
Melihat makam ibunya, rasanya ia sangat berat untuk melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, bayangan-bayangan cerita kisah masalalu yang tidak ingin ia ingat seketika menghantam pikirannya dengan sangat keras.
Ia yang telah mendapatkan kembali ingatannya, semua cerita yang ia hadapi bersama sang ibu, menghantam tubuhnya, dan menusuk jantungnya secara bersamaan. Ia terdiam mematung tak bergeming, mengingat semua kisah hidupnya.
Caroline saat itu mengalami sebuah kecelakaan tragis bersama ibunya pada usia 12 tahun saat mereka mencoba melarikan diri dari rumah ayahnya yang bertempat di Korea.
Memiliki seorang ayah yang bajingan, kasar dan suka berselingkuh, membuat ibunya tidak tahan dengan rumah tangganya.
Memiliki ibu yang bersifat baik, lemah lembut, dan berpenampilan sederhana, membuat mereka ditindas oleh selingkuhan ayahnya dirumah mereka sendiri.
Ibunya menikah dengan ayahnya karna menurutnya ia adalah laki-laki yang penyayang, lembut, dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Namun semua itu berubah seiring usia pernikahan mereka, sikap suaminya sedikit demi sedikit memperlihatkan sifat aslinya.
Disaat yang bersamaan ia telah mengandung seorang bayi didalam perutnya, mencoba dan berharap suaminya akan berubah seiring dengan kelahiran sang putri dan akan kembali menyayanginya.
Namun semua harapan itu sirna ketika ayahnya membawa seorang wanita bersama anak tirinya masuk kedalam rumah mereka.
Suaminya memperlakukan selingkuhannya dengan sangat baik, ia memperkenalkan kepada dirinya bahwa selingkuhannya adalah wanita baik-baik, penurut, yang mengalami hidup malang karna telah kehilangan orang tuanya dan tidak memiliki tempat tinggal.
Suaminya berkata akan menikahi wanita itu karna kasihan, seorang wanita yang tidak memiliki keluarga dan tempat tinggal, membesarkan putri seorang diri, dengan alasan ia hanya ingin membantu wanita tersebut.
Karna ibunya yang memiliki sifat penyayang dan polos, ia sangat mudah untuk dibohongi oleh kedua orang tersebut.
Melihat keadaan wanita didepannya dengan sangat menyedihkan itu, membuat hatinya tergerak untuk mengijinkannya tinggal dirumahnya, akan tetapi hanya untuk tinggal dirumahnya dan bukan untuk menikah dengan suaminya.
Hari-hari berlalu, dengan kelahirannya sang putri yang tumbuh semakin besar, suaminya mulai menunjukan perhatian kembali walaupun sedikit demi sedikit.
Akan tetapi, semua itu membuat wanita selingkuhan suaminya iri, dan semakin merasa terancam keberadaannya, dari wanita yang semula terlihat menyedihkan dan terlihat lemah itu, semakin lama ia menunjukan sifat asli kepadanya.
Bermain akting dihadapan suaminya bahwa ia telah ditindas oleh istrinya, membuat sang suami murka dan sering memukulinya, bahkan tidak terkecuali dengan sang putri yaitu Caroline, yang usianya masih terbilang kecil, membuatnya mudah dibohongi dan diadu domba oleh calon kakak tirinya, ia sering dikurung oleh ayahnya disebuah gudang kosong, untuk mendapatkan hukuman karna telah berlaku tidak baik.
Anak perempuan yang masih kecil itu hanya bisa menangis, tanpa bisa melawan dan tanpa bisa melakukan apapun.
Ibunya yang tidak tega akan keadaan putrinya sendiri, mencoba menjelaskan kepada suaminya sifat asli dari selingkuhannya tersebut, akan tetapi, semua itu bukannya mendapatkan sebuah pembelaan, malah ia dipukuli dengan sangat keras dan dikurung bersama Putrinya.
Mereka dikurung dengan kejamnya selama lebih dari dua bulan lamanya, menurut sang suami agar ibu dan anaknya tersebut, dapat segera merenungi kesalahan mereka dan memperbaiki kelakuan dan sikapnya.
Seiring berjalan usia putrinya, hari-hari mereka berdua dilalui dengan sangat-sangat menyedihkan.
Ayahnya pun memutuskan untuk menikahi wanita selingkuhannya tersebut, dengan sebuah alasan, bahwa istrinya sama sekali tidak bisa menjadi sebuah contoh yang baik, dan tidak bisa mengurus dirinya dan rumah tangga mereka dengan benar.
__ADS_1
Sehingga diusia Caroline yang sudah hampir menginjak 12 tahun, ia melihat perlakuan sang ayah yang bersikap tidak berprikemanusiaan, memukuli dan menyiksa ibunya dengan sangat kejam, melihat sebuah tatapan betapa puasnya ibu tiri dan kakak tirinya, terhadap perlakuan sang ayah kepada mereka berdua, membuat Caroline sangat tidak tahan, dan ia sangat ingin membebaskan ibunya dari hal mengerikan tersebut.
Ketika suatu hari dikamarnya, ibunya sedang menangis terisak-isak, menyesali keputusannya sendiri, karna telah memilih seorang laki-laki yang salah, dan menentang keputusan keluarganya sendiri, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan kediaman keluarganya.
Selama ini ibunya selalu berusaha bersikap kuat dihadapan sang putri, namun disisi lain, Caroline selalu memperhatikan keadaan ibunya dengan sembunyi-sembunyi, membuat ia mengetahui hal apa saja yang telah dialami ibu nya, diusianya yang masih sangat kecil.
"Bu...."
Ujar Caroline seraya mendatangi ibunya yang tengah menangis terisak-isak.
"Ya sayang, ada apa.?"
Melihat putrinya datang menghampirinya, ia segera menyeka air matanya, berusaha mencoba menyembunyikan keadaannya dari Caroline.
"Bu... ayo kita pergi dari rumah ini.!" Ujar Caroline seraya menatap dalam ibunya.
"Apa yang telah kamu katakan sayang.?"
Ujar ibunya kaget dengan ajakan putrinya tersebut, dan sontak menatap putrinya dengan tatapan bingung.
"Caroline sudah tidak tahan lagi Bu... Caroline tidak mau kalau ibu selalu diperlakukan seperti itu...."
"Sayang ibu tidak apa-apa, yang penting Caroline selalu sehat dan hidup dengan layak...."
"Tapi Bu, Caroline juga sangat sering dipukul dengan keras oleh ayah karna Kaka...."
Ucap Caroline seraya menangis dalam pelukan sang ibu.
"Sayang, maafkan ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, sehingga membuatmu sangat terluka...."
Ibunya seraya melepaskan pelukannya, dan segera menyeka butiran air mata Caroline yang sudah berjatuhan membasahi pipinya, Caroline pun menangis terisak-isak dengan sangat malangnya.
"Bu... Caroline tidak membutuhkan ayah, Caroline hanya membutuhkan ibu saja, Caroline tidak jadi masalah jika tidak memiliki ayah, asal Caroline bisa selalu bersama ibu.!"
Ucap Caroline dengan ekspresi sangat sedih, tergambar jelas diwajahnya, sehingga membuat perasaan ibunya merasakan sesak dan sangat sakit, sehingga ia tidak bisa menahan air matanya sendiri.
"Sayang... apa kamu benar-benar ingin meninggalkan rumah ini.?"
Belai lembut ibunya kepada wajah sang putri.
"Iya ibu...."
__ADS_1
Ia langsung menjawab tanpa ragu, seraya mengganggukan kepalanya.
"Tapi Caroline bisa menderita diluar sana, Caroline bisa kekurangan makanan dan tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak...."
"Tidak apa-apa ibu, Caroline tidak keberatan, yang penting kita berdua bisa hidup bersama dengan baik...."
Sahut anak usia 12 tahun itu, membuat ibunya tidak bisa menolak saran sang putri, dan ia segera menyetujui permintaan dari putrinya.
"Baiklah sayang... mari kita pergi dari rumah ini, dan kita bisa hidup berdua bahagia bersama, diluar sana...."
"Iya Bu...."
"Kalau begitu, kita akan pergi nanti malam, disaat ayahmu tidak berada dirumah."
"Baik Bu...."
"Kalau begitu sekarang Caroline istrahat terlebih dahhlu, ibu akan mempersiapkan apa yang akan kita bawa nanti...."
Caroline langsung mengangguk dan segera berbaring ditempat tidurnya, dan segera berusaha memejamkan matanya. Ibunya mengelus dan membelai lembut kepala sang putri, agar ia segera tertidur.
Ketika sang putri telah tertidur, ia membuka sebuah kotak kayu yang berisi sebuah kalung dan liontin yang berbentuk gembok, dengan lubang sebuah kunci yang terdapat dibawahnya, kalung tersebut terlihat begitu sederhana dan sangat tidak mencolok.
Namun kenyataannya, semua itu adalah barang yang sangat mahal, yang terbuat dari bahan yang langka, dan hasil dari sebuah design khusus.
kemudian segera dipakaikannya kepada leher sang putri, dengan tatapan yang begitu berat dan sangat dalam.
"Maafkan ibu sayang, kalau saja ibu mengikuti permintaannya dan tidak menikahi ayahmu, mungkin kita berdua tidak akan hidup menderita seperti sekarang ini, ibu telah bersalah kepadamu putriku...."
Ujarnya dalam hatinya sendiri.
"Ibu yang terlalu bodoh dengan menikahi ayahmu, dan termakan tipuan manisnya...."
"Seandainya ibu memiliki keberanian, mungkin kamu tidak akan mengalami hal ini putriku."
"Suatu hari, ibu berharap kamu dapat tumbuh dengan kuat dan berani, tidak seperti ibumu yang lemah ini...."
"Ibu akan melakukan apapun yang bisa menebus kesalahan ibu kepadamu."
"Mulai sekarang kita akan menjalani kehidupan berdua saja, ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu nanti putriku...."
Ia mengelus pipi putrinya yang tengah tertidur dan mencium kening putrinya dengan lembut.
__ADS_1
Bersambung....