Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
67


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu setelah marcel melamar ara, namun kedekatan mereka sampai saat ini belom ada kemajuan. Namun itu tak membuat Marcel menyerah, dia akan melakukan apa pun asal ara bisa bersamanya.


Siang ini marcel dan ara sudah berjanji untuk makan siang bersama, di balik kesibukannya, ara selalu berusaha untuk membuka hatinya kepada marcel, namun sampai saat ini hatinya masi ragu untuk menerima lamaran marcel. Mungkin hanya butuh waktu lebih lama lagi, mungkin setelah seiringnya waktu   aku akan bisa membuka hati untuk marcel. Itulah yang ada dipikirannya saat ini.


" Kamu udah lama nunggu nya? " tanya Marcel dengan lembut.


" Nggak kok, baru aja. "


" Kita berangkat sekarang? "


"Ah.. Iya. "


Mereka pun menuju restoran yang sudah  direservasi buat mereka. Marcel sangat senang karena bisa bersama dengan wanita yang dicintainya. Meski ara belom menerinya tapi dia cukup puas, karena ara masi menyimpan cincin pemberiannya.


Sementara di lantai atas restoran itu diruangan VIP, max sedang melakukan transaksi bersama Jack dengan klien mereka dari italy.


" Kami tidak akan mengganggu waktu tuan robert, jadi kita langsung saja pada intinya. Berikan barang nya. " ujar Jack to the point.


" Sepertinya anda sangat terburu buru tuan. Apa tidak sebaiknya kita makan dulu, ini adalah pertemuan kita yang kesekian kalinya, sebelumnya anda juga menolak makan bersama saya. Aku sangat sangat sakit hati jika kali ini anda menolak saya lagi. "


Tampa menunggu max berbicara, Robert terlebih dahulu memberi kode kepada anak buahnya . tak berselang lama  muncul beberapa gadis seksi dan langsung duduk disamping mereka masing masing.


Max pastinya sudah tau maksud dari Robert, dalam pertemuan bisnis hal seperti ini sudah hal yang biasa. Tapi berbeda dengan max yang sama sekali tidak tergoda dengan para wanita  itu.


" Tuan Robert, apa sudah bisa saya melihat barangnya? " Nada max sudah mulai terlihat  tak bersahabat.


" Baik lah, anda tidak tau namanya menikmati hidup. Sebuah koper di di letakkan di atas meja. Jack yang sudah paham langsung membuka isi koper tersebut.


Setelah mengamati nya, dia berbisik kepada max.


" Tuan sepertinya berlian ini palsu. "


Pandangan max langsung berubah dingin memyapu keseluruh ruangan, tatapan nya sanggup membuat mereka yang yang di ruangan itu merinding.


" Tuan robert, selagi lagi saya tegaskan, mana barangnya. "


Robert  marah dan memukul meja dengan keras.


" Apa maksud anda, bukankah barangnya sudah ada di depan mata Anda? Apa lah anda mempermainkan saya? "


" Tuan Robert, saya rasa anda bukan lah orang awam yang tidak tau mana yang asli mana yang tidak. "


" Lancang!! Maksud mu saya memberikan anda barang palsu? " Ujar Robert dengan geram.


" Lalu apa namanya jika bukan? Silahkan anda periksa sendiri. "


Robert pun mengintruksikan anak buahnya untuk melihat kebenaran dari berlian tersebut.


Setelah di periksa, anak buahnya pun berbisik kepada Robert.


" Tuan max walker. Saya tidak menyangka jika anda akan memainkan trik rendahan seperti ini, beraninya anda mempermainkan saya?  Anda kan yang sudah menukarnya dengan barang palsu? "


" Kita baru bertemu di sini, sejak kapan saya menukar barangnya?  Anda tau benar siapa saya, tidak mungkin saya melakukan cara licik seperti itu. "


" Saat masuk kesini, ada seseorang yang sengaja menyenggol anak buah ku, sehingga kopernya tertukar, saya tau itu pasti suruhan anda kan? Pertemuan kita tidak ada yang tau, hanya kita berdua. Sebaiknya anda kembalilan barangnya "


Max yang merasa di permainkan ahirnya marah dan memukul Robert. Seketika semua anak buahnya menodongkan senjata kearah max dan juga Jack.


" Saya sudah mengatakan, kalau saya tidak melakukannya, seharusnya anda menyalahkan anak buah anda yang tidak becus menjaga barangnya, hanya trik rendahan seperti itu saja, anak buah anda bisa terkecoh. "


Anak buah yang di bicarakan pun gemetar karena takut, itu memang kesalahannya, namun apa perlu di perjelas seperti itu? Nyawanya sangat terancam saat ini, Robert pasti akan menghabisinya.


Suasana di dalam ruangan itu berubah menjadi panas, meski max kalah jumlah dengan anak buah Robert, tidak membuat max takut  sama sekali.


" Jack, apa kamu takut? "


Jack tertawa dan mengejek tuannya.


" Mungkin tuan yang takut, saya sudah pernah mati sekali, jadi jika mati sekali lagi, itu tidak masalah. "


" Bagus kalau begitu, jika hari ini kamu keluar dengan selamat, aku akan memberimu cuti panjang. "

__ADS_1


" Ahk, satu kehormatan tuan, saya akan menagihnya nanti. "


Max dan Jack pun mengeluarkan senjata dari balik jas nya. Pertarungan pun terjadi didalam ruangan itu. Suara  tembakan  terdengar bertubi tubi sampai ke bawah, semua pengunjung belari ketakutan , Robert memerintahkan untuk mengepung semua tempat, tidak ada yang di biarkan keluar satu orang pun, Robert akan menggunakan  nyawa semua orang disini untuk mengancam max.


" Apa yang terjadi, apakah ada *******? " Ujar ara ikut panik.


" Kita harus keluar dari sini, jangan sampai kita terjebak disini. "


Ara dan Marcel berjalan untuk keluar, namun terlambat, anak buah Robert sudah mengepung restoran itu.


" Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?  "


" Mereka tidak akan mencelakai kita, mereka hanya menyandra kita. Sebaiknya kita patuh saja. "


Max dan Robert masi berkelahi di atas, kekuatan mereka hampir seimbang. Sehingga tidak mudah untuk mereka melumpuhkan satu sama lain.


" Sebaiknya kamu menyerah max, atau tidak, nyawa semua orang disini akan terkena imbasnya. Berikan uang nya maka aku akan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi. "


" Aku tidak mengambil barangnya, jadi buat apa aku menyerah. "


" Baiklah jika itu mau mu, " Kemudian robert mengeluarlan bom dari dalam rompi nya.,.


" Kamu lihat ini, sekali tekan, kita akan mati bersama. "


" Anda pikir aku takut mati, salah besar. "


" Mungkin kamu tidak takut mati, tapi nyawa orang orang yang ada di sini akan ikut mati. "


Max menyerngitkan alisnya.


" Apa maksud mu? "


" Tempat ini sudah di kepung oleh anak buah ku. Ada ratusan nyawa sekarang berada di tangan ku. "


" Damn..., Jack berikan uangnya"


" Tuan, meski kita memberikannya, mereka tidak akan melepaskan kita dengan mudah. " Kata Jack khawatir.


Jack pun menyerahkan koper yang berisi uang itu.


Setelah uang berada di tangan Robert, dia pun bergegas turun, max juga ikut mengutinya.


" Berhenti disitu, jangan ikuti saya, atau akan benar benar meledakkan bom ini! "


Max tersenyum menyeringai, dia tau,robert masi sayang dengan nyawanya, tidak mungkin mau mati sia sia, dia hanya mengulur waktu untuk keluar, lalu setelah itu, dia akan melemparkan bom nya. Max sudah tau niat liciknya.


" Kalau begitu, lakukan saja, kita akan mati bersama.. "


Melihat max dan Robert turun dari lift, dengan kondisi sama sama menodongkan senjata, semua yang berkumpul di bawah menjadi takut. Tak terkecuali dengan ara yang melihat max terluka, pandangan keduanya saling bertemu, max tak kalah terkejutnya melihat wanita yang dicintainya ternyata berada dalam bahaya. Niat awal ingin langsung melumpuhkan musuh, jadi gagal karena ara berada ditempat yang sama dengannya. dia tidak mau kalau sampai ara terluka karena Robert dan dan anak buahnya tidak akan pandang bulu.


" Baiklah aku menyerah, lepaskan mereka semua. "


" Kamu sangan menjengkellan, kesabaranku sudah habis, tapi aku akan melepaskan mereka jika kamu menuruti perintahkan ku. "


" Katakan! " Ujar max dingin.


" Pertama letakkan senjatamu, cepat"


Max langsung menurunkan senjatanya. Kemudian ribet menyuruh anak buahnya untuk memukuli nya.


Bugh ...bugh ...


"Max.. Tuan... " Ara dan Jack memanggilnya bersamaan.


" Aku bukan orang penyabar, jika kamu tidak berbuat licik, tentu ini tidak akan terjadi.


Dorrr!! "


Satu tembakan berhasil mengenai lengannya.


"Max.. " Ara dengan cepat berlari kearahnya.

__ADS_1


" Kamu tidak apa apa, dasar bodoh, kenapa tidak kamu lawan. " Ujar ara yang terlihat sangat khawatir.


Jack yang menyaksikan tuannya di tembak, mengepalkan tangannya, dia sangat marah karena tidak bisa berbuat apa apa.' Ada apa dengan tuan max, bukan kah biasanya dia bisa melawan hal seperti ini, apa yang di pikirkan nya. ' pandangan Jack melihat kearah ara yang berada di samping Marcel. ' sial, pantas saja tuannya menjadi lemah begini, ternyata ada nona ara. Jika sampai tuan max kenapa kenapa, wanita ini akan ikut menemani tuan max di kuburkan.


Door,.. Satu tembakan lagi berhasil di daratkan di kaki nya.  Ara secara reflek berlari kearahnya.


"Max.. Kamu tidak apa apa,?dasar bodoh, kenapa tidak kamu lawan. " Ujar ara yang sudah menangis terlihat sangat khawatir.


" Itu adalah hukuman karena melawan ku. "   Kemudian Robert berjalan mendekat kearah ara, matanya memicing memperhatikan gadis yang datang menghampiri max.


" Jangan sentuh dia, brengsek, jika kamu berani menyentuhnya, aku akan menghabisimu"  Suara max menggelenggar karena marah.


" Aku sangat terharu melihat seorang max, bisa luluh dengan seorang wanita. Ckckkc. "


Robert menempelkan rompi yang berisi bom ketubuh ara. Amarah max  sudah tidak tertahan lagi, sebelum Robert berhasil menyeselaikannya, max terlebih dahulu mengamuk dan  memukul Robert membabi buta. Max mengeluarkan pisau lipat yang ada di dalam sepatunya dan langsung menancapkan ke dada Robert bertubi tubi. Melihat ada cela, Jack pun tidak diam. dia membantu max  begitu juga dengan Marcel, dia ikut serta melawan anak buah Robert. . Meski dalam keadaan terluka, max tidak membiarkan ara terluka. dia menempatkan ara di belakang tubuhnya. Di sela sela mereka asyik bertarung, anak buah robert ingin mencelakai ara dari belakang. Namun max max yang menyadari ada bahaya langsung memutar tubuhnya, sehingga pukulan keras mengenai kepala max dengan tongkat besi. Merasa gagal mencelakai ara,  pria itu menarik ara dari pelukan  max dan dengan cepat memasangkan kembali rompi peledak itu di tubuhnya.


Pria itu berseru,


" Mundur.. Aku sudah mengaktifkan alarm peledak di tubuh wanita ini.  Ini balasan karena sudah membunuh tua robert. Nyawa dibayar dengan nyawa" Kemudian pria itu menarik semua anak buahnya dan keluar membawa robert yang sudah sekarat.


Selepas robert dan anak buahnya keluar,  semua orang yang sempat di sandra juga berhamburan keluar, mereka juga mengetahui adanya bom.


Max yang sudah tidak berdaya mencoba untuk mendekat, tetapi ara menghentikannya.


" Berhenti, jangan mendekat. Sebaiknya pergi dari sini. Bom ini akan meledak sebentar lagi, pergi, pergi... " ujar ara yang sudah putus asa. Dia sudah pernah mati sekali, tapi apakah kedua kalinya dia akan mati lagi dengan cara seperti ini.


"  Ara, maafkan aku, aku tidak bisa menjaga mu. " Ujar marcel yang ingin mendekat, namun di hentikan oleh asistennya yang sejak kapan berada di restoran itu.


" Lepaskan aku, aku ingin menyelamatkan nta. Lepaskan aku. " Marcel mencoba meronta untuk terlepas dari asistennya.


" Tidak, tuan ini sangat berbahaya, bom itu akan meledak. Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini "


" Tidak lepaskan aku, lepaskan aku, apa kamu tidak mendengarkan ku lagi, lepaskan aku. "


" Maafkan aku tuan, aku terpaksa melakukan nya. " Kemudian dia memukul leher belakang Marcel hingga tak sadarkan diri.


Sementata max yang sudah berhasil meraih ara, langsung memeluknya.


" Aku akan melepaskan bom ini, kamu jangan khawatir. "


" Max, cepat keluar, waktunya sudah tidak sempat lagi. tinggalkan aku. "


" Jack.. Kemari cepat, lihat kabel mana yang harus ku putus. "


"Tuan sudah terluka parah, sebaiknya pikirkan keselamatan tuan dulu. " ucap Jack tidak habis pikir .


" Apa kamu ingin mengatur ku? Kalau kamu tidak bersedia baiklah, biar kan kami mati bersama disini, kamu pergi saja. "


Waktu terus berjalan, tersisa tiga menit. Jack mau tak mau harus membantu menghentikan detik bom itu. Jack adalah ahli dalam rakit merakit. Sementara max tidak terlalu paham soal rakitan, itulah yang membuat mereka saling melengkapi.


Tak butuh waktu lama Jack berhasil menghentikan bom itu.


"Warna biru, potong kabel warna biru. " Ujar Jack dengan cepat. "


" Apa kau yakin warna biru? " Tanya max meyakinkan.


" Jika tuan tidak percaya, baiklah, silahkan saja kita bertiga masti disini. "


" Kenapa kamu sangat sensi sekali. "


Di menit terakhir, kabel berhasil di potong, dan tidak terjadi ledakan.


Max mendekap ara di pelukannya, namun karena kondisinya yang juga terluka parah mengakibatkan dia pingsan tak sadarkan diri.


Melihat max pingsan, ara langsung menangis memanggil namanya.


" Max, bangun, jangan buat aku takut.. Buka matamu. "


Jack langsung mengangkat  tubuh max untuk segera di bawa ke rumah sakit. Sebelum dia pergi, dia berkata.


" Jika terjadi sesuatu kepada tuan, aku akan membuat kamu  ikut terkubur bersamanya. "

__ADS_1


__ADS_2