Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 68 - Ruangan rahasia. Sumpah Liam


__ADS_3

Andrew menarik dan menghembuskan napas berat, haruskah mereka ber dua ribut dengan hal sepele seperti itu, di saat mereka tengah menghadapi hal serius.


Tarikan napas berat Andrew, membuat Alex dan Leo seketika terdiam. Mereka langsung berdiri dengan tegap dan sigap.


"Saya sudah membereskan mereka, Tuan." Alex segera angkat bicara untuk melaporkan hal di luar tadi.


Roki sejenak mengerutkan dahinya, dia ingin mengatakan sesuatu ... namun dia merasa ragu. Roki hanya menelan pertanyaan itu di dalam hatinya sendiri.


Leo sesaat mengalihkan pandangannya ke arah Roki dengan ujung matanya. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke bawah.


'Hal ini tidak bisa di selidiki secara sembrono. Aku rasa masalahnya tidak sesimpel itu' batin Leo merasa berkecamuk tidak jelas.


Andrew termenung sesaat, dia menyeringai kecil dengan ujung bibirnya.


"Baiklah, cukup sampai di sini. Aku masih ada urusan lain ... kalian selidiki masalah ini sampai jelas!" ujar Andrew tegas. Dia bangkit dari duduknya, segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Mereka ber'empat menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dengan sopan mereka menunduk hormat mengantar ke pergian Andrew.


***


Di luar clan, Liam sudah menunggunya di mobil dengan santai. Ketika Andrew sudah memasuki mobil, dia langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. Andrew hanya menatap ke arah samping kaca mobil, dia beberapa kali menarik dan menghembuskan napas berat.


Andrew begitu terlihat larut dalam pikirannya. Dia tidak yakin dengan hal yang saat ini mengganggu isi kepalanya.


Liam melirik kecil dengan ujung matanya. "Tuan, selanjutnya ke mana?" tanya Liam yang sudah menyadari arah bercabang di tengah perjalanan.


"Kita pergi ke kediaman Alexander!" jawab Andrew seraya memijat dahinya merasa kesal.


"Baik."


Meski Liam ingin bertanya, namun dia hanya bisa mengubur niatnya dalam hati. Jika tanpa ijin dari Andrew, dia tidak akan bertanya apa pun yang di luar perintah atau persetujuan Andrew.


Pikiran Andrew terbagi akan beberapa hal. Rencana mengejar Caroline, harus tertunda sementara, demi masalah penting lainnya. Andrew benar-benar merasa sangat kesal. Terlebih lagi ada banyak rahasia yang belum dia ketahui dari seorang Caroline.

__ADS_1


***


"Tuan, kita sudah tiba," ujar Roni menghentikan mobilnya, seraya melirik ke arah Andrew.


"Malam ini tidurlah di sini, banyak hal yang ingin aku bahas denganmu!" tegas Andrew yang masih menyandarkan badannya di kursi mobil.


"Baik, Tuan." Liam kembali menyalakan mobil, perlahan melaju menuju ke dalam ke diaman Alexander.


Ayah Andrew yang masih terjaga, dia berdiri di balkon rumah seraya menyesap sebatang rokok di jarinya. Dia mengernyit merasa heran. Tidak biasanya Andrew akan kembali, apa lagi di tengah malam seperti ini.


"Sepertinya dia ada masalah." Ayahnya menarik napas panjang. Dia menatap ke arah kediaman pribadi milik Andrew, yang tepat berada di seberang kediaman miliknya.


"Ayo masuk!" ajak Andrew kepada Liam, seraya berjalan dengan cepat. Roni langsung mengikutinya dari belakang dengan patuh.


Andrew memutar sebuah tombol, yang berfungsi untuk membuka ruangan rahasia pribadinya.


Liam sesaat terdiam ragu. Selama ini ... tempat ini hanya Andrew yang tahu, bagaimana mungkin dia pantas untuk masuk dengan lancang.


"Ikutlah!" ajak Andrew tanpa ragu.


Andrew kembali menutup ruangan tersebut. "Di luar sana, dinding juga bisa mendengar dan bisa bicara," ujar Andrew seraya duduk di kursi, tepat di hadapan monitor-monitor besar yang ada di ruangan tersebut.


"Tuan, bagaimana bisa anda begitu ceroboh ... memberi tahu saya ruangan ini," ujar Liam merasa tidak pantas.


"Jika kau menghianati aku, anggap saja sebagai penebusan beberapa tahun ini," tutur Andrew dengan santai.


Bruk!


Liam langsung berlutut dengan bunyi lutut terdengar cukup keras. Andrew menatap lurus ke arah wajah Liam seraya mengerutkan dahi.


"Hidup dan mati saya adalah milik, Anda. Meskipun saya menjadi hantu, saya tidak akan pernah menghianati, Anda." Liam dengan ekspresi tegasnya berkata seperti dia tengah bersumpah.


"Bangun! Aku tidak pernah mengajarkan kamu untuk berlutut!" tegas Andrew dengan nada suara setengah berteriak, seraya dia bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Liam masih berlutut dengan posisi semula, dia tidak mendengarkan ucapaannya Andrew.


"Tuan, semenjak saya di selamatkan oleh, Anda. Sejak itu pula saya bersumpah ... bahwa nyawa saya adalah pemberian, Anda. Meskipun mati, saya rela jika itu untuk, Anda." Liam masih tak bergeming, dia tetap berlutut dengan keras kepala.


Andrew mengepalkan tangannya hingga membulat. "Liam. Aku memerintahkan kamu untuk segera bangkit! Kamu mengabaikan perintah dariku?" teriak Andrew semakin keras.


Liam langsung bangkit tertunduk. Saya tidak berani," ujarnya menjawab.


"Kalau begitu ... sejak kapan kau berani berlutut? Apakah aku mengajarkan kamu menjadi pecundang?" tutur Andrew masih merasa kesal.


"Saya bersalah. Saya pantas mati."


Liam memang di ajarkan langsung oleh Andrew. Dia boleh mengaku bersalah jika bersalah. Tapi untuk berlutut, Andrew tidak pernah mengajarkan dirinya. Liam tahu jika itu hal salah bagi Andrew.


Andrew menarik dan menghembuskan napas berat, seraya menepuk pundaknya perlahan. "Aku membawa kamu ke sini, tentu saja karena aku tahu ke setiaan kamu seperti apa," ujarnya.


"Aku menempatkan kamu di sisiku, berkedok sebagai asisten pribadiku, tanpa keahlian yang tinggi. Karena aku tidak ingin mereka menyadari posisimu," sambungnya menjelaskan.


"Saya mengerti, Tuan."


Liam memang di perintahkan Andrew untuk tidak menonjolkan kemampuan dirinya yang sesungguhnya. Akses yang di berikan Andrew terhadapnya, di batasi dengan sengaja.


Andrew tahu dengan jelas. Akan ada hari di mana kondisi seperti ini akan terjadi.


"Sudah waktunya saudaramu kembali! Kalian berdua akan memiliki tugas berat masing-masing," perintah Andrew dengan tegas.


"Saya mengerti," jawab Liam dengan sigap.


"Baiklah. Kau istirahat lebih dulu, aku ingin memeriksa sesuatu terlebih dahulu di sini," pinta Andrew kepada Liam.


"Saya permisi." Liam membungkuk hormat seraya berpamitan. Dia langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan patuh.


Andrew menyandarkan tubuhnya di kursi. Sudah berapa lama masalah clan tidak ada pergerakan.

__ADS_1


"Apakah orang itu telah kembali?" gumam Andrew merasa sedikit khawatir.


"Seharusnya dahulu ... aku benar-benar melenyapkannya orang itu."


__ADS_2