
"Apa hanya itu saja tuan muda?" ujar Alice kembali bertanya, seraya berusaha menghilangkan kecanggungan dirinya.
"Ya, momi bilang makananku harus sehat, jadi .... Sayuran saja," sahutnya menjawab dengan ekspresi ramah.
"Baik, kalau begitu saya permisi."
Alice membungkuk sopan kepada Andrew dan Lukas, ia segera bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Kenapa ayah menatapku seperti itu?" ujar Lukas bertanya, saat menyadari ayahnya tengah menatap tajam, dengan seringai tipis dibibirnya.
"Tidak apa-apa, kamu bermain dulu saja, ayah masih banyak pekerjaan," ujarnya.
"Baiklah."
Sahut Lukas dengan santai.
Sementara Andrew berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin, Lukas hanya sibuk dengan bermain game di ponsel miliknya. Ia telah selesai makan siang, mandi, bahkan berganti pakaian, karna memang Liam telah menyiapkan baju baru untuknya, seperti apa yang telah diperintahkan oleh atasannya.
Tiba-tiba ponsel milik Lukas berdering, sebuah panggilan telepon dari ibunya, ia sontak menatap kearah Andrew, ia sadar, kalau dirinya belum meminta ijin kepada ibunya.
"Hallo momi," sahutnya menjawab telepon miliknya.
"Lukas, kamu dimana sekarang?" ujar Caroline bertanya, dengan sedikit hawatir.
Faktanya, Caroline sudah mendapatkan laporan dari Rico, bahwa Lukas telah dijemput oleh Andrew, namun saat ia menghubungi bibi dirumah, mengetahui bahwa anaknya bahkan belum juga tiba, sementara kali ini adalah giliran dimana lukas harus bersamanya.
"Momi, aku ada Di kantor ayah," sahut Lukas menjawab, seraya matanya melirik kearah Andrew.
"Kenapa tidak bilang? apa sekarang kamu sudah lupa dengan apa yang momi ajarkan?" seru Caroline berkata dengan sedikit nada yang meninggi.
Selama ini, ia memang selalu meminta anaknya, apapun, kemanapun ia pergi, hal paling utama adalah meminta ijin terlebih dahulu kepada dirinya, bukan semata-mata ia mengekang putranya sendiri, namun ia terlalu mengkhawatirkan keselamatannya, bagaimanapun, sepintar apa anaknya, dia tetaplah bocah kecil, yang harus ia lindungi sekuat tenaga.
"Maapkan Lukas momi, Lukas tidak akan mengulanginya lagi," tukasnya dengan rasa bersalah kepada ibunya.
Saat ini ia tau, bahwa ibunya pasti tengah menghawatirkan dirinya, lebih baik meminta maaf dan berjanji, agar ibunya tidak marah, dan juga agar tidak terlalu menghawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Kamu harus tau, bagaimana momi menjaga kamu selama ini, jangan membuat momi mati karna jantungan!" tegasnya masih sedikit kesal.
"Maafkan Lukas momi, Lukas janji tid--" ucapannya tergantung diujung lidahnya, ketika ponselnya seketika langsung diambil oleh Andrew.
"Caroline, ini aku, Lukas bersamaku, maaf, aku lupa meminta ijin terlebih dahulu," ujar Andrew menjelaskan dengan nada lembut.
"Hah .... Baiklah, kalau begitu aku tutup," sahutnya menjawab seraya menarik napas panjang.
Ia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Andrew, ia tau dengan sangat jelas, semua akal busuk dari pria tersebut.
"Tunggu! sebagai permintaan maaf dariku, bolehkah aku mengajak kamu makan malam?" ujarnya beralasan.
"Aku sibuk, kamu pergi saja dengan Lukas, aku--"
"Caroline, ayahmu menghubungi Liam, lebih baik kita bertemu secara langsung!" ujarnya langsung memotong ucapan Caroline, yang belum sempat ia selesaikan.
Sesaat Caroline hanya terdiam, tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Andrew, hanya helaan napas beratnya saja, yang sangat terdengar dengan jelas diujung telepon tersebut.
"Baiklah, jam berapa?" sahutnya dengan pasrah.
"Apakah jam 09.00 kamu ada waktu?"
"Baiklah, kirimkan alamatnya!" sahut Caroline, seraya langsung menutup sambungan telepon tersebut.
"Cih, apa ibumu, tidak bisa berpamitan terlebih dahulu, sebelum dia menutup telepon orang lain, tidak anak tidak ibu sama saja," cetusnya sedikit kesal, karna ia masih ingin mendengar suara wanita itu.
"Bukankah ayah juga seperti itu," sahut Lukas menjawab dengan santai, seketika membuat Andrew langsung terdiam.
Benar juga, bukankah dirinya juga seperti itu, tapi ia benar-benar tidak menyangka, harus mendapatkan semua balasan dari apa yang selalu ia perbuat, dari anaknya sendiri dan wanita yang saat ini sangat ia cintai.
"Lukas, anak ayah yang tampan, bisakah yang kamu ikuti adalah hal yang baik saja?" ujarnya dengan wajah sedikit memelas.
"Ayah, bisakah kamu jangan bicara seperti itu lagi, menjijikkan, tidak cocok dengan gaya kamu yang arogan itu," sahutnya kembali menjawab dengan santai.
"Hah .... Sudahlah, kamu lanjutkan main saja!"
__ADS_1
Andrew hanya bisa selalu dibuat mati kutu oleh anaknya sendiri, setiap perdebatan kecil yang terjadi diantara mereka berdua, ia tidak pernah menang dari anaknya. Pasrah, dan hanya kata pasrah yang selalu ia alami.
*********
*********
Malam hari pukul 08.00
Tepat seperti yang telah ia rencanakan sedari siang, disebuah hotel mewah yang sangat megah, sebuah restoran mahal yang berada dilantai paling atas, yang tidak lain adalah hotel miliknya sendiri, telah ia tata dan ia persiapkan dengan seindah mungkin, sebuah pemandangan yang menuju kebawah kota, lampu-lampu seluruh bangunan menambah keindahan suasana saat itu.
Sebuah bangunan yang paling menjulang tinggi dari pada bangunan lainnya, sehingga membuat hampir seluruh kota disekeliling tempat tersebut, bisa terlihat dengan sangat jelas. Hitamnya langit malam, dibawah cahaya rembulan yang mulai menyinari, ditemani sebuah lantunan musik yang sangat indah, dari sajian beberapa pemain biola yang sangat piawai, menambah keromantisan suasana pada malam tersebut.
Dengan sangat antusias Andrew telah mendandani dirinya sendiri dengan sangat rapih, sebuah kemeja berwarna putih, dipadukan dengan Jaz berwarna biru nevi, dan juga dasi yang senada, tubuhnya yang sangat profesional, membuat semua mata perempuan yang melihat akan jatuh dalam pelukannya dalam sekejap. Ia telah menunggu dengan rasa cemas, paktanya, tepat sampai pada pukul 08.55, wanita itu bahkan belum terlihat batang hidungnya sama sekali.
Lukas yang memperhatikan ayahnya sangat gelisah, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tenanglah ayah, mungkin jalanan sedang macet," ujar Lukas mencoba menenangkan ayahnya.
"Apa ibumu belum memberi kabar, dia saat ini sudah sampai dimana?" tanya Andrew kepada Lukas, dengan harap-harap cemas.
"Ayah, apa kau belum pernah berkencan sebelumnya? kau ini sudah punya anak, tapi baru seperti ini saja sudah gerogi," ledeknya yang mulai kesal, ketika melihat ayahnya sudah mondar-mandir tidak karuan.
"Lukas, kamu masih bocah, tapi sudah tau soal kencan, siapa yang mengajari kamu?" cetusnya bertanya, tanpa menjawab ucapan anaknya.
"Ayah, ini jaman modern, semua bisa diketahui dari internet," sahutnya dengan santai.
"Lukas, jawab dengan jujur, penampilan ayah saat ini seperti apa?" ujarnya bertanya dengan penuh harap sebuah pujian.
"Cih, kau terlihat sangat konyol, seperti abg belasan tahun saja," sahutnya meledek sikap Andrew.
"Ayah duduklah! aku pusing melihat kamu mondar-mandir seperti itu," seru Lukas seraya menggelengkan kepalanya jengah, ia tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
Presdir arogan apanya, kejam dan tegas apanya, jelas sekali terlihat seperti bocah konyol yang baru pertama kali akan melakukan sebuah kencan.
"Lukas, berhenti mengeluh, telepon ibumu sekarang, tanya dia sudah sampai mana!" tegasnya yang masih cemas.
__ADS_1
"Haih .... baiklah,"
Bersambung....