
Mengingat dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, Andrew terdiam duduk di kursi balkon. Berkali-kali dia menarik dan menghembuskan napas beratnya.
"Mungkin seharusnya dulu, aku membersihkan segala kekacauan itu." Gumamnya berat.
Caroline yang saat itu merasa kerongkongannya sangat kering dan begitu merasa kehausan, terlebih tidak bisa tidur, dia keluar dari kamarnya.
Langkah kaki Caroline terhenti, ketika melihat sosok Andrew tengah terdiam dalam kesepian dan keheningan malam, dari kejauhan ekspresi itu terlihat begitu bingung dan gundah. Caroline menyipitkan kedua matanya.
"Ada apa dengannya?" ujar Caroline menggumam.
"Sudahlah."
Caroline tidak ingin memikirkan masalah orang lain, dia melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur.
Ketika Caroline akan kembali ke kamarnya, dan Andrew masih mematung dengan posisi duduknya di tempat semula. Tanpa sadar langkah kaki Caroline berjalan menuju arah pria itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Caroline seraya meletakan segelas air putih yang telah dia bawa.
"Ah ... kenapa kamu belum tidur?" tanya balik Andrew seraya menatapnya.
Caroline menggeser kursi di depan Andrew, dia duduk seraya menghela napas ringan.
"Aku tidak bisa tidur," jawabnya
"Lucas sudah tidur, tadi Liam menemaninya," ucap Andrew sedikit menjelaskan.
"Ya. Lalu apa yang kamu lakukan termenung di sini?" tanya Caroline sedikit penasaran.
Ekspresi Andrew yang saat ini, jelas pertama kalinya dia lihat, biasanya pria itu terlihat begitu santai dengan aura mendominasi, walau wajah dinginnya masih seperti biasa, namun saat ini terlihat menyimpan kegundahan di matanya.
"Hanya sedikit lelah saja," jawab Andrew beralasan.
"Lelah? kalau begitu pergilah istirahat!" seru Caroline tidak ingin ikut campur.
"Caroline, apa kamu tidak memikirkan anak kita?"
Seketika kata-kata tersebut keluar dari mulut Andrew, pria itu menatapnya dengan tatapan rumit. Seolah-olah ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.
"Tentu saja aku memikirkannya, jika bukan karena mereka, apa aku bisa sampai pada titik saat ini?" cetus Caroline sedikit kesal.
Ada apa dengan pertanyaan itu, selama ini, dia mengalami antara hidup dan mati, tentu saja demi anaknya. Apakah di mata Andrew, dirinya hanya mementingkan dirinya sendiri.
Andrew terdiam dengan jawaban Caroline, dia sedikit merasa ada kata-kata yang janggal dari ucapannya.
__ADS_1
Andrew ingin bertanya, namun dia mengurungkan niatnya, dan pertanyaan itu hanya tergantung di tenggorokannya.
"Maaf Caroline, ada beberapa hal yang belum aku tuntaskan. Di acara perjamuan, aku sedikit hilang ketenangan," ujar Andrew merasa bersalah.
"Hah ... maksudnya?"
Caroline sedikit bingung dengan semua kata-kata aneh yang Andrew ucapkan saat ini, ada apa dengan pria ini, tidak seperti biasanya.
"Caroline, aku berjanji akan menjaga kamu, dan anak kita. Aku tidak akan membuat kalian mengalami kesulitan lagi."
Andrew menggenggam erat tangan Caroline yang berada di atas meja, dia mengucapkan sebuah janji, dan kata itu sedikit membuat jantung Caroline berdegup.
Tanpa berniat menjawab, Caroline hanya menatap mata Andrew dengan dalam, dia mencari kebenaran dan fakta, seserius apa dari janji seorang pria yang ada di hadapannya.
"Sudahlah. Aku akan pergi tidur, kamu juga lebih baik beristirahat." Ujar Caroline seraya menarik tangan dari genggaman Andrew.
Melihat ekspresi Andrew saat ini, Caroline sedikit merasa tidak enak hati, dia menepuk lembut pundak Andrew.
"Kita bicarakan nanti, ini sudah larut malam." Sambung Caroline berkata, seraya meninggalkan tempat tersebut.
Andrew terdiam, bibirnya tersenyum tipis. Andrew memegang pundaknya sendiri. Dia jelas merasa sangat bahagia, walau hanya sedikit sikap dari Caroline untuk menenangkan dirinya. Namun itu semua kemajuan, wanita itu berinisiatif bersentuhan dengan dirinya, walau hanya tepukan tipis yang mendarat di pundaknya. Menurut Andrew itu sangat terasa lembut bagi dirinya.
***
Di pagi hari, mata Caroline dan Lucas seketika membelalak, mereka berdua tidak percaya dengan apa yang saat ini mereka lihat.
Lucas dan Caroline saling menatap satu sama lain.
"Momi, cubit tangan Lucas," ujarnya meminta kepada Caroline.
"Benar, kamu juga harus balik mencubit Momi, oke?" sahut Caroline balik meminta kepada Lucas.
"Deal." Sahut Lucas.
Caroline mencubit pangkal lengan anaknya sedikit keras.
"Aw ... sakit," ujar Lucas seraya mengelus bekas cubitan Mominya.
"Aw ... memang sakit,"
Caroline yang sudah mendapatkan cubitan balasan dari Lucas, dia beberapa kali mengelus-ngelus hasil bekas cubitan anaknya.
Kedua orang itu tiba-tiba saling menatap dalam satu sama lain.
__ADS_1
"Bukan mimpi." Ujar Lucas dan Caroline serentak berbicara bersamaan.
Liam yang sudah berada di belakang Caroline dan Lucas, dia hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan antara ibu dan anak itu.
"Kalian sudah bangun. Ayo kemari, aku sudah membuat sarapan untuk kalian," ujar Andrew menatap ke arah Lucas dan Caroline berada.
"Ah ... baiklah." Jawab Caroline sedikit masih tidak percaya.
Andrew berjalan ke arah meja makan, dia menggeser kursi, untuk di gunakan oleh Caroline dan Lucas.
"Daddy, sejak kapan kamu pandai memasak?" tanya Lucas sedikit penasaran.
"Kenapa, apa kamu bangga memiliki Daddy serba bisa sepertiku?"
Andrew dengan sifatnya yang seperti biasa, dia menyombongkan diri di hadapan anaknya.
"Cih ... bangga apanya. Hanya sedikit memiliki wajah tampan, selebihnya mungkin kaya, soal memasak, ini hanya membuat sarapan pagi. Aku juga bisa," Jawab Lucas yang malu untuk mengakui.
"Sedikit wajah tampan ... hei Nak, jika aku tidak tampan, apakah kamu masih memiliki wajah seperti saat ini,"
Andrew yang merasa sedikit tidak terima dengan ucapan anaknya. Jelas sekali wajahnya adalah sebuah kata kesempurnaan. Wajah yang begitu tampan, memiliki tubuh gagah, pandai dalam segala hal, terutama kekayaan yang melimpah.
'Bukankah anaknya harus mengatakan iya Daddy, aku bangga memiliki seorang ayah sepertimu,' pikirnya.
"Aku terlahir tampan, karena Momiku cantik, apa hubungannya dengan Daddy," jawab Lucas yang tidak mau kalah.
"Memangnya yang membuat kamu terlahir kedunia, hanya hasil Momi kamu sendiri, itu karena aku yang bekerja keras," sahut kembali Andrew tidak mau kalah.
"Bekerja keras apanya, jelas Momi yang melahirkan aku," Lucas dengan sikap keras kepalanya yang tidak mau kalah.
"Momi yang melahirkan kamu, tapi aku yang membuatmu, aku bekerja keras dan berkeringat semalaman, apa kamu tahu,"
Perdebatan kecil antara Lucas dan Andrew, membuat Caroline terdiam tidak percaya. Caroline memijat dahinya merasa sangat jengkel dan kesal.
Liam yang saat itu ikut sarapan pagi di meja, hanya mengangkat sebelah alisnya, dia tidak ingin ikut campur dalam perdebatan tersebut, dia hanya berfokus kepada sarapanya.
"Diam."
Caroline sedikit membentak ke dua orang yang sibuk berdebat itu, nada suaranya berat dan tinggi.
"Habiskan sarapan kalian berdua! Atau aku akan melempar kalian ke kandang babi." Tegas Caroline menatap tajam ke arah Andrew dan Lucas.
"Ayah dan anak tidak ada bedanya," ujarnya dalam hati.
__ADS_1
Seketika suasana sarapan pagi hening, semua orang berfokus kepada sarapan di hadapan mereka. Hanya Liam yang berkali-kali melirik tuannya dan tuan mudanya dengan ujung matanya.
Liam berkali-kali meneguk air putih, takutnya dia akan tertawa, terutama melihat ekspresi tuannya saat ini.