Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 57: Drama di perjamuan


__ADS_3

Mata Sherry seketika terlihat begitu penuh semangat. Sepertinya, nasib karir dan nama baiknya akan terselamatkan kali ini.


"Siapa suruh aku adalah wanita cantik yang memiliki tunangan tampan, dan juga kaya raya." Ujarnya dalam hati Sherry.


"Kemarilah!"


Rey mengulurkan sebelah tangannya, menyambut calon istri masa depannya, agar berdiri tepat disampingnya. Sherry tersenyum manis penuh ekspresi rasa kagum dan rasa cinta. Ia melangkah kedepan, berdiri dengan bangga disamping Rey.


"Apakah aku membuatmu menunggu lama?" ujar Rey kepada Sherry.


Senyum tipis pria tersebut, begitu menunjukkan rasa sayangnya, membuat semua orang yang berada di sana dapat mengerti dan menebak, sepertinya malam ini akan ada kabar menghebohkan kembali, terutama mengenai keluarga Waldo, saat ini masih gencar menjadi topik hangat, entah itu mengenai perusahaannya, bahkan cerita keluarganya.


"Saya perkenalkan, wanita cantik yang berdiri disamping saya, adalah tunangan masa kecil saya." Tegas Rey menatap kagum Sherry.


Semua orang saling berbisik. Mungkin saja, kepulangan tuan muda Rey, adalah untuk membela masalah tunangannya, yaitu Sherry.


Wanita setengah baya, yang sedari awal menemani putrinya, yang tidak lain adalah Sherry, ia tersenyum tipis dengan seringai liciknya, membusungkan dadanya. Bagaimana tidak, calon menantunya adalah salah satu keluarga kaya kelas atas. Lantas, kali ini dan seterusnya siapa yang berani menyinggungnya.


"Semua yang aku lakukan dimasa lalu, sebentar lagi akan membuahkan hasil, jika suamiku yang bodoh ini benar-benar bangkrut, masih ada keluarga Nan, yang bisa menjamin kehidupan aku dan Sherry selanjutnya." Ujarnya dalam hati puas.


Seringai tipis diujung bibir wanita itu terlihat jelas oleh Caroline, ia sedikit mengerutkan dahi menaruh curiga. Caroline sedikit menggetarkan giginya geram, mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal.


Andrew menatap Caroline, melihat perubahan ekspresinya, "Jangan takut, aku akan selalu berada dibelakangmu, lakukan apapun yang mau kamu lakukan, kekuatan terbesar ada dipihaknya." Bisik Andrew seraya melepaskan kepalan tangan milik Caroline.


"Aku adalah orang yang pernah mati sekali, apakah aku perlu takut?" sahut Caroline menatap tajam mata Andrew.


"Baiklah, berjalanlah kedepan dengan bangga, jika kamu terjatuh, ada aku yang siap membantu dan menemani kamu selamanya."


Andrew tahu, masalah dendam pribadi antara Caroline dan keluarganya, untuk saat ini, ia tidak berhak ikut campur, jika ia berjalan melewati batasan wanita itu, ia pasti akan sangat kesal, mungkin saja ia akan semakin menjauhi dirinya.

__ADS_1


Andrew hanya bisa mendukung apapun keputusan Caroline, jika terjadi sesuatu kepada wanitanya, ia siap melakukan segala hal untuk menuntut balas.


"Dimana gaya presidenmu yang sombong dan angkuh itu?" cetus Caroline, sedikit tidak percaya dengan perkataan Andrew barusan.


"Bukankah aku harus menghargai, apapun keputusan wanita yang aku cintai," sahutnya menjawab, seraya menatap mata Caroline dengan lembut.


Caroline hanya terdiam, menatap Andrew tajam, apakah ucapan pria ini bisa dipercaya, tapi kenapa, rasanya ia semakin terhanyut dengan pesona dan godaan lelaki tersebut.


"Presdir arogan sepertimu, dari mana belajar kata-kata merayu seperti itu, sungguh tidak cocok dengan gayamu,"


Caroline menghela napas pendek, ia memalingkan wajahnya kearah lain.


"Sial, apakah aku masih bocah, hingga sedikit terhanyut dengan rayuan konyol seperti itu." ujarnya dalam hati.


"Sudahlah, nanti juga kamu bisa merasakan keseriusanku terhadapmu itu, apakah palsu atau tidak," ujarnya


"Oh iya, dimataku, keluarga Nan, bukanlah masalah besar." tambahnya dengan wajah santai.


Tiba-tiba Caroline tersenyum licik, jika ia sedikit membuat keributan, mungkin akan sedikit menambah keseruan acara malam ini.


Andrew mengerutkan dahinya bingung, apa yang akan ia lakukan, apa lagi yang akan ia perbuat kali ini.


"Hai istriku, jangan memasang ekspresi seperti itu, kamu membuatku merinding,"


Andrew tahu, Caroline akan membuat sedikit pertunjukan, Namun ia sedikit bingung, kenapa emosi Caroline bisa terpengaruh.


Caroline berjalan sedikit, melangkah kedepan dengan rasa percaya diri.


"Seperti yang dirumorkan, tuan Rey. memang pria yang lembut dan bijaksana, begitu mencintai kekasihnya," ujar Caroline dengan nada menyindir.

__ADS_1


"Maaf, Nona ini?" tanya Rey sedikit bingung.


Nada bicara itu, jelas menyimpan maksud tertentu. Tapi siapa wanita ini, apakah sebelumnya ia pernah menyinggung wanita ini.


"Saya besar diluar Negeri, nama tuan muda Rey, sedikit terkenal disana," jawab Caroline seraya menunjukan senyum sopan.


Namun kata sedikit terkenal, mengganggu telinga Rey, apa maksudnya dengan ucapan itu.


Sedikit? bukankah itu cara yang sopan menjatuhkan seseorang.


"Nona, tentu saja saya sangat memperlakukan tunangan saya dengan baik," ujarnya menjelaskan seraya mengalihkan topik.


"Memang sikap seorang pria. Tapi---"


Perkataannya terhenti sejenak, ia memasang wajah sedikit ragu.


"Lanjutkan saja Nona?" ujar Rey penasaran.


Hal yang lainnya, jelas tidak ada orang luar yang tahu, apalagi hal tersebut, adalah keputusan dua keluarga, hanya orang tua mereka yang tahu. tapi kenapa rasanya, wanita ini seolah-olah mengetahui sesuatu.


"Saya mendengar kabar. kalau awalnya, tunangan tuan muda Rey adalah, putri sah dari tuan Waldo, sepertinya rumor itu salah," ujar Caroline dengan wajah bersalah.


"Itu, karena putri sah tuan Waldo telah meninggal, jadi sebagai kakak, Sherry diminta untuk menepati janji pertunangan kami. Kebetulan, setelah saling mengenal, kami merasa cocok."


Dengan perasaan tidak enak, Rey mencoba menjelaskan, dan juga membela Sherry agar tidak mencoreng nama baiknya.


Namun semua orang sudah saling berbisik, jadi mungkin benar, bahwa Sherry adalah anak tirinya, atau justru dia adalah anak tidak sah pak Waldo. Lalu mengenai kematian istri pertama dan putri pertama pak Waldo, mungkinkah ada cerita dibalik semua itu.


"Wanita sialan ini, darimana dia mendengar hal yang jelas rahasia, kurang ajar."

__ADS_1


Hatinya begitu geram. Sherry mencoba menahan kekesalannya, ia menggigit bibirnya, tatapan semua orang kepadanya saat ini, terlihat penuh tanya, dan terlihat memandang remeh dirinya.


"Oh, ternyata seperti itu, soalnya kabar berita mengenai kematian putri dan istri tuan Waldo tidak ada beritanya." sindir Caroline memasang wajah tidak bersalah.


__ADS_2