
"Dimana istriku?" Tanya max dengan memasukkan satu tangannya,terlihat angkuh.
"Dia ada diruang pribadimu, katanya ingin menidurkan Arsal sebentar" jawab Erlangga seraya menggigit satu Buah apel.
"Baiklah, kalian nikmati saja dulu perjalanannya pah. "
"Tentu" Max menganggukan kepalanya dan berjalan menuju ruang pribadinya.
"Dia terlihat sangat angkuh" Ujar fernady.
"Wajar, dia seorang milyader ternama"
"Tapi tak perlu bertingkah seperti itu"
"Kurasa dia tak akan bertingkah begitu jika didepan putri kita"
"Maksudmu?"
"Putri kita adalah kelemahannya"
"Ya, semoga apa yang kau bicarakan benar"
Erlangga menatap fernady yang terlihat khawatir,
"Dengar, aku yakin ara akan bahagia bersama max, Kau lihat kan tadi di rumah sakit ara selalu tersenyum"
"Ya kurasa begitu" ujar sofian ikut berucap.
Fernady lemas dan menghela napasnya.
"Sudah jangan pikirkan, nikmati saja hidangannya"
Fernady mengangguk lemah dan ia pun mulai menikmati hidangan yang disiapkan pria dengan jas hitam dan tubuh kekar yang berdiri tak jauh dari duduknya.
Ditempat lain max membuka ruang pribadinya sedikit pelan, takut mengganggu Arsal yang sedang tidur.
Saat max sudah membuka pintu ruangan itu, terlihatlah sang istri yang sedang membaringkan tubuh Arsal perlahan diatas ranjang queen size didalamnya. Max menggerakkan kakinya mendekati ara.
"Dia sudah tidur?"
"Ya, baru saja"
"Bagus"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak"
Max membaringkan perlahan
tubuhnya mendekati Arsal yang masih
tenang di alam tidurnya.
"Apa dia merepotkanmu?"
"Aku sama sekali tak merasa direpotkan max. "
Pria itu mendudukkan tubuhnya dan menuntun tubuh ara untuk duduk disampingnya.
"Aku bersyukur kau kembali padaku"
"Aku juga"
Max menatap lekat wajah ara, sedangkan wanita itu terlihat merona dengan tatapan max yang tajam.
"Em, Max,aku ingin bertanya" Cicit ara.
"Katakan"
"Bagaimana Regnarok?"
"Sudah kembali padaku"
"Serius?"
"Ya."
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan
Rafael?"
Max menghela napasnya saat menyinggung masalah Rafael.
"Rafael ia sudah mati"
"Jadi suara tembakan itu?"
"Ya, itu aku yang menembaknya"
"Tapi bukanya senjatamu sudah dilucuti?"
"Aku menyimpan pistol disepatuku"
"Jadi?"
"Setelah Rafael menyuruh anak buahnya untuk mendorongmu aku langsung melepas peluruku"
"Dan itu mengenainya?"
"Ya"
Ara kembali menghela napasnya.
"Jadi dia"
"Dia terobsesi pada Reganarok dan juga ingin membalas dendam tentang kematian mu saat itu.Makanya dia membentuk organisasi bernama rose black untuk merencanakan semua ini"
Ara memeluk Max berusaha menenangkan pria nya.
"Aku tau, selama ini kau hidup dalam
penderitaan Max. Sekarang tidak lagi"
__ADS_1
"Ya, karena ada kau"
Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya ara melepaskan pelukannya dan menatap Max.
"Sudah"
"Apa?"
"Sekarang kita harus singkirkan dulu bulu-bulu itu"
"Jadi kau masih mengingatnya?"
"Ya, buang wajah masam mu, ikut aku" Titah ara.
"Kemana?"
"Diamlah"
Ara menarik pelan tubuh Max memasuki kamar mandi dan mendudukan tubuh itu ke closet duduk.
Ara mendekati tempat sabun dan memeriksa satu persatu sabun disana.
"Dimana krim nya?"
"Disamping shampo" menunjuk botol krim.
Ara mengulas senyum, ia mengambil krim dan alat cukur. Setelah dapat ia kembali menghadap Max. Ara duduk dipangkuan max dan menatap krim dan alat cukurnya silih berganti dengan tatapan bingung.
"Ada apa?" Tanya max yang mengerti dengan tatapan ara.
"Bagaimana caranya?"
"Apa!"
"Em, sebenarnya aku tak pernah melihat orang mencukur kumisnya jadi aku tak tau"
Ucap ara dengan senyum yang mengembang.
"Serius kau tak tau cara kerjanya?" Tanya max masih tak percaya diikuti anggukan pelan dari ara.
"Baiklah sini" Max meraih krim dan alat cukur itu dari tangan ara, lalu ia membasahi dulu rahangnya.
"Pertama, kau harus basahi dulu rahang atau bagian atas bibirmu"
"Lalu?" Tanya ara bersemangat.
"Kau oleskan krim nya"
"Biar aku saja" Ucap ara merebut krim itu dari tangan max.
Max hanya tersenyum simpul dan membirkan istrinya mengoleskan krim itu dirahang tegasnya.
Jari ara bergerak lembut meratakan krim itu, sedangkan max entahlah pria itu merasa biadab karena dengan sendirinya tubuhnya panas hanya karena sentuhan ara.
"Kendalikan dirimu Mr. walker" ucap ara dengan nada menggoda.
"Kendalikan juga jarimu Mrs. walker "
"Kau sangat nakal wife"
"Diam! Lalu sekarang bagaimana?"
"Tinggal kau cukur saja"
"Serius..ini mudah"
"Maka dari itu aku bingung kau tak tau cara memakainya, bukanya kau juga pernah memakai alat ini?" Tanya max menaik turunkan alisnya silih berganti, ara yang paham maksud max langsung memukul bahu pria dihadapannya.
"Pervert!"
Max hanya terkekeh dengan tindakan istrinya, dan jangan lupakan kedua pipinya yang mulai merona.
Ara mulai membersihkan bulu dirahang max ,sedangkan max hanya diam menatap wajah ara. .
"Jaga matamu Mr. Walker"
"Kenapa?" Tanya Max terdengar tak jelas karena ia berusaha tidak menggerakkan bibirnya.
"Kau!"
Max mengulas senyum tipis, ara pun melakukan hal yang sama, hingga seperempat krim sudah hilang.
Kemudian terdengar tangisan bayi, ara sontak menghentikan tangannya dan menatap kearah pintu kamar mandi.
"Arsal bangun"
"Jadi?"
"Aku harus pergi" Ara bangkit dari duduknya dan mendekati wastafel, mencuci tangannya, sedangkan max masih menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Kau akan meninggalkanku?"
"Dia bangun max."
"Tapi aku belum selesai"
"Kau bisa melakukannya sendiri"
"Tapi kau yang tadi ingin membersihkannya"
"Ya, tapi itu tadi sebelum Arsal bangun' ujar ara seraya membersihkan tangan nya.
"Aku harus menenangkannya" Ujar ara lalu mencium kening Max.
"Maafkan aku honey' Ujar ara lagi lalu melenggang pergi dari hadapan max. Max berdecak sedikit kesal, namun dia akhirnya mulai sadar, ara menyebutnya honey? Damn! Max mengulas senyum manis, pasalnya ini pertama kalinya Ara memanggil panggilan semanis itu padanya, sial pipinya memanas.
Max melanjutkan aktifitasnya dengan senyum yang masih mengembang jika mengingat ucapan Ara tadi.
Setelah selesai max keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar dan tentunya menambah kharisma pria itu.
"Sudah selesai?"
"Ya" Ucap max singkat.
__ADS_1
"Kau tampak lebih tampan"
"Aku tau"
Max berjalan mendekati ara merebahkan tubuh nya disamping sang istri yang sedang menyusui Arsal.
"Dia tidur lagi?"
"Ya"
"Sepertinya dia memang sengaja mengganggu kita" Ucap max lalu meletakkan lengan kanannya sebagai bantal.
"Diam" Peringat ara tajam.
"Oke, maaf"
Ara bangkit dan merapihkan bajunya lalu memutari ranjang dan duduk disamping max menggenggam tangan besar pria itu.
"Dengar, ada ataupun tidak ada arsal , kau tetap akan menjadi orang yang kucintai"
"Terbagi dengan Arsal"
"Astaga, kau cemburu?" Dengan nada bicara mengejek.
"Sedikit" Balas max sedikit merajuk.
"Max kau sadar kan? Dia putramu"
"Ya, aku tau"
Max duduk dan menatap sang istri.
"Aku hanya takut kau tak memperhatikanku lagi"
"Tak akan terjadi max"
"Serius?"
"Aku tak akan melupakanmu"
Max menarik tubuh sang istri dan membawanya kedalam dekapannya.
"Aku mencintaimu" ucap ara.
"Aku tau"
Max membelai pelan surai sang istri lembut lalu ia pun melepaskan pelukannya.
"Kapan kita sampai?"
"Masih lama"
"Bagus, aku ingin tidur" Ujar ara. lalu memutari ranjang dan merebahkan
tubuhnya miring menelingkupi Arsal, lalu memejamkan matanya.
"Kau akan bangun lagi kan?" Tanya Max dengan raut khawatir.
"Aku pasti bangun, jangan khawatir
begitu"Ujar ara tanpa membuka matanya.
"Aku hanya...
"
"Takut?" Sela ara cepat.
"Ya"
"Kau terlalu mencintaiku?"
"Kau dan Arsal adalah harta terakhir yang aku miliki sekarang, jadi wajar kan jika aku takut kehilanganmu"
Max ikut membaringkan tubuhnya menatap ara dengan posisi yang sama.
"Kau tau, saat aku koma. Aku mendengar teriakanmu"
"Serius?"
"Ya, dan aku juga dengar kau menagih janjimu"
"Lalu kenapa kau tak bangun?"
"Aku bingung, tempat itu indah dan jujur aku tak ingin pergi dari sana."
"Jadi kau memang berniat meninggalkanku?"
'Bukan begitu, tapi ada seorang anak kecil. Sangat tampan mendatangiku, memanggilku dengan sebutan Mommy lalu menangis mencegahku pergi"
"Kau "
"Aku menurutinya dan akhirnya aku sadar"
"Artinya kau memang mendengar apa yang terjadi selama kau koma?"
"lya"
"Ryan benar, kau masih mendengar walaupun matamu terpejam"
"Aku bersyukur bisa bersamamu kembali max"
"Aku juga"
"'Aku sangat bahagia" Ara mengulas senyum dibibirnya begitupun max.
"Saat marcel bilang kau sudah tiada, aku tak bisa bernapas sayang. dadaku sesak dan aku serasa mati,disana, aku takut. Sangat takut kau akan pergi sama seperti orang tuaku, oleh karena itu aku menangis saat itu" Tutur max pelan.
"Sudahlah, sekarang kan aku disini"
"Ya, dan kau tidak akan pergi lagi" Ujar max menggapai tangan sang istri, menggenggamnya erat meletakkannya ditengah tepat diatas kepala Arsal.
"Kalian adalah duniaku,Kau dan Arsal" Lanjut max perlahan.
__ADS_1