Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 75- Luluh


__ADS_3

Caroline yang di tinggalkan oleh kedua orang putranya, dia tertegun merasa canggung. Degupan jantung yang tak henti-hentinya, membuat wajah Caroline sedikit merah padam.


"Kita bisa bicarakan baik-baik," ujar Caroline dengan kikuk.


Andrew menyeringai seraya menatap Caroline dengan tajam. Namun sorot matanya terlihat hangat. Tidak seperti sorot mata Andrew yang pertama kali Caroline lihat.


"Ouw ... bagaimana caranya?" tanya Andrew tanpa beranjak pergi dari atas tubuh Caroline.


Caroline dengan ragu kembali mengarahkan pandangan ke wajah Andrew. Wajah tampan dan rahang yang tegas, alis hitam sedikit tebal, bola mata hitam yang tengah menatapnya tajam. Membuat Caroline semakin tak jelas rasanya.


"K-kamu beranjak terlebih dulu," pintanya masih berbicara gagap, karena canggung.


Tidak tahu apa yang terjadi terhadap dirinya, pikiran Caroline akhir-akhir ini selalu bemonolog dengan malam panas yang dahulu terjadi antara dirinya dan Andrew. Bayangan keganasan Andrew, seolah-olah menari di pelupuk matanya. Hal itu membuat Caroline kehilangan kendali atas dirinya. Tak ayal dia sering mengutuk pikirannya yang semakin kotor.


"Kenapa? Seperti ini lebih praktis," jawab Andrew menyiratkan hal lain.


"Aku bilang, kamu beranjak dulu dari atas tubuhku," ujarnya mendorong kecil dada bidang Andrew.


Andrew mengerutkan kening, "Apakah seperti ini termasuk berada di atas tubuhmu," ujarnya seraya menaikan sebelah alisnya.


Deg!


'Sial, susah sekali menang jika berdebat dengannya' batinnya sedikit mengeluh.


"Bisakah kau berhenti bersikap tidak tahu malu?" cibir Caroline melemparkan tatapan matanya ke samping.


Ekspresi kikuk dan canggung itu, wajah merah padam dari Caroline, membuat Andrew sedikit terkekeh. Andrew membelai lembut sebelah pipinya.


"Baiklah, bagaimana caranya kita bicara baik-baik, menurut kamu?" tanya Andrew seraya beranjak dan duduk di samping Caroline.


Caroline mengerutkan dahi sedikit bingung. 'Tumben sekali dia jadi penurut seperti ini?' pikirnya sedikit merasa aneh.


"A-aku akan mentraktir kamu nanti," ujar Caroline seraya membenarkan rambutnya ke belakang telinga.


Andrew menatapnya dengan lembut, dia tersenyum tipis. Hal kecil seperti itu saja sudah membuatnya merasa begitu bahagia.


"Oke. Tapi kamu harus ingat sayangku, yang akan kamu traktir adalah seorang presdir terkaya di negara ini. Kamu harus mentraktir makan yang belum aku cicipi. Bagaimana?" tuturnya dengan nada suara lembut.


"Cih, dasar tukang sombong." Caroline memutar ke dua bola mata, mengerucutkan ujung bibirnya, seraya melingkarkan ke dua tangannya di depan.


Andrew mengelus lembut ujung rambut kepala Caroline. "Kalau begitu katakan, apakah dia itu laki-laki atau perempuan?" tanya Andrew kembali ke pembahasan awal.

__ADS_1


"Dia Hellio," jawabnya menyeringai kecil.


Rahang Andrew langsung mengeras, matanya menatap tajam, dahi mengerut hingga ke dua alisnya hampir bertemu satu sama lain.


"Aku akan ikut!" tegasnya dengan wajah dingin.


"Duh ... sepertinya itu tidak bisa, presdir Andrew yang terhormat," jawab Caroline dengan wajah santai.


Andrew langsung menarik tubuh Caroline dengan cepat, hingga tubuh Caroline berada di atas tubuhnya.


"Kau, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" ujarnya sedikit meronta. Ketika Andrew melingkarkan sebelah lengannya yang kekar di pinggang ramping Caroline.


"Isshhh ...."


Andrew sedikit meringis, sesuatu yang ada di bawah sana ... tepatnya di balik celana, tergesek-gesek beberapa kali, karena Caroline meronta berusaha melepaskan diri.


"Lepaskan aku, Andrew!" pintanya lagi.


"Jangan bergerak lagi! Jika kamu tidak ingin bertanggung jawab kepada adik kecilku."


Deg!


Spontan Caroline terdiam tanpa bergerak. Dia menatap Andrew yang wajahnya sedikit merona.


Caroline menelan salivanya sendiri, batang itu terasa begitu keras, panjang dan kekar ... meski terhalang celana pria itu, dan kain dari dress miliknya.


Caroline menunduk sedikit malu, dengan pikiran liarnya yang kembali. "Temanku adalah seorang perempuan," ujarnya. Caroline kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Andrew.


Andrew menarik dan menghembuskan napasnya panjang. Dia mencoba mengendalikan bawahannya yang telah lama berpuasa. Rasa kemarau panjang karena menunggu Caroline, membuatnya sedikit sulit meredam keinginan lelakinya.


"Baiklah. Apa perlu di temani pengawal?" ujarnya seraya mengelus belakang kepala Caroline.


"Tidak perlu. Lagi pula tidak akan ada yang bisa menindasku kali ini," ujarnya.


Andrew terdiam sejenak. "Maap, dulu aku juga salah satu orang yang menindasmu. Maapkan aku," ujar Andrew sedikit lirih.


Caroline terdiam sesaat dengan perkataan Andrew yang terdengar berat. Bukan hanya dirinya yang kadang di bayangi cerita masa lalu, bahkan Andrew juga sama. Dia sering terlihat begitu menyesal dengan apa yang telah dia lakukan kepada Caroline.


"Tidak apa-apa ... jika kamu tidak menindasku, bukankah aku tidak akan memiliki Lucas dan Luxi," ujarnya berusaha sedikit menekan rasa bersalah Andrew.


Andrew sedikit terperangah. Dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Caroline saat ini.

__ADS_1


"Kamu benar-benar berpikir begitu?" tanya Andrew memastikan.


"Iya. Hanya saja, ada beberapa hal yang tidak bisa aku lepaskan sampai saat ini," tutur Caroline sedikit sendu.


Andrew tahu apa yang di maksud Caroline. Kematian ibunya, merupakan hal terjerat yang bisa dia terima.


"Aku akan membantu membalaskan dendam kamu." Andrew berkata dengan suara tegas. Hatinya merasa teriris sakit, ketika perasaan Caroline tengah merasa sakit.


Caroline terluka, hati Andrew juga merasa perih karena luka. Dia tidak tahan melihat Caroline yang menderita. Terlebih wanita itu telah menjalani hidup yang kelam dan pahit di masa lalu bersama anak-anaknya.


"Terimakasih," ujarnya tidak menolak.


Andrew melepaskan lingkar lengannya, dan membenarkan kembali tubuh Caroline dengan lembut.


"Baiklah, kapan kamu akan pergi?" tanya Andrew dengan lembut.


"Aku akan pergi sekarang, bolehkah?" ujarnya terlintas meminta ijin.


Andrew tersenyum tipis, dia mengelus rambut ujung kepalanya. "Hati-hati. Kamu harus tetap waspada, oke!" ujar Andrew lembut, namun juga tegas karena khawatir.


Caroline mengangguk. "Aku mengerti."


Caroline bangkit dan membenarkan dressnya. dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, mencoba untuk bertanya, apakah Joel telah tiba di tempat perjanjian mereka yang sudah di sepakati.


Tut ... tut ... tut ....


["Iya, sayangku."] Joel menjawab telepon.


["Kamu sudah sampai?"] tanya Caroline seraya kembali duduk di samping Andrew.


["Sebentar lagi aku sampai. Cepatlah sayang! Ingat ... kau harus tetap berhati-hati!"] pinta Joel di tempat yang jauh.


["Aku mengerti. Aku akan berangkat sekarang."] Caroline langsung mematikan sambungan telepon.


Caroline merasakan punggungnya sedikit dingin. 'Aura dingin yang mencekam ini?'


Caroline menoleh ke samping, dia sedikit tersentak kaget, ketika Andrew menatapnya dengan tajam, sorot mata tidak senang terlihat jelas dari wajahnya.


"A ada apa? Apa yang salah?" tanya Caroline sedikit gagap.


"Kamu bilang dia seorang perempuan?" tanya balik Andrew dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Iya, dia memang perempuan. Ada apa?" ujar Caroline sedikit bingung.


__ADS_2