Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 14 : Diawasi oleh Liam


__ADS_3

"Momi, ada apa.?"


Ujar Lukas yang saat itu melihat Mominya sangat terburu-buru.


"Tidak apa-apa sayang, mungkin Momi hanya sensitif saja, lebih baik kita bergegas, untuk segera membeli kebutuhan rumah ya, sayang.!"


"Iya Momi...."


"Ekspresi Momi sepertinya tahu, kalau manager yang tadi tengah mencoba untuk menahan kita, pasti ada yang tidak beres disini, lagian Momi kembali ke Negara Ini, untuk melakukan sesuatu yang penting baginya...."


"Negara inilah yang membuat Momi sangat menderita dahulu, apa mungkin ayah kandung aku juga ada disini, atau seperti dugaanku bahwa pria yang waktu itu adalah ayah kandungku...?"


Lukas sesaat melirik kepada wajah Mominya.


Disisi lain, Andrew telah sampai ketempat dealer mobil tadi, namun saat itu Liam telah pergi, ia mencoba untuk mengikuti mobil Caroline dari belakang.


"Apa kamu melihat asisten pribadi ku.?"


Ujar Andrew bertanya kepada manager dealer mobil tersebut.


"Tuan, asisten Liam sepertinya, ia mencoba untuk mengikuti wanita yang tadi baru selesai membeli mobil...." Sahut manager itu menjelaskan dan menjawabnya dengan sangat sopan. "Oh iya tuan, tadi tuan Liam berkata, saya harus menyerahkan setruk ini kepada anda...!" Seraya ia memberikan setruk tersebut kepada andrew.


"Wanita ini, nama juga bahkan sudah diganti menjadi Renata, benar-benar sangat tidak ingin meninggalkan jejak...."


Ujar Andrew didalam hatinya.


Andrew langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan segera menghubungi asistennya yaitu Liam, untuk menanyakan kabar terbaru, apa yang sudah ia dapat dari hasil penyelidikannya.


"Liam, dimana kau.?"


"Tuan, saya sedang mengikuti Nona Renata...."


Sahut Liam menjawab diujung teleponnya.


"Baiklah, terus ikuti.!"


"Baik tuan."


******


Disisi lain, Caroline dan lukas telah sampai disebuah supermarket.


"Ayo sayang, mari kita pergi berbelanja dulu, Lukas mau makan apa nanti malam.?"


"Terserah Momi saja....."


"Baiklah kalau begitu...."


Sesampainya disupermarket, Caroline dan Lukas segera berbelanja kebutuhan mereka, akan tetapi, dari sebuah kaca supermarket, Lukas melihat seorang pria yang mencurigakan, ia terlihat seperti tengah mengikuti mereka.


Lukas seketika sadar siapa pria tersebut.


"Dia, bukankah dia adalah paman yang bertabrakan dengan aku dibandara, dan dia adalah orang yang berdiri disamping pria yang mirip denganku...?"


"Kenapa sedari tadi, dia terlihat seperti tengah mengikuti aku dan Momi.?"


"Sayang, kamu kenapa.?"


"Momi, Lukas sakit perut, Lukas ingin pergi dulu ketoilet...."


"Baiklah, ayo Momi antar kamu...!"


"Tidak perlu Momi, aku bisa sendiri, Momi berbelanja saja, tenang saja aku tidak akan tersasat...!"


"Apa kamu yakin sayang.?"


"Iya Momi, asal Momi tidak jauh-jauh dari tempat belanja bahan makanan ini...."


"Baiklah, kalau begitu cepatlah, Momi tunggu kamu disini.!"


"Ok, Momi...."

__ADS_1


Lukas beralasan, namun sebenarnya dia ingin memperhatikan pria tersebut, apa yang dia inginkan dengan mengikuti mereka berdua.


Lukas segera bergegas meninggalkan tempat tersebut, dan menuju kearah toilet.


"Bocah itu, mau kemana dia? aku harus mengawasi siapa sekarang...?"


Gumam Liam dengan bingung, namun akhirnya dia memutuskan untuk mengawasi Caroline, menurutnya, nanti juga anak laki-laki itu pasti akan kembali kepada ibunya.


Liam melihat, kalau Lukas saat itu pergi mengarah ketoilet.


"Sepertinya dia hanya pergi ketoilet saja, sudahlah, aku fokus mengawasi ibunya saja...!"


Kemana Caroline pergi, Liam terus selalu mengikutinya dan mengawasi wanita itu secara sekasama dengan sangat fokus.


"Benar, seperti dugaanku, dia memang tengah mengawasi Momi, sebenarnya apa hubungan mereka dengan Momi...?"


Gumam Lukas seraya memicingkan ujung bibirnya.


"Aku harus mencari tahu lebih detail lagi, apa dari tujuan paman-paman itu.!"


Lukas segera mengeluarkan ponsel miliknya, dan ia beberapa kali memotret Liam.


"Sebentar lagi, aku akan mengetahui siapa dia..." Ujar Lukas dalam hatinya seraya tersenyum tipis.


"Momi, apa kamu sudah selesai.?"


Lukas segera menghampiri Mominya, setelah mendapatkan poto Liam.


"Kamu sudah selesai sayang.?"


"Ya Momi, apa Momi sudah selesai berbelanjanya.?"


"Tentu saja...."


"Kalau begitu kita pulang yu Momi, Lukas lelah.!"


"Baiklah ayo...."


"Paman, apa kau masih ingin mengikuti kami.?"


"Aku harus membuatnya kehilangan jejak kami.!"


Caroline dan Lukas segera masuk kedalam mobil mereka, tepat saat itu, Lukas berbicara kepada Mominya. "Momi.?"


"Kenapa sayang.?"


"Apa Momi mengenal pria yang yang saat itu ada dibandara.?"


"Tidak, memangnya kenapa sayang.?" Caroline sontak langsung mengerutkan dahinya penuh tanya, ketika ia mendengar pertanyaan Lukas tersebut.


"Tadi aku melihat paman itu, sepertinya dia mengenal Momi.?"


"Dimana sayang.?"


"Pas Lukas dari toilet, sepertinya dia memperhatikan Momi, masa Momi tidak mengenalnya, jelas sekali dia seperti mengenal Momi...."


"Momi tidak mengenalnya sayang...."


"Ah, itu Momi, lihatlah.!"


Lukas menunjuk kebelakang dari kaca spion mobil mereka yang masih berada diparkiran supermarket, sedangkan liam memang terlihat bahwa ia tengah mengawasi mereka.


"Tuh, paman itu Momi, dia yang waktu itu dibandara bukan.?"


Dengan ekspresi polosnya, Lukas tahu kalau Mominya akan mencoba menghindari orang-orang yang mencurigakan, dia pasti akan mencoba melarikan diri, dan berusaha untuk menghilangkan jejak.


"Pria itu, bukankah dia asisten pria gila itu, sepertinya dia memang sedang mengawasi kami...." Ujar Caroline dalam hatinya,


"Sebaiknya, aku harus segera bergegas pergi.!"


Caroline langsung tancap gas, dan ia mencoba berputar-putar dijalanan, ia tidak langsung pergi menuju kearah rumahnya, dia mencoba untuk membingungkan Liam, agar dia kehilangan jejaknya, dan tidak bisa mengikuti mereka.

__ADS_1


"Seperti dugaanku, dia memang mengikuti kami."


Caroline masuk kesebuah jalanan sempit, yang mengarah kepinggiran kota di negara tersebut.


"Seperti dugaan ku, Momi memang sangat hati-hati, dia telah sadar, kalau paman itu mengikuti kami...."


"Momi sengaja mengambil arah jalan memutar, agar paman itu kehilangan jejak kami, dan tidak bisa menyusul kami...."


Ujar Lukas dalam hatinya.


"Momi, ini bukan jalan menuju rumah kita? kita mau pergi kemana Momi.?"


Lukas sengaja berpura-pura polos, dan berpura-pura tidak mengerti jalan pikiran dari Mominya.


"Kita sekalian melihat-lihat jalan dikota ini sayang.!"


"Oh begitu, baiklah...."


"Lukas kira, Momi lupa jalan pulang...."


"Tidak sayang, Momi hanya ingin sedikit menghirup udara ditepi kota ini...."


"Baiklah, Lukas juga menyukai udara disini...."


Seraya ia tersenyum polos, layaknya seorang anak kecil yang tidak memiliki trik dalam kepakanya.


"Baguslah kalau Lukas menyukainya...."


"Maaf sayang, Momi terpaksa berbohong kepadamu...."


Beberapa saat kemudian, Liam akhirnya kehilangan jejak kedua orang tersebut.


"Cih, sialan, sepertinya dia telah sadar, kalau sedang diikuti...."


Gerutu Liam dengan kesal, seraya mencengkram kemudi setirnya.


"Halo, Tuan...."


Liam sontak langsung menelepon Andrew, untuk melaporkan kejadian tersebut, bahwa dia telah kehilangan jejak Caroline dan putranya.


"Dimana kamu Liam.?"


Sahut Andrew diujung teleponnya drngan nada terdengar sedikit kesal.


"Tuan, saya mengikuti mereka, namun saya telah kehilangan jejaknya...."


"Apa? bagaimana bisa.?"


"Sepertinya dia menyadari kalau tengah diikuti, Tuan.!"


"Apa kau bodoh, hal begitu saja tidak bisa mengurusnya.?"


Kutuk Andrew dengan nada kesal dan geramnya kepada Liam.


"Maafkan saya Tuan...."


"Sudahlah, segera kembali.! dan laporkan kepadaku, informasi apa yang telah kau dapatkan.!"


Ujarnya dengan kesal.


"Baik Tuan...."


Andrew langsung menutup panggilan telepon miliknya.


"Dasar bodoh, hanya seorang wanita, dan anak kecil saja, dia bahkan tidak dapat mengurusnya...."


"Membuatku emosi setengah mati saja...."


Tidak berselang lama, sebuah nada pesan berbunyi dari ponsel miliknya, Liam mengirimkan sebuah pesan kepada Andrew, sebuah no plat mobil sementara milik Caroline yang telah ia dapatkan.


"Setidaknya, kau masih cukup berguna Liam...." Ucap Andrew seraya membaca pesan singkat tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2