
"Apakah didalam hatimu, kau sedang memaki aku...?"
Ujar Andrew berkata, seperti ia tahu apa yang tengah diucapkan dalam hati wanita itu.
"Kau akan tahu nanti, seperti apa orang mesum yang sesungguhnya itu...!"
Tegas andrew dengan seringai licik, yang terlihat sangat jelas dari dibibirnya.
Degh....
Sontak Caroline menatap tajam pria tersebut, seraya ia mengerutkan dahinya, dengan ekspresi kesalnya, dia bahkan tidak malu mengatakan hal konyol dihadapan anak kecil, benar-benar pria yang sangat tidak tahu malu.
Ia hanya terdiam, karena menahan rasa kesalnya, dan hanya mendengus kecil dengan geram. "Cih...."
"Apa kalian berdua sudah selesai membahas hal dewasanya, ingatlah disini ada anak kecil...!"
Ujar Lukas berkata, seraya ia menggelengkan kepalanya, serta menarik napas panjang.
"Maaf, aku tidak bermaksud berkata seperti itu dihadapan kamu...."
Sahut Andrew yang sedikit mengerti, benar juga, disini masih ada anak kecil, ia memang tidak pantas untuk mendengarkan hal dewasa, terutama hal itu akan membawa dampak buruk baginya.
"Sudahlah, karna kamu berinisiatif untuk meminta maaf terlebih dahulu, kali ini aku akan melupakannya, tapi sebelum itu, sebaiknya kamu melepaskan tanganmu dariku...!"
Ujar lukas dengan tegas, seraya ia menatap tajam, kearah dimana lengannya yang sedari tadi telah digenggam erat, oleh laki-laki yang tengah berada dihadapannya.
Andrew hanya bisa pasrah, dan segera melepaskan genggamannya dari lengan kecil milik anaknya.
"Baiklah, ayo kita pergi...!" Ujar andrew tegas seraya ia bangkit dari tempat duduknya, seraya merapihkan jas miliknya.
Lukas seketika menatap tajam pria itu, dan segera menatap kearah dimana Mominya berada.
Menyadari ekspresi putranya yang tengah meminta penjelasan darinya, dan bertanya akan pergi kemana, Caroline hanya bisa menghela napas dalam pasrah, tanpa menjawab apapun.
"*Aih... aku tidak ada cara lain lagi, untuk menolak permintaan pria itu*...."
Ucapnya dalam hati seraya ia bangkit dari tempat duduknya.
"Sayangku, putra Momi yang tampan, kemarilah...!"
Ujar Caroline kepada Lukas, agar ia berada didekatnya, dan tidak berada jauh dari jangkauannya.
__ADS_1
"Baik Momi...."
Seraya anak laki-laki itu segera menghampiri Mominya dengan patuh.
"*Cih, bocah nakal, ekspresi kamu sangat menunjukan sikap bermusuhan denganku, sedangkan kepada Momi kamu, langsung bersikap seperti seekor anak kucing yang polos*...."
Ucap Andrew dalam hatinya seraya menghela napas panjang, menyadari cepat sekali anak itu mengubah sikap dan ekspresi dirinya dalam sekejap.
"Aku dan putraku akan memakai mobil sendiri...."
Ujar Caroline yang tidak ingin berada dalam satu mobil yang sama dengan pria gila itu, apalagi harus berdekatan dengan pria tersebut.
"Pakai mobilku, bagaimana jika kau melarikan diri lagi, dan membuat anak itu dalam bahaya, dan melakukan hal konyol seperti waktu itu...!"
Tegas andrew dengan wajah tidak senangnya, ia sengaja sedikit menyinggung soal masalah Caroline yang dulu telah mencoba untuk bunuh diri.
Ia sadar betul, kalau wanita itu tidak mungkin mengatakan dengan jelas kepada putranya sendiri, seperti apa cerita ia dahulu, apalagi mengenai keputusan bodohnya.
Mendengar perkataan pria tersebut, Caroline jelas menyadari apa yang dimaksud oleh pria itu, ia pasti membahas mengenai dirinya yang hampir mati karna mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, bukankah hal seperti itu tidak pantas untuk dikatakan kepada putranya sendiri, apalagi diusianya yang sangat masih kecil, takutnya itu akan berdampak bagi pertumbuhannya, dan akan berfikir yang tidak-tidak, bukankah hal seperti itu akan mempengaruhi pola fikir seorang anak kecil.
Ia hanya bisa terdiam menatap tajam wajah pria licik yang tengah berdiri tegap dihadapannya, sementara pria itu hanya bisa tersenyum tipis dengan seringai licik dibibirnya.
"Hah... baiklah...."
"*Sebenarnya hal apa yang telah terjadi kepada Momi, kenapa ia sangat menutup rapat cerita hidupnya dimasa lalu*...?"
Ucap lukas dalam hatinya seraya tertunduk, tanpa mengatakan apapun lagi.
Mereka semua segera bergegas masuk kedalam mobil milik Andrew, Liam dan Roland saat itu berada dikursi depan, sedangkan Andrew, Caroline dan lukas berada dikursi belakang.
Suasana canggung yang berada didalam mobil tersebut, sangat terasa jelas sekali, Andrew yang menatap keluar kaca mobil hanya bisa terdiam menatap laju jalan yang sedikit padat merayap, sedangkan Caroline, ia juga menatap keluar kaca mobil disampingnya, seraya memeluk erat tubuh putranya.
Liam yang saat itu tengah fokus pada kemudinya, sesekali ia melirik Roland yang berada disampingnya dengan ujung matanya, sementara Roland hanya terdiam seraya menutup matanya, dan menyandarkan tubuhnya dikursi mobil, ia menyadari suasana canggung yang berada dibelakangnya, walau tidak melihat kepada ketiga orang itu.
******
******
Rumah sakit.
Ketika mereka telah sampai disebuah rumah sakit mewah yang ternama dimana negara itu, Lukas mengerutkan dahinya, melirik kearah Andrew dan Caroline, yang saat itu mereka sama-sama berjalan tepat disampingnya, diikuti kedua bawahannya dibelakang.
__ADS_1
"*Rumah sakit? apakah laki-laki ini akan melakukan tes DNA untukku*...?"
Ucap lukas bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kamu sudah datang...?"
Tanya pemimpin rumah sakit tersebut, seraya ia menyambut mereka dengan sangat sopan, yang tidak lain, dokter itu adalah salah satu sahabat dekat Andrew, yang sudah lama menjalin hubungan baik dengan keluarganya sedari kecil.
"Iya...."
Sahut Andrew yang seperti biasa dengan ekspresi dinginnya.
Dokter itu seketika menatap tajam anak kecil yang tepat berada disampingnya, ia seketika tercengang tidak percaya, betapa mirip sekali kedua orang tersebut, bahkan tanpa melakukan tes DNA juga, ia sangat yakin, bahwa anak itu adalah anak dari sahabatnya.
Dan ketika ia tahu sedikit, cerita seperti apa diantara Andrew dan Caroline, bukankah hal itu sudah sangat bisa dipastikan, bahkan orang awam sekalipun, ketika melihat wajah yang sama persis itu, seperti pindang dibela dua, mereka pasti akan tahu, kalau hubungan mereka adalah ayah dan anak.
"Bukankah dia sangat terlihat seperti kau sewaktu kecil...?"
Sontak ia tiba-tiba berkata, melihat pemandangan itu ia sangat merasa senang, bahwa sahabatnya yang sangat pemilih itu, akhirnya seperti pria normal pada umumnya, itu artinya, bagian penting dalam diri sahabatnya sangat berfungsi dengan baik.
"Akhirnya aku memiliki keponakan, kalau ada yang bilang dia bukanlah anakmu, maka aku akan menendang orang itu hingga keluar dari planet bumi...."
Ucapnya seraya tertawa, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Om, aku bukanlah keponakan kamu, jangan menatap aku seperti kamu telah mengenalku! kita hanyalah orang asing...."
Ujar anak laki-laki itu dengan tegas, dengan ekspresi dinginnya.
Mendengar perkataan bocah laki-laki itu, ia sontak mengerutkan dahinya, menatap kearah wajah sahabatnya, dan kembali menatap anak laki-laki itu.
"Om? aku ini masih sangat muda dan juga sangat tampan, jangan memanggilkan dengan sebutan om...!"
Sahutnya menjawab seraya mengacak-ngacak rambut anak laki-laki itu.
"Jangan menyentuhnya...!"
Tegas lukas seraya berusaha menyingkarkan tangan dokter itu, dan merapihkan kembali rambutnya.
"Aishh... hei Andrew, bukan hanya wajahnya yang sama persis denganmu, bahkan sikap dan sifatnya juga sama seperti dirimu...."
"Benar-benar mewarisi darahmu...."
__ADS_1
Bersambung.....