Antagonis Yang Sebenarnya

Antagonis Yang Sebenarnya
85


__ADS_3

Ara berjalan mondar-mandir di


dalam kamarnya, wanita itu menelpon


Max berkali-kali seraya menggigit kukunya kesal menunggu pria itu mengangkat teleponnya.


"Dimana kau max!" Rutuk ara kesal dan menghentakkan kakinya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Ara segera membuka pintu kamarnya dan terlihatlah citra dan


Sofian.


"Hallo Mrs. Walker Sapa citra girang.


"Belum siap-siap?" Tanya sofian melihat pakaian ara yang masih mengenakan kemeja dan hot pants dengan riasan wajah yang natural.


"Em sebenarnya... "


"Dimana suamimu?" Tanya citra dengan raut wajah girang jika bicara mengenai max.


"Dia..."


"Dimana max ara ?" Tanya sofian mulai penasaran.


"Dia bersama dengan jack" Sahut Ara pelan.


"Pantas aku tak melihatnya sore ini"


"Hello! Kita harus cepat ini sudah jam enam, apa kalian tak ingin berdandan dan tampak memukau malam ini?" Ucap citra dengan gemulai.


"Baiklah, ayo masuk"


Ara memasuki kamarnya dengan


Sofian dan citra mengekorinya. Citra menghentikan kakinya dan mendekati Arsal yang terlihat masih pulas dala tidurnya.


"oh hai, little boy" Sapa citra dengan senyum yang mengembang, sambil memainkan pipi gembul Arsal.


"Cit jangan mengganggunya nanti dia bangun"


"Baiklah, hot mommy" Lirih citra.


"Dia sangat menggemaskan" Ucap Sofian.


"Jadi siapa dulu yang ingin kusulap?" Tanya perias yang sudah menunggu di dalam.


"Bahasa macam apa itu?" Tanya Ara mengejek.


"Sudahlah Mrs. Walker tinggal ikuti saja, dan jika diperhatikan setelah memiliki anak ucapanmu tampak lebih pedas"


"Terimakasih pujiannya sahabatku "Ungkap


Ara dengan senyum yang dibuat-buat.


"Sama-sama, baiklah kau saja dulu"


"Aku?" Tanya citra.


"Ya"


"Tidak ara aja dulu"


"Kenapa?"


"Kau harus menyulapnya sangat cantik malam ini, karena dia akan jadi primadonanya"


"Kau berlebihan cit"


"Hai, ini pestamu dan aku yang mengurusnya jadi kau hanya diam okey"


"Baiklah"


Akhirnya ara mengganti bajunya dengan long dress tanpa lengan berwarna pink sifon dengan renda yang menambah kemewan dress itu yang sudah disiapkan oleh perias itu.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti bajunya, Ara pun duduk di meja rias dengan M.U.A yang merias wajahnya tentu saja. Wanita itu sesekali mencuri pandang kearah jam dan ternyata jam mununjuk pukul enam malam dan max sama sekali belum datang, sementara citra


mengganti bajunya dengan dress lebih selutut dengan hiasan sederhana dipinggangnya namun cukup elegan. M U A memoles wajah ara dengan riasan yang cukup mewah, tak lupa menyepol rambut ara namun masih menyisahkannya sedikit dan sisa itu ia kepang lalu dirangkai hingga membentuk seperti bunga yang indah di rambut ara.


tak lupa juga menyisahkan sedikit


rambut dipipi kanan kiri ara menambah kecantikan wanita itu.


Setelah ara selesai, giliran citra yang disulap rambut Citra dibiarkan terurai namun  mengepang sedikit rambut dari sisi kanan dan kirinya lalu disatukan ditengah uraian rambutnya, tampak sangat mengangumkan seorang pria bisa melakukan itu, tapi memang kemampuan pria gemulai itu tak diragukan lagi.


Setelah semua sudah siap pria itu pun memberikan sebuah baju bayi yang terbuat dari Cotton Viscose (CVC), kain itu sangat lembut dan nyaman jika dipakai oleh bayi, dan berhubung Arsal sudah bisa menggunakan kain untuk bajunya. Pria itu pun merangkai sendiri kain CVC membentuknya menjadi baju memberi aksen ukiran mewah dengan campuran emas dibagian dada dan tentu saja itu hanya dibuat satu didunia. Sebenarnya pria itu hanya ingin memberi hadiah pada putra tunggal max itu,  karena selama ini max sudah banyak membantunya, max lah  yang membuat  dia bisa menjadi perias terkenal. akhirnya ia pun memutuskan membuat baju tersebut.


" ini berlebihan"


"Apanya yang berlebihan? Putramu


itu penerus Walker,emas saja tidak ada artinya"


"Ya Tuhan"


"Ini gila, baju bayi dengan emas?"


Tanya citra dengan mata membola.


"Ku mohon jangan tolak pemberianku"


"Baiklah, sekali lagi terimakasih"


"Yeah, sama-sama" Ucap jay  gembira.


Arapun menerima baju bayi itu dan memakaikannya hati-hati pada Arsal, bayi itu terlihat tak perduli dia hanya diam dengan mata terpejam sepertinya pangeran tak perduli dengan sekitarnya, hal itu membuat ara gemas, wanita itu pun mencium hidung


sang anak dan bayi itu menggeliat perlahan. Setelah bajunya sudah terpasang rapih ara masih berupaya menghubungi suaminya


karena jam sudah menunjuk pukul tujuh malam.


Tak berselang lama terdengar ketukan pintu.


"lya tunggu dad Sahut ara.


"Cepat keluar ya"


"lya dad"


Ara melenggang dan turun kelantai dasar menyalami serta menyambut tamu undangan.


"Ini gimana sih! Kok mereka belum turun. "


Fernady menghampiri putrinya dan berdecak karena tak menyangka putrinya bisa secantik itu.


"Kau sangat cantik"


"Terimakasih Dad"


Tak lama Madam erlangga datang.


"Kemarikan Arsal kau sambutlah tamu terlebih dahulu"


"Ah iya, terimakasih pah"


"Sama-sama"


Ara pun memindahkan arsal dari pelukannya ke gendongan erlangga.setelah itu erlangga  berdiri tepat dibelakang ara.


"Dimana suamimu?"


"Em, max." Ara tergagap menanggapi pertanyaan sang daddy, ia tak tau harus menjawab apa.


"Mereka akan segera bergabung" Sela marcel yang mengerti sahabatnya kesusahan mencari alasan.


"Mereka masih bersiap?"

__ADS_1


"Tid_" Ucapan sofian berhenti seketika saat ara memelototinya hingga membuat pria itu tersenyum meminta maaf.


"Ah, aku ingin makan' Ujar sofian dan pergi melarikan diri dari tatapan menghunus milik ara.


"Ra,kapan suamimu selesai? Para tamu sudah menunggu' Ujar erlangga menghampiri.


"Sebentar lagi pah"


"Memangnya mereka bersiap dimana?" Tanya erlangga lagi yang sukses membuat marcel dan ara terdiam.


"Ra dimana?" Tanya erlangga mendesak.


"Di.."


"Mereka di." Ara dan citra sama-sama tergugup menjawab pertanyaan erlangga.


"Disini" Suara bariton milik max membuat ara dan citra bernapas lega.


Sontak mereka pun menolehkan Kepalanya menatap asal suara yang ternyata dari arah tangga, disana sudah ada max dengan setelan jas mewahnya begitupun dengan marcel yang terlihat menggunakan turtleneck plus blazer hitamnya.


Max mendekati ara mencium pelipisnya dan mendekati Arsal membelai pelan pipi gembul bayinya sayang.


"Maaf terlambat"


"Tidak papa' Ujar ara maklum.


"Aku baru tau ternyata seorang pria bisa lebih lama berdandan" Sindir erlangga pelan.


"Ladies first Dad"


"Oh baiklah" Ujar erlangga seraya menganggukan kepalanya.


"Kita mulai pestanya?" Tanya marcel.


"Silahkan' Ujar max tanpa menoleh pada marcel dan hanya sibuk bermain dengan putra kecilnya.


Marcel mendentingkan gelas yang dipegang olehnya mencari perhatian dan benar saja, para tamu undangan silih berganti mulai menatap sumber Suara.


"Atenttion please.."


"Okey, jadi ada beberapa hal yang inginingin max sampaikan pada kalian malam hari ini, jadi silahkan max. "


Max mengalihkan perhatiannya dari arsal dan kemudian menghadap kedepan dimana para tamu menatapnya dengan tatapan memuja.


"Jadi saya ingin berterimakasih atas kehadiran kalian dalam pesta ini, saya sendiri sangat bersyukur karena kehadiran bayi mungil ini ditengah-tengah keluarga kami dan saya akan menjaganya apapun yang


terjadi"


Ara menatap sang suami yang sibuk berpidato dari samping, entahlah ada rasa bangga yang menghinggapinya.


"Dan tentu saja saya sangat berterimakasih pada istri saya karena telah menghadirkan malaikat kecil untuk hidup saya yang monoton menjadi berwarna" Ujar max menjeda dan menatap ara, tatapan mata


mereka bertemu, ara mengulas senyum manisnya untuk max.


"Thank you my beloved wife" Ucap Max dengan mennghadiahi wanita itu kecupan lembut di puncak kepalanya.


"So, perkenalkan putraku Arsal


Maximus De walker Ujar max bangga disambut tepuk tangan dari para tamu.


Ara mengambil alih Arsal karena bayi itu sedikit terganggu dengan riuhnya tepuk tangan dan wanita itu pun mencoba menenangkan Arsal.


Para tamu mulai memberi selamat pada max dan ara, diantara mereka pun ada yang memuji kelucuan bayi mereka dan tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Setelah suasana mulai tenang akhirnya mereka pun duduk


dimeja yang sudah disiapkan untuk menonton pertunjukkan musik disana.


Max menarik kursi untuk ara tapi ia masih berdiri untuk berbincang dengan klien nya. Tak berselang lama ada seseorang yang menepuk bahu ara.


"Hai" Sapa orang itu.


Kira kira max kemana ya saat menghilang itu.... Gays, novel ini mau di tamatin atau mau di lanjut lagi gays.... Kalau dilanjut author akan hadirkan orang ketikanya alias pelakornya.... Coment  yang banyak ya gays minta sarannya.... Love u all...

__ADS_1


__ADS_2