Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 79- Mencari tahu dalangnya


__ADS_3

Ruangan bawah tanah, tepat di mana Rudi saat ini disekap, semua penjuru sudah dipenuhi cctv.


Caroline yang tengah menyaksikan Rudi diintrogasi melalui Laptopnya, dia hanya duduk santai di atas sofa ditemani sebatang rokok disela jarinya.


Brak!


Pintu kamar hotel di dobrak sekaligus dengan kencang. Mata Caroline membulat dan segera menutup laptop miliknya.


"Andrew? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Caroline yang sontak seketika berdiri.


Roki dan Andrew bergegas menghampiri dengan mata yang dipenuhi aura kekesalan.


"Kamu tidak apa-apa?" ujarnya bertanya, seraya mengedarkan pandangan ke seisi kamar hotel tersebut.


"Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?" tanya balik Caroline dengan nada santai.


Tanpa menjawab pertanyaan Caroline. Andrew langsung memerintah Roki untuk menggeledah kamar tersebut.


"Cari!" titahnya.


Roki mengangguk dan langsung menyisir setiap ruangan kamar tersebut.


"Andrew, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Caroline lagi. Wanita itu mengerutkan dahi sedikit khawatir.


"Di mana pria gila itu?" bentak Andrew menatap tajam wajah Caroline.


'Dia mengikuti aku. Sorry Andrew, aku tidak bisa mengatakannya' batinnya.


"Pria gila yang mana? Di sini tidak ada siapa-siapa. Siapa pria gila yang kamu maksud?" tanya Caroline seraya menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya.


Ekspresi Caroline mengatakan, jika pria gila yang Andrew maksud, adalah dirinya. Pakta di kamar hotel itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya.


"Aku bertanya serius, Caroline Renata!" ujarnya dengan nada suara meninggi.


Caroline menarik napas dan menghembuskannya sedikit berat. "Mungkin dia sudah mati," jawabnya.


Andrew terdiam dengan raut wajah bingung. Dia begitu menghawatirkan Caroline, tapi wanita dihadapannya malah bercanda seperti itu.


"Tuan, di sini tidak ada siapa-siapa. Hanya---" Roki sejenak menghentikan ucapannya.


"Katakan!" pekiknya.


"Saya menemukan ini ...."


Roki menyerahkan sebuah plastik kecil, yang ukurannya terlihat seperti bekas serbuk sebuah obat.


Andrew meraihnya dan mengerutkan dahi. Pria itu terdiam cukup lama, berusaha menebak bekas apa plastik tersebut.

__ADS_1


Andrew mengendusnya pelan. Pria itu kini melemparkan tatapan tajam pada Caroline.


"Bekas apa ini?" ujarnya bertanya.


"Aku tidak tahu. Memangnya apa itu?" jawab Caroline.


Wanita itu bertanya seraya mendekat, dan melihat plastik kecil yang tengah di pegang Andrew. Andrew mengernyit, dia kemudian menghela napas panjang.


"Sudahlah. Asal kamu tidak apa-apa, itu tidak menjadi masalah," tuturnya.


Getar ponsel Caroline, memecah sedikit suasana tegang yang terjadi di antara ke tiga orang itu.


"Ya?" jawab Caroline mengangkat telepon.


"Semua sesuai perkiraan, dan semua sudah selesai. Selanjutnya apa yang harus kamu lakukan, Nona?" ucap seseorang di sana.


Pria itu adalah kedua orang yang tengah menginterogasi Rudi di ruang bawah hotel, yang saat ini Caroline tempati.


"Bawa dia pada Joel!" perintahnya.


Caroline langsung menutup sambungan telepon. Dia memasukan ponsel ke dalam tasnya. Sementara Andrew dan Roki hanya saling melirik satu sama lain sedikit penasaran.


Andrew kini menatap lekat wajah Caroline. Wanita dihadapannya masih tidak bisa terbuka padanya. Andrew hanya takut, hal yang dia khawatirkan akan terjadi menimpa Caroline dan anak-anaknya.


"Urusan kamu sudah selesai belum?" tanya Andrew tidak ingin membuat Caroline tidak nyaman.


"S-sudah," jawabnya sedikit tergagap.


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita pulang," ajaknya lembut. Caroline mengangguk.


***


Di sisi lain. Rudi di bawa oleh kedua pria yang menginterogasi ke tempat pribadi Joel.


Joel sudah memilih sebuah tempat pribadi untuk dia tempati selama dia berada di negara ini.


"Nona Joel, selanjutnya apa yang akan Kuta lakukan?" tanya kedua pria itu.


Joel menatap tajam wajah Rudi yang sudah tak berdaya. Pria itu kini sedang berada di bawah pengaruh halusinasi.


Joel memperhatikan sebuah semple racun yang terdapat di dalam tas pria tersebut.


"Apa yang Caroline katakan?" tanya Joel seraya duduk di kursi, tepat di hadapan Rudi.


"Nona hanya mengatakan. Kami harus membawanya kepada anda," jawab pria itu.


'Sepertinya Andrew berhasil menemukan keberadaan Caroline' batinnya.

__ADS_1


"Bangunkan dia!" perintah Joel, kepada dua pria jangkung yang mengantar Rudi.


Kedua pria itu kembali menyuntikkan sebuah cairan ke dalam tubuh Rudi.


Setengah jam berlalu, Rudi perlahan sadar. Pria itu menatap sekeliling bingung dengan kepala berat.


Dihadapan Rudi, kini tengah duduk seorang wanita berambut pendek, dengan wajah yang tertutup masker.


Rudi ketakutan, ketika dia melihat beberapa tabung khusus di ruangan tersebut.


"Sebenarnya siapa kalian? Apa yang kalian mau dariku?"


Rudi bertanya dengan suara melengking, di sertai rontaan berusaha untuk melepaskan diri.


"Apa ini?" tanya Joel seraya memperlihatkan botol kecil yang berisi cairan biru itu.


Mata Rudi membulat. Kini dia mulai mengerti dengan situasi yang saat ini menimpa dirinya.


Rudi terdiam dengan kedua bibir yang bergetar.


Joel menyeringai di balik wajah yang tertutup masker itu.


"Dia tidak ingin bicara. Kalau gitu bunuh saja langsung!" titah Joel tegas.


Wanita itu hampir beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, menyisakkan Rudi dengan kedua pria yang sudah membuatnya babak belur.


"Tunggu!" pinta Rudi.


Joel menghentikan langkah kakinya, dia menoleh dengan gaya santai. "Kata-kata terakhir seperti apa yang ingin kamu ucapkan?" tanya Joel menatap lekat netra hitam pria yang tengah ketakutan itu.


"Aku adalah asisten dari seorang dokter, di sebuah laboratorium," ujarnya.


Joel sejenak terdiam. Wanita itu berbalik kembali, mengambil posisi duduk tepat di hadapan Rudi.


"Saat ini. Ada seseorang yang memesan sebuah racun itu kepada kami," tuturnya.


"Kamu adalah orang negara F?" tanya Joel masih menatap tajam.


Tubuh Rudi semakin bergetar hebat. Bagaiamana bisa wanita di hadapannya tahu, jika dirinya adalah orang negara F. Sebenarnya siapa orang-orang di hadapannya ini.


"Saya hanya tinggal di negara F untuk sementara," kilah Rudi.


"Ckk ... ckk. Sungguh membosankan!" decik Joel jengkel.


Joel kembali bangkit dari kursi. Wanita itu melirik tajam ke dua pria jangkung di samping Rudi.


"Berikan ini pada bocah laki-laki itu dan ibunya!" titah Joel tegas. Wanita itu menyerahkan racun berwarna biru yang ada di botol kecil tersebut.

__ADS_1


'Jangan-jangan?' batin Rudi.


"Tunggu!" tahannya.


__ADS_2