
Hari demi hari mereka jalani dengan kesibukan masing-masing, hingga 1 minggu berlalu, sebuah perusahaan milik ayahnya Caroline, kini benar-benar diambang kehancuran, sahamnya semakin anjlok dan anjlok, hingga ia terpikir kembali untuk meminta bantuan kepada seoeang Andrew, yang dulu pernah melakukan perjanjian dengannya.
Pak waldo yang tidak lain adalah ayah Caroline, ia berniat mengirim anak tirinya yaitu sherry, untuk melakukan perjanjian ulang seperti dahulu kala.
Sherry yang ketenarannya dalam dunia hiburan kini namanya mulai meredup, dalam seketika nama baik yang telah ia susun dengan rapih kini telah sirna, hingga ia pun menerima tawaran sang ayah, yaitu Waldo, agar mengirim dirinya kepada pria yang bernama Andrew.
"Bos, Pak Waldo meminta untuk membuat janji," ujar Liam memberi laporan.
"Cih, apalagi yang dia mau? apa dia akan mengirim anak tirinya?" sahut Andrew sedikit geram.
"Sepertinya begitu bos, dia mengundang anda untuk makan malam bersama," sahut Liam menjawab.
"Tolak!" tegas Andrew.
"Baik bos."
"Oh iya, kamu pergi siapkan bunga mawar segar untukku!" tukas Andrew kepada Liam, seraya ia tersenyum tipis.
"Baik bos."
Liam segera bergegas pergi meninggalkan ruangan atasannya, untuk menyiapkan apa yang telah diperintahkan Andrew kepadanya.
"Aku penasaran, selanjutnya apa yang akan Caroline lakukan terhadap mereka?" gumam Andrew seraya mengeluarkan ponsel miliknya.
"Lukas, kamu dimana?" ujar Andrew bertanya dalam panggilan teleponnya.
"Aku masih Di sekolah, kenapa?" sahutnya menjawab diujung telepon, yang saat itu ia tengah ada dalam jam istirahat.
"Ayah akan menjemput kamu nanti," tegasnya.
"Hem, baiklah," ujarnya menjawab dengan santai, seraya ia langsung menutup panggilan telepon tersebut.
Menyadari sambungan teleponnya telah terputus, Andrew hanya menggelengkan kepalanya pelan, anak itu benar-benar mewarisi sikapnya yang dingin, seenak sendiri menutup telepon dari orang lain tanpa pamit, ketika ia menyadari tidak akan ada lagi sebuah pembicaraan.
"Anak ini," gumam Andrew.
__ADS_1
"Sepertinya ayah akan menjadikan aku sebagai alasan lagi, dasar ayah bodoh," ujarnya menggumam seraya menghela napas sedikit dalam.
********
Tepat pada saat jam pulang sekolah Lukas, Andrew sudah berada ditempat, untuk menjemput anaknya, ia berniat mengajaknya makan malam Di luar, nanti, agar Caroline tidak ada alasan untuk menolak ajakannya tersebut.
"Ayah, pasti membutuhkan bantuan dari aku bukan?" cetus lukas yang sudah masuk ke dalam mobil milik ayahnya.
"Aih, kamu ini, bisakah mendukung ayah kamu sendiri, agar aku bisa mengejar ibumu," sahut Andrew mengelus lembut kepala anaknya.
"Aku sudah berkali-kali membantu kamu ayah, pada dasarnya kemampuan kamu yang kurang," jawabnya dengan santai.
"Baiklah, ayah akan lebih bekerja keras lagi."
"Sebaiknya kamu bergegas ayah, 1 minggu lagi, mungkin papih akan sampai Di negara ini," ujarnya menjelaskan, sesuai janji, bahwa Hellio akan kembali bertugas Di negara ini.
"Papih? bisakah kamu berhenti memanggil orang itu dengan sebutan papih!" ucapnya sedikit kesal.
Hal yang paling membuat ia geram, adalah seorang pria yang bernama Hellio, apalagi mengingat kedekatan Lukas, dan juga Caroline dengan pria itu, paktanya, disaat ia tidak berada disamping mereka berdua, justru Hellio yang menemani mereka, dalam masa-masa terburuk keduanya, sedangkan dirinya, sama sekali tidak mengetahui penderitaan dan kesulitan yang Lukas dan Caroline hadapi saat itu.
Andrew seketika terdiam, ketika mendengar perkataan dari anaknya, benar juga, bahkan sampai sekarang, dirinya tidak pantas untuk merebut posisi pria itu dari hati anaknya, dan mungkin, begitu juga dari hati Caroline.
"Hah ...."
Andrew hanya bisa menghela napas berat, tanpa berniat untuk menjawab perkataan dari anaknya, pasrah, kata itulah yang ada dalam benaknya saat ini.
"Ayah, kamu akan membawaku kemana? ini bukan arah menuju rumah nenek, rumahmu, ataupun rumahku?" ujarnya bertanya, seraya ia memperhatikan jalan yang mereka lewati.
"Kita akan ke kantor ayah terlebih dahulu," sahut Andrew menjelaskan.
"Oh, apakah itu tidak apa-apa?"
Lukas sedikit ragu, ia menatap wajah ayahnya dengan dahi yang sedikit berkerut, bagaimanapun seorang Andrew saat ini, statusnya belum menikah, semua orang akan bergunjing, ketika ada seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengan dirinya, apalagi sampai dibawa ke perusahaannya.
"Tidak masalah, mereka masih menyayangi pekerjaan mereka," sahutnya menjawab dengan santai.
__ADS_1
Dia mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh anaknya saat ini.
Lukas hanya memicingkan ujung bibirnya, benar juga, siapa yang berani menyinggung ayahnya saat ini, apalagi Di kantornya sendiri, sama saja mereka mencari masalah.
Beberapa saat berlalu, mereka kini telah sampai disebuah kantor yang sangat megah, yang tidak lain adalah perusahaan milik Andrew.
Semua orang yang melihat, seketika menatap kaget, ketika menyadari seorang anak laki-laki yang saat ini berjalan disamping atasan mereka, begitu terlihat sama persis dengan sosok pria tersebut.
Semua para karyawan hanya bisa membungkuk, menyapa mereka dengan sangat sopan, walau hati begitu sangat penasaran dengan sosok anak kecil tersebut, apalagi seorang Andrew, kini ia tengah berjalan dengan santai, seraya menggandeng lengan anak tersebut dengan lembut.
"Alice, keruanganku sekarang!" tegas Andrew kepada sekretarisnya.
Saat ini, Alice telah dipercaya menjadi sekretaris pribadi Di kantornya, ia ditugaskan langsung oleh Andrew, untuk menggantikan sekretaris lamanya, yang saat itu telah ia pecat, karena selalu berusaha untuk menggodanya.
Kembali kesebuah cerita lampau, dimana Alice adalah seorang wanita yang berada dibawah kepemimpinan Liam, yang tidak lain, saat Caroline menghabiskan malam bersama Andrew, saat ia dijual ayahnya sendiri, Alice dan Liam lah, yang menjadi saksi, seperti apa cerita atasan mereka bermula.
Sontak mata Alice terbelalak lebar, ketika ia sampai diruangan Andrew, saat ia melihat sosok anak tersebut, tanpa berpikir panjang, ia bisa menebak bahwa bocah laki-laki itu adalah anak atasannya sendiri.
Alice selama ini, selalu mendapatkan tugas, untuk mengawasi perusahaan Andrew diluar negeri, karena itu, ia sedikit ketinggalan kabar mengenai cerita kehidupan pribadi seorang Andrew, tapi ia jelas tau, bahwa atasannya tidak pernah berhubungan dalam dengan wanita lain, selain dari Caroline saat itu, tapi bagaimana bisa, seorang wanita yang diduga telah mati, bisa melahirkan seorang anak.
"Alice, dia adalah tuan muda kecil kamu, namanya Lukas, ibunya, adalah Caroline," ujar Andrew sedikit menjelaskan.
Menyadari ekspresi, dan perubahan dari raut wajah Alice, ia bisa menebak apa yang tengah dipikirkan oleh sekretarisnya saat ini.
"Ah .... Saya mengerti," sahut Alice singkat, tanpa ingin tau lebih jauh lagi.
"Hallo, salam kenal, nama saya Alice, sekretaris dari ayah anda, tuan muda kecil mau makanan yang seperti apa?" ujarnya memperkenalkan diri, seraya bertanya kepada Lukas, dengan senyuman ramah diwajahnya.
"Hallo tante Alice, nama saya Lukas, sayuran hijau tanpa daun bawang," sahutnya.
Tante? mulutnya tajam sekali seperti ayahnya, wajah Alice seketika terlihat canggung, seraya ia sedikit melirik kepada atasannya, tanpa berniat menjawab, Andrew hanya memalingkan wajahnya kearah lain, dengan seringai tipis yang puas diwajahnya.
"Tidak diragukan lagi, dia memang anaknya," ujar Alice dalam hatinya.
Bersambung.....
__ADS_1