
Caroline berkali-kali tidak habis pikir. Semula dia hanya berencana menjadikan Andrew sebagai tameng dirinya, untuk menekan keluarga Nan, dan juga keluarganya. Tanpa dia harapkan, dirinya semakin terseret lebih dalam dengan sosok Andrew.
"Dasar pria licik," dengusnya kesal.
Caroline berkali-kali menarik dan menghembuskan napas berat. Dia sadar dengan sangat jelas, tidak perlu menunggu hari esok, bahkan malam ini, dirinya akan terseret rumor, mengenai kedekatannya dengan Andrew.
"Berhentilah mengeluh! Apa aku begitu tidak pantas untukmu?"
Andrew mendekatkan dirinya kepada Caroline. dia menatap wajah Caroline dengan ekspresi sedikit kecewa.
"Kamu bercanda. Bagaimana mungkin posisiku bisa di sandingkan dengan seorang presdir ternama sepertimu." Sindir Caroline seraya memalingkan wajahnya kearah lain.
Tidak bisakah berbicara tanpa begitu dekat seperti itu, pikir Caroline dalam hatinya.
Andrew terdiam dan temenung. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, agar wanita di sampingnya ini bisa menerima dirinya sepenuhnya.
"Hah ...."
Andrew menyandarkan dirinya ke kursi mobil, seraya menarik napas panjang. Andrew memejamkan matanya, tidak ingin berdebat dengan wanita yang sudah ada dalam hatinya. Bahkan mungkin, semenjak awal pertemuan mereka berdua dahulu.
"Sungguh keras kepala." Ujarnya dalam hati.
Beberapa saat berlalu, dengan suasana hening di dalam mobil, mereka sampai di rumahnya Caroline.
"Tuan, Nyonya. Kita sudah sampai." Ujar Liam seraya melirik keduanya dari kaca depan mobil.
"Baiklah. Terimakasih sudah mengantarku."
Caroline bergegas keluar dari dalam mobil, dengan terburu-buru. Dia ingin segera melarikan diri, dari keheningan yang terjadi sepanjang jalan.
"Kenapa kamu mengikutiku?"
Langkah kakinya terhenti, Caroline menengok ke belakang. Ketika ia sadar bahwa Andrew berjalan mengikutinya.
"Apa ada masalah?" sahut Andrew tanpa merasa bersalah.
"Pulanglah ke rumahmu! Aku ingin beristirahat."
Caroline segera berbalik, dan berusaha meninggalkan Andrew secepat mungkin.
"Dady, Momy. Kalian sudah kembali?"
Lucas berlari keluar dari dalam rumah, dia segera melemparkan dirinya ke pelukan Andrew.
"Hey, boy ... kenapa kamu belum tidur?"
Andrew langsung berjongkok dan segera memeluk putranya.
"Aku merindukan Dady, apa Dady akan tidur di sini malam ini?" tanya Lucas dengan nada manja.
Mendengar perkataan Lucas, Caroline terdiam dan mengerutkan dahinya bingung.
__ADS_1
'Ada apa lagi dengan panggilan yang berbeda-beda itu' pikirnya. Dady? Apakah dia tidak salah dengar.
Andrew melirik Caroline dengan matanya yang seolah-olah meminta ijin. Namun Caroline hanya terdiam menatapnya dingin.
Mengerti dengan tatapan Andrew kepada Mominya. Lucas ikut menatap Mominya, dengan ekspresi mata sedih dan memohon.
"Baiklah, baiklah."
Tidak bisa menolak permintaan putranya, Caroline menghela napas dan hanya bisa mengalah.
'Anak dan Ayah sama saja, apakah aku membully mereka berdua?' pikirnya.
"Ye ... Momy memang yang terbaik." Ujar Lucas kegirangan.
"Huh ... tadi siapa yang sudah melupakan Momy. Dasar bocah nakal, siapa yang telah melahirkan kamu ... Hah?"
Caroline mencubit pipi Lucas dengan gemas, dia berkali-kali mengacak-acak rambut putranya.
"Berhentilah merusak rambutku Momy!" ujar Lucas sedikit kesal.
"Duh ... apakah pangeran tampan Momy kesal. Coba cemberut lagi, ayo menggerutu lagi," ujar Caroline menggoda putranya.
Melihat tingkah lucu Lucas, Caroline memang selalu terhibur dengan tingkah mengemaskan putranya. Karena itu, ia sering kali mencubit-cubit pipinya dan mengacak-acak rambut Lucas.
"Momy ... lama-lama pipiku bisa seperti bakpao, kalau kamu terus menariknya seperti itu." Gerutu Lucas dengan tingkah sedikit manja.
Perdebatan kecil antara Caroline dan Lucas, di depan pintu masuk rumahnya. Membuat Andrew terdiam di tempat, dengan posisi badan yang masih terjongkok. Dia menatap dalam dan lembut kedua orang di hadapannya.
"Seandainya selalu seperti ini. Bukankah samgat bagus." Gumamnya lirih.
Liam yang berdiri tepat di belakang Andrew, ia hanya terdiam, ketika mendengar ucapan lirih yang terlontar dari mulut tuannya.
"Semoga kalian secepatnya bisa berkumpul, dan selalu bahagia tuan." Ujarnya pelan.
Seketika Andrew melirik kepada Liam. Dia bangkit, mengangguk dan sedikit tersenyum.
"Tidurlah di sini!" seru Andrew kepada Liam.
Jika Liam harus kembali ke rumahnya, itu akan menghabiskah waktu lebih lama, lagipula asistennya ini, sudah sangat bekerja keras seharian penuh.
"Saya---"
Liam sedikit bingung dan ragu untuk menjawab. Takut-takut itu akan mengganggu tuannya.
"Bukankah kau harus menjaga putraku?"
Ujung bibir Andrew sedikit menyeringai licik, dia yakin asistennya mengerti maksud dirinya.
Dari kata-kata dan ekspresi Andrew, Liam menangkap makna yang tersirat di dalamnya. Dia spontan mengangguk tanpa ragu.
"Baik tuan." Sahutnya.
__ADS_1
"Istriku, kamu jangan merusak ketampanan putraku."
Andrew berkata seraya berjalan menghampiri Lucas dan Caroline, yang masih berdebat kecil, dengan olok-olokan Caroline kepada Lucas.
"Istriku? Berhenti memanggilku seperti itu!" sahut Caroline sedikit kesal dan malu.
Apakah pria itu harus berkata begitu, di hadapan Lucas dan Liam. Bukankah sungguh memalukan, pikir Caroline.
"Momy ... kenapa wajahmu memerah? Cuaca dingin seperti ini, kenapa kamu seperti kepanasan" Lucas dengan sengaja menggoda mominya, dengan ekspresi yang polosnya seperti biasa.
Caroline terdiam menatap wajah Lucas dengan kesal. "Bocah kurang ajar." Ujarnya segera meninggalkan halaman.
Melihat ekspresi malu Caroline, Andrew sedikit tersenyum puas. Dia tahu jika suatu hari nanti, mungkin dirinya bisa meruntuhkan tembok di hati Caroline. Andrew terdiam menatap belakang tubuh Caroline yang semakin menjauh.
"Hey, Dady. Berhenti memandangi Momy dengan tatapan bermaksud seperti itu!" ujar Lucas melirik wajah Andrew.
"Tatapan bermaksud?"
Andrew sedikit mengerutkan dahinya, kedua ujung alisnya sedikit bertemu satu sama lain.
"Ya. Orang dewasa memang begitu bukan?" Ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Sebenarnya Momy kamu itu, memberi makan apa. Bocah kecil jangan berpikir sembarangan!" cetus Andrew sedikit heran dengan pemikiran putranya sendiri.
"Aku tidak berpikir sembarangan. Kau pasti merencanakan hal kotor. Berniat membuatkan adik untukku bukan?" sahut Lucas dengan lantang.
Merencanakan hal kotor? Berniat membuatkan adik? Andrew terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
Melihat ekspresi tuannya. Liam yang sedari tadi masih berdiri sigap di belakangnya. Ia terkekeh tidak bisa menahan tawa.
Apa yang direncanakan tuannya, terbaca oleh anaknya sendiri, bahkan di usianya yang masih sangat kecil.
"Ha ... ha ... ha...."
Tawa Liam seketika terhenti, dia segera menutup mulutnya dengan tangan. "Maafkan saya tuan." Ujarnya. Ketika Liam sadar, bahwa Andrew menatapnya dengan tajam.
"Apa kau puas?" tanya Andrew.
"Tidak tuan." Jawan Liam tanpa berpikir panjang.
"Tidak?"
Andrew menatap Liam seraya mengerutkan dahi. "Maksud saya ... bukan seperti itu tuan," sahut Liam sedikit terbata-bata.
"Sudahlah paman Liam, jangan dengarkan Dadyku. Dia hanya malu saja. Ayo antar aku masuk, jika tidak. Momy akan marah." Ujar Lucas meledak Andrew.
Lucas segera menarik lengan Liam. Berusaha menyelamatkan kecanggungan Liam dan Andrew. Dia segera berlalu pergi meninggalkan Andrew.
"Hey Lucas. Dady kamu itu aku," ujar Andrew protes.
"Dady, lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya agar Momy bisa menerima kamu dengan lapang dada. Jangan selalu bertingkah seorang presdir!" cetusnya mengingatkan dengan santai.
__ADS_1