Anak Genius: The Next Heir

Anak Genius: The Next Heir
Bab 28: Aku berikan anak itu kepadamu, ambil saja.


__ADS_3

"Sepertinya kau menolak tawaranku, kalau begitu, biar aku saja yang mengurusnya, dan kau tidak perlu peduli lagi kepadanya.!" Tegas andrew yang menyadari, bahwa wanita itu sepertinya tidak ingin untuk bersama dengannya.


Karna Caroline tahu arti dari maksud perkataan Andrew, ia mengerutkan dahinya seraya menatap dalam pria tersebut.


"Hah... baiklah, karna kau bersikeras untuk mengurusnya, ambil saja, aku rasa lukas akan lebih bahagia kalau bersama denganmu."


Ucapnya santai, karna ia merasa semua yang dikatakan pria tersebut, hanyalah akal bulusnya saja untuk menjerat dirinya, dan ia sampai sekarang memang masih tidak menginginkan untuk berurusan dengan pria yang menakutkan seperti dirinya, ia memilih untuk mengalah, dan membiarkannya membawa anaknya sendiri, lagipula, dia memang ayahnya, lukas juga berhak untuk mengenal sosok seperti apa ayah kandungnya tersebut.


Sontak semua orang mengerutkan dahinya, terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu, bagaimana bisa ia menyerahkan anaknya begitu saja, sementara selama ini, ia sangat menjaga ketat kerahasiaan anaknya dari dunia luar, dan menyembunyikan identitas mereka dengan sangat rapih, dia sekarang melepaskannya begitu saja, apakah mereka tidak salah dengar.?


Mata Andrew langsung mendelik dan menatap tajam kepadanya, apakah sosok wanita ini benar-benar tidak peduli lagi, kalau ia sampai kehilangan putranya sendiri.


Tubuhnya yang tadi dirundung aura kematian yang dalam, sekarang tiba-tiba berubah lebih santai dan pasrah begitu saja, rencana seperti apa yang sedang ia fikirkan.


"Apa kau sudah tidak peduli lagi kepada anakmu sendiri Caroline.?"


"Tuan, ada anda disinya yang akan menjaganya dengan baik, tentu saja saya merasa sangat tenang, saya rasa anda sangat peduli terhadap anak anda, bukankah itu hal yang baik.?" Ujarnya menjawab dengan nada santai, dan fikirannya mulai kembali berjalan dengan baik.


Setelah ia mendapatkan beberapa pelatihan khusus dan bimbingan langsung dari sang kakek, ia mulai bisa melihat dan menebak fikiran orang lain kedepannya seperti apa, walau kemampuan dirinya masih belum sehebat pria itu, tapi ia bukan lagi sosok wanita naif yang tidak mengerti apa-apa seperti dahulu, walau kadang kala, ia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri, ketika menyangkut masalah Lukas dan cerita masa lalunya yang kelam.


"Aih, sepertinya Momi tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan pria ini, ia bisa menebak dengan jelas maksud dari pria ini."


Ujar Lukas berbicara dalam hatinya seraya menghela napas berat.


Dokter yang ada disampingnya yaitu Andi, yang tidak lain sahabat dari Andrew, ia melirik Lukas dengan ujung matanya.


"Anak ini sangat tenang, dia tidak terlihat seperti bocah kecil seusianya, bahkan ketika ia mendengar perkataan ibunya seperti itu, ia hanya menghela napas dan ekspresinya tidak berubah sama sekali."


Andrew hanya bisa terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi terhadap wanita yang ada dihadapannya, ia yang semula akan menggunakan identitas Lukas untuk menjerat Caroline agar mau bersamanya, harus gagal begitu saja, karna wanita itu menyerahkan anaknya begitu saja kepadanya, bahkan tanpa ekspresinya yang keberatan.

__ADS_1


"Lagipula aku akan sangat sibuk dengan masalah perusahaan akhir-akhir ini, bukankah dia sangat membantu untuk menjaga Lukas, dan aku bisa fokus terhadap rencana awalku."


Ujar Caroline dalam hatinya, dan ia harus tetap berpegang teguh terhadap rencananya untuk menuntut balas kematian sang ibu.


"Sepertinya kau tidak menginkan anakmu lagi Caroline.?" Ucap andrew kepadanya dengan raut wajahnya yang mulai kesal dan terlihat jengkel, ia harus menelan kenyataan pahit, bahwa wanita itu sudah tidak bisa dikendalikan dengan mudah.


"Saya bukan tidak peduli, melainkan memberikan kalian ruang, agar kalian saling mengenal satu sama lain, bukankah anda sangat menginginkan anak anda kembali, saya memberikannya kepada anda, seperti yang anda inginkan tuan."


Ujar Caroline seraya tersenyum tipis dibibirnya.


"Kamu benar-benar tidak akan menyesal.? " Ujar Andrew kembali bertanya.


"Tuan, saya telah membesarkannya dengan susah payah, selain saya, siapa yang akan peduli kepadanya dimasa lalu, tapi sekarang ada anda sebagai ayahnya, tentu saja saya sangat senang, bahwa beban hidup saya tidak akan terlalu berat lagi."


Ujarnya menjawab dengan santai.


"(....)"


"Momi, apa kau tidak keterlaluan dengan ucapan kamu itu? kalau aku tidak tahu kamu seperti apa, mungkin aku sudah histeris karna ibuku sendiri tidak lagi peduli terhadap anaknya, apakah kau ini masih ibuku yang sangat protektiv kepada anaknya.?"


Ucap lukas dalam hatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"Astaga, apa anak ini hatinya terbuat dari batu, ia masih tak bergeming dengan apa yang ia dengar.?"


Ucap Andi dalam hatinya seraya mengerutkan dahinya tidak percaya.


"Baiklah, kalau begitu jangan sampai kau menyesalinya.!" Tegas andrew, seraya ia merapihkan jas miliknya, dengan ekspresi jengkel dan kesal yang terlihat sangat jelas diwajahnya.


"Kita lihat, seberapa lama kau bisa bertahan untuk tidak bertemu dengan anakmu sendiri." Ucap andrew dalam hatinya yang saat ini benar-benar merasa sangat dibuat kesal oleh tindakan wanita tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, saya masih banyak urusan, jadi saya akan pamit terlebih dahulu."


Ujar Caroline berkata, dan bangkit dari tempat duduknya, seraya ia melangkah menghampiri tempat dimana Lukas saat ini tengah berdiri.


"Sayang, bukankah selama ini kamu selalu menginkan seorang ayah, dia adalah ayahmu, dan kamu adalah buah hasil dari kerja kerasnya semalam penuh."


"Bersikap baiklah, dia itu sangat kaya, dan dia sangat sayang sama Lukas, dia bisa menjaga kamu dengan baik, hidup lukas akan lebih terjamin daripada sebelumnya."


"Maafkan Momi, jika selama ini tidak mampu jadi ibu yang baik untuk kamu."


Seraya ia berakting seolah-olah menangis, dan ia menyeka air matanya sendiri dengan lembut.


"(....)"


"Astaga Momi, kalau kamu jadi aktor, kau akan banyak mendapatkan piala penghargaan."


Ucap lukas dalam hatinya seraya menatap dalam wajah ibunya, dengan ekspresi tidak percaya, bahwa ibunya bisa berakting dengan sangat sempurna, dalam hatinya ia sedikit ingin tertawa dengan kelakuan sang ibu, namun ia berusaha mencoba untuk menahannya, membiarkan ibunya bersenang-senang dengan rencananya sendiri.


"Bisakah kau tidak berekspresi seperti itu Lukas, wajahmu terlihat sangat jelas seperti tengah membully ibumu sendiri, bekerja samalah dengan Momi, ok.!"


Ucap Caroline dalam hatinya seraya melirik wajah Lukas dengan ujung matanya.


"Hah... baiklah Momi."


Ujarnya menjawab dengan helaan napas berat, seraya ekspresinya terlihat canggung, melihat kelakuan aneh ibunya saat ini.


"Sosok wanita lugu yang aku tahu waktu itu, kini telah berubah menjadi seperti rubah betina, benar-benar membuatku jengkel dan sakit kepala."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2