Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 37: Bertemu orang tua Andrew


__ADS_3

Setelah dalam keadaan suasana perjalanan yang sedikit canggung, akhirnya mereka sampai disebuah kediamam megah, yang tidak lain adalah milik keluarga besar Andrew.


Saat turun dari mobil, Caroline terhenti sesaat, ia merasakan dadanya sedikit sesak, hal yang tidak pernah ia inginkan, justru semakin menariknya masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi.


Apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia jawab, kalau seandainya, keluarga besar itu benar-benar mencari tahu seluk beluk kehidupannya, dan bagaimana bisa ia melahirkan seorang anak, dengan putra keluarga ternama mereka.


Berkali-kali ia menghembuskan napas beratnya, apakah mungkin ia akan benar-benar kehilangan putranya, kebanyakan sosok orang tua yang sangat kaya dan terpandang, mereka miliki temperamen buruk dan kebanyakan menyepelekan status orang lain, yang dibawah mereka.


Andrew menyadari ekspresi ragu dari Caroline, ia mendekat kearahnya dan berbisik pelan. "Sepertinya mereka akan sangat menyukai dirimu." Tegasnya ucapan pria tersebut, dan sontak membuat mata Caroline menatap tajam kearahnya, dan seketika membuyarkan keheningan suasana yang terasa sangat mencekam saat itu.


"Itu bukan urusanku, kalau sampai terjadi sesuatu terhadap lukas, aku akan mencincangmu menjadi beberapa bagian." Tegas Caroline menjawab dengan ketus, dan sangat penuh penekanan dan juga ancaman.


"Lalu kamu akan menyisakan bagian yang mana saja.?" Ujar Andrew sedikit menggoda wanita itu, dan semakin membuatnya semakin lebih kesal lagi.


"Kau, dasar pria mesum tak tahu malu." Umpatnya dengan kesal dengan nada suaranya yang meninggi.


Namun saat Andrew melihat ekspresi geram wanita itu, ia hanya bisa tertawa dengan terbahak-bahak. "Wajahmu sangat lucu kalau sedang marah, seperti gadis kecil yang pertama kali aku kenal dulu." Celetuknya seraya melirik Caroline dengan ujung matanya.


"Cih, kalau aku tidak bertemu kesialan saat itu, aku tidak akan memiliki nasib buruk yang panjang." Tegasnya menjawab seraya ia menjauhkan dirinya dari sisi Andrew.


"Nasib buruk.?" Gumamnya sendiri seraya ia menatap sedikit kesal wanita tersebut, dan akhirnya, ia hanya bisa menghembuskan napasnya berat.


********


"Momi...." Sontak lukas berlari kedalam pelukan ibunya, ketika Caroline baru saja tiba dihadapannya.


"Sayang, apa yang terjadi denganmu.?" Tanya Caroline dengan ekspresi penuh rasa hawatirnya, ketika ia menyadari raut wajah anaknya seperti habis menangis.

__ADS_1


Ia langsung menatap andrew dengan tajam dan sangat galak, penuh aura permusuhan.


"A-aku tidak melakukan apapun, percayalah! Lukas bilang dia tidak ingin ib---"


"Ayah bilang akan menjadikan aku sebagai, aku tidak tahu sebagai apa, aku takut Momi, bagaimana kalau ayah menjualku.?" Potong lukas seketika ucapan ayahnya, sehingga perkataan Andrew hanya tergantung diujung bibirnya.


"Bocah nakal, mana mungkin aku melakukan hal itu, ibumu bisa membunuhku sebanyak 10 kehidupan kalau aku tega berbuat seperti itu." Bantah Andrew dengan tegas, tersirat sedikit rasa hawatir darinya.


Kalau ia tidak membantah ucapan anaknya, Caroline akan benar-benar semakin membenci dirinya.


"Kalau begitu, lalu ayah akan menjadikan aku sebagai apa.?" Tegas Lukas masih sengaja bertanya akan hal tersebut.


"Aku, aku hanya... kau sudah salah dengar Lukas." Ujarnya kembali membantah, bagaimana mungkin ia akan mengatakan rencananya sendiri, terurama tepat dihadapan Caroline.


"Baik, Momi, bawa aku pergi dari sini, bawa aku menemui papih, dia pasti akan menjaga kita dengan baik, tidak seperti ayah yang busuk ini." Pekik Lukas dengan tegas, dan terlihat rasa kesalnya yang dalam.


"Papih? pria bernama Hellio itu? dia tidak pantas untuk menjadi calon suami ibumu.!" Tegasnya menjawab tanpa berfikir bahwa yang ia hadapi adalah seorang anak kecil.


"Aku segalanya lebih baik dari pria itu, tentu saja aku lebih pantas dengan ibumu, apa kau dengar itu, bocah nak---" Andrew seketika terdiam, ketika ia menyadari apa yang telah ia ucapkan.


Sial, ternyata dia bisa masuk dalam sebuah jebakan rencana seorang anak kecil, ia memejamkan jengah matanya, seraya ia menggertakan giginya, dan sesaat kemudian, ia mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Ia langsung menatap tajam kearah anaknya dengan tatapan tidak percayanya, seraya ia menghembuskan napas berat. "Kamu, apa sekarang kamu puas.?" Ujarnya seraya mengacak-ngacak rambut anaknya lembut.


Ia benar-benar merasa telah dikalahkan, bahkan tanpa sadar ia bisa masuk dalam jebakan anaknya sendiri, Lukas hanya mengangkat ujung alisnya dan menggerakan kedua bahunya, menyiratkan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


Sementara Caroline yang saat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, seraya menghela napas berat, kedua orang yang saat ini tengah bertikai kecil, membuatnya sedikit sakit kepala, sikap dan sifat mereka sangat sama persis, sementara Andrew yang masih saling menatap kesal satu sama lain, seketika terdiam dan menunduk, ketika nyonya besarnya menatap tajam mereka berdua.

__ADS_1


Dan pandangan semua orang saat itu sadar seketika, bahwa sosok wanita cantik itulah yang bisa mengendalikan seorang Andrew, yang sangat sombong arogan dan juga keras kepala itu.


"Benar-benar sebuah ikatan ayah dan anak." Ujarnya seraya ia menghampiri kearah kedua orang tuanya Andrew.


"Selamat malam, tuan, nyonya, maaf kalau perlakuan lukas membuat anda berdua tidak nyaman." Ucapnya membungkuk hormat, dengan nada suaranya yang sopan.


"Tidak apa-apa nak, kami senang bahwa rumah ini sangat ramai, biasanya suasana disini sangat sepi, apalagi andrew bocah kurang ajar itu jarang sekali pulang." Sahut ibunya andrew dengan sopan seraya ia bangkit dari tempat duduknya, mengelus lembut pundak tangan Caroline, dan sedetik kemudian wanita itu memeluk sosok Caroline dengan erat.


Mata Caroline seketika membulat tidak percaya, ibunya ini sangat sopan dan juga begitu ramah, sangat berbeda sekali dengan anak laki-lakinya yang brengsek itu.


Seketika pandangan Caroline teralihkan kepada sosok wanita lain yang tengah menatapnya dengan ekspresi bermusuhan.


Ia bisa menebak dan mengira-ngira dengan jelas, siapa wanita tersebut, ia balik menatapnya tajam seraya ia tersenyum tipis dengan lembut, namun tatapan mata tajamnya, penuh rasa intimidasi yang sangat kuat.


Wanita itu mengerutkan dahinya geram, apalagi saat itu ia melihat, bahwa ibunya Andrew seperti sangat menyukai sosok wanita yang tengah berada dalam pelukannya.


"Nyonya, apakah anda baik-baik saja.?" Ujarnya bertanya seraya mengelus lembut pundak wanita tua itu.


"Nak, kamu pasti sangat menderita selama ini.?" Tugasnya bertanya seraya ia melepaskan pelukannya, dan menatap lembut wajah Caroline.


"Tentu saja tidak, saya justru sangat bersukur dengan semua yang telah terjadi dalam hidup saya, semua itu banyak memberikan saya pembelajaran yang berharga, dan menjadikan pribadi saya menjadi lebih baik lagi seperti saat ini." Sahutnya menjawab dengan lembut dan sopan seraya menepuk lembut lengan milik wanita tua itu.


"Nak, waktu sudah sangat malam, kamu menginaplah disini, besok baru kembali.!" Ujarnya membelai wajah Caroline dengan lembut.


"Tidak perlu merepotkan anda nyonya, saya rasa itu tidak akan nyaman." Ujarnya melirik kearah Andrew dengan ujung matanya.


"Nak, kalau bocah tengik itu melakukan sesuatu kepadamu, apalagi memaksamu, bilang saja, akan ibu patahkan alat prianya, agar dia bisa mengendalikan dirinya sendiri."

__ADS_1


"Ibu? kondisi apa ini.?"


Bersambung....


__ADS_2