
Caroline hanya bisa terdiam tanpa bergeming, matanya menatap tajam kearahnya, ia menelisik lebih jauh lagi ekspresi dari seorang Andrew, kenapa dia tiba-tiba marah? apakah dirumahnya Lukas membahas tentang Hellio? dia tidak akan mengatakan hal yang aneh-aneh bukan.?
"Baiklah, lepaskan tanganmu Andrew.!"
Ujar Caroline berkata, sontak membuat mata lelaki itu membulat dan dahinya mengerut.
Apakah dia tidak salah dengar? wanita ini sekarang memanggil namanya, ekspresi Andrew sesaat sedikit kikuk, dan ia merasa sedikit canggung dan juga malu, ia akhirnya melepepaskan cengkramannya perlahan.
"Maaf, apa aku menakutimu.?"
Ujarnya berkata dengan ragu, mata Liam seketika mendelik, namun ia takut untuk memperhatikan mereka, ia hanya terdiam tak berubah dari posisinya berdiri.
Ujung mata Caroline menyipit, ia bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa dengan perbedaan ekspresi wajah pria ini, kenapa terlihat seperti bocah yang tengah sedikit malu.
Sedetik kemudian, ia tersenyum tipis diujung bibirnya, seraya menghela napas pendek ringan.
"Tidak, ada apa malam-malam begini datang kerumahku.?" Ujar Caroline bertanya dengan santai.
"Anak kita rewel, dia ingin bertemu denganmu...." Tukas Andrew menjawab.
Anak kita? apa pria ini tidak salah makan obat, bagaimana sikapnya bisa berubah hanya dalam waktu satu malam, jelas sekali kemaren-kemaren dia begitu mengintimidasi, tapi sekarang.?
Wanita itu jelas sekali merasa aneh dengan apa yang ia lihat, namun ia juga sedikit merasa lucu, tidak menyangka ia bisa melihat ekspresi merona pria tersebut.
"Lalu kenapa kamu tidak membawanya kesini.?" Ucapnya bertanya.
"Dia marah kepadaku, ikutlah! apa kamu tidak peduli lagi dengannya? aku sama sekali tidak berbohong."
Ujarnya menjawab, dengan wajah sunguh-sunghuhnya, bahkan ia sedikit memelas, tidak terlihat kebohongan dari sorot matanya, dan juga sebuah kesunghuhan ucapannya, terlihat jelas oleh Caroline.
"Baiklah, aku ganti baju terlebih dahulu." Ucapnya seraya ia melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan segera berlari kecil menuju kamarnya.
__ADS_1
Andrew sedikit menyeringai kecil diujung bibibinya, seraya ia menatap tajam bagian belakang sosok wanita itu, yang tengah berlari kecil.
"Apakah diatas sana adalah kamarnya? ah shitt... kenapa aku mengingat kejadian malam Itu.?"
Ujarnya berkata dalam hati, seraya ia menepuk pelan jidatnyanya sendiri, ia mulai merasakan panas dalam dirinya, dilonggarkannya dasi hitam bercorak merah itu, yang menggantung dilehernya, agar menyisakan ruang, supaya celah udara masuk mendinginkan badannya.
Ia seketika duduk disebuah kursi dihadapannya, dan merapihkan celananya, karna merasa sedikit sesak dibagian tertentunya, yang saat itu adik kecilnya langsung bereaksi tanpa permisi, ketika melihat lekukan indah bagian belakang dari tubuh milik wanita itu.
Saat pembantu Caroline pergi meninggalkan mereka, untuk sekedar membuatkan teh, Liam bergumam pelan kepadany, "Tuan, kendalikan ekspresi mesum kamu itu.!" Ujarnya seraya melirik kerah atasannya.
"Aku ini pria normal, bukankah hal wajar." Sahutnya menjawab dengan datar dan ekspresi santainya.
"Kalau begitu, kenapa anda tidak mengejarnya, kalau nona Caroline sampai bersama pria lain, apa tuan tidak akan kesal dan emosi.?" Ujar Liam seraya sedikit menghela napas berat.
Andrew hanya terdiam tanpa menjawab, ia menyandarkan tubuhnya kekurisi, memejamkan matanya sesaat, benar, kalau ia melihat wanita itu dengan pria lain, apakah dia tidak akan menyesal, baru menyebutkan nama pria lain dihadapannya saja, dia sudah kebakaran jenggot, dan seketika otaknya meradang.
Berkali-kali ia menghembuskan napas berat, mungkin benar, ia memang telah menaruh rasa kepada sosok wanita cantik tersebut, semenjak kejadian malam itu, ia bahkan tidak berselera menyentuh wanita lain, tapi tubuh indah wanita itu selalu terbayang dipelupuk matanya, apalagi saat wanita itu tengah mengeluarkan suara indahnya, ketika ia menyusuri seluruh lekuk tubuhnya, ekspresi wanita itu tidak pernah bisa ia lupakan.
Sesaat ia mengepalkan tangannya, tidak, ekspresi indah wanita itu, hanya boleh dirinya sendiri yang melihat, orang lain tidak boleh melihat hal itu, apalagi merasakan sensasi indah wanita itu.
"Kejarlah tuan! sebelum anda menyesalinya, lagian diantara kalian berdua sudah ada anak." Ujarnya dengan nada pelan dan juga sopan.
"Aku mengerti, sudah jangan bawel lagi! mulai sekarang panggil dia nyonya.!" Tukasnya seraya ia tersenyum tipis dengan seringai diujung bibirnya.
"Siap bos." Sahut Liam dengan penuh semangat dan ekspresi senangnya, seraya ia mengangkat tangannya memberikan hormat kepada atasannya.
"Cih, sepertinya kau sangat senang kalau akan memiliki nyonya besar." Celetuknya dengan ekspresi mengejek dan sindirannya kepada Liam.
"Tentu saja bos." Jawabnya dengan memasang wajah sumbringah.
Pembicaraan mereka berdua terhenti, ketika bibi berada dihadapan mereka dan menyajikan teh untuk mereka.
__ADS_1
"Silahkan tuan, saya permisi." Ucapnya dengan sopan, dan ia langsung meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian, Caroline yang telah selesai mengganti pakaiannya, ia turun menyusuri anak tangga, dengan sebuah dres yang panjangnya selutut berwarna merah, ia terlihat sangat elegan, dan begitu cantik.
Sontak mata Andrew terperangah ketika melihat wanita itu berjalan menuju kearahnya dengan sangat indah, matanya tertuju kesatu arah tubuhnya, yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya, namun tidak terlalu mencolok, dan tidak terlalu seksi.
Ia menatapnya dalam tanpa berkedip, dengan penuh rasa kagum.
"Jangan menatapku seperti itu, menakutkan sekali."
Ucapnya ketus seraya ia memalingkan wajahnya kearah lain, sementara andrew hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, ia bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri wanita tersebut.
"Cantik sekali, bagaimana mungkin aku tidak menatapmu."
Ujarnya berkata, seraya ia menyisipkan rambut milik wanita itu kebagian belakang telinganya.
Sontak Caroline berbalik kepadanya, dan tanpa sengaja kedua mata itu saling bertemu pandang satu sama lain, dengan begitu sangat dalam, seperti tengah saling menyusuri bagian terdalam mata mereka masing-masing.
Degh... Degh....
Tanpa ia sadari jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar baru menyadari, kalau sosok pria itu sangat tampan, gagah, dan juga begitu seksi, dengan bagian tubuhnya yang memperlihatkan otot-otot kekarnya, walau semua tertutup oleh pakaian rapihnya.
Pantas saja, semua wanita di negara ini, sangat berusaha untuk mengejar sosoknya, bahkan mereka begitu rela, walau hanya sekedar menjadi teman ranjangnya semata, sosok yang sangat sempurna, bagi seorang pria, entah itu wajah tampannya, kemampuan, kekuatan, dan kekayaan yang tidak ada batasnya, namun sayangnya, tidak ada yang pernah berhasil meluluhkan pertahanan diri pria tersebut.
Sadar dengan apa yang ada dalam fikirkannya tersebut, ia segera memalingkan wajahnya kearah lain dan mengambil langkah mundur kebelakang dengan cepat.
"Namanya seorang wanita, semua juga pasti cantik, terimakasih atas pujiannya."
Ujarnya berkata dengan sedikit canggung, ia tidak ingin salah paham dengan apa yang dikatakan pria itu kepadanya.
"Tapi bagiku, kau yang paling cantik, dan kau sangat cantik dimataku." Sahut Andrew melangkah menghampirinya.
__ADS_1
Degh... Degh....
Bersambung.....