Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
82


__ADS_3

"Ada apa dengannya ? Kenapa alat medisnya di lepas?" Ucap max dengan bergetar.


"Max , dia_"


"Dia apa!" Sentak max seketika memotong ucapan marcel.


"Max dia sudah tiada' Ucap marcel seraya memeluk bayi max!"


Max membelai pelan pipi ara dan ia segera berbalik menghadap marcel mencengkram kerah kemeja marcel


"JANGAN MAIN-MAIN MARCEL!  KATAKAN KAU BERBOHONG" Teriak Max meraung.


Erlangga yang mengerti akan keadaan segera mengambil alih bayi didekapan Marcel kedalam dekapannya dan memeluk bayi itu erat dengan tangis yang sesegukkan.


"Maxaku tak bohong"


"TIDAK! DIA TAK BOLEH MATI!"


"'Max " Fernady mendekati max dan memisahkan max dengan Marcel.


"DIA TAK BOLEH MATI" Max meluruhkan tubuhnya kelantai dingin rumah sakit seraya menutup wajahnya.


"Bukan kau saja yang terluka max, dia juga putriku. Kami semua disini terluka, tapi kau harus  mengikhlaskannya"Ujar fernady


menenangkan.


"Dia tak boleh mati!" Desis max tajam.


Max berdiri menegakkan tubuhnya dan mendekati ara, pria itu menopangkan dahinya pada dahi ara dan kilasan kisahnya dengan


Ara pun berkeliaran didalam ingatannya, tak terasa satu air mata menetes dari mata max.


"Kumohon bangunlah" Lirih max


Hening hanya ada suara tangisan semua dalam ruangan itu, max menarik wajahnya dan menatap wajah ara


"Ku mohon, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku, buktikan sekarang ara " Lirih max.


"Max ,biarkan dia' Ujar erlangga pasrah menarik tubuh besar max walaupun tubuh itu tak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya.


"Biarkan aku bicara dengannya"


Peringat max tajam dan semua diruangan itu pun diam.


"Kau akan meninggalkanku? Kau juga akan meninggalkan bayi mu? Bukankah kau sudah berjuang untuknya? Lalu kenapa kau malah


meninggalkannya? Seseorang tak bisa hidup tanpa jiwanya Ta, aku tak bisa hidup jika kau


tiada"


Max membelai surai ara Max menegakkan badanya dan merebut bayinya dalam dekapan


Erlangga dan membawanya pada sang istri menempatkan bayi itu disamping kanan ara.


"Lihat dia, kau akan meninggalkannya sendirian? Dia membutuhkanmu ara"


Semua menghapus satu air mata yang mengalir dipipi masing masing .


"AKU MENAGIH JANJIMU ARA!  KAU TAK BISA PERGI DARIKU, AKU JUGA BELUM MENEPATI JANJIKU!"


Marcel mendekati max dan meletakkan satu tanganya di bahunya.


"Ikhlaskan dia max"


Max dengan cepat menatap marcel, dan mengetatkan rahangnya.


"Untuk apa? Dia akan sadar"


Tangis  sofian semakin meraung mendengar penuturan yang keluar dari bibir max.


"'Max  cukup" Peringat sofian.


"Dia tak bisa meninggalkanku !" Sentak max membuat bayinya semakin kencang menangis.


Max menatap bayi kecil itu dan beralih menatap wajah ara.


"Dia menangis, kau harus menenangkannya sayang. "


"Max enough'"


"MARCEL!"

__ADS_1


"Kita harus melepasnya max " Ucap Ryan.


Max melirik kearah Ryan dan mencengkram kerah pria berjas putih itu bahkan mengangkat tubuhnya sampai sedikit melayang dari lantai.


"AKU SUDAH MEMBAYARMU LALU KENAPA INI TERJADI!"


"Maafkan aku max"


Marcel segera memisahkan max dari Ryan.


"Kau menganggapnya sahabat kan Marcel ? Minta dia untuk membuka matanya!" Suruh max pada marcel.


"Max itu tak mungkin"


"Dad, kumohon buat dia bangun"


"Max sudahlah"


Max kembali meneteskan air matanya ia begitu sesak mendengar ara dinyatakan tiada. Max mengambil langkah lebar dan mendekati ara menatapnya lekat dan membelai pelan pipi kanan Ara.


"JIKA KAU MENCINTAIKU BANGUNLAH, KAU MASIH HARUS MENUNAIKAN JANJIMU!"


"BAGUNLAH ARA!" Teriak max lalu air matanya kembali tumpah membentuk sungai kecil yang membelah pipinya.


Semua tak kuasa menahan tangisnya melihat max yang kuat kini rapuh dan sofian pun menepuk pelan bahu max.


"M-max jarinya" Sofian yang melihat pergerakan kecil dari jari tengah Ara langsung melapor pada max.


Max yang mendengar ucapan sofian segera mengalihkan pandangannya pada jari ara yang memang bergerak perlahan, dan suara alat medis pun kembali seperti semula yang


menandakan jantung ara yang kembali berdetak.


"Ara" Max bergumam saat menyadari hal yang terjadi, pria itu mengulas senyum tipis dan meraih tubuh bayi kecilnya menepatkannya


dalam dekapan hangat pria itu.


Ryan segera memanggil perawat dan memeriksa keadaan ara. Max dan yang lainnya melihat saat ara diperiksa oleh Ryan dan tak lama mata indah wanita itu terbuka perlahan manik matanya seakan menyesuaikan dengan cahaya diluar, max mengulas senyum tipis melihat itu.


"M-max.." Lirih ara pelan.


Max menyerahkan bayi nya pada Erlangga dan ia pun berjalan mendekati ara yang sudah diperiksa oleh Ryan.


Max menganggukan kepalanya dan meraih tangan ara menciumnya lama menyalurkan rasa cinta pada wanita itu.


"Jangan begini lagi"


"Miss you" Ujar ara pelan.


"I know"


Pendengaran ara menajam saat mendengar suara tangisan bayi, ia pun melirik keasal suara dan melihat Erlangga menggendong seorang bayi.


"-itu?"


"Ya, dia putra kita" Ujar max dan Ara langsung mengulas senyum.


Ara membelai pelan pipi max dan ia baru sadar pria nya bermata sembab.


"Kau menangis?"


Max menangkap tangan ara dan menciumnya lembut, dan ia pun mengangguk pelan.


"Untukku?"


"'Aku takut kau meninggalkanku"


"Tak akan"


"Ya, karena kau sudah berjanji"


"Tentu"


Max membelai pelan surai ara.


"Boleh aku duduk Ryan?" Tanya Ara meminta izin.


Ryan menganggukan kepalanya dan ia pun mendudukan tubuh ara dibantu oleh max.


Deddy,abang, papah" Sapa ara dan mereka semua pun mendekati ara.  membelai pelan pipinya.Sofian memeluk ara perlahan dan mengelus pelan surai adiknya,


"Jangan membuat kami gila dengan tingkah mu' Peringat sofian.

__ADS_1


"Maaf"


"Aku bahagia kau kembali ara. "


"Terimakasih terimakasih Marcel. "


"Kau tau, suami mu ini seperti orang bodoh dua minggu ini"


"Biarkan" Ujar ara terlihat Acuh.


Max hanya terkekeh dan mendudukan tubuhnya disamping sang istri, ara bersender di samping tubuh max.


"Pah aku ingin menggendongnya"


"Sure, kau ibunya"


Erlangga menyerahkan bayi itu pada Ara dengan gerakan pelan ara pun menerimanya dengan hati-hati.


Bayi itu berhenti menangis saat berada didalam dekapan ara dan ia pun mulai tenang.


"Dia berhenti menangis" Lapor max dan ara langsung menolehkan kepalanya mengangkat satu alisnya memastikan.


"Memangnya dia terus menangis tadi?"


"Ya, bahkan suhu tubuhnya tinggi"


"Ya Tuhan" Ara langsung memeriksa tubuh bayi nya dan mendekap tubuh kecil itu erat.


"Tapi sekarang tubuhnya normal"


"Karena dia sudah mendapatkan mommy nya" Ujar max menmeluk ara.


Wanita itu mengulas senyum tipis dan kembali menatap lekat wajah bayinya.


"Kau sudah memberinya nama?"


Tanya ara palan pada max.


"Belum"


"Kenapa?"


"Aku menunggumu"


"Baiklah apa kau punya ide?"


"Aku bingung"


"Bagaimana dengan armaximus.  ?"


"Kenapa "


"Karena max tak akan bisa hidup tanpa ara " Celetuk marcel dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari orang tua ara termasuk max dan ara.


"Kurasa dia benar" Ujar ara melirik max.


"Tapi itu terdengar feminim"


"Tidak, kurasa ada saja pria yang


bernama armaximus " Sanggah ara tak terima dengan asumsi max.


"Bagaimana dengan Leonardo"


"Jangan bilang kau terinspirasi dari singa max"


"Kau benar, dia akan jadi raja dan pemenang disetiap kisah hidupnya sama seperti singa, bahkan aku akan mengenalkannya pada Exter dan Exie"


"Kau berupaya membunuhnya?"


"Exter itu hewanku sayang"


"Tapi dia tetaplah hewan buas max! "


"Tapi"


"Tidak! Pokoknya Armaximus" Sentak Ara mulai mendebat max.


" Sudahlah. Daripada kalian berdebat, biarkan aku saja yang memberinya nama. Aku akan memberinya nama arsal maximus walker. Masing masing ada nama kalian disitu, jadi sudah jelas. "


Semua ternganga mendengar penuturan dari Marcel. Lalu mereka semua pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2