Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 46: Menginap


__ADS_3

Setelah mereka menghabiskan waktu cukup lama dengan bermain game bersama, Lukas terlihat seperti kelelahan, ia beberapa kali menguap, tanpa ragu, ia baringan dipangkuan ayahnya


"Ayah, kamu akan menemaniku tidur bukan.?"


Lukas menengadah, menatap dalam wajah ayahnya dan juga ibunya, ia merasa bukan hal yang buruk memiliki seorang ayah, apalagi kalau kedua orang tuanya bisa bersama kembali, hal yang paling seorang anak harapkan.


Caroline hanya terdiam tanpa menjawab, ia sesekali menatap wajah Andrew dengan ragu. Disatu sisi, ia teringat betapa liarnya Andrew saat itu, tapi disisi lain, beberapa hari kebelakang, rasanya sipat dan sikap lelaki itu tidak terlalu begitu menakutkan.


Lelaki itu terlihat seperti bukan dirinya yang dulu ada dalam benaknya.


"Lukas, besok ayah sibuk di kantor, mungin malam ini tidak bisa."


Sesekali ia melirik wajah Caroline ragu, ia tahu, wanita itu tidak akan pernah mengijinkan dirinya terlalu lama berada dirumahnya, walau batin masih ingin berada didekat mereka berdua, tapi mungkin berbeda dengan wanita itu.


"Ayah, apa kamu takut sama Momi? dia tidak akan marah, benarkan Momi.?"


Dengan ekspresi penuh harap, ia menatap wajah ibunya dalam, ia seperti memohon agar ayahnya diijinkan untuk menginap.


"Hah... tentu saja sayang, kalau begitu kalian berdua istirahat! ini sudah malam."


Tidak tau harus berkata apa lagi, ia hanya bisa pasrah dengan permintaan anaknya, bangkit dari tempat duduk, dan ia langsung menuju kelantai atas, meninggalkan mereka berdua yang masih dilantai 1.


Andrew hanya terdiam, menatap tajam belakang Caroline yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Ayah, ayo ikut aku ke kamar! jangan berfikir yang tidak-tidak, kau harus mengikuti arusnya! kalau kau memang ingin Momi kembali kepadamu."


Menatap ayahnya dengan ekspresi wajah serius dan sebuah peringatan, ia perlahan bangkit dan berjalan untuk menuju ke kamarnya.


"Ayah ayo! kenapa kau diam saja.?"


Melihat Andrew yang masih tidak beranjak, ia kembali menghampiri, meraih tangannya, dan menarik Andrew agar mengikuti ke lantai atas.


"Lukas, apa kamu ingin ayah dan ibumu bersama.?"


Setelah tiba dikamar milik anaknya, ia duduk di kasur, menatap dalam wajah anaknya dengan ragu.


"Bukankah ayah juga menginginkan itu."


Tanpa menjawab, ia melempar balik pertanyaan kepada ayahnya dengan santai.


"Baiklah, kau benar, tapi ibumu sangat tidak menyukai aku sekarang, bagaimana aku harus memulai."


Saat itu, ekspresinya terlihat sedikit frustasi, ia tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apalagi, fakta bahwa ia telah mencoba, namun Caroline mengabaikan, dan ia seperti tidak ingin membahas cerita lalu diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Ayah, untuk apa kau punya wajah tampan, kalau tidak berguna sama sekali."


Ia benar-benar tidak menyangka, bukankah ayahnya adalah sosok pria yang sangat dominan, lalu apa yang ada dihadapannya, bahkan ia menyerah sebelum peperangan.


Dimana sosok seorang Andrew yang sangat percaya diri, sombong, arogan, dan juga kejam itu, apakah semua berita itu palsu.


Lukas tidak habis pikir, justru yang ia lihat sekarang, bukanlah sosok pria yang mendominasi, melainkan tidak lebih seperti seekor anak doggy yang tengah terluka.


"Hah... kau ini, memujiku atau sedang menghina ayahmu sendiri.?"


Helaan napas berat miliknya, menandakan bahwa ia tidak punya cara untuk meluluhkan hati wanita itu. Meski memiliki wajah yang tampan, seperti itu tidak berguna sama sekali.


"Aku punya ide, lebih baik ayah bekerja sama denganku."


Ekspresi penuh semangat dan sangat yakin, tergambar seketika dari raut wajahnya.


"Rencana? rencana apa.?"


Perasaannya sedikit tidak enak, bagaimana jika rencana yang disarankan anaknya, adalah sebuah hal yang konyol, dan justru membuat dirinya yang sebagai orang dewasa terlihat aneh, bagaimanapun dia hanyalah anak kecil.


"Ayah pura-pura terluka saja, lalu aku akan minta Momi untuk mengurus ayah, bukannya dirumah ayah tidak ada siapa-siapa."


Ujarnya dengan wajah serius.


Sahutnya seraya menggelengkan kepalanya, benar saja, bagaimanapun dia tetaplah seorang bocah.


Lukas sesaat terdiam ia mengerucutkan bibirnya berfikir sangat dalam, benar juga, ayahnya adalah orang paling kaya, tentu saja kalau dia terluka harus pergi ke rumah sakit, atau sebaliknya, dia bisa saja mendatangkan dokter-dokter hebat kerumah miliknya.


"AH... kenapa otak aku jadi tertular lemot seperti ayah."


Ujarnya seraya ia menenggelamkan wajah ke bantal.


"Apa kamu bilang, ayah lemot, katakan sekali lagi.!"


Seketika ia menggelitik tubuh anaknya.


"Haa... ha... haa... hentikan! geli, cukup! aku tidak mengatakan apapun."


Ujarnya seraya ia tertawa terbahak-bahak, ia memang bukanlah anak yang kuat dengan klitikan, tidak jauh berbeda dengan Andrew saat masih kecil.


"Aku mendengarnya, ayo katakan tadi kamu bilang apa.?"


Ujar Andrew yang masih menggelitik anaknya.

__ADS_1


"Tidak, tidak, ayah hentikan! aku tidak kuat."


Ceklek....


Seketika mereka berdua langsung terdiam secara bersamaan, ketika mendengar suara pintu kamar terbuka, Lukas dan Andrew menatap dengan rasa bersalah, terutama Lukas ia tahu seharusnya sudah waktu baginya untuk tidur, sementara Andrew hanya mengeluarkan deham kecilnya, ketika ia melihat wanita itu membawakan dua gelas susu, dan juga sebuah pakaian tidur.


"Kenapa kalian berdua ribut sekali.?"


Dengan ekspresi tatapan yang dingin, ia berjalan memasuki kamar anaknya, ia menyimpan kedua susu tepat di atas meja.


"Tidak Momi, ayah hanya menceritakan sedikit dongeng yang lucu."


Sahutnya menjawab dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.


Dongeng? tidak mungkin, sosok pria dihadapannya bukanlah pria yang akan tau cerita dongen kecil anak-anak, apalagi sampai membuat Lukas tertawa lepas seperti itu. Namun ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu, jadi cukup membiarkan kedua orang itu dengan dunia mereka.


"Lukas, cuci tangan! cuci kaki! minum susu! lalu pergi tidur.!"


Tegas Caroline menatapnya tajam.


"Baik Momi."


Lukas segera turun dari atas kasur, berjalan kecil menuju kamar mandi, seperti yang diperintahkan ibunya.


"Disini tidak ada baju pria, hanya baju tidur ini yang belum pernah aku pakai."


Caroline memberikan satu set baju tidur baru berwarna dongker, yang bermotif bunga-bunga. Sementara Andrew hanya menatapnya ragu, terutama melihat motifnya. Bunga? bukankah itu akan terlihat sangat aneh jika ia harus memakai baju tidur seperti itu.


"Kalau tidak mau, tidak perlu pakai."


Menyadari ekspresi Andrew yang terlihat ragu, ia mencoba untuk mengambilnya kembali, namun ia langsung menahannya.


"Barang yang sudah diberikan, tidak boleh diambil kembali.!" Tegasnya seraya menatap tajam wajah Caroline.


"Baiklah, terserah kau saja, ingat! Lukas besok harus pergi sekolah, jangan kau ajari dia hal yang buruk.!"


Setelah mengingatkan Andrew, tanpa ingin berlama-lama lagi, ia segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Caroline, susunya.?"


Nada suaranya yang setengah berteriak, ia bertanya seraya menunjuk satu gelas susu yang berada di atas meja.


"Untukmu."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2