
Dalam beberapa hari ini, dengan sengaja Andrew mencari alasan agar bisa tinggal di kediaman pribadinya Caroline. Sementara para kepercayaan Andrew di tugaskan untuk membereskan masalah clan yang tengah terjadi.
"Aku ada urusan lain yang harus aku kerjakan. Aku titip anak-anak denganmu," ujar Caroline. meminta kepada Andrew.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Andrew mengerutkan kening sedikit khawatir.
Akhir-akhir ini ada pergerakan yang belum dapat di prediksi dari luar, Andrew benar-benar merasa khawatir terhadap keselamatan Caroline dan anak-anaknya.
"Aku hanya akan bertemu sahabatku sebentar," ujarnya menjawab.
Mereka berempat yang tengah berada di ruangan tamu. Andrew mengerutkan dahi, pikirannya bermonolog jauh.
"Siapa?" ucapnya bertanya, seraya bangkit dari duduknya. Lucas dan Luxi saling melirik kecil satu sama lain dengan ujung mata.
"Aku tidak perlu mengatakan detail ... setiap orang yang akan aku temui, bukan?" sindir Caroline dengan nada sedikit mencibir.
Andrew seketika raut wajahnya berubah muram, dia masih ingat dengan jelas kejadian dahulu. Pria bernama Hellio adalah seorang yang di anggap teman oleh Caroline. Sementara pria itu terlihat menaruh hati.
Andrew tentu saja merasa kesal jika ingat akan hal itu, bagaimana bisa dia membiarkan Caroline bertemu dengan pria lain.
"Dia seorang pria?" tanya Andrew berjalan semakin mendekat ke arah Caroline, dia menatap tajam dengan hembusan napas beratnya.
Caroline mengerutkan dahi bingung. 'Ada apa dengan perubahan raut wajah pria ini, yang secepat kilat?' pikirnya menatap heran.
"Memangnya apa bedanya jika itu seorang pria, atau wanita?" cetus Caroline belum menyadari ucapannya, jika hal ini akan membuat Andrew semakin geram.
Andrew semakin mendekat ke arah Caroline, mereka hanya berjarak kurang dari satu senti meter. Hembusan napas Andrew terasa menghambur ke arah wajahnya.
Aroma mint yang menjalar keluar dari tubuhnya, tercium begitu segar oleh Caroline.
"Kau menjauh sedikit dariku!" ujarnya mundur satu langkah ke belakang. Namun Andrew dengan santai semakin maju ke depan.
"Karena jika itu pria. Apalagi pria berwajah pucat bernama Hellio, aku tidak mengijinkannya sama sekali!" tegas Andrew sedikit mencibir, yang di anggap saingan cintanya.
"Sepertinya aku tidak perlu meminta ijin kamu, deh."
Caroline mundur lagi satu langkah ke belakang, seraya dia memalingkan wajah ke arah samping. Setiap langkah Caroline mundur, setiap langkah itu juga Andrew maju.
Bruk!
Kaki belakang Caroline membentur ujung sofa, dia tersentak dengan posisi terduduk dalam seketika. Andrew membungkuk semakin mendekat ke arah depan wajah Caroline.
"Istriku, kamu tidak boleh berkata seperti itu ... kepada suami kamu sendiri," ujarnya menyeringai kecil di ujung bibir.
__ADS_1
Sebelah tangan Andrew bergerak menyentuh ujung dagu kecil Caroline, sementara sebelah tangan lagi, bertumpu di atas tangan sofa.
Tubuh Andrew yang gagah itu hampir menutupi tubuh langsing Caroline. Mata Caroline sedikit membulat, denga cepat matanya berkedip beberapa kali karena sedikit canggung.
Deg! Deg!
Jantungnya berdegup kencang, aroma mint itu membuat dia sedikit hanyut meraup penciumannya begitu segar.
"K-kamu, lepaskan tanganmu!" ujarnya dengan gugup.
"Sayang, aku tidak akan memakanmu, kenapa kamu canggung begitu," ujarnya tetap menatap bola mata coklat tepat di hadapannya.
Caroline semakin berkedip dengan cepat, jantungnya sudah tidak dapat di kondisikan, rasanya seperti jantung itu akan melompat ke luar.
'Ada apa dengan jantung sialan, ini. Kenapa aku berdegup kencang?' Caroline menelan salivanya sendiri dengan berat.
"Anak-anak ada di sini, kamu menjauh dariku cepat!" ujar Caroline beralasan.
Caroline berusaha menyingkirkan tubuh Andrew dari atas dirinya yang terduduk di atas sofa. Namun karena badan Andrew yang kekar berisi, membuat Caroline sedikit tidak bertenaga
"Jadi artinya ... jika tidak anak-anak, aku boleh melakukan ini? Begitukah maksud kamu, istriku?" ujarnya kembali menatap Caroline penuh arti, seringainya membuat dia bemonolog jauh.
"B-bukan seperti itu maksudku," jawabnya gagap. Caroline semakin di buat serba salah.
Caroline ragu, dia tetap mengarahkan pandangannya ke arah samping. Tangan Andrew bergerak, mengarahkan dagu Caroline ... membuat wajahnya kembali berhadapan dan bertatap mata dengan Andrew.
Caroline menatap tajam ke dua bola mata hitam milik pria yang masih merengkuhkan tubuh itu.
"Apa yang kamu lakukan. Cepat lepaskan!" pintanya tegas, namun suaranya terdengar lemah dan lembut.
"Kenapa?" tanya Andrew dengan sengaja.
"Apakah kamu tidak sadar? anak-anak sedang melihat kita," tegasnya.
Lucas dengan sigap menutup mata kakaknya yaitu Luxi, dengan sebelah telapak tangan kecilnya.
"Kami tidak melihat apa-apa ... daddy, momy." Lucas menjawab dengan cepat, seraya menutup matanya dengan sebelah telapak tangan.
Andrew dan Caroline menoleh ke arah ke dua putranya di belakang. Andrew menyeringai, kembali menatap senang wajah Caroline.
"Anak-anak kita tidak memperhatikan kita," ujarnya semakin menarik dagu Caroline mendekat padanya.
"Apa yang ak---"
__ADS_1
Ucapan Caroline terhenti sekaligus, ketika Andrew mencium bibir ranum Caroline.
Emmhh....
Andrew menikmati bibir itu dengan penuh gairah. Dia meluhmat abis ke dua belah bibir merahnya. Andrew bahkan tak ayal menarik lidah Caroline ke luar, bertemu satu sama lain dengan miliknya.
Caroline berusaha mendorong kembali tubuh Andrew, namun tetap sama tak menghasilkan gerak.
Ciuman panas Andrew membuat Caroline hampir kehabisan napasnya. Andrew menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menatap Caroline lembut.
Jempol tangannya bergerak menyeka bibir Caroline yang masih basah, tepat Caroline saat hampir membuka mulutnya ingin mengutuk Andrew.
"Sttt ... jangan bicara! anak-anak masih di sini," ujarnya dengan nada suara berat yang lembut.
Jempol sebelah tangannya masih bergerak menyusuri bibir Caroline, seolah-olah itu adalah design berharga yang di cetak tuhan dengan indah khusus untuk dirinya.
"Cih, dasar kau tidak tahu malu," decik Caroline merasa sedikit kesal dengan suara pelan.
Andrew menatapnya dalam. "Siapa yang akan kamu temui?" ujarnya kembali bertanya dengan wajah asam cuka yang pekat.
Luxi sedikit penasaran, dia ingin melihat apa yang sedang di lakukan ke dua orang tuanya. "Singkirkan tanganmu!" ujarnya sembari menepis dengan sebelah tangannya.
"Sttt ... diam! Kita anak kecil tidak boleh melihat adegan dewasa," jawab Lucas. Namun bagaimana dengan dirinya. Dia mengintip dari selah jarinya yang mungil itu.
"Aku tahu kau sedang mengintip. Biarkan aku melihat momi dan daddy!" tegas Luxi, kembali berusaha menyingkirkan lengan Lucas yang menutupi matanya.
Andrew bisa mendengar percekcokan kecil ke dua anaknya, dia menarik dan menghembuskan napas sedikit berat.
"Kalian berdua ingin adik perempuan, tidak?" ujarnya bertanya seraya tatapannya masih lurus menatap Caroline.
Caroline mengerutkan dahi dan menyingkirkan tangan Andrew yang menyeka bibirnya.
"Omong kosong apa yang kau katakan," ujarnya sedikit kesal dengan Andrew yang tidak tahu malu.
Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu kepada Lucas dan Luxi.
"Kami mengerti, daddy." Lucas bangkit dari duduknya, dia menarik Luxi agar meninggalkan ruangan tersebut.
Caroline tercengang. Menoleh ke belakang ... di mana ke dua putranya berlari dengan cepat.
"Hei ... kembali! Kenapa kalian berdua tidak setia kawan," teriaknya meminta agar Lucas dan Luxi tidak meninggalkan dirinya.
"Maafkan kami, momy. Kami masih anak-anak, tidak boleh melihat adegan dewasa." Lucas menjawab setengah berteriak, seraya berlari semakin menjauh dengan cepat.
__ADS_1