Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
72


__ADS_3

Bumi tidak akan berhenti berputar demi siapapun.tidak perduli apapun yangterjadi ,hidup harus terus berjalan. Itulah yang dirasakan Marcel saat ini.


Dia sedang bersiap siap , walaupun hatinya sakit dan akan lebih sakit lagi, tetapi ia harus menghadiri pertunangan arabella hari ini. Setidaknya dia bisa melihat ara, jikapun arabella akan menikah dan menjadi istri orang lain, dia tidak akan marah, bahkan ia akan menjaga anak anak nya kelak, dia yakin, hatinya akan bahagia melihat ara tersenyum setiap hari.


Disebuah  aula yang luas dan megah, dihadiri oleh para kalangan atas. Terlihat sepasang sejoli yang saling melemparkan senyum dengan hati yang berbunga bunga dan melemahkan cincin di jari pasangannya.


Para tamu pun langsung bertepuk tangan setelah acara itu, musik piano dan biola pun beriringan, para tamu pun mulai berdansa.


" Arabella, terimakasih telah menjadi pendamping hidupku, dan terimakasih karena kamu bersedia menjadi ibu dari anak anak ku. "


" Terimakasih juga sudah mau menerima kekuranganku dan kelebihanku, terimakasih karena sudah mendukungku dan mencintaiku. "


Keduanya saling mendekatkan dahinya, hidung mereka bersentuhan, nafas mereka saling menyapa dengan hangat.


Tampa mereka sadari, tepat lurus di tengah tengah mereka, dari kejauhan seorang laki laki tersenyum dengan mata berkaca kaca. Rasa sakit dihatinya ingin berteriak untuk  melegakan hatinya, laki laki itu memejamkam matanya, terdengar suara hembusan nafasnya, yang menandakan nafas itu sangat berat untuk di hembuskan.


Laki laki yang berada disampingnya, yang tak. Lain adalah erlangga, ia menepuk pelan punggung Marcel agar menguatkan hatinya, ia tau betul posisi yang di alami oleh Marcel.


" Dia sudah bahagia" Lirih Marcel menatap ke langit langit agar air matanya tidak jatuh.


Setelah selesai acara dansa itu, ara beralih kepada tamu yang mengucapkan selamat padanya.


Banyak tamu wanita yang mengucapkan selamat, mereka melirik kearah max lalu tersenyum sambil mengangguk.


" Ara "


Ara mematung sejenak, ia kenal suara itu, dia tersenyum  dan menoleh.


" Marcel" Seru arabella.


" Selamat" Ucapnya singkat dengan nada yang dia tahan agar suaranya tidak bergetar dan matanya tidak mengeluarkan air mata.


Erlangga memeluk arabella.


" Selamat sayang, papah ikut bahagia. "


"Arabella apa bisa kita berbicara sebentar? "


" Iyah, tunggu sebentar. "


Ara menghampiri max, meminta ijin padanya, dia tidak ingin terjadi kesalah pahaman.


Sementara max tidak ingin ara bertemu dengan Marcel, dian takut Marcel tiba tiba berubah pikiran dan membawa kabur ara.


Max mengalihkan pandangannya kearah marcel. Ia menatapnya tak suka, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk . Dia tidak mungkin menolak permintaan ara, akan tetapi dia  akan menyuruh anak buah nya di diam mengawasi mereka.


Ara yang sudah mendapat persetujuan dari max pun berjalan membawa Marcel ke taman .


" Ada apa, apa yang ingin kamu katakan? "


"Apakah boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya? "


Ara menggangguk mengatakan..


Marcel memeluk ara dengan erat. Ia mengeluarkan semua rasa kerinduannya. Dia menahan hatinya yang begitu sesak, ia tidak ingin menangis dihadapan ara.


Ara bisa merasakan tubuh Marcel bergetar, ia mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang, tentu nya sebagai sahabat.


" Aku berharap suatu saat nanti  , kamu menemukan wanita yang bisa membuat hatimu tergerak. "


Marcel tidak menjawab nya, karena dia pun tidak  tau akan bisa jatuh cinta kepada wanita lagi selain ara.


" Setelah ini aku mau hubungan kita kembali seperti semula, anggap saja aku tidak pernah menyukaimu, jangan ada rasa ketidak nyamanan diantara kita. "


" Iya, baiklah. Jadi sekarang bisa kita akhiri drama sedih ini? " Ujar ara mencaikan suasana.


" Ya, aku juga tidak ingin jika tunangan mu salah paham dan membunuhku, entah bagaimana kamu bisa menyukai psikopat seperti itu. " Ujar Marcel sambil tertawa.


Dari kejauhan max melihat semuanya, ada rasa tak rela saat pria lain memeluk wanitanya.


Setelah beberapa menit, mereka pun kembali ke pesta.


Max langsung  menghampirinya dan memeluknya, dia tidak ingin ada aroma laki laki di tubuh tunangannya.


Ara yang mengerti tentu saja hanya bisa mengela nafas, dari dulu sampai saat ini, sifatnya selalu cemburu berlebihan.

__ADS_1


" Apa yang dibicarakan pria itu dengan mu? "


" Marcel, dia punya nama " Ujar ara  yang pusing dengan sikap posesif nya.


" Aku tidak perduli, aku tidak hafal dengan nama pria  itu," apalagi pria yang sempat menjadi rivalnya itu.


" Hamm jangan ngambek gitu dong. " Ia menggenggam kedua tangan max.


" Maaf jika membuat kamu cemburu, tapi itu sahabat ku juga, terlepas dia pernah menyukaiku, tapi kenyataan nya dia adalah sahabatku dan juga banyak berjasa dalam hidupku.lagi pula kamu tau sendiri, aku hanya mencintai kamu. "


" Iya aku percaya sama kamu, aku hanya takut kamu meninggalkan ku, aku bisa mati jika harus kehilangan mu lagi. "


" Itu tidak akan terjadi. "


Acara pesta pun telah berlalu, kini semua tamu sudah kembali ke kamar hotel masing masing yang sudah disiapkan oleh max. Karena pertanian dan pernikahan mereka hanya berjarak satu minggu, jadi semua tamu  disuruh menginap sampai hari H nya.


" Marcel, tunggu sebentar. " panggil max yang menghentikan Marcel melangkah.


" Aku tidak tau, kamu turut bahagia atau sedih. Tapi sekarang aku dan ara sudah bertunangan. jadi aku berharap kamu tidak mengganggu hubungan kami lagi. " ujar max dengan dingin. Entah mengapa sikap nya Marcel membuat max menjadi was was.


" Bagiku sekarang hanyalah kebahagiaan ara yang lebih penting. Dan untuk masalah antara aku dan ara, aku percaya pada takdir, jika Arabella di takdirkan untukku, sejauh apapun dia akan kembali padaku. "


" Baiklah, tapi kenyataannya memang sudah menjadi milikku. Aku suka dengan perkataanmu itu, dan ya, jangan lupa hitungan hari lagi aku akan menikah dengannya. Aku harap kamu bisa datang. Dan satuhal lagi jika suatu saat terjadi sesuatu kepadaku, percayalah, orang yang paling ku percaya untuk menjaga ara adalah kamu. "


Skip.


Terlihat kedua pasang sejoli yang tampak mesra dengan berdansa di tengah tengah para tamu. Kedua pasang sejoli yang tak lain adalah Arabella dan max yang berapa menit yang lalu mereka sudah mengucapkan sumpah janji suci sebagai pasangan suami istri.


Semua orang berdecak kagum, aura kecantikan dan ketampanan keluar dari kedua pasangan itu, siapapun yang melihatnya pasti lah iri. Sempurna sangat sempurna. Itulah pandangan semua orang.


Suara tepuk tangan dari para tamu mengakhiri dansa mereka.


" Aku mencintaimu Arabella walker" ujar max  tersenyum lalu mencium kening ara begitu dalam.


Para tamu wanita menatap takjub, baru kali ini mereka melihat seorang wanita yang sangat dihormati dan di sayangi di depan umum, menunjukkan seberapa cintanya laki laki yang berstatus suami itu.


Para tamu wanita menatap iri ,mereka mengatakan.


" Betapa beruntungnya seorang wanita yang menjadi istri dari tuan max walker. Tuan max terkenal dingin kepada wanita, bahkan tak tersentuh sekalipun. "


" Iya pah, itu tidak akan terjadi. "


Selepas itu, fernady dan juga keluarga nya memberikan selamat.


" Ara, selamat atas pernikahan mu, papah turut bahagia, dan buat kamu max, yang sudah menjadi menantu papah, tolong jaga dia baik baik. " Dari lubuk hatinya, dia sangat menyayangi ara, hanya saja kesalahannya di masa lalu membuat dia harus membagi kasih sayangnya kepada luna, terlebih dia sudah meninggalkan velly dan luna s dari kecil, jadi mungkin ini saatnya dia memperbaiki kesalahannya. Biarlah selamanya orang orang mengetahui jika luna adalah anak tirinya. Toh juga sekarang dia sudah menjadi ayahnya. "


" Selamat ya kak, aku senang akhirnya kakak mendapatkan pria yang kaya raya. kaka memang sangat pintar mecari suami. " Sindiran luna membuat  orang orang yang mendengarnya menjadi bergosip.


Ara mandang tajam kepada luna, namun dia lebih memilih untuk mengabaikannya.


Terakhir sofian  yang datang langsung memeluk ara dengan erat.


" Gadis nakal, ternyata kamu sudah besar sekarang, bahkan sudah menikah. Padahal dulu kamu masi sekecil ini " Sofian menunjukkan kearah pingganggany, mengatakan jika ara dulu masih sangat kecil si tinggi pinggangnya.


" Abang jangan ngomong gitu, kan ara malu. "


" Hahaha, semoga kamu bahagia ya, dan kamu, awas saja jika aku sampai tau kamu menyakiti adikku, habis kamu di tanganku. "


Max sedikit merinding mendengar ancaman dari kakak iparnya. Bukan karena takut, tapi karena ancaman nya dari kakak ipar membuat nyali max menciut. Terlebih max juga tau sofian itu salah satu mafia di bagian bawah, namun tidak ada yang mengetahuinya, kecuali max.


" Aku tidak akan pernah menyakiti istriku, sebaliknya aku akan membuatnya bahagia. "


"  Aku akan pegang kata katamu. "


" Ara, daripada kamu pusing mendengarkan mereka, lebih baik kamu ikut denganku, kita berdansa. "


" Marcel, kenapa kamu baru muncul, aku kira kamu tidak datang. " Ujar ara dengan pura pura sedih.


" Aku mana mungkin nggak datang di hari special kamu. Aku ada urusan tadi, jadi baru sempat datang. Jadi bagaimana, apa tuan putri mau berdansa dengan ku? " ujar Marcel mengulurkan tangannya.


" Tidak bisa" ujar max dingin.


" Kenapa tidak bisa? "


" Dia istriku, dia hanya boleh berdansa denganku. "

__ADS_1


" Kalau begitu, kita tanyakan saja kepada orangnya langsung" ujar Marcel dengan percaya diri.


" Sayang, kamu pasti lebih memilih aku kan dibanding dia? "


Ara yang melihat perdebatan keduanya di buat pusing.


" Sudah jangan ribut, aku akan berdansa dengan Marcel. " Jawab ara yang langsung menyambut tangan Marcel.


Tentu saja membuat Marcel merasa menang. dia berjalan menggandeng ara sambil tersenyum mengejek kearah max.


" Sial, hei hanya lima menit, aku akan segera merebut istriku dari kamu. " Teriak max yang tidak peduli dengan tamu yang melihat.


" Sudahlah bro, biar kan saja,baru jadu suami setengah hari udah main ngekang saja. Jangan cemburuan" sindir sofian.


Mau tak mau max pun mengalah dengan tak rela, matanya selalu menatap istri dan rivalnya berdansa yang di iringi oleh canda tawa dari keduanya.


" Apa kamu bahagia menikah dengannya? "


" Ya aku bahagia, dan aku harap suatu saat kamu akan  membuka hati  kepada wanita "


" Aku sudah bagia dengan melihat kamu bahagia. Kebahagiaan ku hanya ada sama kamu. Mana mungkin aku bisa mencari kebahagiaan dengan wanita lain. kecuali ada wanita yang persis seperti kamu. "


" Ckck mana ada seperti itu"


" Ya kalau tidak ada, berarti  aku juga nggak akan berpaling ke wanita lain. " Ujarnya dengan serius.


" Huh terserah kamu saja " Ara merasa bersalah dengan keputusan yang dibuat marcel, namun dia juga tidak bisa memaksa Marcel untuk mengubah pendiriannya, dia hanya bisa pelan pelan untuk memberinya pengertian nanti.


" Ara meski kamu sudah menikah, aku masi bisa bertemu dengan kamu kan, kita masi sahabat"


" Tentu saja. Siapa yang bisa melarang persahabatan kita. "


" Tentu saja aku yang melarangnya" Ujar max yang langsung menggantikan posisi marcel dengannya. kini max yang berdansa dengan ara.


" Ckck.. Ara kamu lihat sendiri kan, betapa posesif nya suami mu ini" kata Marcel dengan kesal.


" Dia istriku tidak boleh berlama lama dengan pria lain. "Ujar max dengan angkuh.


"   Max, jangan seperti itu, seharusnya kamu berterimakasih kalau bukan karena dia, mana mungkin kita bisa menikah sekarang. "


" Aku tidak perduli, intinya istri ku tidak boleh berdekatan dengan pria lain. "


" Hey, aku lebih dulu mengenalnya dibanding kamu, jadi jangan menghalangi aku buat bertemu dengannya. " Ujar macel tidak mau kalah. "


" Sudah sudah. Jangan ribut lagi, kenapa sih kalian seperti kucing dan tikus saja kalau bertemu. "


Dering telpon marcel berbunyi , dengan tidak rela Marcel harus mengangkatnya, setelah selesai mengangkat telpon, marcel mengundurkan diri untuk pulang karena ada sesuatu yang mendesak.


" Ara, aku harus pergi, ada urusan yang tidak bisa aku tinggal. "


" Iya, terimakasih ya, sudah menempatkan datang kesini. "


" Jangan sungkan, aku masi sahabatmu, dan jika suatu saat kamu tidak bahagia dengannya cari aku, aku pasti ada untuk mu. Jangan sampai aku mendengar kamu terluka dibuatnya, jika sampai aku mendengarnya, aku akan merebutmu darinya, aku tidak akan mengalah lagi, meski kamu tidak mencintaiku, aku tidak peduli, aku akan memaksamu untuk bersamaku. "


" Hey, aku masi disini, setidaknya jangan berbicara seperti itu didepanku. Dan aku bisa pastikan itu tidak Akan terjadi. " Kata max dengan cemburu.


" Sayang sudah, jangan cemburu dengannya, dia sahabatku, kamu tidak perlu cemburu dengannya. "


" Bagaimana tidak cemburu, jika dia saja sangat mencintai kamu. "


" Tapi aku hanya mencitai kamu"


"Ya aku tau. "  Tampa aba aba max langsung menggendong ara dengan ala bridal style meninggalkan aula itu. "


" Hey apa yang kamu lakukan? Turunkan aku, malu dilihat orang orang.nanti mereka bisa bergosip. "


" Siapa yang berani membicarakan nyonya walker"


" Max turunkan aku " Ujar ara yang masi meronta.


" Sebaiknya jangan habiskan tenaga mu, sisakan untuk nanti malam" Ujar max dengan senyum licik.


"


Tak terasa waktu pun telah berganti, pesta itupun telah usai, kini ara melihat bayangan wajahnya di depan cermin. Malam ini adalah malam pertamanya dengan max. Ia melanjutkan menyisir rambutnya yang hitam.

__ADS_1


Sekitar satu jam ara menunggu kedatangan max, ingin tidur duluan tapi dia takut tidak sopan, sebenarnya seusai pesta, setelah mereka di kamar,max  tiba tiba mendapatkan telpon dan berkata ada sesuatu yang mendesak sehingga dia harus keluar sebentar. Ara yang sudah lelah pun akhirnya tertidur tampa menunggu max kembali.


__ADS_2