
Di sebuah kamar hotel yang berletak tidak jauh dari tempat casino tersebut. Pria itu menatap Caroline dengan liar dan bringas seperti hewan buas.
Air liur yang sedikit menetes memperlihatkan jika pria itu sudah tidak tahan untuk mencicipi rasa wanita yang ada di hadapannya.
"Tuan, apa yang ingin anda lakukan?" ujar Caroline memundurkan satu langkah kaki ke belakang.
"Ayolah manis, kamu jangan pura-pura tidak mengerti," ujarnya seraya membuka dasi yang tergantung rapih di leher.
Caroline sejenak terdiam. Sedetik kemudian dia tersenyum tipis menawan. Wanita itu mendekatkan dirinya, dan mengembangkan dua buah dada yang miliknya yang menonjol.
Glek!
Pria itu menelan salivanya, ketika dia melihat belahan dada di balik baju yang tipis itu.
"Bagaimana jika anda mandi terlebih dahulu," ujar Caroline sedikit menggoda.
Pria itu menatap wajah dan tubuh Caroline lekat. "Benar juga. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu," ujarnya seraya menyentuh lembut bibir ranum yang menawan tersebut.
Caroline mengedipkan sebelah matanya dan berbisik. "Tentu saja, Tuan."
"Baiklah, tunggu aku ya sayang," ujar pria tersebut.
Pria itu melepaskan cengkraman tangannya dari pinggang Caroline, dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
'Ckk ... dasar pria menjijikan' batinnya geram.
Di sisi lain, Andrew yang sudah tiba di Blood casino, dia celingukan mencari keberadaan Caroline yang sama sekali tidak terlihat sosoknya sama sekali.
"Di mana dia?" ujarnya bergumam sedikit prustasi.
Seseorang mendatangi Andrew dengan wajah datar dan sedikit bingung.
"Tuan, ada yang bisa kami bantu?" ujarnya bertanya.
Andrew menatap tajam wajah pelayan di sana dengan tatapan dan aura membunuh.
"Di mana dia?" ujarnya langsung bertanya.
Pelayan itu mengerutkan kening. "Siapa yang anda cari, Tuan?" jawabnya.
Bukan jawaban yang di dapat oleh Andrew, melainkan sebuah pertanyaan. Andrew menggertakan kedua giginya merasa sangat kesal.
"Kau lihat wanita cantik yang menjadi pusat perhatian?" ujarnya kembali bertanya.
Menyadari siapa yang di cari oleh Andrew, pelayan itu menyunggingkan senyum tipis. Jelas dia tahu siapa yang di maksud Andrew.
__ADS_1
"Tuan, semua wanita yang datang kesini, semua adalah wanita cantik. Anda bisa memilih salah satu dari mereka," jawabnya seraya menunjuk keberadaan para wanita **** bertubuh bahenol di seberang sana.
"Ckk ... kau bilang mereka cantik?" decik Andrew semakin di buat kesal. Namun pria itu hanya menyunggingkan lagi senyum tipis.
Seseorang datang menghampiri Andrew, dan berbisik kecil di belakang telinganya.
"Hotel? Apa dia sudah gila?" ujar Andrew tanpa sadar.
"Caroline, jika kau berani menghianati aku, akan aku buat kau tidak bisa turun dari atas ranjang!" gumamnya mengepalkan tangan.
Perkataan Andrew jelas masih terdengar oleh pelayan pria tersebut, dia sedikit menggelengkan kepalanya kecil.
'Astaga, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga' pikir pelayan itu.
"Ayo antar aku!" tegas Andrew menarik kerah salah satu bawahannya, yang tidak lain adalah, Roki.
"Tunggu!" tahan pelayan itu, mencengkram kuat sebelah tangan Andrew.
Andrew menoleh dengan tatapan membunuh dan rasa tidak senang. Roki sigap menepis cengkraman lengan pelayan itu.
"Sayangi nyawa lu sendiri! Jika tidak ingin mati jangan pernah menyentuhnya!" tegas Roki balik mencengkram erat lengan pelayan pria itu.
Pelayan itu menghela napas berat dan panjang. Sedetik kemudian, dia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Roki mengikuti arah tatapan pelayan itu, sebuah jam tangan mewah dengan merek tertentu. Andrew mengerutkan dahinya, ketika menyadari jika pelayan itu tengah menghitung detik demi detik.
Bugh!
Brak!
Roki seketika melancarkan pukulan keras di sebelah pipi pelayan itu, hingga tubuh lelaki muda dengan tubuh tegap itu terlempar dan ambruk di atas meja judi.
"Aishhh ... benar-benar orang yang tidak sabaran!" dengusnya seraya menyeka darah yang menetes di ujung bibir.
Pelayan itu bangkit dari atas meja judi yang sudah hancur, karena tertimpa tubuhnya yang berbobot tinggi sekitar 180 cm.
Pria itu melangkah dan merebahkan tubuhnya yang terasa nyeri.
"Tolong jaga sikap anda!" tegasnya masih berusaha santai.
"Menyingkir, kita bisa mati," ujar salah satu pengunjung seraya berlari ke belakang, manjauh dari meja judi yang telah roboh.
"Jika dia kenapa-kenapa, akan aku buat casino ini rata dengan tanah!" tegas Roki seraya menodongkan pistol miliknya.
Pelayan itu hanya membalas santai dengan senyuman tipis. Pelayan pria itu kembali melirik jam tangan miliknya.
__ADS_1
"Silahkan pergi, Tuan!" ujarnya seraya mengulurkan tangan dengan sopan.
Andrew semakin di buat tidak mengerti. "Lupakan, ayo!" tegasnya kepada Roki.
Di dalam hotel di mana Caroline berada, pria itu terbangun karena di guyur air. Matanya membulat, ketika dia mendapati dirinya terikat di kursi di ruang kosong yang gelap gulita.
"Di mana aku?" gumam pria tersebut.
Pria bernama Rudi, yang telah lama di selidiki keberadaannya oleh Joel, atas perintah dari Caroline.
Pria itu di curigai memiliki ikatan dan hubungan yang berkaitan dengan masalah yang telah menimpa dirinya dan Luxi dahulu.
Tidak berselang lama dua orang pria tinggi dan kekar datang menghampiri, dari sebuah pintu kecil di ruangan tersebut.
Manik mata legam pria itu membulat kaget. "Siapa kalian?" ujarnya bertanya dengan suara bergetar.
"Suntik dia!" tegas salah satu pria berpangku tangan seraya menyandarkan tubuhnya di dinding.
Pria tegap satu lagi membalas dengan menganggukkan kepalanya.
"Bajingan, apa yang kalian lakukan?" pekik Rudi seraya berusaha melepaskan diri dari ikatan yang melilit tubuhnya.
Bugh!
Pukulan keras mendarat di wajahnya, hingga kursi itu terjatuh dengan tubuh Rudi.
"****." Rudi merasakan ngilu dan nyeri bekas bogem mentah yang dia dapatkan.
Setres darah segar keluar dari lubang hidung dan ujung bibir. Pria itu meringis kesakitan.
Pria yang mengenakan kaca mata itu menyuntikkan sesuatu kedalam tubuhnya. Rudi kembali berusaha berontak.
"Sialan! Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak tahu aku siapa!" pekiknya bersungut kesal dan emosi.
"Ckk ... ckk. Kau sudah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya kau singgung!" tegasnya dengan ekspresi wajah mengejek.
"Tidak ada yang berani memperlakukan aku begini. Jika tidak aku akan mati mengenaskan! Lepaskan aku bajingan!" pekiknya kembali meraung.
Mata pria itu mulai terasa buram dan kepalanya berat. Rudi menggelengkan kepalanya berkali-kali berusaha menahan kesadaran dia tetap utuh.
"Kau tahu ini apa?" tanya pria itu seraya memperlihatkan botol kecil yang berisi cairan biru pekat.
Deg!
Jantung Rudi seolah berlarian tak tentu arah. Matanya kembali membulat, sementara pria di hadapannya menyeringai puas di ujung bibirnya.
__ADS_1
"Sepertinya kau tahu, ya?" ujar pria itu.
"Obatnya sudah bekerja. Cepat introgasi dia!" tegas seorang pria jangkung yang sedari tadi hanya menyandarkan tubuhnya dengan santai.