Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 73 - Tidak akan memisahkan kalian bertiga


__ADS_3

Liam dan Roki kembali ke kediaman Andrew. Ayahnya yang mengetahui jika Andrew bergegas pergi meninggalkan kediaman dengan raut wajah khawatir yang jelas kentara. Dia mencoba memastikan apa yang di khawatirkan oleh putranya.


Andrew, Liam dan Roki menghilang di sekitaran kediaman yang telah lama kosong. Jelas Ayah Andrew merasa penasaran, untuk apa Andrew menerobos kediaman itu.


"Di mana Andrew?" tanya Ayahnya kepada Liam dan Roki. Mereka berdua yang akan memasuki kediaman pribadi Andrew sedikit terkejut.


Liam dan Roki menoleh ke belakang. Mereka berdua hanya bisa saling melemparkan tatapan ragu satu sama lain.


"Tuan ... dia ada urusan lain, Tuan besar." Liam menjawab tanpa memberi kejelasan pasti.


Pria itu----ayahnya Andrew mengerutkan dahi sedikit curiga. Dia tahu dengan jelas siapa pemilik kediaman itu dahulu.


"Apakah orang itu sudah kembali?" ujarnya berusaha memastikan.


"Tuan, mungkin anda lebih baik bertanya langsung kepada Tuan Andrew." Roki menegaskan secara tidak langsung, jika mereka berdua tidak memiliki hak untuk berbicara tanpa persetujuan Andrew. Liam mengangguk menyetujui.


Ayah Andrew hanya bisa menghela napas berat. Ke dua orang ini memang kepercayaan Andrew yang mulutnya begitu rapat. "Baiklah. Lanjutkan pekerjaan kalian!" dia melengos pergi meninggalkan halaman kediaman milik anaknya.


Liam dan Roki menunduk hormat mengantar kepergian tuan besar mereka.


Tepat di depan pintu masuk kediaman, ayahnya menghentikan langkah kaki, seseorang menghampiri dengan sopan.


"Tuan, tidak ada masalah yang terjadi." Pria itu adalah bawahannya. Dia di perintahkan untuk mencari tahu mengenai permasalahan anaknya yang dengan lancang membobol sistem keamanan kediaman itu.


Tuan Alexander bernapas lega. Dia telah lama menjaga kediaman itu di balik kegelapan. Sebenarnya dia telah menemukan titik terang dalam masalah dirinya, hanya saja dia belum mendapatkan keberanian untuk menemui sahabatnya itu. Dia hanya berharap jika sahabatnya datang dengan penjelasan pribadi.


"Lalu apa yang anak gila itu lakukan?" ujarnya kembali bertanya.


Pria berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajah, dan topi hitamnya. Dia merasa sedikit ragu.

__ADS_1


"Katakan!" tegasnya.


"Tuan Andrew ... dia---"


"Jika kau tidak berkata dengan jelas ...." Lirikan mata Tuan Alexander begitu tajam, meski hanya dengan ujung matanya.


"Nona Caroline memasuki kediaman itu. Ketika saya mengikuti Tuan muda Andrew, saya tidak sengaja melihat dua orang anak laki-laki yang berusia sama. Wajah mereka adalah jiplakan tuan muda Andrew, Tuan." Penjaga rahasia yang berada di bawah pimpinan Alexander langsung, dia mencoba menerangkan dengan rinci.


Mata Alexander menyipit, dahinya mengerut di ikuti ke dua alis yang hampir bertemu satu sama lain. 'Dua orang anak laki-laki?' batinnya sedikit terhentak.


"Kau mendapatkan gambarnya?" tanya Alexander kepada bawahannya itu.


"Ini, Tuan." Bawahannya menyerahkan potret terpisah.


Mata Alexander membulat tidak percaya. "Dia?" gumamnya.


Jelas dia tahu siapa laki-laki tua yang berpakaian serba hitam itu, meski dia mengenakan topi bucket gunung seperti dahulu, kaca mata hitam yang tak terpisahkan, jubah hitam yang selalu menjadi ciri khasnya. Alexander tetap hapal jelas meski hanya rahang sekali pun yang dia lihat.


"Kau boleh pergi." Alexander berlalu pergi memasuki kediaman. Pria itu kembali menghilang dengan sangat cepat.


Tanpa harus di selidiki lebih jauh lagi, Alexander sudah bisa menebak semua kemungkinan dengan benar.


***


Andrew terdiam di sopa dengan raut wajah masih sedikit muram. Dia tetap tidak bisa membayangkan penderitaan yang telah Luxi alami.


Andrew menatap wajah anaknya dengan tatapan sayu dan sedih.


"Apa kamu membenciku?" ujar Andrew menatap Luxi dengan dada yang terasa sakit.

__ADS_1


Luxi melirik kepada Caroline, dia merasa sedikit ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Dia jelas merasa sakit dan tersiksa karena seorang ayah tidak kompeten yang dia miliki. Namun juga ada rasa lega karena saat ini dia bisa bertemu dengan sosok yang selalu dia idamkan kehadirannya.


Lucas tidak dapat berkata apa-apa, hidupnya terbilang beruntung ... jelas berbeda sekali dengan Luxi. Lalu keberanian apa yang dia miliki untuk membujuk Luxi menerima ayahnya. Lucas hanya bisa tertunduk ragu, Luxi melirik Lucas yang tepat berada di samping Caroline.


"Jika memang aku harus membenci, lebih tepatnya aku akan membenci orang jahat. Jika kamu bukan orang jahat itu, untuk apa aku membenci kamu." Luxi hanya bisa berusaha mengalihkan sedikit percakapan itu.


Andrew terdiam dan tertegun sekali lagi. Bagai di iris pisau, jantungnya kembali terasa sakit. Bukankah dirinya juga termasuk salah satu penjahat.


"Bisakah aku ... yang seorang penjahat ini, mendapatkan pengampunan kalian bertiga?" ujarnya dengan hati pilu. Dia tidak bisa mengalah untuk mendapatkan Caroline, ibu dari anak-anaknya. Tapi bagaimana jika mereka semakin tersiksa dan tertekan dengan keberadaan dirinya.


Caroline hanya bisa mencengkram dan memeluk pinggang ke dua putranya. Jelas ke dua anaknya memikirkan perasaan dirinya, meski mereka berdua merindukan sosok ayah dalam kehidupannya.


Andrew tertunduk lesu, bersiap-siap mendapati jawaban pahit yang akan dia terima.


"Daddy ... jika Momi bersedia memaafkan, tentu aku dengan Lucas bersedia. Namun jika Momi tidak bersedia ... kami juga tidak bisa berbuat apa-apa," tutur Luxi.


Deg!


Andrew mendongak menatap wajah Luxi dan Lucas. Perkataan itu tidak lain sebuah tanda. Mereka berdua tetap akan memilih ibunya, apa pun yang akan terjadi nanti. Tapi mereka sebenarnya berharap jika ke duanya bisa bersatu.


Caroline terdiam sedikit mengerutkan dahi, dia tahu maksud dari ucapan anaknya. Sementara Lucas hanya mengangguk menyetujui apa yang di katakan Luxi.


Andrew menatap Caroline penuh harap, dia memelas seolah-olah memohon. Caroline menarik dan menghela napas berat.


Caroline balik menatap Andrew sedikit canggung. "Itu tergantung dari perbuatan dan sikapmu!" tegas Caroline bersua.


Andrew bangkit dari duduknya, bergegas menghampiri Caroline. Dia setengah bersimpuh memegangi kedua lutut Caroline yang tengah duduk di sofa.


"Aku tidak ingin merebut ke dua anakmu, aku tidak bermaksud memisahkan kalian bertiga. Aku hanya ingin bersama kalian ... menebus segala kesalahanku dan melindungi kalian," tuturnya menjelaskan maksud hatinya.

__ADS_1


Caroline menatapnya dengan ragu dan bimbang. Lalu bagaimana dengan rasa sakit yang di derita anak-anaknya selama ini.


__ADS_2