
Caroline yang tengah bekerja di kantornya, mendapatkan kabar bahwa Luxi akan datang ke dalam Negeri. Dia meneteskan air matanya karena bahagia. 'Akhirnya penantian lamaku akan segera terwujud. Terimakasih tuhan' Caroline menatap lekat poto yang ada di dalam dompetnya. Ke dua anaknya yang dulu masih belita, kini tumbuh menjadi anak yang sangat luar biasa.
Lucas yang memiliki keahlian seni bela diri tinggi, dan Luxi yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sebuah kejadian buruk yang menjadi berkah kepada Luxi.
Tidak ingin menarik perhatian orang lain, Caroline hanya bisa menunggu dengan cemas, seperti yang sudah di perintahkan oleh kakeknya.
"Datanglah kemari, kami sudah sampai." Kakek Caroline mengirimkannya pesan singkat, beserta sebuah alamat tertera di bawahnya.
"Baik, Kakek."
Caroline segera bergegas pergi meninggalkan kantornya, terlebih dulu dia akan pergi untuk menjemput Lucas.
"Aku titip kantor sebentar kepadamu!" ujar Caroline kepada sekretarisnya.
"Baik, Nona."
***
Di tempat sekolahnya Lucas, Caroline mendatangi kantor kepala sekolah, dengan mengenakan masker, supaya tidak ada yang mengenali dirinya.
Di dalam ruangan pribadi kepala sekolah, Caroline duduk menunggu, di temani oleh pengawal pribadi yang di tugaskan langsung oleh kakeknya.
"Maaf menunggu lama," ujar kepala sekolah, yang sudah tiba di ruangan itu.
Caroline bangkit dari duduknya, membuka masker yang menutupi wajahnya dan mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Perkenalkan saya Renata. Ibunya Lucas," ujar Caroline tersenyum ramah.
Pak kepala sekolah membalas jabatan tangan Caroline seraya mengangguk kecil. "Saya kepala sekolah di sini. Silahkan duduk!"
"Terimakasih." Caroline kembali duduk di kursi dengan tenang.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah tersebut.
"Saya minta maaf jika telah mengganggu waktu luang anda. Ada urusan mendadak di keluarga, yang mengharuskan Lucas untuk hadir," tutur Caroline menjelaskan.
Pak kepala sekolah menatap dalam wajah Caroline, dia tahu siapa wanita yang berada di hadapannya saat ini. Seorang wanita muda yang belum lama ini, menarik perhatian jagat Raya. Dia kembali ke dalam Negeri, membangun sebuah perusahaan, dan berhasil melambungkan namanya dalam dunia bisnis tanah air.
"Saya mengerti." Pak kepala sekolah melirik kepada asistennya, supaya dia memanggil Lucas ke dalam ruangan tersebut.
Asistennya mengangguk, tanda mengerti. Dia berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Beberapa saat berlalu, Lucas dan asisten kepala sekolah tiba, memasuki ruangan pribadi itu.
Lucas menatap tajam wajah Caroline, tanpa berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
"Anak baik ... duduklah!" ujar kepala sekolah mempersilahkan Lucas duduk di samping Caroline.
Lucas mengangguk, ia duduk seperti yang sudah di katakan kepala sekolah. Lucas melirik ke arah wajah ibunya.
"Ada apa momi kemari?" tanya Lucas sedikit bergumam.
Caroline tersenyum lembut, seraya mengelus ujung kepala atas anaknya. "Kita harus pulang, Kakek sudah tiba," ujarnya menjawab.
"Benarkah?"
Mata Lucas berbinar-binar, dia memang sudah lama tidak bertemu dengan kakeknya, terutama sang kakak, yang tidak lain adalah saudara kembarnya.
"Tentu saja, karena itu momi datang menjemputmu," jawab Caroline seraya tersenyum lembut.
Lucas menatap wajah ibunya, dia dapat melihat kebahagiaan terpancar jelas dari ke dua bola matanya. Lucas membalas senyuman ibunya seraya mengangguk.
"Maap merepotkan anda, Pak. Mungkin dalam beberapa hari ini, Lucas tidak dapat menghadiri sekolahnya," ujar Caroline menjelaskan, seraya melemparkan tatapan matanya, ke arah pak sekolah.
"Tidak apa-apa, lagipula ini adalah urusan keluarga," jawab kepala sekolah.
Caroline bangkit dari duduknya, "Kalau begitu kami permisi. Maap merepotkan."
Caroline mebungkukkan sedikit badannya hormat dengan sopan, diikuti oleh Lucas seperti yang ibunya lakukan.
"Mari ... saya antar sampai ke depan." Kepala sekolah bangkit dari duduknya, dan mempersilahkan Caroline dan Lucas.
***
Dia adalah Roki, yang sudah di tugaskan oleh Andrew untuk selalu menjaga anaknya dari kejauhan.
***
Ketika Andrew tengah di sibukan dengan urusan kantornya, saat ini dia tengah mengadakan rapat. Ponsel di depannya bergetar.
"Tuan, sepertinya calon istri masa depan anda akan membawa lari anak anda." Roki mengirim pesan dengan sedikit ejekan kepada atasanya. Di sertai sebuah poto tertera di bawahnya.
Andrew membaca pesannya seraya mengerutkan dahinya. "Bekerja yang baik! Kurangi omonganmu yang melantur, atau aku akan melemparmu kepada orang itu!" balas Andrew sedikit mengancam.
"Huh dasar bos yang tidak asik," grutu Roki membalas pesan Andrew.
"Cepat bekerja dengan benar!" titah Andrew kepadanya.
"Saya tahu."
Roki menutup ponselnya, dia mulai mengikuti mobil milik Caroline dari ke jauhan.
***
__ADS_1
Roki mengernyit, mengerutkan dahinya hingga ke dua alisnya hampir bertemu satu sama lain.
'Bukankah ini arah menuju ke diaman keluarga Alexander' ujar Roki dalam batinnya.
Grand city adalah tempat kelas atas yang sedikit tersembunyi, namun memiliki sistem keamanan yang sangat tinggi, hanya orang-orang dengan kekuasaan besar yang bisa tinggal di tempat tersebut. Hanya ada beberapa keluarga besar yang bisa menempati kawasan tersebut.
Setelah mobil Caroline memasuki bagian terdalam tempat Grand city, Roki tidak bisa lagi mengikutinya, karena setiap penjuru tempat itu, di tempati oleh masing-masing keluarga besar, dan hanya mereka yang memiliki akses yang bisa masuk.
Roki menarik napas panjang, dia segera menelepon Andrew untuk melaporkannya.
"Tuan, mereka masuk Grand city ... saya tidak bisa mengikuti mereka lagi," ujar Roki melapor.
"Grand city?" tanya Andrew memastikan.
"Benar. Bagian terdalam Grand city sebelah utara. Jika saya menerobos, mungkin saya akan mati," tuturnya.
"Aku mengerti."
Andrew menutup panggilan teleponnya, dia sedikit termenung penuh tanya.
"Liam, menurutmu apa yang di lakukan Caroline
di Grand city" ujarnya bertanya, seraya melirik ke arah Liam.
"Mungkinkah dia menemui seseorang," jawab Roki sedikit ragu.
Andrew kembali termenung sesaat. Selama ini Caroline tidak pernah melakukan sesuatu yang lepas dari pengawasannya. Wanita itu tidak pernah berhubungan dengan Grand city.
Andrew menarik napas berat. "Sudahlah, aku akan memeriksanya sendiri, lagipula itu akan sedikit menghemat waktu untuk bertemu dengannya." Andrew kembali melirik ke arah Liam, seraya mengangkat sebelah alisnya.
Liam hanya mengangguk pelan, tanpa mengatakan apapun.
***
Caroline dan Lucas yang telah sampai di kediaman tersebut, memasuki sebuah panthouse yang cukup mewah, yang membuat Caroline kagum, adalah sistem keamanannya yang sangat tinggi. 'Wow ... inikah Grand city? Bukan masalah mewahnya, melainkan keamanannya. Pencuri kecil bisa mati, meski baru memasuki halaman depan saja' batin Caroline terkagum-kagum.
Dulu dia memang pernah datang ke tempat ini, tapi waktu itu, keamanan di tempat ini biasa saja. Itu tandanya namanya sudah terdapat? Caroline sedikit termenung penuh tanya.
Mungkinkah keamanan panthouse ini lebih tinggi dari milik keluarga Andrew, yang tidak lain bagian selatan dari Grand city, yang di tempati oleh keluarga Alexander.
"Momi ...." Luxi berlari menghampiri ibunya, melemparkan dirinya ke dalam pelukan Caroline.
Seketika pikiran Caroline kembali sadar. Dia segera memeluk erat tubuh sedikit kurus anaknya.
"Sayang, momi sangat merindukan kamu," ujar Caroline meneteskan air matanya.
Di belakang. Kakeknya, Lucas, dan beberapa pengawal pribadi terdiam dengan raut wajah sedih. Tidak di sangka, hal ini bisa mereka melihat, setelah begitu lama berperang melawan racun ganas yang memasuki tubuh Luxi.
__ADS_1
"Anakku, anak momi yang kuat dan tegar, kita akhirnya bisa bersama."
Caroline tak kuasa menahan air matanya, dia semakin erat memeluk tubuh putranya.