Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
75


__ADS_3

Mereka tidak menganggap serius Ara ketika dia mengatakan akan memberi mereka


waktu 10 menit. Sekarang setelah Ara ingin mengusir mereka,mereka masih berpikir demikian.


Meskipun begitu, mereka sebenarnya masih sangat marah. Mereka berang karena gadis seperti Ara berani memperlakukan orang yang lebih tua dengan sikap seperti ini. Sepertinya


dia terlalu dimanjakan sejak kecil.


Ara menatap fernady  dengan kilat dingin di matanya, lalu berbalik bergeming.


"Kalian semua punya dua pilihan. Kalian bisa membuang semua barang-barang mereka keluar, dan aku akan memberi hadiah 2.000 dolar pada siapa pun yang melakukannya.


Kalian juga bisa memihak sisi yang salah. Aku akan menyuruh siapa pun yang berani melanggar perintahku untuk ikut dengan keluarga itu. Aku bukan orang yang senang memaksa orang lain. Aku akan menghitung


sampai tiga. Pertimbangkan pilihan


kalian dengan hati-hati."


"Tiga."


Para pelayan tetap diam tetapi beberapa pikiran melintas di kepala mereka.


Kalian juga bisa memihak sisi yangsalah. Aku akan menyuruh siapa punyang berani melanggar perintahku untuk ikut dengan keluarga itu. Aku bukan orang yang senang memaksa orang lain. Aku akan menghitung


sampai tiga. Pertimbangkan pilihan kalian dengan hati-hati.


Mereka tidak punya hak dalam urusan antara ara dan keluarga fernady  jadi mereka seharusnya hanya mengikuti perintah.


Terutama karena mereka akan mendapat penghasilan tambahan sebesar 2.000 dolar. Bodoh jika mereka menolak tawaran yang


menggiurkan seperti itu. 2.000 dolar itu setara dengan 31 juta rupiah.


Saat ara menghitung mundur, para pelayan dengan cepat membuat keputusan dan memihak Ara.


Mereka bergegas naik ke atas dan mengemas barang-barang keluarga fernady ke dalam koper. Semua pelayan sangat bersemangat dalam melakukan pekerjaan mereka,.


Ketika itu, para pelayan sudah menurunkan barang bawaan. Mereka berdiri di depan ara dan berbicara.


"Nona ara kami sudah selesai mengemas barang-barang."


"Buang semuanya keluar."


Fernady dan juga velly beserta luna terkejut.


"Ara jangan keterlaluan!" teriak luna.


Luna melangkah maju dan berdiri  depan Ara dengan raut marah. Dia merasakan dorongan untuk melontarkan hinaan pada perempuan


itu, tetapi dia tidak berani melakukannya. Jadi, hanya itu yang bisa dia katakan.


"Tapi aku ingin," jawab Ara santai.


Luna terdiam. Dia bisa merasakan kemarahan yang membara di dalam dirinya dan dia merasa seolah dia hanya bisa memadamkan kemarahan itu dengan mencabik-cabik Ara.


Ara mengalihkan pandangannya ke arah para pelayan. Para pelayan dengan cepat mengeluarkan barang bawaan dari pintu, tidak berani mengulur waktu lebih lama lagi.


"Arakamu telah berubah," Ucap fernady.


Sekarang giliran arayang terdiam.


"Hah!"


Apakah sekarang mereka mencoba untuk membuatnya merasa bersalah karena mereka menyadari bahwa mereka bukanlah tandingannya?

__ADS_1


Ara  tidak menyesal, dan tidak merasa bersalah sama sekali. Saat ini dia hanya ingin memberi mereka pelajaran.


"Aku juga tahu aku telah berubah. Jika aku adalah diriku di masa lalu, aku


bahkan tidak akan memberi kalian


semua kesempatan untuk mengemasi


barang-barang kalian."


Skip


Sepulang dari rumah nya, Ara masi belum mendapati max dirumah. Dia bernama untuk menunggu max lalu makan malam bersama.


krek


Pintu putih itu terbuka, ara langsung menuju ke arah pintu itu. la menatap ke arah laki-laki yang berwajah lesu itu.


"Ada apa?"


Tanya arakhawatir. la meraih kedua pipi max yang tampak sedih.


"Apa ada masalah?"


Max menggeleng. "Tidak ada hanya lelah saja." Ucapnya kemudian memeluk Ara begitu erat.


Ara memicingkan kedua alisnya, ada rasa kejanggalan di hati ara, Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh max.


"Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat dulu." Ucap ara.


"Ara apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan ku." Ucap max.


Ara memperlihatkan deretan giginya.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan meninggalkan mu. " Ujar ara berlalu pergi.


"Kamu kenapa?" tanya ara menaiki ranjangnya. Sejak tadi ia merasakan aneh melihat wajah max .


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"


tanya ara


"Tidak ada, aku sangat merindukan mu. Maaf hari ini aku sangat lelah, aku tidak bisa


melakukannya. Maaf." Lirih max Seharusnya malam ini, malam pertama mereka. Dimana ia harus menafkahi batin arabella.


Ara tersenyum, lalu mengecup singkat kening max. "


Istirahatlah jangan memikirkannya."


Ara merebahkan badannya di samping max , ia memeluk max lalu terlelap tidur. Sementara max masih belum bisa memejamkan matanya.


"Ara " Gumam max sambil mengecup kening max dengan air mata yang membasahi pipinya.


Pagi harinya.ara  membuka matanya, ia melihat ke sampingnya. Tidak ada lagi sosok max.  Seharusnya dia bangun lebih dulu sebelum max.ara merutuki kebodohannya, baru saja ia bergelar menjadi seorang istri, tetapi sudah membuat kesalahan.


Ara menuruni tangganya, ia mencari keberadaan max Namun tidak menemukan apa pun.


"Dimana tuan?" tanya ara pada seorang


pelayan yang berpapasan dengannya.


"Maaf Nyonya, tuan tadi pagi-pagi sekali keluar.Saya di perintahkan untuk melayani Nyonya."

__ADS_1


"Oh, baiklah." Ara mengangguk, ia kembali


menaiki tangga menuju kamarnya.


Ara melihat ke arah meja makan, tidak


ada max yang menemaninya. Entah mengapa hatinya merasa kecewa. Tadi ia sudah


mendengarkan, tidak usah menunggu max untuk sarapan.


"Sebenarnya ada apa sih dengannya?" tanya


Ara yang enggan menyentuh rotinya itu.


Ara beranjak pergi, ia ingin menemui Max,Hatinya tidak pernah salah dalam


menilai seseorang. la sangat yakin max menyembunyikan sesuatu darinya.


"Max ." Sapa  ara membuat max yang baru saja membuka pintu kediamannya menjadi gugup.


"A..ra, maaf aku tadi buru-buru." Ucap  max yang terbata-bata.


Ara beralih melihat ke arah asistennya Jack.  Jack hanya menunduk tidak berkata apa pun.


"Kalian keluarlah !" perintah ara datar.


Kedua pelayan dan Jack keluar setelah menunduk hormat. Ara menatap lekat wajah max,Sedangkan yang di tatap tampak gugup dengan mengeluarkan keringat.


" Apa yang terjadi sebenarnya? " Tanya ara dengan tajam.


"Ti-tidak ada."jawab max gugup.


"Ada sesuatu yang di sembunyikan  dariku?


Jika kamu menganggap aku sebagai istri mu, Tidak seharusnya seorang suami menyembunyikan sesuatu dari istri dan


sebaliknya." Ujar ara


Max menunduk dengan mata


berkaca-kaca. "Jika aku mengatakannya apa


kamu tidak akan meninggalkan ku?."


Hati Ara terhenyak, ia semakin penasaran


apa yang di sembunyikan oleh max darinya.


Max melangkahkan kakinya, ia langsung memeluk erat Ara. Dadanya bergetar ketakutan. Baru saja dia menikah


dengan harapan hidup bahagia. Tapi Tuhan


berkehendak lain. Mungkin, mungkin dia hanya seorang suami pengganti sementara yang tidak akan bisa bersama Ara selamanya.


"Ara" Max melepaskan pelukannya. Darah segar keluar dari hidung max.Kepalanya terasa pusing. Max masih bertahan agar tidak kehilangan kesadarannya.


"Max ." Ara memapah tubuh max  ke sofa, ia berteriak memanggil pelayan agar memanggil Dokter.


"Tidak Ara aku tidak apa-apa." Max  meraih sapu tangan yang ia selipkan di bajunya itu. la mengelap darah segar  itu.


"Ini lah yang aku takutkan, aku memiliki penyakit yang mematikan sekarang . Umurku sudah tak lama, bukankah ini karma yang harus aku Terima karena telah menyakitimu? Bahkan takdir pun tak memberikan restu kepadaku untuk membahagiakanmu .


Ara aku takut kamu akan menderita hidup  bersama ku. Maaf kan aku ara. aku bukalah laki-laki sempurna."

__ADS_1


"Cukup ! kamu laki-laki yang sempurna. Apa pun yang tejadi mari kita hadapi bersama." Ujar ara dengan tegas. Sejujurnya Ara cukup kaget mendengar kabar itu, tapi sebaik mungkin dia bersikap tenang, agar max tidak khawatir dengannya.


Max merasa bersyukur  memiliki istri seperti Ara, disaat hidupnya tidak tau kapan akan berakhir, tapi ara masi setia memaninya.


__ADS_2