Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
78


__ADS_3

Kekuasaan yang sudah ia pegang sedari umur 16 tahun diserahkan pada Orang lain begitu saja tentu saja max tidak semudah itu merelakannya.  Tak lama gerombolan Regnarok yang dipimpin beni  berjalan beriringan memasuki gedung.


Rafael tertawa kencang ia menang, sedangkan max masih berusaha memperbaiki keadaan.


"Umumkan pada mereka max !"


"Umumkan saja sendiri!"


"Baiklah, lempar wanita itu!" Perintah Rafael pada dua anak buahnya yang memegang ara.


"JANGAN!"


"Baiklah, sekarang lakukan!"


Max berdecak kesal, ara merasa bersalah. Karenanya max harus melepas Regnarok dan


menyerahkannya pada orang biadab seperti rafael


"DENGAR, MULAI DETIK INI AKU BUKAN LAGI PEMIMPIN KALIAN!"


Max menjeda kalimatnya, ia menarik napasnya untuk menetralkan rasa sesak di dadanya. Begitupun dengan anak buah Regnarok yang saling pandang mencari jawaban atas apa yang terjadi pada kepala mafia nya.


"MULAI SEKARANG REGNAROK AKAN DIPIMPIN OLEH RAFAEL"


Max mengigit bibir bawahnya, pria itu ingin sekali menembak Rafael tapi ia sadar istrinya dalam bahaya jika dia tetap melakukan itu.


"Boss, ada apa?" Tanya beni.


"Aku bukan lagi b0ss mu beni"


Jack menarik beni kearah ara. menghadapkannya pada ara yang terikat dengan mulut yang tertutup kain. Beni mulai mengerti keadaanya.


Rafael berdiri dari duduknya, pria itu membuang rokoknya kelantai gedung dan menginjaknya. la melipat tanganya didepan dada dan menatap satu persatu anggota Regnarok.


"Aku Rafael yang akan memimpin kalian Dan aku minta kalian sekarang memanggilku Tuan rafael"


Satu persatu anggota Regnarok saling melirik, namun rafael menendang kursi dan kembali menatap anggota Regnarok.


"KATAKAN!" Sentakkan rafael membuat mereka tersentak dan akhirnya.


"TUAN rafael " Ucap mereka satu persatu termasuk beni.


Sementara itu Jack masih bungkam, ia menatap maxdengan tatapan bertanya sedangkan max masih sibuk menenangkan ara dengan tatapan matanya.


"Kau! Kenapa tidak menyebutku tuanmu!" Sentak rafael menunjuk Jack.


"Maaf, aku disini bukan sebagai anggota Regnarok dan aku berdiri disini sebagai sahabat max ,Jadi kau tak ada hak untuk


menjadikanku budakmu!" Desis jack tajam.


Max melirik kearah jack, pria itu mengulas senyum terimakasih pada sahabatnya.


"Baik! Terserah!"


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan! Sekarang lepaskan istriku!"


"Baik, tapi aku meminta satu hal lagi"


"SIALAN KAU!!" Max menyerang Rafael dan mengunci pergerakan nya,maxmencekik Rafael  dengan lengannya, namun rafael malah terkekeh.


"Kau ingin aku perintahkan anak buahku untuk mendorong istrimu kebawah?"


Maxlangsung menolehkan matanya menuju ara yang memang berada diatas tangga. la pun melepas cekikannya dari lehe rafael.


"Nice"


"Katakan apa yang kau inginkan?!"


"Lucuti senjatamu dihadapanku!"


Max menatap rafael dengan tatapan kebencian, ia mengutuk rafael  Setengah mati. Dan ia bersumpah akan membunuhnya jika ada kesempatan.


"Dan kau juga 'sahabat' max" ucap rafael menunjuk Brian dengan menekan kata 'sahabat!.


Jack segera melepas senapan yang tadi ditenteng olehnya, melepas dua granat dikat pinggannya. Dan melepas satu pisau lipat dari saku celananya.


Max perlahan mulai menuruti perintah rafael ia melepas granat dan menurunkan dua pistolnya, menjatuhkan pelurunya dan melempar pisau lipat dengan kasar.

__ADS_1


"Jaketmu juga max"


Max menghela napas kasar, ia pun melepas jaketnya yang memang disana max menempatkan satu buah pisau lipat.


Sekarang max berdiri dengan kaos putih yang membungkus tubuh atletisnya, ia benar-benar akan membunuh rafael įika Tuhan


mengizinkannya.


Rafael tertawa puas, ia begitu bahagia dengan apa yang ia lakukan Ia tak menyangka impiannya untuk mengalahkan seorang max walker bisa terkabul.


"Aku sudah menuruti maumu, dan sekarang lepaskan istriku"


"Tentu, dan kalian ikuti aku!" Perintah Rafael pada Regnarok.


Rafael mulai melenggang pergi, Max berlari menghampiri ara Pria itu segera melepas ikatan ditangan ara dan melepas kain yang menutup mulut ara. Setelah semuanya terlepas max langsung memeluk sang istri erat.


"Kau tak apa?"


"Arhur, aku takut"


"Sst, tenanglah"


Ara memberi jarak dan menatap max lekat.


"Dengar, kejarlah rafael. Bawa kembali apa yang menjadi hakmu"


"Aku tak perduli!"


"Max ! Regnarok adalah milikmu sepenuhya! Kau yang memimpin mereka! Dan jangan lupakan Daddy mu yang memilihmu untuk mengurusnya!"


"Arabella"


"Max , jika kau tak membawa Regnarok kembali, aku akan hidup dalam penyesalan karena membiarkanmu melepas apa yang


seharusnya menjadi hakmu!"


"Aku_"


"Pergilah, ambil kembali milikmu. Aku sudah aman"


"Max ,aku setuju dengan ara  kali ini" Ucap jadk.


"Oke"


Max dan jack berjalan beriringan mengambil langkah lebar menyusul rafael namun,Max mencari keasal suara yang ternyata suara rafael dihadapanya.


"Aaa!"


Suara teriakan menggelegar dipenjuru gedung, max dengan cepat menolehkan kepalanya melihat kesumber suara yang ternyata sang istri. Tubuh itu terjatuh dari tangga atas sampai keanak tangga bawah, max seakan berhenti bernapas, ia langsung melebarkan matanya dan dengan cepat mengambil pistol di sepatunya melepaskan dua pelurunya mengenai kepala dan jantung rafael sedangkan Jack masih membeku melihat ara yang sudah berada dianak tangga


terakhir dengan bersimbah darah.


"Ara !" Max berteriak kencang, pria itu dengan cepat berlari ketubuh sang istri. Max langsung membawa kepala ara kepangkuannya.


"Jack SIAPKAN MOBIL!"


"Mobil kita sudah hancur terkena tembakan max !"


"****!"


"'SIAPKAN HELIKOPTER SEKARANG!"


"Baik' Jack berlari cepat menghubungi Thomas meminta bantuan pria itu. Max semakin panik melihat ara  yang terlihat lemas dengan darah dimana-mana.


"Sst, m. Max sakit ..." Lirih ara.


"Aku tau, tahan sebentar okey


"Apapun yang terjadi ... Selamatkan bayi kita max" Lirih h ara dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Jaga bicaramu! Tidak akan terjadi apapun padamu."


Tak lama suara gaduh helikopeter terdengar. Max dengan cepat membawa tubuh sang istri kedalam gendongannya.


Max ..."


"Jangan banyak bicara ara

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu max aku  cinta sama kamu"


Max menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang istri.


"Love you husband" Lirih ara dan ia pun menutup matanya.


"Ara , arabella!"


Max berlari kecil memasuki salah satu rumah sakit di Vegas, ia sudah menghubungi Dokter Ryan sahabatnya.


"TOLONG!" Max berteriak kencang membuat beberapa perawat langsung membawa brangkar untuk ara.


Max merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati diatas brangkar itu. Mereka mendorongnya sampai ke tempat penanganan pertama. la pun duduk dikursi tunggu tak lama suara seseorang membuyarkan lamunan max


"Max !" Pria yang ipanggil namanya pun membalikkan tubuhnya menemukan Ryan sudah mengenakan jas kedokterannya.


"Dimana ara ? "


"Dia didalam, selamatkan mereka" Pinta


"Aku akan berusaha" Ryan menepuk pelan bahu max menguatkan.


Tak lama Jack datang, max memang tidak menunggu Jack tadi, ia terlalu kalap melihat ara seperti itu.


"Max " Panggil jack


"Aku tak bisa tenang!" Max berdiri dan berjalan mondar mandir didepan pintu.


"Tenanglah max"


"Aku tak bisa tenang melihat istriku seperti itu jack!!"


"Ya, aku mengerti"


Tak lama pintu ruangan itu terbuka menampilkan Ryan dengan tatapan sayu nya.


"Ryan, bagaimana?"


"Max_"


"Apa dia baik-baik saja? Istriku tidak papa kan? Bayi kami juga kan? Ryan!" Max kesal karena Ryan hanya diam tak berniat menjawab satu pun pertanyaannya.


"Max , ara mengalami pendarahan hebat. la kekurangan darah dan tubuhnya semakin melemah. Kau harus memilih"


"Maksudmu?!"


"Kau harus memilih menyelamatkan


bayi nya atau ibunya max" Ucap Ryan tertunduk.


Kaki max melemah, ia seakan lupa jika sedang berdiri. Tubuh besarnya oleng hingga akhirnya jack menangkapnya dan mendudukan Max di kursi tunggu.


"Max aku tau ini sangat sulit untukmu, tapi kita harus cepat mengambil tindakan"


"Max "


"Aku tak bisa memilih diantara mereka jack" Ujar max dengan nada bicara yang bergetar.


"Kau bisa max"


Ingatan saat ara menitipkan bayi nya memenuhi pikiran max, ia harus menyelamatkan bayi nya. Tapi saat ara mengingatkannya pada saat-saat pertama mereka menikah hati max malah semakin nyeri.


"Ryan ... Selamatkan istriku' Ucap max dengan tatapan memohon.


"Baik"


Dokter Ryan memasuki ruangan itu dan mulai menjalankan operasi. Max hanya diam dengan tatapan kedepan yang sangat kosong, jack miris melihat tuan sekaligus sahabatnya begitu terpukul atas kejadian ini. Dan jujur ia melihat max seperti ini untuk yang kedua kalinya. Pertama saat dulu dia tau ara meninggal , sekrang juga sama. Keduanya untuk wanita yang dicintainya.


"Max"


Max tak menjawab ia hanya diam tatapannya begitu kosong memandang kedepan tidak memperdulikan jack disampingnya.


"Dia pasti kuat, dia wanita yang kuat"


"Max gantilah bajumu dulu, bajumu penuh dengan darah"


Max melirik kearah bajunya, benar baju max penuh dengan darah sang

__ADS_1


stri dan itu malah membuat max semakin nyeri.


__ADS_2