caroline berusaha menenangkan. Pria yang tengah kesal itu menatap Caroline sedikit kasihan.
Harapan untuk bermain-main dengan Caroline tidak boleh gagal. Matanya membelalak, melemparkan tatapan tajam ke arah pria yang sedari tadi menggasak chip miliknya.
"Tuan, saya bisa menyarankan sesuatu yang bagus untuk anda, jika anda masih ingin bermain," ujar Joel sedikit memberi saran.
Mata elang yang penuh emosi itu seketika turun sedikit menyipit. Pria di yang tengah di tenangkan Caroline mengerutkan dahinya.
"Katakan!" tegasnya.
__ADS_1
"Mari kita berbicara di tempat lain," ujar Joel.
"Tuan, ayo turunkan pistol anda. Itu menakutkan," ujar Caroline.
Pria itu menurunkan pistolnya seperti permintaan Caroline. "Saya tidak bermaksud," ujarnya.
"Kalau begitu mari ikut saya! Namun ... saya tidak ingin ada pertumpahan darah saat ini," ujar Joel. Mata Joel menatap Caroline menyiratkan sesuatu.
Pria itu melirik Caroline yang berdiri di sampingnya. Sementara Caroline memasang ekspresi tidak mengerti.
"Saya tidak mengerti. Kenapa menatap saya?" ujarnya dengan ekspresi bingung.
"Nona, tolong kendalikan amarah pria anda!" ujar Joel dengan senyum tipis.
"Nona, anda sal---"
"Tentu saja, saya akan mengendalikan amarah saya demi wanita saya," ujar pria itu memotong perkataan Caroline. Pria itu menarik pinggang ramping Caroline semakin mendekat kepadanya.
"Tuan, ini?" ujar Caroline ragu.
"Aku akan melindungi kamu, temani aku berbicara dengannya!" tegas pria itu.
"Jangan menakuti saya, Tuan." Tangan Caroline sedikit bergetar, dia mencengkram erat lengan pria tersebut.
"Tentu tidak akan," jawabnya.
Caroline menatap lekat wajah pria itu, kemudian mengangguk kecil.
"Mari ikuti saya!" tegas Joel seraya melangkahkan kaki, meninggalkan suasana tegang di sana.
Beberapa pria yang sudah bersiap dengan pistol di balik jass mereka, mulai menatap tajam ke arah di mana pria itu berjalan.
Pria itu memberikan kode tangan untuk tidak mengikutinya. Lagipula jika terjadi sesuatu kepada dirinya, para bawahannya akan membantai habis semua yang ada di ruangan itu.
***
Beberapa menit berlalu. Caroline, Joel, dan pria itu kembali ke meja judi. Pria itu akan membalaskan kekalahannya. Alat yang sudah ia siapkan di bawah lengannya akan membantu mengambil chip yang sudah habis di babat sebelumnya.
Benar saja. Pria itu berhasil membalas kekalahannya. Dia tertawa puas dengan cibiran di wajahnya kepada pria di hadapannya.
Pria itu memutuskan untuk mundur dari permainan, ketika chip miliknya sudah habis di gasak pria pemarah yang menodongkan pistol ke arahnya.
"Sayang, bagaimana jika kita akhiri sampai di sini. Kamu juga sudah kalah, dan aku akan mengganti kekalahan kamu?" ujarnya dengan seringai di bibirnya.
Caroline sejenak terdiam, dia mengerucutkan bibirnya penuh kekecewaan. Ekspresi sedih itu terlihat jelas dari wajahnya.
"Tidak perlu sedih begitu. Ikut denganku, aku yakin kamu akan mendapatkan mereka kembali," ujarnya membelai pipi Caroline.
__ADS_1