
Lucas sengaja meminta Liam untuk menemani dirinya bermain di ruangan tamu. Lucas berencana memberikan ruang bagi Momi dan Daddy nya, supaya kedekatan mereka semakin terjalin dan tidak diam di tempat seperti saat ini.
"Tuan muda, apa kamu sengaja memberikan celah untuk, Tuan dan Nyonya?" tanya Liam sedikit penasaran.
Pemikiran Lucas ini, walau dia masih bocah, tidak sesederhana kelihatannya. Pemikirannya sangat berbeda jauh dari pada anak seusianya. Jelas Liam bisa melihat trik-trik kecil bocah tersebut.
"Paman, apa kamu ini bodoh?" ujar Lucas menjawab dengan wajah santai.
Seketika Liam mengerutkan dahinya bingung, selama ini yang mengatai dirinya bodoh hanyalah tuannya, dan sekarang adalah tuan mudanya.
"Ah ... saya--"
Liam ragu untuk menjawab, dia hanya menatap Lucas seraya menghela napas berat.
"Apa kamu tidak bisa melihat wajah mesum tuan kamu?" ujar Lucas sedikit mencibir dua orang dewasa sekaligus.
"Benar juga. Jadi maksud tuan muda?" Liam kembali bertanya sedikit ragu.
"Satunya adalah Momi aku, satunya lagi adalah Daddy aku. Bukankah hal wajar jika aku membantu mereka berdua di saat bersamaan?" sahut Lucas menjelaskan dengan santai.
"Hah?"
Liam masih tidak begitu mengerti dengan maksud dari perkataan Lucas. Apa hubungannya semua itu.
"Aih ... paman. Aku kasih tahu, ya. Jika Daddy bisa bersama dengan Momi, bukankah aku membantunya mendapatkan seorang istri cantik yang sudah dia cari-cari selama ini, di saat bersamaan, aku juga membantu Momi untuk membalas perlakuan Daddy terhadap Momi selama ini, Momi bisa leluasa mengatur presdir sombong itu," ujar Lucas menjelaskan sedikit panjang.
Liam hanya bisa tercengang heran. dia tidak percaya dengan pemikiran anak kecil di hadapannya saat ini. Liam tersenyum dengan sedikit canggung.
"Oh iya paman, apa kau tahu keuntungan untuk aku apa?" tanya Lucas kepada Liam.
"Apa?"
Liam hanya bisa pasrah dengan segala tindakan dan ucapan tuan mudanya.
"Aku bisa menjadi kakak, dan mungkin bisa memiliki seorang adik perempuan." Ujar Lucas memasang ekspresi senang dan berbinar-binar.
"Tuan muda ingin menjadi seorang kakak. Anda begitu menyukai anak perempuan?" tanya Liam tanpa berpikir dalam.
"Tentu saja, anak perempuan tidak akan berebut mainan denganku, dan juga status aku seorang adik, setidaknya bisa berubah menjadi seorang kakak." Jawab Lucas tanpa sadar dengan apa yang dia ucapkan.
Liam seketika terdiam, dia berpikir panjang sangat dalam, apa maksud ucapan tuan mudanya ini. Kedua alis Liam hampir bertemu satu sama lain, dahinya berkerut. Liam menatap Lucas penuh curiga.
"Oh ... jadi status tuan muda adalah seorang adik," dengan santai, Liam bertanya seraya menyimpan kata jebakan di dalamnya.
"Aku sangat kesal, ketika aku harus memanggil--"
Perkataan Lucas seketika terhenti, apa yang akan dia ucapkan selanjutnya, hanya tergantung di tenggorokannya.
Lucas seketika menatap wajah Liam, dia menyadari sesuatu hal. Ada hal yang bukan prioritas dari dirinya untuk di katakan.
__ADS_1
"Gawat. Hampir saja." Ujarnya dalam hati.
"Itu ... aku kesal karena tidak memiliki teman bermain, orang lain bisa memiliki kakak, atau adik, sedangkan aku hanya punya Momi seorang."
Lucas berusaha mengalihkan pembicaraan, dia kembali pokus kepada mainan robot yang ada di hadapannya. Sementara Liam merasa curiga. Anak ini tidak pernah menunjukan ekspresi canggung seperti saat ini.
***
"Lucas, sudah malam. Ayo pergi tidur!"
Caroline merasa ada yang aneh dengan tatapan Liam terhadap putranya.
"Momi, aku kira kamu sudah tidur?"
Lucas langsung bangkit dari tempat duduknya, dia berlari dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Mominya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Caroline kepada Lucas menyelidiki.
"Nyonya. Saya dan tuan muda membahas mainan robot-robot ini,"
Liam segera bangkit seraya memegang robot-robotan milik Lucas, dengan hormat dan sopan, Liam sedikit menjelaskan.
"Benarkah?" tanya Caroline seraya menatap wajah Lucas penuh curiga.
"Tentu saja, paman Liam akan memberikan aku robot baru katanya," sahut Lucas menjawab, dengan senyum polos yang tanpa rasa bersalah di wajahnya.
Caroline sengaja mencari perlindungan putranya, takutnya Andrew yang tidak tahu malu itu, bertingkah di luar batas kepada dirinya.
"Momi tunggu! Paman Liam akan membantu Lucas mengerjakan tugas sekolah,"
Lucas dengan sengaja mencari alasan, dengan ekapresi polos dan lucu layaknya seorang anak kecil, cara itu selalu tidak bisa Mominya tolak.
Melihat permintaan putranya, Caroline hanya bisa menghela napas panjang, putranya memang sangat tampan dan menggemaskan, bagaimana bisa dirinya menolak.
"Hah ... baiklah. Ingat jangan tidur terlalu larut, oke!" ujar Caroline mengelus lembut atas kepala Lucas.
"Baik Momy." Sahut Lucas tersenyum riang.
Di ujung sana, Andrew hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat perlakuan putranya tersebut.
Andrew menyeringai puas dengan ujung bibirnya, seraya berpangku tangan dan menyandarkan tubuhnya ke tembok.
"Baiklah."
Caroline melangkah pergi meninggalkan ruangan tamu yang terletak di lantai satu tersebut, dia berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar tidurnya yang ada di lantai dua.
"Huh ... hampir saja." gumam Lucas seraya mengelus dada kecilnya.
"Hei bocah, apa lagi yang kamu rencanakan?"
__ADS_1
Andrew seketika bertanya. Tanpa di sadari, dia sudah berdiri tepat di belakang Lucas.
"Uh ... Daddy. Kamu mengagetkan aku,"
Lucas hampir saja terperanjak, dia seketika berbalik ke arah letak suara tersebut.
"Apa kamu berbuat salah?" ujar Andrew bertanya, menatap wajah Lucas dengan penuh curiga.
"Aku? memangnya apa yang aku perbuat." Jawab Lucas dengan ekspresi sedikit kesal.
"Baiklah. sana pergi tidur!" seru Andrew kepada Lucas.
"Huh...." Tanpa berbicara lebih banyak, Lucas segera meninggalkan ruangan tamu, menuju kamar tidurnya yang juga ada di lantai dua.
"Tuan?"
Liam menghampiri Andrew dengan wajah sedikit ragu.
"Ada apa?" sahut Andrew mengerutkan kening.
Liam melirik sekitarnya, takut bahwa apa yang akan dia katakan ada yang mendengarnya, terlebih lagi ini bukanlah kediaman tuannya.
"Ikut aku!" tegas Andrew segera meninggalkan ruangan tersebut.
Tepatnya di dalam mobil milik Andrew, yang terdapat di halaman parkir, Andrew menyalakan rokok miliknya, dia duduk di kursi penumpang, sementara Liam duduk di kursi depan.
"Katakan!" ujar Andrew serius.
"Roki menemukan sedikit jejak dari orang itu," ujar Liam serius.
"Kapan?" tanya Andrew kembali.
"Baru saja Roki mengirimkan pesan," sahut Liam.
"Cih ... meninggalkan jejak di saat seperti ini. Sepertinya tidak sesederhana kelihatannya." Decik Andrew seraya menghela napas jengah.
"Tuan, selanjutnya?" tanya Liam meminta instruksi.
"Peringatkan Roki dan Roland untuk berhati-hati!" tegas Andrew.
"Baik tuan." Sahut Liam.
"Liam, ingat apa yang aku katakan dahulu, ketika pertama kali aku bertemu denganmu!" tegas Andrew mengungkit cerita lama.
"Saya mengerti tuan." Sahut Liam serius.
Tentu saja dia akan selalu mengingat apa yang tuanya katakan. Andrew keluar dari mobil seraya mematikan rokok di tangannya, dia berlalu pergi meninggalkan parkiran tersebut.
"Hah ... kenapa harus di saat seperti ini." Gumam Liam seraya menghela napas berat.
__ADS_1